Kallen
Perempuan yang
datang padaku sebelum embun pecah. Membawa seutas senyum yang memabukkan.
Menjadikanku pendusta yang ulung. Lupa akan rumah yang telah menyembuhkan dan
membesarkan. Hanyut dalam haluan baru yang tak kukenal seluknya. Bahkan harusnya
aku sadari,
nanti aku akan tersesat. Pada lembahnya
yang bertabur suram, namun memabukkan.
“Nama saya Carissa.” Katanya.
Dari seberang
meja makan yang mungkin akan mempersatukanku dengannya dalam 12 purnama.
“Kallen.”
Sambutku pada tangannya yang terjulur diatas piring makan kami yang sudah
kosong.
“Kemarin kita
duduk bersama saat materi, sekarang kita kembali satu meja di tempat makan. Ada
baiknya saya mengenal kamu.” Tambahnya.
Aku tersenyum
kaku. Apakah aku baru menyadari kehadirannya detik ini? Kemarin, aku kemana?
“Saya selalu
memperhatikan kamu dari awal masuk tempat ini. Kamu kelihatannya orang yang
ramah.” Komentarnya ringan, bibirnya yang merah mengatup lembut. Lalu berubah
menjadi semburat senyum yang menggetarkan.
“Terima kasih
atas perhatiannya.” Kalimatku seperti menutup pidato.
Dia kembali
tersenyum sampai kedua matanya menyipit.
Dan aku?
Merangkum senyum
pertamanya dalam ruang sempit di sudut paling rahasia bernama hati. Aku takut
mengakuinya, bahwa aku telah menyimpannya sedalam itu. Tapi semua telah
terjadi. Pertemuan sakral itu, mengubahku dari setia menjadi ingin disakiti.
Mengejar hati, yang aku tahu, akan menyuapiku rasa bernama kecewa. Seutuhnya.
Lalu aku
mengarak harapku pada liar yang lebih dekat dengan dusta.
Dengan salah
satu bagian yang ku sembunyikan. Aku merangkak liar dari dahan yang satu ke
dahan yang lainnya. Melupakan satu kelemahan ranting yang telah renta. Akan
segera patah.
…
Mari kumulai dari imajinasiku, yang sedikit
menyentuh nyata. Tentangnya, perempuan bernama Carissa itu.
…
Aku mengumpulkan
butir-butir keberanian untuk duduk disampingnya, menempelkan bahu kananku pada
bahu kirinya yang dibalut kemeja katun berwarna biru muda. Aku tak menatap
matanya, sebab aku berubah gagap dalam detik yang rasanya tak lagi berdentum.
Aula ini berubah sesak dengan udara yang menghimpitku. Aku tak bisa bernafas di
tengah oksigen yang merumput di semua sudut. Aku terbang entah kemana. Hampir
meledak karena gugup bertemu dengannya.
Dalam sekali
hembusan nafas, aku mengusir kunang-kunang dari pandanganku. Berubah menjadi
puluhan kepala dengan macam-macam raut wajah yang ku kenali. Suara yang saling
bersahutan, sama berbincang dengan lawan bicara paling dekat yang mungkin bisa
di jangkau. Pada ratusan deret kursi yang berjejal memenuhi aula, takdir
membuatku duduk tepat di sebalahnya, Carissa, tersenyum disampingku. Kali ini,
aku berharap tak pernah lagi ada detik yang bergerak. Biarkan seperti ini,
menatapnya sampai habis hausku atasnya. Senyuman itu.
“Kita duduk
bersebelahan lagi.” Katanya membuka pembicaraan.
Matanya yang
lembut menyapu wajah gugupku.
“Kebetulan.”
Sahutku setenang mungkin.
“Tidak ada yang
kebetulan di dunia ini. Saya bertemu dan duduk bersama kamu hari ini, bukan
kebetulan. Sudah ada skenarionya.” Tandasnya tegas.
Matanya tak
beranjak dari menatapku. Tatapan yang begitu khas, lembut-intens-dan mematikan
cahaya mataku.
“Saya harap
skenarionya dapat berakhir dengan baik.” Tukasku.
Keningnya
berkerut.
“Cerita hidup
saya selalu tidak menyenangkan jika berhubungan dengan perempuan cantik.”
Kalimatku mengakhiri perbincangan kami. Mata lembutnya yang tegas, berubah
luruh dalam satu detik yang diantar kalimatku. Seorang pemateri muncul di depan
ruangan seminar. Menjadi semacam ketukan palu, bahwa perbincangan ini
benar-benar harus diakhiri.
Faktanya, kali ini aku tidak gugup lagi.
...(bersambung)
#minatsastra1
#dulce_et_utile
Komentar
Posting Komentar