Self Reward
Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.
Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi yang diberikan orang lain bukan karena menghargai prosesnya, tapi melihat hasilnya. Padahal, tidak semua hal yang saya lakukan menghasilkan hal-hal luar biasa, bagaimana jika hasilnya jelek? Buruk? Tidak sesuai dengan standar orang lain? Apakah orang-orang ini akan tetap bertepuk tangan? Memberikan selamat? Memberikan pelukan? Saya rasa tidak begitu. Itu kenapa saya berpikir bahwa apresiasi diri itu penting. Bertepuk tangan, memberikan selamat, dan memberikan pelukan untuk diri sendiri itu penting : entah itu untuk sesuatu yang 'berhasil', 'bernilai', atau untuk segala hal yang saya telah menyelesaikanya 'saja'.
Dua bulan terakhir, saya cukup kesulitan mengajar daring. Saya merasa tidak cukup siap untuk menghadirkan materi yang ideal sekaligus menarik di kelas-kelas virtual. Semua materi rasanya tidak terintegrasi, seperti terlalu abu-abu, absurd, dan saya bahkan tidak yakin, apakah pembelajaran yang saya berikan cukup bermakna, cukup mengena? Saya mulai berpikir keras tentang apa yang harus saya lakukan. Saya membuat banyak opsi, membuat banyak perencanaan, membuat gagasan-gagasan tentang model pembelajaran yang menyenangkan, tapi semuanya berakhir buntu. Saya tidak bisa mengeksekusi ide-ide saya dengan baik. Semua akhirnya hanya menjadi ide yang tak bisa diterapkan. Saya frustasi, sedikit. Tapi saya berpikir, saya tidak boleh menyerah. Saya harus mencari alternatif ide lain. Apapun itu, bagaimanapun itu. Saya harus menghadirkan 'sesuatu' dalam pembelajaran saya, agar pembelajaran yang saya berikan dapat bermakna, dapat mengena, dapat membahagiakan siswa-siswa saya. Sebab menurut saya, satu orang saja yang tidak tertarik dengan pelajaran saya, itu berarti saya gagal. Apakah itu standar yang terlalu tinggi? Saya juga tidak yakin. Tapi jelas itu membebani saya : satu orang yang tidak tertarik itu tadi.
Baru-baru ini, saya menemukannya. Ide itu, konsep itu, yang saya kira, itu akan sangat baik jika saya dapat mengeksekusinya. Saya berpikir tentang bagaimana sebuah pembelajaran Bahasa Indonesia yang di kotak-kotakkan dalam teks oleh kurikulum 2013, tidak lagi dikenalkan dalam konteks yang sesempit itu. Saya memikirkan tentang konsep meleburkan semua teks itu, menjadi satu kesatuan yang dapat dikuasai sebagai suatu keterampilan, bukan sebagai pemahaman, bukan sekadar pengetahuan. Saya berpikir tentang bagaimana menghadirkan sebuah tema-tema tertentu dalam sebuah pembelajaran. Tema-tema yang dikemas dalam bentuk aksi, bukan teori saja. Lebih dari sekadar menghafal dan menebak, saya lebih ingin siswa saya melakukan sesuatu, lalu merenungkannya. Saya ingin mengkombinasikan segala panca indera setiap siswa untuk menghasilkan satu keterampilan yang jelas dalam setiap tema. Saya ingin setiap siswa merasa sedang melakukan hal yang mereka sukai, yang bermakna, yang bisa dinikmati, yang bisa direnungi. Bukan sesuatu yang hanya meminta mereka memikirkannya, tapi tidak memberikan timbal balik. Tidak mengasah kepekaan mereka. Padahal, bukankah mengubah orang-orang yang tidak peka menjadi peka adalah tujuan dari pembelajaran yang sesungguhnya? Menurut saya begitu.
Sekarang pertanyaannya, apakah kalian mau diajak belajar peka?
Saya harap iya.
Konsep itu, saya telah merinci detail-detailnya, saya telah menemukan formulanya. Saya harap, saya bisa menyempurnakannya. Nanti, ketika siswa-siswa saya datang ke sekolah, siap untuk pembelajaran tatap muka, saya harap konsep itu telah mampu saya terapkan dan hadirkan di tengah-tengah mereka. Saya harap siswa saya akan menyukainya. Semoga saja.
Hal-hal itu, konsep yang saya temukan dan telah saya rinci, menurut saya adalah sebuah pencapaian. Meski saya belum bisa menerapkannya. Tapi, saya berterima kasih pada diri saya sendiri. Bukan karena saya membanggakan diri, tapi lebih kepada : wah, saya telah bekerja keras, saya telah menemukan sesuatu, saya akan melakukan sesuatu, tidak peduli seperti apa hasilnya nanti.
Dari pengalaman sederhana itu, saya ingin memberikan apresiasi pada diri saya sendiri. Tidak hanya ucapan terima kasih, tapi sesuatu yang lebih. Saya berpikir tentang naik kereta ke luar kota, sendirian, lalu sesampainya di kota tujuan, saya langsung kembali ke Malang dengan kereta berikutnya tujuan Malang. Saya rasa itu akan menyenangkan, duduk sendirian di kereta, mendengarkan musik dengan headset, melihat keluar jendela, menikmati pemandangan di luar, dan mensyukuri hal yang telah saya dapat, yang telah saya lakukan. Saya rasa, itu adalah harga yang pantas untuk usaha saya, bukan begitu? Saya rasa begitu.
Hal-hal yang saya sampaikan adalah sebuah usaha untuk membuat siswa saya mengerti tentang 'harga' dari diri mereka masing-masing. Bahwa semua orang berharga dengan usaha mereka masing-masing. Tidak peduli sesederhana apapun sebuah usaha, jangan pernah menghakimi diri sendiri dengan perkataan 'apaan, cuma gitu doang?', karena di dunia ini tidak ada yang 'cuma', segalanya berharga, segalanya penting.
Saya memilih diri saya sendiri sebagai subjek, meski cerita saya sederhana, agar siswa siswa saya, kalian semua, juga berani menjadikan diri kalian sebagai subjek, lalu menceritakan bagaimana diri kalian dari sudut pandang yang lebih menarik, dari sudut padang yang 'saya sangat menghargai diri saya sendiri'. Sebab, saya tidak ingin menjadikan diri saya sebagai orang yang mengambil peran sebagai orang yang merusak mental saya sendiri. Saya memilih menjadi saya yang optimis dan menghargai diri saya sendiri. Sebelum orang lain bertepuk tangan untuk saya, saya akan melakukannya sendiri. Sebelum orang lain mengucapkan selamat, saya akan mengucapkannya terlebih dulu. Bahkan ketika orang lain merendahkan saya, menyepelekan saya, saya akan berdiri untuk diri saya sendiri dan memberikan pelukan, lalu akan berbisik 'saya selalu hebat, bagaimanapun hasilnya'. Karena kembali lagi, kegagalan yang dilihat orang lain, hanya bagian kecil dari usaha saya, usaha kita yang begitu besar, yang mati-matian. Maka berhentilah menjadi haters untuk diri sendiri, berubahlah jadi 'number one fan' untuk diri sendiri.
...
Kira-kira begitulah saya memaknai self reward atau apresiasi diri. Pemaknaan ini tentu subjektif, dan saya tidak memaksakan siapapun untuk setuju, saya hanya ingin : semua orang membuat rencana self reward-nya masing-masing.
Dan saya rasa, kalian semua, siswa kelas X yang memilih untuk datang pada tanggal 15 September ke SMAN Taruna Nala, meninggalkan zona nyaman kalian di rumah, itu adalah sebuah pencapaian. Saya ingin, kalian membuat self reward untuk diri kalian sendiri. Rencanakan hal yang ingin kalian lakukan sebelum berangkat ke asrama, abadikan itu. Kelak, ketika kalian tiba disini, ketika kalian merasa lelah, kalian bisa mengenang kembali masa bahagia itu: self reward itu, dan membuat kalian percaya bahwa kalian bisa melewati segala hal terburuk sekalipun, dan kalian akan bertepuk tangan untuk semua itu.
Terima kasih telah menjadi bagian dari hal-hal yang menginspirasi saya, saya harap saya juga bisa cukup menginspirasi kalian.
Int:
Tidak ada kutipan-kutipan yang saya ambil dari sumber manapun dalam tulisan ini, sebab saya ingin siswa-siswa saya belajar tentang keberanian menuliskan ide tanpa harus 'mencomot' kalimat orang lain. Saya ingin siswa saya percaya, bahwa semua yang berasal dari diri mereka adalah baik dan bagus. Semuanya berharga.
Komentar
Posting Komentar