Langsung ke konten utama

Teka-teki Tentang Kamu; catatan seorang penggemar rahasia

Sudah lewat delapan purnama, sejak terakhir kali kita menyeduh temu, dan aku meneguk senyummu. Lama. Berlalu. Tapi rindu itu semakin mengental, mencemari aku sampai akar. Sesekali, aku mencoba berpaling. Namun nyatanya, mengagumimu seperti ini begitu nikmat. Sungguh nikmat.

Tentang kamu,
Hanyalah rahasia, yang hanya aku, Tuhan, dan seorang sahabat yang tahu. Selebihnya, kau adalah abu-abu di mata dunia. Semakin diterka, wujudmu akan semakin fana. Sebab kamu, iya kamu, hanya kuberi ruang di satu-satunya dinding maya. Hanya maya.

Bagaimana aku,
Bertemu kamu dalam suatu peristiwa yang luar biasa. Berawal dari asing, kita menjadi hati yang seolah-olah melunak pada waktu. Tidak lama. Hanya terhitung minggu, bulan yang tak pernah tiba pada tahun. Tapi aku, mengekalkanmu sebagai rindu. Entah sampai kapan.

Jika saja,
Kau tak pernah muncul di sebuah pagi yang terlambat mengantar embun, di sebuah terik yang memberaikan tali sepatu, dan sebuah petang yang mendayu sebab lagu, mungkin aku sudah jauh di depanmu. Mengukir cita cita tanpa cinta. Nyatanya, setengah dari cita-citaku menjelma nyata sebab kamu.

Dan sampai detik ini,
Aku tetap bahagia menjadi aku yang diam. Mengintipmu dari celah yang kusebut bingkai cerita. Ini benar-benar tanda! Asal orang-orang ini mau tahu. Tapi, aku benar benar lihai menyembunyikanmu. Mata, yang bahkan tak semua dapat menikmati seberkas indahnya. Apakah kau begitu rahasia? Begitu istimewa? Oh tentu. Jika tidak, mungkin aku tak memilih duduk dan sibuk menunggumu. Berlari ke hati yang lain, dan tinggal disana mencari tempat berteduh. Nyatanya, meski aku tahu hatimu beku, hanya dihuni idola-idolamu. Aku tetap bahagia menunggu. Di dera hujan rindu, aku kebal. Sebab kamu, entah kenapa menjadi penghangat dalam gigilku.

Akhirnya,
Setiap tanya, hanya kujawab dengan sajak. Untuk siapa? Untuk kamu. Iya kamu, yang tak akan pernah punya celah untuk membaca. Sebab kubilang apa, aku ta memberi ruang bagimu untuk mengatahuinya. Biarkan begini, biarkan tetap begini. Aku sungguh bahagia, merindu dan semakin cinta. Meski kamu, tak pernah tahu kebenarannya.

Sekali lagi, dan selamanya
Menduga siapa kamu hanya membuang-buang waktu. Sebab kamu saja, tak pernah sadar bahwa aku begitu mengagumimu.

Kamu, ah aku tak pernah berani menyebut nama.
Kamu, kelihatannya suka warna putih. Cukupkah sebagai tanda?
Kamu, tentunya sedang tidak bersamaku.
Kamu, sebagai apapun takdirmu dalam hidupku, aku selalu bahagia untuk tetap mengagumimu.
Kamu, tak cukup dewasa untuk memahami yang kupunya.
Kamu, akhirnya yang mendewasakanku.

Sekian,
Dari segala prasangka tentang siapa kamu, itu benar-benar hanya aku yang tau. Hanya aku.
Sedikitpun, aku tak mau berbagi. Sebab kau bukan sepotong kue, juga segelas susu stroberi. Lagi lagi aku menyebut tanda.
Apakah kamu akhirnya mengerti?
Sampai kapanpun, kuharap kau tak pernah paham. Sebab dengan begitu, aku semakin tahu, seberapa setianya aku padamu.

Salamku, untukmu.
Tetaplah jadi kamu.
Muncul sekali kali. Lantas pergi.
Tetaplah begitu.
Agar aku tetap rindu. Agar aku tetap jadi pengagummu.

Selamat malam, kamu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)