Aku banyak menyimpan rindu untukmu.
Seperti malam menyimpan sepi,
gelap dikaki langit yang lengang.
Tiada mata melihat,
Namun abadi.
Aku banyak menyimpan rindu untukmu.
Umpama pagi menyimpan embun,
bening di tengkuk ilalang yang hijau.
Tiada tangan menghitung,
Namun hakiki.
Aku banyak menyimpan rindu untukmu.
Butir demi butir
Kusemayamkan di sepetak ladang yang barbar
Tetap suci.
Tumbuh berimbuh, tak pernah berhenti.
Lalu, apakah kau lelah? Kurindui seperti ini?
Dunia berangsur tua,
Dan rinduku tak pernah usai berbunga.
Luruh satu, mekar ribuan lainnya.
Lalu, apakah kau jengah? Kurindui sepanjang ini.
Kau tak bergeming,
Sibuk dalam ketidaksadaranmu
Sedangkan tanda, telah berkali kali kulesakkan padamu.
Kau,
Iya kau,
Yang pernah membicarakan sebuah lagu melankolis denganku,
Tahu kah kau?
Kau itu rindu.
Rindu itu kamu.
Bangkit dan rebah di relungku,
Bertambah
Bertumbuh
Beribu.
Kau?
Bolehkah kusebut namamu?
Agar kau tau.
Kau itu rinduku.
Rinduku.
Hanya aku.
Seperti malam menyimpan sepi,
gelap dikaki langit yang lengang.
Tiada mata melihat,
Namun abadi.
Aku banyak menyimpan rindu untukmu.
Umpama pagi menyimpan embun,
bening di tengkuk ilalang yang hijau.
Tiada tangan menghitung,
Namun hakiki.
Aku banyak menyimpan rindu untukmu.
Butir demi butir
Kusemayamkan di sepetak ladang yang barbar
Tetap suci.
Tumbuh berimbuh, tak pernah berhenti.
Lalu, apakah kau lelah? Kurindui seperti ini?
Dunia berangsur tua,
Dan rinduku tak pernah usai berbunga.
Luruh satu, mekar ribuan lainnya.
Lalu, apakah kau jengah? Kurindui sepanjang ini.
Kau tak bergeming,
Sibuk dalam ketidaksadaranmu
Sedangkan tanda, telah berkali kali kulesakkan padamu.
Kau,
Iya kau,
Yang pernah membicarakan sebuah lagu melankolis denganku,
Tahu kah kau?
Kau itu rindu.
Rindu itu kamu.
Bangkit dan rebah di relungku,
Bertambah
Bertumbuh
Beribu.
Kau?
Bolehkah kusebut namamu?
Agar kau tau.
Kau itu rinduku.
Rinduku.
Hanya aku.
Komentar
Posting Komentar