Segalanya hanya tentang maya yang terlampau nyawa untuk menafkahi kita. Iya kita. Aku tak mengatakan itu kamu, atau aku. Sebab nyatanya kita telah sama terluka dan menang -karena kita diam. Dari celahmu, kau melihat aku seperti hati yang hidup, bahagia, menyentuh musim dengan segalanya beraroma semi. Sedang di balik itu, di balik bayangan yang kau bahkan tak pernah melihat, ada lengang ; luka abadi. Jatuh sebagai air mata di sebuah malam yang kau untuk kesekian kalinya menyapa, seperti balita. Kau ; aku bahkan tidak tahu seperti apa wujudmu. Bahkan untuk sekadar tau bagaimana aroma tubuhmu, aku tak pernah membayangkan. Yang aku tau, aku seperti melihat aku dalam dirimu. Membawa luka kemana mana. Darah yang merah -metafisik. Hanya aku, dan seutas Indra bukan lima dapat melihatnya. Sebab aku dan kau sama, hanya saja tak mau mengakuinya. Apakah itu kau atau bukan, sekadar takdir atau malah akhir dari segalanya, aku hanya ingin melihat kau satu kali saja. Satu kali lagi. Satu kali unt...