Kallen Perempuan yang datang padaku sebelum embun pecah. Membawa seutas senyum yang memabukkan. Menjadikanku pendusta yang ulung. Lupa akan rumah yang telah menyembuhkan dan membesarkan. Hanyut dalam haluan baru yang tak kukenal seluknya. Bahkan harusnya aku sadar i , nanti aku akan tersesat. Pada lembahnya yang bertabur suram, namun memabukkan. “Nama saya Carissa.” Katanya. Dari seberang meja makan yang mungkin akan mempersatukanku dengannya dalam 12 purnama. “Kallen.” Sambutku pada tangannya yang terjulur diatas piring makan kami yang sudah kosong. “Kemarin kita duduk bersama saat materi, sekarang kita kembali satu meja di tempat makan. Ada baiknya saya mengenal kamu.” Tambahnya. Aku tersenyum kaku. Apakah aku baru menyadari kehadirannya detik ini? Kemarin, aku kemana? “Saya selalu memperhatikan kamu dari awal masuk tempat ini. Kamu kelihatannya orang yang ramah.” Komentarnya ringan, bibirnya yang merah mengatup lembut. Lalu berubah menjadi semburat se...