Langsung ke konten utama

Postingan

Suhu Gi di Mars - 2

Hal-hal yang menyesakkan  selain rindu, Ialah masa lalu Saat itu, Aku tak menyebut nama siapa-siapa. Juga tak merapal apa-apa. Aku hanya menggantung perasaan di bawah langit yang tak pernah disinggahi kabut. Hanya aku yang mengatakan seperti itu. Bahwa tak pernah ada kabut antara mataku dan lembar-lembar langit. Sampai-sampai kabut itu membuatku terjatuh. Kepada kamu. Kau membisikkan itu pada dirimu sendiri, seolah-olah aku tidak mampu mendengarnya. Tidak tahukah kamu? bahwa detak jantungmu pun, aku bisa mendengarnya. ... Suhu Gi dan sepenggal masa lalunya di bumi Suhu Gi yang kulihat hari ini, adalah buah dari benih-benih cintanya yang cemar. Menodai setiap aliran darahnya. Menyisakan luka menganga di antara sela-sela nadinya. Suhu Gi hari ini, hanya sosok yang hampa. Suhu Gi terlalu sering kehilangan cinta. Sebelum Suhu Gi memilih hidup seperti ini –menempuh jalan suci di Mars, Suhu Gi adalah sepenggal hati yang pernah merasakan mekar. Berbunga....

Suhu Gi di Mars - 1

yang menanggung rindu dan tak mau pulang Sekadar rindu Sekiranya tak pernah habis rindu, perasaan-perasaan yang terlanjur menggelepar; apakah itu sisa atau yang baru mekar. Adakah kau mau merelakan matamu, untuk tinggal sejenak, meneduhkanku? Seperti itu kau membuat pembicaraan dengan dirimu sendiri. Penggalan yang kau kira aku tak mendengarnya. Maka, anggap saja seperti itu. Aku tak mendengarnya. Tapi aku memahaminya. ... Dingin itu kamu Kau adalah orang yang dingin. Sangat dingin untuk sekadar bertanya siapa aku. Kau, bahkan membuat gagasan-gagasan naif tentang orang-orang sepertiku. Bahwa aku, akan membuatmu tenggelam. Seperti air bah yang menghanyutkan balok-balok kayu. Terjungkal diantara bebatuan. Namun masih melanjutkan perjalanan. Meski, sakit luar biasa. Batangnya tetap rebah untuk bermain-main di riak itu. Yang katamu, air bah! Seharusnya seperti ini kau menjelaskan bagaimana air bah membawa balok-balok kayu –Hanyut! Bukan tenggelam. Sebab kamu, b...