Sudah lewat delapan purnama, sejak terakhir kali kita menyeduh temu, dan aku meneguk senyummu. Lama. Berlalu. Tapi rindu itu semakin mengental, mencemari aku sampai akar. Sesekali, aku mencoba berpaling. Namun nyatanya, mengagumimu seperti ini begitu nikmat. Sungguh nikmat. Tentang kamu, Hanyalah rahasia, yang hanya aku, Tuhan, dan seorang sahabat yang tahu. Selebihnya, kau adalah abu-abu di mata dunia. Semakin diterka, wujudmu akan semakin fana. Sebab kamu, iya kamu, hanya kuberi ruang di satu-satunya dinding maya. Hanya maya. Bagaimana aku, Bertemu kamu dalam suatu peristiwa yang luar biasa. Berawal dari asing, kita menjadi hati yang seolah-olah melunak pada waktu. Tidak lama. Hanya terhitung minggu, bulan yang tak pernah tiba pada tahun. Tapi aku, mengekalkanmu sebagai rindu. Entah sampai kapan. Jika saja, Kau tak pernah muncul di sebuah pagi yang terlambat mengantar embun, di sebuah terik yang memberaikan tali sepatu, dan sebuah petang yang mendayu sebab lagu, mungkin aku ...