Hal-hal yang menyesakkan
selain rindu,
Ialah masa lalu
selain rindu,
Ialah masa lalu
Saat itu,
Aku
tak menyebut nama siapa-siapa. Juga tak merapal apa-apa. Aku hanya menggantung
perasaan di bawah langit yang tak pernah disinggahi kabut. Hanya aku yang
mengatakan seperti itu. Bahwa tak pernah ada kabut antara mataku dan
lembar-lembar langit. Sampai-sampai kabut itu membuatku terjatuh. Kepada kamu.
Kau membisikkan itu
pada dirimu sendiri, seolah-olah aku tidak mampu mendengarnya.
Tidak tahukah kamu?
bahwa detak jantungmu pun, aku bisa mendengarnya.
...
Suhu Gi dan sepenggal
masa lalunya di bumi
Suhu Gi yang kulihat
hari ini, adalah buah dari benih-benih cintanya yang cemar. Menodai setiap
aliran darahnya. Menyisakan luka menganga di antara sela-sela nadinya. Suhu Gi
hari ini, hanya sosok yang hampa. Suhu Gi terlalu sering kehilangan cinta.
Sebelum Suhu Gi memilih
hidup seperti ini –menempuh jalan suci di Mars, Suhu Gi adalah sepenggal hati
yang pernah merasakan mekar. Berbunga. Menyeruakkan wangi di setiap sudut bumi.
Menghidupkan darahnya yang tak merah –entah berwarna apa.
Suhu Gi pernah hidup
dengan baik-baik saja dan jatuh cinta. Pada seseorang yang akan selalu
dibawanya kemanapun ia pergi. Meski kadang, Suhu Gi merasa telah melupakan orang
itu –si mata telaga.
Seperti itu Suhu Gi
menyebut orang yang dicintainya saat masih tinggal di bumi ;mata telaga.
Aku kemudian
membayangkan Suhu Gi tenggelam disana.
...
Mata Telaga
Suhu Gi mungkin pernah
merasa menjadi seorang musafir. Menjelajahi bumi dengan kaki telanjang. Menenun
cerita dari setiap tempat yang di datanginya. Apakah itu gurun atau padang
rumput. Ia mengambil seutas benang, lalu disusunnya sebagai alur. Membuatnya tak
pernah ingin berhenti. Lalu akhirnya ia tersesat di padang gersang. Tak pernah
menemui hujan. Setengah mati dirinya bertahan hidup, di tengah perjalanan yang
selama ini dianggapnya memberi kehidupan.
Sampai pada satu titik,
Suhu Gi menemukan tempat yang teduh untuk sekadar berhenti sejenak. Merebahkan
lelah. Melegakan dahaga. Dan tanpa disadari, Suhu telah menautkan hatinya pada
tempat itu, pada mata itu –mata telaga.
Mata telaga, yang
disukai Suhu Gi itu, tidak cantik. Tapi matanya begitu hidup. Warnanya coklat
bening, selalu menatap Suhu Gi dengan lantang. Tapi tatapan itu tidak pernah
terik, selalu teduh. Menawarkan naungan. Suhu Gi terjebak.
“Kenapa kita harus
berteman?” saat Suhu Gi mengatakan itu, aku mungkin masih berwujud buah mangga.
“Agar tidak ada yang
mengira bahwa kita lebih dari teman.” Mata telaga tak menjauhkan tatapannya
dari Suhu Gi.
“Kenapa jika lebih dari
teman?” Suhu Gi sudah setengah terluka.
“Kau bahkan sudah tahu kalau
aku punya kekasih.” Mata telaga menjelma tsunami untuk Suhu Gi.
Aku bilang apa, Suhu Gi
tidak pernah tepat waktu.
Bayangkan saja, saat
ditolak itu, Suhu Gi masih kuliah.
...
Suhu Gi dan Mata Telaga
Akhirnya Suhu Gi hanya berteman dengan
mata telaga. Teman, yang hanya mata telaga
saja menganggap seperti itu. Sebab Suhu Gi, semakin hari semakin
menyukai mata telaga. Mata coklat itu, kian membius, membuat Suhu Gi kepayang.
Tapi, Suhu Gi terlampau dewasa untuk
sekadar menampakkan hati rapuhnya. Suhu Gi begitu lihai menyimpan kecemburuan.
Iya, Suhu Gi cemburu. Cemburu pada laki-laki yang membuat mata telaga
menjadikan Suhu Gi sebagai laki-laki yang terlambat. Terlambat untuk menjadi kekasih.
“Sekalipun kau datang sebelum kekasihku,
aku belum tentu bisa memilihmu.” Mata telaga yang teduh itu, ucapannya memang
selalu menyengat.
“Kenapa tidak bisa?”
“Aku merasa kau akan menyakitiku.”
“Menyakiti kamu? aku tidak punya bakat
itu.”
“Kau punya.”
“Dari mana kau tahu?”
“Kau punya kemampuan untuk membuat
perempuan benar-benar jatuh cinta padamu. Itu berarti, kau juga punya kemampuan
untuk sangat menyakiti perempuan saat kau meninggalkannya.”
Suhu Gi menyeringai.
“Apa kau sebenarnya mencintaiku?” Suhu
Gi memang terampil dalam hal berandai-andai.
“Kau terlalu percaya diri.” Mata telaga
setengah menggigil.
“Kau berbohong.”
“Terserah.”
Mata telaga pergi begitu saja,
meninggalkan Suhu Gi yang masih tafakur.
Seandainya aku bukan buah mangga, dan
aku adalah mata telaga, aku berharap Suhu Gi mengejarku. Menahan tanganku. Lalu
gerimis datang.
“Ini
bukan sinetron.” Suhu Gi merutuk dari kejauhan. Pada buah
mangga.
Tapi tetap saja. Suhu Gi memang tidak pernah jatuh cinta pada orang yang
tepat.
...
Suatu hari, Suhu Gi pernah lelah
menunggu mata telaga. Iya, menunggu mata telaga putus dengan kekasihnya.
“Aku akan jatuh cinta pada orang lain,
jika kau masih seperti ini.” ucapan Suhu Gi sama sekali tak memiliki penekanan.
Mata telaga tersenyum. Senyum yang
selalu membuat Suhu Gi seolah-olah sedang duduk di dalam bianglala. Ya,
bianglala yang berputar seperti kekuatan cahaya.
“Jangan tersenyum seperti itu, aku akan
pusing.” Suhu Gi masih dengan seringai di wajahnya.
“Kau mudah pusing? Mungkin kau hamil.”
Mata telaga berkelakar.
Tawa menghambur di antara keduanya.
“Bolehkah aku menciummu?” Suhu Gi tak
pernah bisa mengendalikan diri.
“Apa kau akan melakukan ciuman pertama
dengan orang yang tidak menjadikanmu ciuman pertamanya.”
Suhu Gi tersenyum.
“Biar kupikirkan dulu.” Gumamnya.
Kali ini Suhu Gi yang berlalu. Hanya
tubuhnya yang masih utuh. Hatinya telah berserakan. Tercecer di sepanjang jalan
yang telah dilaluinya.
Suhu Gi, yang sekarang berwajah penuh
cahaya itu, menangis karena mata telaga telah menghabiskan ciuman pertamanya dengan
orang lain.
Sungguh malangnya.
Suhu Gi dan Pengembaraannya Yang Barbar
Setelah patah hati yang
tak pernah bisa disembuhkannya. Suhu Gi memilih meninggalkan jati dirinya yang
santun. Suhu Gi memilih jalan barbar untuk menjadi orang yang lupa akan
lukanya. Meski itu tak pernah benar-benar membuatnya bahagia.
Telaga yang membuatnya
singgah, ditinggalkannya jua. Berjalan kakinya, menuju curam-curam nafsu yang
liar. Merajut kisah yang mirip cinta, namun hanya sandiwara. Suhu Gi tidak
peduli. Dia hanya takut kesepian. Dia hanya takut sendirian. Dia hanya takut
merasakan haus, dan kembali merindukan telaganya. Lalu dia menuang arak pada
gelas-gelasnya. Diteguknya sampai tandas, sampai mabuk. Sampai-sampai dia lupa
telah menjamah dosa. Menabung kehinaan-kehinaan dalam dirinya, dalam diri orang
lain. Orang yang membuatnya menjadi begitu barbar. Parasit. Mari kita sebut
saja seperti itu.
“Kau sudah banyak
berubah.” Di sebuah petang, mata telaga mendatangi Suhu Gi.
“Kau yang membuatku
melakukannya.”
“Kau kekanak-kanakan.” Mata
telaga sengit.
“Itu kenapa aku tidak
cocok dengan orang dewasa!”
“Gi!”
“Aku tidak suka kau
menyebut namaku.” Suhu Gi seperti anjing yang siap menyalak.
“Berhentilah
berpura-pura bar-bar. Kau masih punya hidup yang panjang.”
“Aku bahkan tidak tahu
apakah satu jam lagi aku masih hidup atau sudah mati.”
“Setidaknya jangan mati
di tempat hina itu.”
“Maka bawa aku kembali.”
Suhu Gi memohon.
Mata telaga tertegun. Permintaan
macam apa itu.
“Pergilah jika itu yang
membuatmu bahagia.” Mata telaga melepaskan Suhu Gi dengan kalimatnya.
Sekali lagi, panah itu
mendarat di dada Suhu Gi. Mata telaga kembali menghempasnya, saat Suhu Gi
meminta untuk di rengkuh.
Ada darah menetes di
belakang langkah Suhu Gi. Hanya aku bisa melihat. Saat aku, berayun-ayun di
pohon kelapa.
...
Aku, Suhu Gi, dan
Sebuah Makan Malam di Mars
Sejak kejadian di goa
meditasi itu, saat Suhu Gi mengutarakan perasaannya padaku lewat isyarat mata –yang
hanya aku merasakannya, Mars kurasa telah berubah.
Aku bahkan merasa bahwa
udara telah cemar. Cemar oleh ketakutan-ketakutanku pada Suhu Gi. Pada sebuah
ketidaksetiaan. Pada sebuah penghianatan. Sebab aku yakin, ini hanya masalah
waktu. Hanya masalah waktu, kapan Suhu Gi akan mengutarakan perasaannya langsung
padaku.
Apa aku terlalu percaya
diri? Itu memang keahlianku.
Waktu.
Waktu.
Yang selama ini
menggantung sebagai tanda tanya. Kini menemukan jawabannya. Pada sebuah jamuan
makan malam.
Jamuan makan malam adalah
hal yang istimewa. Karena ini penanda bahwa salah seorang Suhu telah diangkat
menjadi guru besar. Yang bersangkutan adalah Suhu Aron. Tentang konsep suhu
yang diangkat menjadi guru besar, aku tidak benar-benar paham bagaimana
teknisnya. Yang jelas malam ini kami akan berpesta. Malam yang penuh kebebasan,
sebab suhu, subo, sumoi, dan teecu boleh memilih tempat duduknya masing-masing.
Sebuah kesempatan langka, di negeri antah berantah yang saluran internetnya
sangat baik –Mars.
Dan peristiwa yang akan
terjadi selanjutnya, aku telah membacanya sepuluh tahun yang lalu. Saat aku
masih bermain gundu.
“Kamu tidak boleh
menceritakan pada siapapun tentang air mata.” Suhu Gi tiba-tiba sudah duduk
tepat dihadapanku.
Suaranya sangat lirih. Teramat
lirih untuk sekadar kudengar dengan jelas.
.
Tunggu dulu, sejenak.
Selain aku tidak
terbiasa dengan suara lirih Suhu Gi, ada hal lain yang membuatku merasa udara
semakin tercemar. Tatapan orang-orang.
Iya. Tentu saja.
Suhu Gi yang dingin
itu, yang tangannya bisa membekukan adonan es krim, tiba-tiba memilih duduk di
depanku. Sebuah bangku kosong yang sebenarnya lebih layak ditempati teecu. Tapi
apa daya, cinta telah membuat Suhu Gi melompati batasnya sendiri. melahirkan
kegaduhan. Desas-desus baru. Tentang hubungan terlarang antara aku dan Suhu Gi.
Patut di catat oleh
semua orang. Aku tidak tergoda pada Suhu Gi. Sedikitpun!
.
“Saya tidak bisa
mendengar Suhu dengan suara selirih itu.” aku terbata.
“Bahkan tanpa bersuara,
bukankah kau tahu kita akan membicarakan apa?”
Kita? Baiklah, aku
merasa Suhu Gi mulai membawa perasaan. Maaf Suhu Gi, aku tidak serapuh itu.
“Kau lahir dengan
kemampuan melihat masa depan. Dan kau sudah tahu, bahwa ini akan terjadi. Iya
kan?” Suhu Gi benar-benar hanya komat-kamit.
Beberapa teecu di kanan
kirinya mengerutkan dahi. Menajamkan pendengaran. Berharap mendengar sepatah
kata saja dari apa yang diucapkan Suhu Gi. Percuma.
“Dari mana Suhu Gi tahu
tentang kemampuan saya?”
Matanya, yang sakral
itu. Kali ini menatapku. Dalam satu kali tatap, Jantungku segera membeku.
“Cukup Suhu.” Pekikku.
Dia kembali menundukkan
pandangannya.
Suhu Gi, aku kali
benar-benar percaya. Matanya memang kulkas!
Itu kenapa dia harus menggunakan
kacamata itu? menundukkan pandangan itu? Karena jika tidak, seisi Mars akan
jadi es batu.
Perlahan, aku kembali
merasakan denyut jantungku. Untunglah, aku belum tamat.
“Saya tidak menganggap
bahwa air mata itu sebagai hal yang penting untuk dibicarakan pada orang lain.”
kataku.
“Apa kamu bisa
dipercaya?”
Aku setengah mendengus.
Bisakah dia berbicara dengan suara lebih keras?
“Suhu Gi bisa mengutuk
saya menjadi es jika memang tidak yakin dengan jawaban saya?”
Suhu Gi samar-samar
tersenyum.
“Apa tidak ada orang
yang mengharapkanmu untuk pulang?”
Pertanyaan macam apa
ini.
“Apa tidak ada?”
ulangnya.
“Banyak sekali yang
mengharapkan saya pulang.” Sahutku terpaksa.
Yang benar saja,
keluargaku sudah menyewa tempat untuk pesta pernikahanku nanti. Asal kau tahu,
Suhu Gi!
“Itu kenapa, saya tidak
bisa mengutukmu menjadi es.”
“Hemm???”
“Aku tahu rasanya
menunggu. Dan itu menyakitkan saat tahu dia tidak akan pernah pulang.”
Aku ternganga. Suhu Gi
sedang curhat.
“Apakah itu mata
telaga?” aku bahkan sadar bahwa pertanyaan ini cukup lancang.
Oke oke sebelum Suhu Gi
kembali mengangkat wajahnya dan membekukan jantungku, aku segera ...
“Saya tidak akan
menanyakan itu lagi, Suhu.” Ralatku.
“Kau harus berhati-hati
pada setiap pertanyaan.” Suaranya semakin lirih.
Aku tafakur.
“Karena kadang,
jawabannya tidak seperti yang kau harapkan.”
Kali ini aku yang
mengangkat wajahku, menatap wajah Suhu Gi yang masih tertunduk.
Lagi,
Sesuatu muncul di
kepalaku. Tentang aku, Suhu Gi, dan sebuah makan malam.
Ada
Suhu Aron yang berbahagia di atas altar. Beberapa penghibur menari di
hadapannya. Suhu macam apa yang suka
maksiat? Hashh!!!
Suhu dan Subo yang
menari di lantai dansa. Keluar dari tempat semedi yang pengap.
Sumoi-sumoi yang
merayakan waktu libur.
Suhu Gi.
Aku.
Sebatang lilin di meja.
Dua gelas anggur merah,
yang belum tersentuh.
Juga, cinta membara.
Baru menyala.
“Tidak Suhu!” aku
memekik dalam hati, tapi mulutku katup.
Dalam tunduknya Suhu Gi
resah.
Aku juga.
Sudah kubilang apa,
Suhu Gi akan jauh lebih terluka.
“Suhu Gi tidak bisa
melakukannya.” Kali ini aku memohon.
Ia menggeleng.
Sejak saat itu, dan
entah sampai kapan, Suhu Gi mengutuk lidahku jadi kelu.
Yang menjadi pertanyaanku
selanjutnya adalah, bagaimana aku akan menghadapi ujian speakingku esok lusa?
Suhu Gi benar-benar
gila!
Komentar
Posting Komentar