Langsung ke konten utama

Fake ; Doja



Aku sedang menggadaikan duniaku, pada sandiwara yang musykil. Taruh yang terlampau murah untuk sebuah hati yang selamanya tidak akan pernah jatuh cinta -lagi.

.

Kehilangan; darah yang merah kental mengalir di sepanjang apa-apa tak pernah dilihat namun mengeras. Berkabung setelah sumpah serapah tak pernah menyerah menyerang sesuatu yang sesungguhnya telah luluh lantah.

.

Apa yang bisa dikembalikan, setelah lari terlanjur jauh? Menata pada apa apa yang dianggap abadi, namun tak lebih dari surga yang semu.

.

Mata yang tak pernah tau, apa arti dari berpura-pura tersenyum, sedang hati terus menjerit untuk memekikkan nama -nya, Selamanya tidak akan pernah mengerti tentang sejak kapan aku mengenal rollei dan kenapa!
Barangkali itu hanya sebuah diksi yang acak lalu melahirkan senyum kucing dan anjing, tapi lebih dari itu, ada gagasan yang tinggi tentang kemerdekaan yang mati.

.

Ada orang yang hanya tau cara menghitung kebahagiannya sendiri, tanpa tau ada hati yang pucat melihat purnama terakhirnya telah habis ditelan dusta. Dia membuatnya sendiri. Lalu berpura-pura tertawa untuk segala hal yang dunia tau, itu adalah ironi.
Ada puisi-puisi melayang bukan dariku, tapi untuknya, untuk siapa saja yang membuatku masih hidup meski Paris telah meruntuhkan cerita tentang Eiffel. Tapi itu berdiri kembali di celah-celah Baiyoke yang menenggelamkan senja, yang jelas, itu bukan Maha Nakhon.

.

Apapun itu, yang akan datang di Shah Alam, aku berharap masih bisa menikmatinya seperti dulu aku pernah kepayang dengan  segelas minuman di Black Tap Craft Burger and Beer. Tak ada burger, karena di antara kita tak ada yang benar-benar menyukainya.

.


Aku merasa Bhutan akan cukup baik untuk membuatku bersembunyi, sebelum orang-orang tau bahwa aku tak akan pernah benar-benar betah tinggal disana tanpa pad krapow gai.
Balenciaga bukan alasan, aku masih bisa melepasnya, selama tanganku bisa menggenggam kamu. Auh. Nyatanya aku bukanlah siapa yang selanjutnya menjadi kamu dalam kamusmu.

.

Itu adalah Stranger Things dan Coco yang bisa membuatku merasa bahwa aku bisa bahagia sejenak, sebelum semuanya tetap menyakitkan layaknya Hachiko yang tak akan pernah melihat tuannya kembali. Sebab hidup adalah jebakan. Dan orang-orang banyak yang terjebak oleh janji. Janji, bahkan sekalipun itu tidak mewakili diriku, aku setuju untuk mengatakan 'berpikirlah sebelum berkata, karena setiap apa yang kau sebut kata, bagiku adalah janji.'
Aku menjerit untuk diriku sendiri, untuk perjalanan sepi di California yang akan datang. Sebab drama Sky Park, itu bahkan tidak cukup untuk bisa kulupakan hanya dengan cerita di Mali Market. Sulit memaafkanmu, meski rasanya, aku sangat buncah.

.

Aku bukan satu dari orang yang percaya tentang Abrahamik, maka aku memilih wat chai untuk menyeduh doa, sampai akhirnya aku tau, aku tak akan pernah kembali. Orang-orang menipuku, menipu kita. Atau bahkan, kau yang telah menipuku.
Kau harus mendengarkan lagu-lagu Kehlani seorang diri, kecuali kau memang ingin bersungguh-sungguh menyanyikan gomenasai untukku. Apapun yang dilihat Jils dan Rub, selebihnya kuharapkan adalah wajahmu. Atau barangkali itu adalah wajahmu yang lain. Seperti aku, aku yang telah membelah diriku menjadi orang lain dengan hati yang sama -mati.

.

Segera, sebelum sebuah pagi menjemputku dengan taruhan, aku bertaruh, dan aku yang lain juga bertaruh. Nyatanya, sama saja! Aku dan aku yang lain bertaruh untuk orang-orang yang tidak tahu diri. Bangkai.

.

"Kau harus menyimpan ini sebelum pergi."
Bahkan orang yang buta tahu bahwa itu marijuana.
"Yung, apa kau akan menjaganya untukku?" Aku menunggu dia bersumpah.
"Aku selalu menjaganya. Tapi aku tidak bisa menahan Hang menjualnya."
"Aku percaya padamu, meski kadang, aku berpikir bahwa kau licik."
"Aku tidak licik. Aku hanya tidak punya gagasan tentang cinta kalian."
"Kau tak butuh gagasan, kau hanya harus menjaganya."
"Untuk apa aku berjanji, bahkan kau tak bisa melihatku menepatinya."
Aku tersenyum. Perih.
"Kau sangat jujur. Itu kenapa aku tidak bisa membencimu."
"Kau masih bisa kembali Gil!"
"Bisakah kau memanggilku Doja saja?"
"Aku benci memanggilmu seperti itu. Aku teringat pada seseorang yang dicium Jane pada suatu sore yang gerimis."
Aku tertawa.
"Apa kau cemburu?"
"Tidak. Sejak saat itu, aku sudah berhenti menyukainya."
"Kau teman yang baik." Kataku.
"Dan kau orang yang bodoh."
"Katakan pada Hang, aku tidak pernah memaafkan orang-orang yang ingkar janji."
"Hang cukup mengenalmu, dia tidak akan mengubah nominal hanya untuk mempertaruhkan nyawanya."
Hang hanya akan mati jika berani mengubahnya.
"Apa kau tidak ingin menitipkan pesan untuk Jane."
"Tanpa aku berpesan pun, dia tau bahwa aku mencintainya."
Yung tersenyum.
"Apa kau akan menikahinya?"
"Iya. Aku bahkan telah membelikan lucii martyr untuknya."
"Kau harus membelikannya sesuatu yang mahal."
"Apa itu murah?"
"Ya. Jane lebih berharga dari seribu lima ratus dolar."
"Kau lucu."
"Aku tidak sedang bercanda. Aku hanya mengajarkanmu cara menghargai Jane."
Yung mengambil jeda.
"Jane sangat menjaga dirinya untukmu. Kau tak boleh menawar apapun dari apa yang dikatakannya."
"Kau rupanya sangat menghargai Jane."
"Karena Jane gadis yang sangat baik."
"Aku cemburu mendengarmu bicara seperti itu. Tapi, aku setuju. Bahkan, aku rasa laki-laki di dunia ini harus banyak belajar darimu."
Yung tersenyum.
"Kau harus melakukan peranmu dengan baik." Katanya.
Dia menyerahkan sebutir pil warna putih ke arahku. Aku menelannya, tanpa air.
"Aku pergi." Katanya.
Aku tak bicara apa-apa.

.

Aku selanjutnya hanya melihat beberapa pistol terarah padaku. Tidak untuk membunuh. Tapi aku tau, aku yang lain telah terbunuh dengan lebih buruk.

.

"Jils, apa kau melihatku?"
"Apa ini kau?" Sahutnya dari ujung sana.
"Iya."
"Kau dimana?"
"Aku di penjara."

.

Aku yang lain, berbicara dengan Lexy. Aku ingin berlari. Dari penjara, yang orang-orang bilang, ini akan membuatku bahagia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)