Langsung ke konten utama

D'javu




Kallen

Perempuan yang datang padaku sebelum embun pecah. Membawa seutas senyum yang memabukkan. Menjadikanku pendusta yang ulung. Lupa akan rumah yang telah menyembuhkan dan membesarkan. Hanyut dalam haluan baru yang tak kukenal seluknya. Bahkan harusnya aku sadari, nanti aku akan tersesat. Pada lembahnya yang bertabur suram, namun memabukkan.
 “Nama saya Carissa.” Katanya.
Dari seberang meja makan yang mungkin akan mempersatukanku dengannya dalam 12 purnama.
“Kallen.” Sambutku pada tangannya yang terjulur diatas piring makan kami yang sudah kosong.
“Kemarin kita duduk bersama saat materi, sekarang kita kembali satu meja di tempat makan. Ada baiknya saya mengenal kamu.” Tambahnya.
Aku tersenyum kaku. Apakah aku baru menyadari kehadirannya detik ini? Kemarin, aku kemana?
“Saya selalu memperhatikan kamu dari awal masuk tempat ini. Kamu kelihatannya orang yang ramah.” Komentarnya ringan, bibirnya yang merah mengatup lembut. Lalu berubah menjadi semburat senyum yang menggetarkan.
“Terima kasih atas perhatiannya.” Kalimatku seperti menutup pidato.
Dia kembali tersenyum sampai kedua matanya menyipit.
Dan aku?
Merangkum senyum pertamanya dalam ruang sempit di sudut paling rahasia bernama hati. Aku takut mengakuinya, bahwa aku telah menyimpannya sedalam itu. Tapi semua telah terjadi. Pertemuan sakral itu, mengubahku dari setia menjadi ingin disakiti. Mengejar hati, yang aku tahu, akan menyuapiku rasa bernama kecewa. Seutuhnya.
Lalu aku mengarak harapku pada liar yang lebih dekat dengan dusta.
Dengan salah satu bagian yang ku sembunyikan. Aku merangkak liar dari dahan yang satu ke dahan yang lainnya. Melupakan satu kelemahan ranting yang telah renta. Akan segera patah.
Mari kumulai dari imajinasiku, yang sedikit menyentuh nyata. Tentangnya, perempuan bernama Carissa itu.
Aku mengumpulkan butir-butir keberanian untuk duduk disampingnya, menempelkan bahu kananku pada bahu kirinya yang dibalut kemeja katun berwarna biru muda. Aku tak menatap matanya, sebab aku berubah gagap dalam detik yang rasanya tak lagi berdentum. Aula ini berubah sesak dengan udara yang menghimpitku. Aku tak bisa bernafas di tengah oksigen yang merumput di semua sudut. Aku terbang entah kemana. Hampir meledak karena gugup bertemu dengannya.
Dalam sekali hembusan nafas, aku mengusir kunang-kunang dari pandanganku. Berubah menjadi puluhan kepala dengan macam-macam raut wajah yang ku kenali. Suara yang saling bersahutan, sama berbincang dengan lawan bicara paling dekat yang mungkin bisa di jangkau. Pada ratusan deret kursi yang berjejal memenuhi aula, takdir membuatku duduk tepat di sebalahnya, Carissa, tersenyum disampingku. Kali ini, aku berharap tak pernah lagi ada detik yang bergerak. Biarkan seperti ini, menatapnya sampai habis hausku atasnya. Senyuman itu.
“Kita duduk bersebelahan lagi.” Katanya membuka pembicaraan.
Matanya yang lembut menyapu wajah gugupku.
“Kebetulan.” Sahutku setenang mungkin.
“Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Saya bertemu dan duduk bersama kamu hari ini, bukan kebetulan. Sudah ada skenarionya.” Tandasnya tegas.
Matanya tak beranjak dari menatapku. Tatapan yang begitu khas, lembut-intens-dan mematikan cahaya mataku.
“Saya harap skenarionya dapat berakhir dengan baik.” Tukasku.
Keningnya berkerut.
“Cerita hidup saya selalu tidak menyenangkan jika berhubungan dengan perempuan cantik.” Kalimatku mengakhiri perbincangan kami. Mata lembutnya yang tegas, berubah luruh dalam satu detik yang diantar kalimatku. Seorang pemateri muncul di depan ruangan seminar. Menjadi semacam ketukan palu, bahwa perbincangan ini benar-benar harus diakhiri.
Faktanya, kali ini aku tidak gugup lagi.

...(bersambung)

#minatsastra1
#dulce_et_utile

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)