Apa setelah orang-orang menjadi gila, mereka tidak waras? Tentu saja. Tapi orang-orang gila, telah memenangkan dirinya sendiri, dalam perang sengit melawan kenyataan. Aku masih ingat dengan baik, bagaimana aku yang gila ini, bertemu dengan kamu; seseorang yang pada akhirnya mengakui, bahwa kewarasan bukanlah hakikat. Kegilaanlah yang punya esensi. Aku tau, aku bisa melihat dari caramu hadir dan ada, meski saat itu kita masih sama-sama terantuk pada satu kata; asing. Dan diam menjadi pilihan terbaik untuk orang-orang asing. Meski aku dan kamu, punya tujuan yang sama : menjadi orang gila. Atau, kita telah gila saat itu. Hanya saja kita belum datang, oh belum sampai, dan belum tinggal di rumah sakit (jiwa). Kita masih cukup angkuh untuk sekadar mengatakan 'hai', demi menunjukkan satu hal ;aku yang paling gila. Tapi aku baru sadar, aku tidak pernah angkuh, tidak cukup punya keangkuhan untuk menjadi angkuh di depanmu. Karena, aku tidak bisa angkuh pada orang-orang yang memb...