Langsung ke konten utama

Kepada Kita

Segalanya hanya tentang maya yang terlampau nyawa untuk menafkahi kita. Iya kita. Aku tak mengatakan itu kamu, atau aku. Sebab nyatanya kita telah sama terluka dan menang -karena kita diam.
Dari celahmu, kau melihat aku seperti hati yang hidup, bahagia, menyentuh musim dengan segalanya beraroma semi. Sedang di balik itu, di balik bayangan yang kau bahkan tak pernah melihat, ada lengang ; luka abadi. Jatuh sebagai air mata di sebuah malam yang kau untuk kesekian kalinya menyapa, seperti balita.
Kau ; aku bahkan tidak tahu seperti apa wujudmu. Bahkan untuk sekadar tau bagaimana aroma tubuhmu, aku tak pernah membayangkan. Yang aku tau, aku seperti melihat aku dalam dirimu. Membawa luka kemana mana. Darah yang merah -metafisik. Hanya aku, dan seutas Indra bukan lima dapat melihatnya. Sebab aku dan kau sama, hanya saja tak mau mengakuinya.
Apakah itu kau atau bukan, sekadar takdir atau malah akhir dari segalanya, aku hanya ingin melihat kau satu kali saja. Satu kali lagi. Satu kali untuk berkali-kali akan kujadikan kau sebagai kenangan. Setidaknya, itu lebih baik jika takdir menikamkan pisaunya dengan kejam pada kita.
Aku tak lagi berbicara tentang Chinatown, sebab itu terlalu jauh untuk kita tuju, sedang pada kota bunga, kita tidak pernah merekahkan apa apa, selain kau pernah singgah, dan aku yang tak cukup berani mengatakan "mari bertemu."
Lalu kukira semua baik-baik saja, dan akan hilang pada waktunya. Selain sebuah kesangsian lain yang membuatku mengerti, bahwa aku ingin berlari saja. Mencuri purnama dari langit, lalu memasukkannya pada celengan kecil, seperti kau ingin melakukannya padaku. Agar tak ada purnama lagi, agar tidak ada aku lagi. Agar tidak ada tanggal, dimana aku akan merasa mati.
Aku telah sebenar-benarnya menjadi aku ketika memilih aku menjadi nomina. Dimana nomina harusnya berdiri, dan melakukan apa. Selain orang-orang yang berpikir, apakah ini aku yang sebenarnya?
Aku akhirnya menyeduh diksi tanpa lilin, dan kudapati asap mengepul tipis, tapi membuatku panas, dan ingin menangis. Aku terlanjur sedih untuk sekadar meniup dan pura-pura terharu. Aku tidak butuh selamat ulang tahun, aku tidak butuh apa-apa selain aku hanya ingin menjadi waras.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa kau sedang merindukan seseorang?" Seekor badak yang terjaga dari tidurnya, dikejutkan dengan pertanyaan absurd yang pasi.
"Ketika kau ingin melihatnya." Sahutnya.
"Aku bahkan belum pernah melihat dia sebelumnya."
"Apa kau sedang bercanda?"
"Tidak. Aku sedang ingin minum kopi. Barangkali itu bisa menghiburku."
"Kau tidak suka kopi."
"Tapi dia menyukainya."
Badak tau, ada hal yang lebih sia-sia dari pada memakai skincare untuk kulitnya. Itu adalah; menasehati orang yang sedang jatuh cinta.
Lalu aku jadi suka sekali menangis. Menarik diri dari keramaian, lalu menangisi kamu, entah untuk apa.
Aku bahkan tau, kau tak akan melakukan apa apa untukku selain berkata ; aku juga terluka.
Aku nyatanya tak pernah berubah. Aku selalu berpikir bahwa tidak ada yang baik dari cinta. Tidak ada yang benar. Yang ada hanya logika yang menjemput kematiannya sendiri. Menelan dogma, bahkan tanpa tujuan apa-apa.
Aku tiba-tiba ingin berlayar ke samudera luas. Menggunakan sampan kecil yang tangguh. Lalu di tengah lautan lepas, aku ingin melihat hujan. Menengadahkan wajah, dan membuka mulutku. Aku ingin minum air hujan. Barangkali hausku akan terobati. Meski aku tau, aku tidak butuh apa apa selain diriku sendiri ; kamu.
Rupanya. Orang-orang mulai berpikir bahwa ini aku. Bahwa ini aku. Bahwa ini aku. Sampai akhirnya mereka sadar, mereka tak bisa membedakan, siapa aku, siapa kamu.
Setidaknya, hiduplah dengan baik, dan datang jika ingin datang. Katakan jika rindu, dan berlarilah padaku, jika kau merasa aku rumahmu. Aku sudah terlalu rapuh, dan jika gubukku runtuh, setidaknya kita bisa jatuh bersama-sama.
"Aku baru mendapatkan ciuman pertama." Badak bercerita.
"Apa kau bahagia?"
"Aku bahagia karena itu dari orang yang aku cintai."
Terkutuklah cinta, karena aku telah menjadi alpa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)