Apa setelah orang-orang menjadi gila, mereka tidak waras? Tentu saja.
Tapi orang-orang gila, telah memenangkan dirinya sendiri, dalam perang sengit melawan kenyataan.
Aku masih ingat dengan baik, bagaimana aku yang gila ini, bertemu dengan kamu; seseorang yang pada akhirnya mengakui, bahwa kewarasan bukanlah hakikat. Kegilaanlah yang punya esensi.
Aku tau, aku bisa melihat dari caramu hadir dan ada, meski saat itu kita masih sama-sama terantuk pada satu kata; asing. Dan diam menjadi pilihan terbaik untuk orang-orang asing. Meski aku dan kamu, punya tujuan yang sama : menjadi orang gila.
Atau, kita telah gila saat itu. Hanya saja kita belum datang, oh belum sampai, dan belum tinggal di rumah sakit (jiwa). Kita masih cukup angkuh untuk sekadar mengatakan 'hai', demi menunjukkan satu hal ;aku yang paling gila. Tapi aku baru sadar, aku tidak pernah angkuh, tidak cukup punya keangkuhan untuk menjadi angkuh di depanmu. Karena, aku tidak bisa angkuh pada orang-orang yang membuat aku suka melihatnya, ya tentu saja kau.
Selanjutnya, aku tak pernah tahu bahwa kita bisa mencair, ya kau dan aku. Baur dalam percakapan yang mungkin aku telah melupakan topiknya, tapi aku tau, aku tidak baik-baik saja. Itu seperti kau memaksa masuk ke dalam gerbangku yang berduri, menantang anjing penjaga yang telah aku siapkan di depan pintu, dan kau memenangkan pertarungannya.
Tidak, aku tidak mengunci hatiku karena orang-orang yang pernah kau tanyakan ; sebab orang-orang yang demikian tak pernah memiliki tempatnya. Aku hanya menguncinya untuk orang-orang sepertimu: orang-orang yang tak pernah aku miliki di masa lalu.
Everyone is Struggling.
Saat itu aku memaknainya dengan maksud lain, dan salah. Seperti aku yang salah memaknai kata multitasking yang kau katakan, atau barangkali aku bukan salah : aku hanya tidak tau.
Dan tidak mau tau pada konstelasi yang membuat kita jauh, seperti neptunus pada pluto. Hahaha. Aku telah berbicara tempat yang jauh untuk menjelaskan tempat yang sangat dekat, rumah sakit (jiwa).
Tempat dimana tidak banyak hal yang sempat disampaikan, kecuali dua orang gila yang bermain-main dengan uang tanpa takut kehilangan. Atau dua orang gila yang berlarian di pinggir jalan untuk mencari tempat 'menggandakan' kegilaannya masing-masing. Dan orang gila yamg duduk berjam-jam di dalam rumah sakit (jiwa) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang semakin merusak kejiwaannya. Serta dua orang gila yang berlama-lama menunggu kegilaannya untuk memastikan kewarasannya memang tidak pernah ada.
Dan ya, keduanya memang gila.
Setelah itu, tanpa kau ketahui, ada bagian dari dirimu yang diam-diam aku ambil, kumasukkan dalam saku, dan kukeluarkan saat tiba di rumah. Aku kenang sepanjang hari, tanpa kau tau. Sampai suatu hari aku mengakuinya padamu dan kau meresponnya dengan jenaka.
"kau manis."
"bagaimana kau tahu?"
"aku telah mengambil bagian dari dirimu, tanpa kau ketahui. aku memakannya setiap pagi."
"oh pantas saja."
"kenapa?"
"aku sudah curiga."
"kepadaku?"
"iya."
"Itu kenapa aku memegang tasku erat-erat saat itu."
"hahaha, kau lucu, bisa kubungkus?"
dan kita tertawa seperti orang bodoh, aku saja mungkin yang tertawa, karena kau seringkali tertawa palsu. Iya, itu palsu. bukan tawa orang gila.
Pasien-Pasien Baru di Rumah Sakit (Jiwa)
Aku menjadi sangat suka di rumah sakit (jiwa), dan menjadi orang gila bersamamu. Meski, saat itu kewarasan adalah topeng paling memungkinkan untuk berkamuflase. Ya, dengan kewarasan, aku bersandiwara menjadi orang gila. Tapi, aku juga cukup tahan untuk bersandiwara menjadi orang waras dan menyembunyikan kegilaanku, sampai kali terakhir kita bertemu. aku mungkin sudah setengah gila.
Itu adalah bagian paling baik dalam hidupku, apa kau ingat? Saat itu, kau barangkali memang tidak waras betul. Aku bisa mengingat setiap detail kejadiannya dengan sangat baik, bahkan aku mengingat lagu apa yang dinyanyikan oleh siapa. Dan kau, telah menjadi penjajah yang membuatku selalu berpikir, apa orang gila bisa bersama? Bukan, apa orang gila bisa merdeka?
orang-orang gila selalu yang paling merdeka, apakah itu kamu, apakah itu aku, apakah itu kita. kau tentu akan merasa aneh mendengar kata kita, sama. Karena kita tak pernah seserius itu membahas tentang kita. kau hanya bercanda dan bermain dengan keraguan-keraguanmu sendiri. Sedangkan aku, mungkin seperti orang gila yang lain, tertawa di hadapanmu, di antara dunia maya yang membuat bumi dan belahan bumi yang lain sejauh neptunus dan pluto.
sebagai orang gila yang pernah bertemu di rumah sakit (jiwa), dan orang gila yang jatuh cinta, yang sedang kehabisan akal sehat karena didatangi rindu, orang gila tidak pernah peduli apakah yang dicintainya, yang dirinduinya, juga memiliki perasaan yang sama. orang-orang gila seperti itu, hanya membuka jendela, memastikan bahwa kau ada. Apa kau benar-benar ada? Apa kau juga membuka jendelamu untuk orang lain? siapa? bagaimana kau berbicara dengan orang-orang waras? apa kau suka? apa kau baik pada mereka? Aku tidak peduli. Aku, yang telah lebih gila dari kamu, tidak peduli dengan apa yang sedang kau lakukan di balik jendela itu. orang gila tak suka bertanya pada orang yang dicintainya. Karena untuk orang-orang gila, mencintai adalah mencintai. beban itu sepenuhnya miliknya ; orang gila - aku. Sedangkan kau, sebagai orang yang mengaku waras, yang mengaku kadang gila, yang tentu saja aku cintai, tak perlu menanggung beban apa-apa untuk menjawab segala pertanyaanku pada alam, pada kaca jendelamu. Tidak. Kau hanya perlu ada, dan aku akan bisa bernafas dengan baik. Lalu aku akan menjadi gila yang sejati, yang pura-pura bahagia. yang mungkin merdeka, mungkin juga tidak.
Maaf, aku memang terlanjur menyukaimu, dan aku tak pernah keberatan dengan kegilaanmu yang kadang datang, kadang juga pergi. Aku menyukaimu karena kau memang seperti itu, lebih suka lagi saat kau menyadari bahwa kau sedang tidak waras.
"kau disana?"
"iya. kenapa datang?"
"aku rindu?"
"bohong, pasti bukan padaku."
"kamu."
"pasti orang lain."
"kau."
"aku tidak percaya."
"aku tidak perlu kau percaya."
"kau pandai menggombal."
"lebih pandai lagi menyukaimu."
"hentikan."
maka aku akan benar-benar berhenti untuk mencemarimu. Entah itu untuk sejenak, atau selamanya. Tidak mungkin. Tidak mungkin untuk selamanya. Aku tidak akan tahan. Tapi aku bisa tahan, jika kau yang meminta. Aku tidak akan marah, karena orang gila tak pernah marah. Dan aku terlalu menyukaimu untuk marah. Apa yang bisa membuatku marah? tidak ada. Selama itu masih kau, yang kadang waras, yang kadang tidak. Aku hanya akan menyukaimu. begitu saja. boleh?
kau selalu bilang boleh, kau selalu membuka jendela, kau selalu tertawa, tapi kau kadang-kadang jadi orang yang khawatir. Menanyakan hal-hal yang membuatmu risau sendiri. Atau barangkali aku bisa benar-benar membuatmu risau dengan menjadi seekor kucing.
"Aku tidak suka kucing."
"Sama."
"Baru ini aku menemukan orang yang sama denganku."
"Sama?"
"Sama-sama tidak suka kucing."
"Oh. Lalu kau suka apa?"
"Kau."
Aku tidak percaya. Tapi sekalipun kau berbohong, aku sudah pasti memaafkanmu. Karena aku menyukaimu. Begitu, memang begitu orang-orang gila memperlakukan dirinya, juga orang-orang yang dicintainya. Meski kadang, sisi diri yang masih waras sulit menerimanya, memaafkannya.
Aku, yang gila ini, yang jelas-jelas tergila-gila padamu, bukannya tidak suka saat kau mengatakan "aku juga menyukaimu.". Aku hanya khawatir, aku hanya risau. Bahwa kau sama gilanya sepertiku saat menyukai sesuatu, seseorang, orang gila.
Jika kau suka, bukankah kau kemudian diam-diam mencariku? Menungguku? Beruntung sekali jika sampai rindu. Dan semua dampak dari suka itu, adalah rasa sendu, cenderung sakit. Aku takut, saat kau suka, kau mencari, kau menunggu, kau rindu, aku sedang tidak ada. Kau pasti akan sedih.
Ya bukan?
Aku tidak ingin kau menanggung itu. Meski aku hanya orang gila, aku cukup paham tentang perasaan. Dan aku, sebagai orang yang menyukaimu, hanya ingin melakukan satu hal : menjaga perasaanmu.
Agar apa?
Agar kau tetap bahagia dan tertawa. Meski aku tau, kau sering tertawa palsu. Iya bukan?
Aku tak pernah menuntutmu untuk menjawab ini dan itu. Tidak. Sebagai orang yang dicintaiku, kau punya hak yang sangat istimewa. Kau tak akan menanggung bebab menjawab apapun. Tidak perlu. Kau hanya perlu ada dan bahagia. Itu adalah balasan terbaik untuk cinta orang-orang gila.
Sepotong Donat dan Kagebunshin
Itu hanya siang yang menjenuhkan untuk orang gila, atau aku yang terlanjur tergila-gila padamu. Aku tidak cukup tahan untuk menjadi orang normal dan waras. Hidup dengan orang-orang yang tidak berasal dari rumah sakit (jiwa). Lalu aku datang, mengetuk jendelamu dengan cara yang hanya dimiliki orang gila. Aku tertawa, dan kau makan donat coklat di kejauhan sana, jauh sekali.
"Selamat makan."
"Itu bukan makan. Pantas kau kurus."
"Oh bukan makan?"
"Ya. Bukan. Makanlah yang banyak, maka akan semakin banyak yang menyukaimu."
"Baiklah. Aku ingin merasakannya."
"Apa?"
"Banyak yang menyukai. Aku belum pernah merasakannya."
"Hahaha. Baiklah."
"Baiklah?"
"Aku akan menjadi banyak, agar kau senang."
"Kagebunshin?"
"Apa itu?
"Sebuah jurus."
"Jurus?"
"Naruto."
"Oh. Aku tidak tahu. Ya, anggap saja itu. Kagebunshin."
Dan hari ini saja, aku sudah menjadi dua orang, mengetuk jendelamu dengan wajah ini dan wajah itu. menyapamu dengan tawa-tawa yang gigil. karena menyukaimu, kadang sangat menyenangkan, kadang juga tidak. Aku suka sakit, lebih banyak. Tapi kau tak boleh tahu. Tak perlu tahu. Karena seperti yang kubilang, kau tak perlu tahu apa-apa, tak perlu percaya apa-apa, kau hanya perlu ada, dan jangan bilang berhenti. Karena aku akan berhenti. Aku tidak suka kau takut, kau khawatir. Aku juga paling tidak suka kau meragukanku.
Rumah Sakit (Jiwa) Yang Kehilangan Pasiennya
Barangkali itu akan melegakan, barangkali juga sangat menyedihkan. Karena tidak akan ada lagi orang-orang tertawa sepanjang waktu, menertawakan apa saja, takdir, dan perasaan yang datang juga pergi. Lorong-lorong akan kesepian tanpa igauan, racauan, dan lagi tawa-tawa yang merdeka. Ya, segala yang merdeka adalah kepunyaan orang-orang gila, aku, kau, dan siapapun yang meletakkan kewarasannya.
"Kau sedang apa?"
Aku sering nyeri saat memikirkan itu. Semakin nyeri saat aku berharap bahwa kau juga memikirkanku, menungguku, atau juga bertanya sesuatu tentangku. Tapi bukankah aku tidak boleh seperti itu? Aku tidak boleh memakai cara cara orang waras untuk mencintaimu, atau berharap seperti cara orang-orang waras saat mereka jatuh cinta.
Aku harus tetap gila untuk mencintaimu, untuk menyukaimu, dan segala hal yang tak perlu kau membalasnya. Kau adalah orang yang aku cintai, itu kenapa kau hanya perlu merasakan cinta. Bukan sebesar apa luka-luka yang kutanggung sebab mencintaimu. Karena sekali lagi, Aku Mencintaimu. Maka kau hanya berhak mendapatkan cinta. Bukan Luka.
Orang-orang Gila Yang Rindu
"Halo."
"Iya."
"Are you okay?"
"Yes, iam."
"..."
Aku seperti mendapatkan sayapku untuk terbang, hanya karena melihatmu ada, ada, dan ada untukku. Aku bahagia, bahkan sekalipun nanti kau tiba-tiba lupa dan lelap ;tanpa memimpikanku.
:dari kota rohani, untuk orang-orang yang pernah singgah.
Komentar
Posting Komentar