Sin 1
Itu adalah sebuah kota kecil yang tenang, sepi, disebutnya sebagai hati. Kota itu didatanginya empat puluh hari yang lalu, dengan membawa sekotak ingatan tentang : kursi dan meja kayu di sebuah pengadilan, bunyi bel sebuah kindergarten yang melepaskan seribu senyum balita, dan sampul coklat berisi surat kematian seseorang. Ia memasukkan kotak itu ke dalam sebuah laci di rumah barunya ; di kota itu, yang sepi, yang masih penuh dengan lahan kosong, hutan, lembah, sawah, dua puluh akasia di pekarangan , pagar bambu, dan kursi rotan di serambi, menghadap ke arah gunung mati di ujung hutan. Rumah barunya tak kalah hening dari kota itu, tak kalah kecil dari hatinya, tapi disana duduk seorang perempuan yang terus berbicara padanya. Perempuan itu tidak benar-benar ada, tapi suaranya memenuhi seluruh sudut rumah. Suara itu begitu dikenalnya, seperti menyeruak dari balik sampul coklat yang berisi surat kematian, yang disimpannya di salah satu laci lemari, salah satu pusara paling hening, paling sunyi, paling tidak pernah dikunjunginya; tapi suara dari dalam sana terus menghantuinya, menjadi teror, lama-lama menjadi lagu yang terus berputar di kepalanya. Rumahnya menjelma isi kepalanya, disana ia melihat seorang perempuan parubaya menunggunya, menatapnya dengan mata penuh air, mulutnya katup, tapi terus mengeluarkan suara. Semesta meminta Ia untuk menghentikan racauan perempuan itu, tapi Ia tak melakukan itu, Ia membiarkannya, Ia mendengarkan perempuan itu mengulang-ngulang kalimatnya. Dari kalimat itu, seribu anak panah mendarat ditubuhnya, tapi Ia tidak mati, tidak pernah: tapi hatinya sudah.
...
Sin 2
Sejak kepindahannya empat puluh hari yang lalu, Ia bangun setiap pagi, lebih pagi dari semua orang di kota itu, duduk pada kursi rotan di serambi rumahnya, memandangi hutan yang gelap, pahatan gunung yang perlahan mencuat seiring munculnya matahari.
Ia akan menghabiskan waktu paginya untuk mengisi teka-teki silang, mengisi setiap kotak dengan huruf s, i, dan n. Sin : namanya. Sin : dosa. Sin : kata yang dirapal perempuan itu, berulang-ulang, memenuhi rumahnya, memenuhi kepalanya.
Selepas mengisi teka-teki silang, Ia akan bergegas mandi, lalu mendandani dirinya dengan busana serba hitam, Ia mengikat setengah rambutnya, lalu membiarkan sisanya tergerai. Selepas mematut dirinya di cermin, Ia akan pergi ke dapur dan makan buah sebagai sarapannya ; tiga potong apel, enam potong pear, dan sepuluh butir jeruk. Selalu dibuatnya seperti itu setiap hari. Katanya, itu adalah angka sembilan belas : angka yang sempurna. Ia tak pernah tahu kenapa sembilan belas menjadi angka yang sempurna, selain dirinya hanya mengenali itu sebagai satu dan sembilan ; pertemuan dan perpisahan.
Ia akan meninggalkan rumahnya pukul enam tepat, berjalan menuju sebuah kindergarten di tengah-tengah kota; satu-satunya. Disana, Ia berdiri cukup lama di seberang jalan yang menghadap langsung ke pintu gerbang, memandangi hilir mudik mobil pengantar yang menurunkan satu persatu anak kecil, ratusan siswa dengan seragam warna biru muda, kaki-kaki mungil dengan sepasang sepatu bergambar boneka, hewan, dan bunga daisy, melangkah masuk menuju bangunan yang menyerupai kastil, merangkum seribu tawa anak-anak kecil itu, anak kecil, masa kecilnya yang tak pernah seriang itu : sekalipun dulu namanya belum Sin. belum berdosa.
Selepas ratusan anak-anak mungil itu berbaris, Ia akan pergi: menuju sebuah perpustakaan, juga satu-satunya di kota itu. Tempat itu sepi, lebih sepi dari rumahnya, lebih sepi dari kepalanya, sebab jika Ia datang ke perpustakaan, suara perempuan itu menghilang. Ia tak akan mendengar racauan itu lagi, teriakan, celotehan, dan segala san sin san sin yang muncul di kepalanya, kecuali jika Ia tertidur.
Tempat itu, hampir tidak ada pengunjung yang datang kesana, hanya Ia yang setia, setiap hari, datang, bahkan lebih pagi dari penjaganya : Guru. Ya, namanya Guru. Seorang laki-laki tua dengan kumis mirip Chaplin, kepalanya botak, ditutupnya dengan beani kusam warna marun. Ia memakai kacamata tebal yang ujungnya agak retak. Hidungnya lancip, ada bekas luka disana, masih tampak jelas meski kulitnya mulai keriput dirajut usia.
Guru suka memakai jas, sama lusuhnya seperti beani yang dipakainya. Di balik jasnya, Ia hanya punya satu tangan, tapi sangat cekatan. Sin tidak pernah bertanya tentang kemana tangan Guru yang satunya, sebab mereka juga tak pernah berbicara. Guru dan Sin sama sama tidak suka bicara. Guru hanya tahu nama Sin sebab Sin menuliskan nama itu di daftar pengunjung perpustakaan, sementara Sin mengetahui nama Guru melalui nametag di jasnya.
Perkenalan keduanya tidak pernah melibatkan kata-kata, hanya sebuah tatapan dingin di pertemuan pertama mereka. Selebihnya, Sin menghabiskan waktu di salah satu sudut perpustakaan untuk membaca buku, majalah, koran, artikel, apapun. Sementara Guru akan duduk di balik mejanya, menunggu pengunjung lain yang akan datang, meski hampir tak pernah ada.
...
Intuisi
Jauh sebelum Sin memilih kota itu, sebagai tempat pelarian, Ia berpikir tentang tempat yang paling sempurna untuk jatuh cinta ; perpustakaan. Di tengah ribuan buku yang menyimpan ceritanya masing-masing, cintanya masing-masing, Sin ingin jatuh cinta di antara buku itu. Ia berpikir tentang 'itu' adalah hal yang manis untuk jatuh cinta di tengah ribuan buku yang memiliki kesempurnaannya masing-masing. Sebab Sin ingin jatuh cinta sebagaimana Ia jatuh cinta pada buku. Ia tidak ingin mendengar apapun, Ia tidak ingin disentuh apapun, Ia hanya ingin jatuh cinta dengan cara: membaca-dibaca.
Lalu Sin tak pernah berpikir bahwa intuisinya, yang menjadi sebuah keyakinan ; sebab tanpa sadar hatinya berdoa untuk itu, suatu hari tiba, datang, sebagai ; Sua.
Sua; Ia seperti jatuh dari langit secara tiba-tiba, berdiri di hadapannya, di seberang meja, begitu tinggi, dengan pakaian serba putih. Tubuhnya wangi, seperti aroma seribu bunga. Rambutnya lurus, kadang tampak hitam, kadang kecoklatan, kadang rambut itu seperti menjatuhkan butir-butir cahaya. Sua seperti cahaya yang menjelma sebagai manusia, tapi Ia juga tidak tampak seperti manusia. Ia begitu pijar, mengambil tempat duduk tepat di seberang Sin. Tangannya memegang sebuah buku catatan, dengan sampul bergambar bunga krisan. Ada milyaran nama disana, juga nama Sin.
Sin, Ia menyipitkan mata. Ia menggosok-gosoknya, memajukan sedikit wajahnya, memastikan mahluk di depannya benar-benar manusia, benar-benar ada. Oh, ada!
Mata keduanya bertemu. Sin segera merasakan dirinya seolah diterjang ombak, membuat isi perutnya sedikit terguncang. Ia pikir, Ia akan muntah, tapi tidak. Itu seribu kupu-kupu menyeruak dari dalam perutnya, menyuntikkan perasaan hangat ke dadanya. Tanpa sadar, Ia tersenyum, menyambut senyum Sua yang mencuat dari wajah tenangnya. Mata Sua teduh, merangkumkan seribu mendung yang syahdu. Itu adalah mendung paling baik yang pernah dilihat Sin. Lama, keduanya bercakap-cakap lewat mata masing-masing. Itu membuat Sin tertawa, menangis, tersenyum, dan segala perasaan yang selama ini dipendamnya. Sua menelanjangi Sin hanya dengan sepasang mata magisnya. Tanpa kata-kata, dua orang ini seperti sepasang- hati, pernah, bukan, tapi dipertemukan kembali.
...
Interval
Empat puluh hari yang lalu, Sin datang ke sebuah kota kecil; sepi, menghuni sebuah rumah; ramai, mendatangi sebuah kindergarten; hidup, mengunjungi sebuah perpustakaan; damai, menemui Sua; apa?
...
Sin 3
Hari-hari berikutnya, Sin hanya mengulang kegiatan yang sama. Bangun lebih pagi, mengisi teka-teki silang, sarapan sembilan belas potong buah, mengunjungi kindergarten, menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan ; mengulang membaca Candide-nya Voltaire, menatap Sua, mendengarkannya bercerita lewat matanya, sore hari Ia pulang, mengunjungi toko bunga palsu, membeli setangkai krisan, termenung, mendengarkan rutukan dari perempuan di dalam kepalanya. Sesekali Ia berdebat dengan perempuan itu, meski akhirnya Ia kalah. Ia akan tidur lewat tengah malam, lalu akan memimpikan sebuah petang yang gerimis, ada dirinya, ditelan cahaya. Setiap malam, selalu.
Di dalam mimpinya, perempuan parubaya itu selalu hadir. Ia memanggil-manggil namanya. Kadang, suara itu menjelma tangisan panjang, penuh penyesalan, tapi kadang suara itu terdengar seperti racauan, seperti tawa yang terbahak-bahak. Apakah kau menertawakanku? Tanya Sin suatu kali. Suara itu lalu menangis. Apa kau menangisiku? Tanya Sin kemudian. Suara itu berubah jadi tawa lagi, tangis lagi, tawa lagi, tangis lagi. Sampai-sampai Sin jengah. Sin lantas meneriaki perempuan itu, menyuruhnya diam. Perempuan itu diam, tapi tetap ada suara di kepala Sin. Sin mengerti, perempuan itu punya seribu mulut dalam dirinya, tak bisa berhenti bicara.
Lalu perempuan itu berdongeng tentang pohon purba yang dihuni ratusan peri. Katanya, peri-peri itu adalah anak-anaknya, Ia lahirkan dari doa-doa.
Doa apanya? kau bahkan hanya meracau. Ejek Sin.
Perempuan itu murka, lalu Ia mulai mengutuk Sin. Sayangnya Sin tidak jadi batu ; tapi hatinya sudah.
...
Sin 4
Hari ke sembilan belas, Sin pulang begitu larut. Wajahnya pucat, tubuhnya gigil, sementara udara begitu panas. Ia masuk ke rumah seperti orang kesurupan, kepalanya seperti berputar, ada roda-roda besi disana, menggerakan tangannya, membuatnya melempar semua benda yang ada di depan matanya. Kali ini Ia tidak hanya mendengar perempuan itu bersuara, tapi Ia melihat wajah perempuan itu di rumahnya. Wajah perempuan itu satu, tapi ia terus bertambah seperti bayang bayang yang memenuhi rumahnya. Sin murka, Sin menghajarnya, tapi Ia tidak melihat perempuan itu terluka. Sebaliknya, ketika Ia melihat dirinya di cermin, Ia menemukan wajahnya penuh darah, merah, segar, mengucur di pelipisnya, di hidungnya. Tapi Ia tak merasakan sakit sedikitpun, Ia hanya merasa roda-roda yang berputar di kepalanya semakin kencang, kali ini tidak hanya menggerakkan tangannya, tapi seluruh tubuhnya. Sin berusaha menghentikannya, tapi Sin malah terpental. Ia lantas meringkuk di atas lantai, setengah melayang, seolah Ia tak merasakan tubuhnya. Matanya dikepung gelap. Ia berusaha mencari cahaya, tapi matanya tak bisa buka. Ia pikir, kali ini dirinya benar-benar mati.
Sin terjaga ketika matahari sudah tinggi; mendapati dirinya berada di atas ranjang, dibalut selimut. Ia berusaha mengingat kembali apa yang telah terjadi, tapi yang muncul adalah wajah perempuan itu. Itu terasa aneh ketika Sin tak mendengar perempuan itu berbicara, hanya sebuah seringai yang menakutkan. Sin bisa melihat perempuan itu bergetar, sampai-sampai getaran itu membuat kepalanya pening. Sin mengangkat kepalanya, memaksa tubuhnya untuk bangkit dari ranjang. Ia menapakkan kakinya di lantai, dingin. Perempuan di kepalanya semakin bergetar, seperti menahan Sin untuk tetap berbaring, tapi Sin telah berdiri, menapaki setiap sudut rumahnya dengan banyak pertanyaan. Matanya mencari-cari sisa kekacauan yang telah Ia buat semalam, tidak berbekas.
Ia berhenti di depan cermin, melihat wajahnya penuh dengan bekas luka, tapi luka-luka itu telah diseka dan diobati dengan baik.
Aroma bunga menyeruak dari serambi rumah, Sin mengarahkan pandangannya kesana. Pelan-pelan Ia melangkah, mencoba mencari jawaban tentang siapa yang telah membereskan kekacauan di rumah ini.
Sua : Ia duduk dengan rambutnya yang tergerai, menutup setengah wajahnya. Jari-jarinya lihai bergerak, mengisi buku teka-teki silang milik Sin. Sua mengisinya dengan cara yang sama seperti Sin. Ia memenuhi kotak-kotak kosong itu dengan huruf s, u, dan a. Sua : namanya. Sua ; Nya.
Sin masih mematung disana, menyadari kepalanya tidak lagi bising oleh suara perempuan, juga kehadirannya. Rumah ini jadi begitu hening, hanya suara angin yang menggesekkan daun-daun, suara burung, rumput bergoyang, dan bahkan gemericik air dari sungai kecil di depan pagar rumahnya. Suara itu menghadirkan kedamaian; sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Sin bahkan bisa merasakan cahaya matahari seolah punya suara, menyentuh tubuhnya dengan lembut, seperti busur biola yang menyentuh senar-senarnya, menghasilkan suara merdu yang sampai ke ulu hati.
Sin masih dalam kebingungannya, ketika Sua mengangkat wajah, menyambut Sin dengan senyum tenangnya. Garis wajah Sua begitu lembut, dipenuhi cahaya. Jika itu adalah jalan setapak, niscaya setiap orang akan menemukan surga diujungnya.
Sua tak mengatakan apapun, tapi Sin jadi paham bahwa semua kedamaian ini, Sua yang menghadirkannya. Sua tak butuh kata-kata, sebab tangannya jauh lebih kuasa dari kata-kata itu sendiri. Dalam diamnya, Ia bisa membaca Sin, mempelajari lembar demi lembar perasaan Sin yang kusam, memahaminya sebagai sesuatu yang tidak butuh disimpulkan dengan kata-kata, tidak. Sua membaca dan melakukan banyak hal dalam diamnya. Sin mengerti, Sin merasakan itu. Sin ; kali ini Ia percaya pada intuisinya, bahwa apa yang dirapalnya setiap hari, berkali-kali, akan datang padanya, pasti. Dan Sua adalah jawaban dari intuisi itu. Membaca dan dibaca. Mencintai. Diam. Tanpa apa-apa.
Sin lantas duduk di samping Sua, menghadap ke arah hutan yang menyimpan seribu jalan menuju isi kepala manusia, isi kepalanya. Ia menemukan satu jalan menuju kepala Sua. Disana Ia menemukan sebuah novel Jepang berjudul Funiculi Funicula, sebuah kedai, puluhan pelanggan, masa lalu yang berlalu lalang, dan masa depan yang ditawarkan melalui kopi panas, jangan sampai dingin, sebab semua yang datang tidak akan kembali. Toshikazu Kawaguchi seperti menawarkan solusi dalam Funiculi Funiculanya, seperti Sua mempersembahkan sebuah penyelesaian untuk kekacauan-kekacauan yang dibuatnya.
Sin membuka kembali lembar pertamanya, merasakan sensasi perjalanan waktu menuju masa lalunya. Disana Sua hadir, membaca masa lalunya, menyusuri lembah-lembah peristiwa yang semuanya kelam. Sin mematung, Sua menangis. Tangannya dingin, menyentuh hatinya, lalu memetiknya seperti memetik apel. Sua menatap hati Sin dengan Iba. Ia mengambil sapu tangan dari sakunya, di sekanya hati Sin. Sua menyeka dengan tangis yang semakin dalam, tanpa suara, tapi tangisnya semakin sakit, seperti merasakan hati Sin.
Sin begitu datar ; Ia merasa lega untuk sejenak melepas hatinya. Sin merasa kosong, tapi itu nyaman. Ia hampir merasa dirinya seperti terbang, seperti duduk di atas awan lembut, mengelilingi langit, menyapa ratusan peri, menyalami seribu malaikat, berbicara dengan mereka, tertawa. Sin tersenyum; betapa senangnya tidak punya hati.
Sua memekik, air matanya tumpah, merutuki luka macam apa yang telah singgah, yang menggores, yang menyayat, yang membekas, yang melekat di ; hati Sin. Sua berkata ; ini bukan hati, lalu apa?
Sua membungkusnya, memasukkannya ke dalam saku, katanya : aku tidak akan mengembalikannya.
Sejak siang itu, Sin tidak lagi punya hati di balik dadanya. Sejak saat itu, Sin seperti bermain-main di atas langit, seolah-olah itu rumahnya. Sin bilang ; aku ingin tinggal disini.
Sin lantas melihat dua bilah sayap muncul dari balik punggung Sua. Benar, Sua bukan manusia.
...
Interval
hujan turun di halaman rumah Sin, membangunkannya dari tidur siang yang panjang. Ia membuka matanya. Suara perempuan itu muncul lagi, berceloteh tentang pohon-pohon purba di hutan purba dengan manusia-manusia purba. Sin mendengarkannya seolah peduli, sementara matanya mencari-cari Sua. Kosong, kursi di sebelahnya kosong.
Hujan turun semakin deras, menumpahkan air sekaligus berita, di langit sedang ada pertikaian antara manusia dan bukan manusia. Perempuan itu meracau, bersama hujan yang berat. Sin kali ini tak bisa membedakan. Mana hujan, mana racauan si perempuan.
...
Sin 5
Pagi mendung, membangunkan Sin dengan embun perasaan yang bening. Tangan kecilnya menggapai pena, menuliskan huruf s, i, dan n, pada kotak kosong di buku teka teki silangnya. Matahari muncul, menyempurnakan bentuk gunung di balik hutan hijau penuh rahasia. Sembilan belas potong buah tiga warna menyambutnya dalam selamat pagi yang manis, tawar, dan asam. Membawa kakinya ke ujung sebuah jalan, menghadap gerbang sekolah yang mengatarkan seribu tawa balita. Selamat pagi, dari mata Guru yang sembab, menyambut Sin dengan ribuan buku tuanya yang jarang disapa manusia. Setiap bukunya adalah cerita dari ribuan orang, hati, jalan, dan peristiwa. Semua sama membawa tawa dan air matanya masing-masing.
Funiculi Funicula Funiculi Funicula, seperti sebuah mantra, sebuah lentera, sebuah jendela yang membawa Sin ke dunia lain, dunia sebelum ia menyentuh dunia. Mempertemukannya dengan seseorang yang paling ingin Ia temui; perempuan parubaya yang memenuhi isi kepalanya. Dihampirinya, ditatapnya perempuan itu dengan berani, dengan seribu senjata yang telah Ia siapkan. Tapi, Sin tidak berpikir bahwa Ia perlu membawa senjata, sebab perempuan itu lebih renta dari suaranya. Perempuan itu hanya suara, tapi meminta entitas.
Dan entitas itu, ia tidak pernah mengerti ; darimana datangnya, dimana berada, dan kemana akan pergi? sementara perempuan di kepalanya menggeliat, terus bicara, menanam seribu pohon purba yang daun-daunnya juga bisa bicara. Kepalanya semakin ramai, sebab daun-daun dari pohon purba yang tumbuh, mereka tertawa, terbahak-bahak , sementara daun-daun yang jatuh lantas menangis, meraung-raung, meracau, semakin lantang, menantangnya untuk berdebat, berkelahi, bertanding. Ia tidak terpancing, tapi kepalanya pening, hampir akan pecah ketika perempuan itu mulai sibuk menyapu daun-daun, bersama seribu perempuan dari surga, yang mulutnya juga sama sedang menyapu daun-daun jatuh, dan masih terus bicara.
"Bahkan di surga, perempuan juga masih suka bicara." gumamnya.
Dan, Ia terhenyak. Sebuah suara muncul, tapi bukan suara perempuan itu.
"Besok aku akan mengusirmu jika kau datang kesini hanya untuk tidur." untuk pertama kalinya, Guru berbicara pada Sin.
Sin terkesiap, Ia segera mengangkat kepalanya dari atas meja.
"Aku tidak tidur, aku sedang mendengarkan ibuku berbicara." Batinnya.
Guru menatapnya kesal. Sin tak bergeming.
"Aku tidak tidur, aku sedang mendengarkan ibuku berbicara." Batinnya.
Guru menatapnya kesal. Sin tak bergeming.
"Perpustakaan akan tutup lima belas menit lagi, kau harus segera berkemas." Lanjutnya.
Guru berlalu dari hadapannya, langkahnya panjang dengan hentakan yang lebih kasar dari biasanya. Sepertinya Guru benar-benar kesal. Atau hari ini memang ada hal lain yang membuat Guru kesal tapi Ia melampiaskannya pada Sin. Sayangnya Sin tidak peduli, lebih tidak peduli lagi pada Guru sebab Sua telah muncul dihadapannya dengan sangat tiba-tiba.
Seperti biasanya, Sua tak bicara apa-apa. Tapi matanya kali ini mengajak Sin untuk pergi, mengunjungi sebuah danau, menantikan hujan, senja yang pendar pecah merah, dan Sin akan terbang bersama Sua, sebentar. Sua menghentikan tatapannya pada Sin; menghentikan segala bentuk cerita yang disampaikannya lewat mata magis itu.
Ia bangkit, berdiri dari tempat duduknya. Benar saja, butir-butir cahaya seperti berguguran dari tubuhnya, membuat Sin terpana. Dadanya tiba-tiba penuh dengan pertanyaan, tapi Sin tak menanyakan apa-apa. Ia hanya ikut bangkit, berdiri, berjalan di samping Sua.
Sua melangkah tenang, bahkan langkah kakinya seolah tak terdengar, kakinya seperti tidak menapak tanah, tapi Sin melihatnya menyentuh tanah. Sua adalah manusia setengah dewa, batinnya.
Sebelum keduanya keluar, Guru menegur Sin.
"Apa kau akan datang besok pagi?" tanyanya.
Sin terdiam. Ia tak memberikan jawaban. Ia berlalu begitu saja, membuat Guru tertegun. Mata Guru mengandung air mata, lalu jatuh tepat ketika Sin dan Sua meninggalkan halaman perpustakaan. Guru melihat tubuh Sin seolah ditelan cahaya, tapi tangannya melambai, wajahnya tersenyum. Guru merasa asing, sebab Guru tak pernah melihat Sin tersenyum.
...
Sin D
Sin tak pernah tahu bahwa kota ini menyimpan danau mungil di dalamnya. Itu danau dengan air berwarna biru, seperti mata Sua. Itu seperti lingkaran cermin raksasa yang menampakkan wajah langit. Di beberapa tepinya menjulang tanaman perdu, warna hijaunya mengingatkan Sin pada barisan pohon di belakang rumahnya. Apakah tempat ini berada di belakang rumahnya? pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepala Sin. Tapi Ia tak berusaha mencari jawaban, sebab danau telah membiusnya.
Sua membawanya duduk di salah satu sisi danau yang menghadap ke arah matahari terbenam. Hujan turun, perlahan, dari rintik, rimis, tak pernah benar-benar jatuh sebagai hujan. Ia hanya memercikkan butir-butir air, membasuh cahaya jingga jadi seribu peri yang muncul dari tengah-tengah danau. Sin takjub melihat pemandangan itu. Peri-peri itu mengayunkan sayapnya, terbang mendekat kearah Sin, menggerakkan tangannya untuk menyentuh Sua. Sin terhenyak. Sua bukan manusia, Ia tak bisa menyentuhnya.
Sua tersenyum, senyum itu seperti sebuah bius, merasuk ke tubuh Sin, ke pucuk kepalanya. Tidak ada lagi racauan perempuan parubaya itu disana, tidak pula wajahnya. Di dalam kepalanya, Sin baru benar-benar bisa merasakan ada sesuatu yang membuatnya merasa sakit. Sakit luar biasa, seperti ada sesuatu yang pecah. Itu bukan pecah, tapi meledak, mengalirkan darah segar, tidak pada sungainya. Itu mengalir kemana saja, ke hutan-hutan masa lalunya, ke hutan hatinya yang rindu pada sepasang sepatu mungil bergambar bunga daisy, mengalir ke jurang-jurang petaka yang memantulkan suara palu di atas meja pengadilan, kemana saja, ke sebuah pemakaman tanpa suara tangis di masa lalunya, membuat basah sepucuk amplop coklat berisi surat, surat itu tak pernah Ia baca, sebab Ia kira ia telah tahu isinya. Sedangkan itu :
a.n Sinha Samia.
Aneurisma.
Sekali lagi, ada yang meledak dikepalanya, kali ini membuatnya sulit bernafas, seolah-olah udara menjauhinya, meninggalkannya, bersama lambaian tangan Sua yang bersahaja.
Sin terpejam, tidak ada lagi ledakan.
Semua menjadi tenang, lengang, hilang.
Sin : mendapati Sua mengembalikan hatinya, mengusir seribu perempuan dari kepalanya, menggamit lengannya, memasangkan dua sayap dipunggungnya. Katanya, Sin harus terbang bersamanya.
...
Interval
Beberapa surat kabar terbit dengan berita yang sama. Ada wajah Sin disana, setangkai lili putih, danau yang tenang, dan sebuah kata kunci : mati.
...
Rumah dengan dua puluh akasia itu hening. Kursi rotan yang kosong, teka-teki silang yang tak lagi dihampiri huruf s, i, dan n,
...
Sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang kindergarten, menurunkan seorang gadis perempuan dengan sepatu bergambar bunga daisy. Ia mencari-cari seseorang di seberang jalan. Tidak ada.
...
Guru membuka pintu perpustakaan dengan gusar. Tidak ada yang menunggunya, tidak ada yang mengunjungi tumpukan buku-buku lapuknya. Tidak ada lagi Sin yang mengisi buku kunjungan di mejanya.
...
Sua tidak pernah muncul lagi.
...
Sin ; hari ke empat puluh.
Aku ingin datang pada sebuah sore yang tenang
menyerahkan diriku pada pendar jingga
membiarkannya memandikanku dengan cahaya
sebab aku tidak punya siapa-siapa
selain wajahku
dan wajah yang lain dibalik kaca
kota ini
adalah hati
rumah ini
adalah kepala
aku tidak punya apa-apa
aku tidak ingin apa-apa
selain kematian tanpa suara.
,,,
Komentar
Posting Komentar