Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Pada Kalam yang Mengembun

Sepi, kalam mengembun Terlalu pagi. Adakah sisa yang masih berderak? Di bawah langit tak berbulan? Semalam Kuncup memendar resah Meninggalkan perih di liang tuju Seketika raup menebar Hilang Sajak tak tumbuh di dekat pagar. Ini kali, Kata mengandung riba Ada anak beranak Menyemai rindu di tepi belukar. Apa ada yang mengerti? Jika indah adalah terka yang dalam Maka kujamu semesta dengan payau majas Apakah puas? Menimba saran tak selalu dengan pena Tinta bisa saja durhaka Pada empu yang kabur Kukira ini tak pernah bemakna Sebab mantra tak dirapal Juga diduga. Tutup saja kuburmu, Dengan jarimu sendiri. Aku ingin berselimut sepi, Di malam tak berbintang Yang menebar abu-abu terlalu dini. Itu indah? Aku tak peduli.

Rindu Itu Kamu; akhirnya kusebut nama

Aku banyak menyimpan rindu untukmu. Seperti malam menyimpan sepi, gelap dikaki langit yang lengang. Tiada mata melihat, Namun abadi. Aku banyak menyimpan rindu untukmu. Umpama pagi menyimpan embun, bening di tengkuk ilalang yang hijau. Tiada tangan menghitung, Namun hakiki. Aku banyak menyimpan rindu untukmu. Butir demi butir Kusemayamkan di sepetak ladang yang barbar Tetap suci. Tumbuh berimbuh, tak pernah berhenti. Lalu, apakah kau lelah? Kurindui seperti ini? Dunia berangsur tua, Dan rinduku tak pernah usai berbunga. Luruh satu, mekar ribuan lainnya. Lalu, apakah kau jengah? Kurindui sepanjang ini. Kau tak bergeming, Sibuk dalam ketidaksadaranmu Sedangkan tanda, telah berkali kali kulesakkan padamu. Kau, Iya kau, Yang pernah membicarakan sebuah lagu melankolis denganku, Tahu kah kau? Kau itu rindu. Rindu itu kamu. Bangkit dan rebah di relungku, Bertambah Bertumbuh Beribu. Kau? Bolehkah kusebut namamu? Agar kau tau. Kau itu rinduku. Rinduku...

Apa Kau Pernah Merasakannya?

Sedikit saja, Apakah kau tidak pernah merasa? Bahwa di tengah jarak yang sempurna memisah kita Aku adalah hati yang merindukanmu Menerbangkan harap di tepi malam Agar mampu mendaki kabul -seberkas wajahmu- Bukan fana. Sejenak saja, Apakah kau tidak pernah merasa? Bahwa di senyapnya sapa antara kita Aku adalah mata yang tak henti mencari kamu Di redup layar Di nyala dinding penebar maya Menautkan harap pada sunyi tanda Agar sampai di ujung rabamu -bekunya nurani- Bukan nisakala. Ah, Biar sedetik saja, Tidakkah kau pernah merasakannya? Rindu yang berdetak riuh di dadaku Tanda yang berseru bising di hadapmu Dan segala kemustahilan yang kau kira bukan untukmu Adalah sebuah persembahan Dari hamba sahaya yang memikul cinta Untukmu. Sebentar saja, Apakah kau tidak merasakannya? Ini Itu Segala yang kutulis Selalu tersemat ciri tentang kamu. Mata berbingkai rindu, milikku. Mata berbingkai kaca, milikmu. Belum mengerti juga? Tidak apa apa. Mungkin hari i...

Mencintai Dalam Diam

Mencintai dalam diam Aku hanya butuh menikmatinya. Seperti jatuhnya hujan, yang memberi basah dan meninggalkan keruh dalam genangan Aku tak pernah mengusir Biarkan turun Biarkan datang Jika sudah reda, Barangkali ada sisa sejuk yang menguasa Menumbuhkan kedamaian.  Mencintai dalam diam Aku hanya butuh mengabaikannya. Seperti terik di sisi kemarau, yang menyisakan retak di lapangnya belukar juga kering di permukaan danau Aku tak pernah mengutuk. Biarkan singgah Biarkan saja menggenapi musim Jika sudah surut, Ia menyembulkan kembang di pucuk pohon Menerbitkan keyakinan.  Mencintai dalam diam Aku hanya butuh menyimpannya.  Sendiri Mengalir di dekat telaga hati yang bening.  Tenang Mengikuti arus yang selalu bertaut pada muara. Akhirnya akan indah jua Akhirnya akan manis juga Mencintai dalam diam Aku tak harus membisu Lewat sajak aku bisa berseru Meski tak pernah dipahaminya.  Mencintai dalam...

Kamu

Ialah kamu, mata terbingkai kaca. Tidak retak Meyulam suci pada pendar tatap, sebab pandang sama meluruh Jatuh mengecup bumi. Antara kamu, dan dosa sebab hadirnya cinta Selat membelah, memisah hati dari tuannya. Antara kamu, dan sentuh yang menemu fana Aku meneguk surga -dalam hening selasar surau -parau doa merusuh langit Tuhan membuka pintu Dan kabul menerima pinta. Ialah kamu, sebait sajak kurangkai mesra diujung-ujung tinta dilembar-lembar putih mengalpa warna Ialah kamu, yang kupunya abadi tanpa menuntut raga. #minatsastra1 #dulce_et_utile  

L a g i saat P a g i

.Untuk mu Untuk mu Yang tak bisa kulanjutkan menyebut. Sebab angin membawa tiup Jadi sengau yang kusebut doa Pada mu Yang tak bisa kulanjutkan memandang Sebab hujan membawa hapus Jadi genang yang kusebut pinta Untuk mu Pada mu. Purnama terakhir telah   memendarkan cahaya   Jadi jingga yang menghilangkan segala. .Sementara sementara kau bertaruh, aku masih menunggu, antara diam atau menembus hujan berdiri atau mengejar kemarau menyerha atau habis dalam kealpaan semantara aku pergi kau kemudian kembali antara menyibak nyata atau merunut fatamorgana membara atau mengulam beku mati atau hidup tanpa memiliki sementara masih  sementara kembali .Dekat Pagi dan rindu yang kau sampaikan, di cawan mana harus kuletakkan. segala yang telah dipecahkan semua yang telah dihancurkan. berlalu mencari menemu rindu pundah-pundak yang pada dekat kau pilih abai pada jauh meminta kembali cinta mengetuk ...