Langsung ke konten utama

Suhu Gi di Mars - 2




Hal-hal yang menyesakkan 
selain rindu,
Ialah masa lalu


Saat itu,

Aku tak menyebut nama siapa-siapa. Juga tak merapal apa-apa. Aku hanya menggantung perasaan di bawah langit yang tak pernah disinggahi kabut. Hanya aku yang mengatakan seperti itu. Bahwa tak pernah ada kabut antara mataku dan lembar-lembar langit. Sampai-sampai kabut itu membuatku terjatuh. Kepada kamu.
Kau membisikkan itu pada dirimu sendiri, seolah-olah aku tidak mampu mendengarnya.
Tidak tahukah kamu? bahwa detak jantungmu pun, aku bisa mendengarnya.
...

Suhu Gi dan sepenggal masa lalunya di bumi
Suhu Gi yang kulihat hari ini, adalah buah dari benih-benih cintanya yang cemar. Menodai setiap aliran darahnya. Menyisakan luka menganga di antara sela-sela nadinya. Suhu Gi hari ini, hanya sosok yang hampa. Suhu Gi terlalu sering kehilangan cinta.
Sebelum Suhu Gi memilih hidup seperti ini –menempuh jalan suci di Mars, Suhu Gi adalah sepenggal hati yang pernah merasakan mekar. Berbunga. Menyeruakkan wangi di setiap sudut bumi. Menghidupkan darahnya yang tak merah –entah berwarna apa.
Suhu Gi pernah hidup dengan baik-baik saja dan jatuh cinta. Pada seseorang yang akan selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Meski kadang, Suhu Gi merasa telah melupakan orang itu –si mata telaga.
Seperti itu Suhu Gi menyebut orang yang dicintainya saat masih tinggal di bumi ;mata telaga.  
Aku kemudian membayangkan Suhu Gi tenggelam disana.

...
Mata Telaga
Suhu Gi mungkin pernah merasa menjadi seorang musafir. Menjelajahi bumi dengan kaki telanjang. Menenun cerita dari setiap tempat yang di datanginya. Apakah itu gurun atau padang rumput. Ia mengambil seutas benang, lalu disusunnya sebagai alur. Membuatnya tak pernah ingin berhenti. Lalu akhirnya ia tersesat di padang gersang. Tak pernah menemui hujan. Setengah mati dirinya bertahan hidup, di tengah perjalanan yang selama ini dianggapnya memberi kehidupan.
Sampai pada satu titik, Suhu Gi menemukan tempat yang teduh untuk sekadar berhenti sejenak. Merebahkan lelah. Melegakan dahaga. Dan tanpa disadari, Suhu telah menautkan hatinya pada tempat itu, pada mata itu –mata telaga.
Mata telaga, yang disukai Suhu Gi itu, tidak cantik. Tapi matanya begitu hidup. Warnanya coklat bening, selalu menatap Suhu Gi dengan lantang. Tapi tatapan itu tidak pernah terik, selalu teduh. Menawarkan naungan. Suhu Gi terjebak.
“Kenapa kita harus berteman?” saat Suhu Gi mengatakan itu, aku mungkin masih berwujud buah mangga.
“Agar tidak ada yang mengira bahwa kita lebih dari teman.” Mata telaga tak menjauhkan tatapannya dari Suhu Gi.
“Kenapa jika lebih dari teman?” Suhu Gi sudah setengah terluka.
“Kau bahkan sudah tahu kalau aku punya kekasih.” Mata telaga menjelma tsunami untuk Suhu Gi.
Aku bilang apa, Suhu Gi tidak pernah tepat waktu.
Bayangkan saja, saat ditolak itu, Suhu Gi masih kuliah.
...
Suhu Gi dan Mata Telaga
Akhirnya Suhu Gi hanya berteman dengan mata telaga. Teman, yang hanya mata telaga  saja menganggap seperti itu. Sebab Suhu Gi, semakin hari semakin menyukai mata telaga. Mata coklat itu, kian membius, membuat Suhu Gi kepayang.
Tapi, Suhu Gi terlampau dewasa untuk sekadar menampakkan hati rapuhnya. Suhu Gi begitu lihai menyimpan kecemburuan. Iya, Suhu Gi cemburu. Cemburu pada laki-laki yang membuat mata telaga menjadikan Suhu Gi sebagai laki-laki yang terlambat. Terlambat untuk menjadi kekasih.
“Sekalipun kau datang sebelum kekasihku, aku belum tentu bisa memilihmu.” Mata telaga yang teduh itu, ucapannya memang selalu menyengat.
“Kenapa tidak bisa?”
“Aku merasa kau akan menyakitiku.”
“Menyakiti kamu? aku tidak punya bakat itu.”
“Kau punya.”
“Dari mana kau tahu?”
“Kau punya kemampuan untuk membuat perempuan benar-benar jatuh cinta padamu. Itu berarti, kau juga punya kemampuan untuk sangat menyakiti perempuan saat kau meninggalkannya.”
Suhu Gi menyeringai.
“Apa kau sebenarnya mencintaiku?” Suhu Gi memang terampil dalam hal berandai-andai.
“Kau terlalu percaya diri.” Mata telaga setengah menggigil.
“Kau berbohong.”
“Terserah.”
Mata telaga pergi begitu saja, meninggalkan Suhu Gi yang masih tafakur.
Seandainya aku bukan buah mangga, dan aku adalah mata telaga, aku berharap Suhu Gi mengejarku. Menahan tanganku. Lalu gerimis datang.
“Ini bukan sinetron.” Suhu Gi merutuk dari kejauhan. Pada buah mangga.
Tapi tetap saja. Suhu Gi memang  tidak pernah jatuh cinta pada orang yang tepat.
...
Suatu hari, Suhu Gi pernah lelah menunggu mata telaga. Iya, menunggu mata telaga putus dengan kekasihnya.
“Aku akan jatuh cinta pada orang lain, jika kau masih seperti ini.” ucapan Suhu Gi sama sekali tak memiliki penekanan.
Mata telaga tersenyum. Senyum yang selalu membuat Suhu Gi seolah-olah sedang duduk di dalam bianglala. Ya, bianglala yang berputar seperti kekuatan cahaya.
“Jangan tersenyum seperti itu, aku akan pusing.” Suhu Gi masih dengan seringai di wajahnya.
“Kau mudah pusing? Mungkin kau hamil.” Mata telaga berkelakar.
Tawa menghambur di antara keduanya.
“Bolehkah aku menciummu?” Suhu Gi tak pernah bisa mengendalikan diri.
“Apa kau akan melakukan ciuman pertama dengan orang yang tidak menjadikanmu ciuman pertamanya.”
Suhu Gi tersenyum.
“Biar kupikirkan dulu.” Gumamnya.
Kali ini Suhu Gi yang berlalu. Hanya tubuhnya yang masih utuh. Hatinya telah berserakan. Tercecer di sepanjang jalan yang telah dilaluinya.
Suhu Gi, yang sekarang berwajah penuh cahaya itu, menangis karena mata telaga telah menghabiskan ciuman pertamanya dengan orang lain.
Sungguh malangnya.


Suhu Gi dan Pengembaraannya Yang Barbar

Setelah patah hati yang tak pernah bisa disembuhkannya. Suhu Gi memilih meninggalkan jati dirinya yang santun. Suhu Gi memilih jalan barbar untuk menjadi orang yang lupa akan lukanya. Meski itu tak pernah benar-benar membuatnya bahagia.
Telaga yang membuatnya singgah, ditinggalkannya jua. Berjalan kakinya, menuju curam-curam nafsu yang liar. Merajut kisah yang mirip cinta, namun hanya sandiwara. Suhu Gi tidak peduli. Dia hanya takut kesepian. Dia hanya takut sendirian. Dia hanya takut merasakan haus, dan kembali merindukan telaganya. Lalu dia menuang arak pada gelas-gelasnya. Diteguknya sampai tandas, sampai mabuk. Sampai-sampai dia lupa telah menjamah dosa. Menabung kehinaan-kehinaan dalam dirinya, dalam diri orang lain. Orang yang membuatnya menjadi begitu barbar. Parasit. Mari kita sebut saja seperti itu.
“Kau sudah banyak berubah.” Di sebuah petang, mata telaga mendatangi Suhu Gi.
“Kau yang membuatku melakukannya.”
“Kau kekanak-kanakan.” Mata telaga sengit.
“Itu kenapa aku tidak cocok dengan orang dewasa!”
“Gi!”
“Aku tidak suka kau menyebut namaku.” Suhu Gi seperti anjing yang siap menyalak.
“Berhentilah berpura-pura bar-bar. Kau masih punya hidup yang panjang.”
“Aku bahkan tidak tahu apakah satu jam lagi aku masih hidup atau sudah mati.”
“Setidaknya jangan mati di tempat hina itu.”
“Maka bawa aku kembali.” Suhu Gi memohon.
Mata telaga tertegun. Permintaan macam apa itu.
“Pergilah jika itu yang membuatmu bahagia.” Mata telaga melepaskan Suhu Gi dengan kalimatnya.
Sekali lagi, panah itu mendarat di dada Suhu Gi. Mata telaga kembali menghempasnya, saat Suhu Gi meminta untuk di rengkuh.
Ada darah menetes di belakang langkah Suhu Gi. Hanya aku bisa melihat. Saat aku, berayun-ayun di pohon kelapa.



...

Aku, Suhu Gi, dan Sebuah Makan Malam di Mars

Sejak kejadian di goa meditasi itu, saat Suhu Gi mengutarakan perasaannya padaku lewat isyarat mata –yang hanya aku merasakannya, Mars kurasa telah berubah.
Aku bahkan merasa bahwa udara telah cemar. Cemar oleh ketakutan-ketakutanku pada Suhu Gi. Pada sebuah ketidaksetiaan. Pada sebuah penghianatan. Sebab aku yakin, ini hanya masalah waktu. Hanya masalah waktu, kapan Suhu Gi akan mengutarakan perasaannya langsung padaku.
Apa aku terlalu percaya diri? Itu memang keahlianku.
Waktu.
Waktu.
Yang selama ini menggantung sebagai tanda tanya. Kini menemukan jawabannya. Pada sebuah jamuan makan malam.
Jamuan makan malam adalah hal yang istimewa. Karena ini penanda bahwa salah seorang Suhu telah diangkat menjadi guru besar. Yang bersangkutan adalah Suhu Aron. Tentang konsep suhu yang diangkat menjadi guru besar, aku tidak benar-benar paham bagaimana teknisnya. Yang jelas malam ini kami akan berpesta. Malam yang penuh kebebasan, sebab suhu, subo, sumoi, dan teecu boleh memilih tempat duduknya masing-masing. Sebuah kesempatan langka, di negeri antah berantah yang saluran internetnya sangat baik –Mars.
Dan peristiwa yang akan terjadi selanjutnya, aku telah membacanya sepuluh tahun yang lalu. Saat aku masih bermain gundu.
“Kamu tidak boleh menceritakan pada siapapun tentang air mata.” Suhu Gi tiba-tiba sudah duduk tepat dihadapanku.
Suaranya sangat lirih. Teramat lirih untuk sekadar kudengar dengan jelas.
.
Tunggu dulu, sejenak.
Selain aku tidak terbiasa dengan suara lirih Suhu Gi, ada hal lain yang membuatku merasa udara semakin tercemar. Tatapan orang-orang.
Iya. Tentu saja.
Suhu Gi yang dingin itu, yang tangannya bisa membekukan adonan es krim, tiba-tiba memilih duduk di depanku. Sebuah bangku kosong yang sebenarnya lebih layak ditempati teecu. Tapi apa daya, cinta telah membuat Suhu Gi melompati batasnya sendiri. melahirkan kegaduhan. Desas-desus baru. Tentang hubungan terlarang antara aku dan Suhu Gi.
Patut di catat oleh semua orang. Aku tidak tergoda pada Suhu Gi. Sedikitpun!
.
“Saya tidak bisa mendengar Suhu dengan suara selirih itu.” aku terbata.
“Bahkan tanpa bersuara, bukankah kau tahu kita akan membicarakan apa?”
Kita? Baiklah, aku merasa Suhu Gi mulai membawa perasaan. Maaf Suhu Gi, aku tidak serapuh itu.
“Kau lahir dengan kemampuan melihat masa depan. Dan kau sudah tahu, bahwa ini akan terjadi. Iya kan?” Suhu Gi benar-benar hanya komat-kamit.
Beberapa teecu di kanan kirinya mengerutkan dahi. Menajamkan pendengaran. Berharap mendengar sepatah kata saja dari apa yang diucapkan Suhu Gi. Percuma.
“Dari mana Suhu Gi tahu tentang kemampuan saya?”
Matanya, yang sakral itu. Kali ini menatapku. Dalam satu kali tatap, Jantungku segera membeku.
“Cukup Suhu.” Pekikku.
Dia kembali menundukkan pandangannya.
Suhu Gi, aku kali benar-benar percaya. Matanya memang kulkas!
Itu kenapa dia harus menggunakan kacamata itu? menundukkan pandangan itu? Karena jika tidak, seisi Mars akan jadi es batu.
Perlahan, aku kembali merasakan denyut jantungku. Untunglah, aku belum tamat.
“Saya tidak menganggap bahwa air mata itu sebagai hal yang penting untuk dibicarakan pada orang lain.” kataku.
“Apa kamu bisa dipercaya?”
Aku setengah mendengus. Bisakah dia berbicara dengan suara lebih keras?
“Suhu Gi bisa mengutuk saya menjadi es jika memang tidak yakin dengan jawaban saya?”
Suhu Gi samar-samar tersenyum.
“Apa tidak ada orang yang mengharapkanmu untuk pulang?”
Pertanyaan macam apa ini.
“Apa tidak ada?” ulangnya.
“Banyak sekali yang mengharapkan saya pulang.” Sahutku terpaksa.
Yang benar saja, keluargaku sudah menyewa tempat untuk pesta pernikahanku nanti. Asal kau tahu, Suhu Gi!
“Itu kenapa, saya tidak bisa mengutukmu menjadi es.”
“Hemm???”
“Aku tahu rasanya menunggu. Dan itu menyakitkan saat tahu dia tidak akan pernah pulang.”
Aku ternganga. Suhu Gi sedang curhat.
“Apakah itu mata telaga?” aku bahkan sadar bahwa pertanyaan ini cukup lancang.
Oke oke sebelum Suhu Gi kembali mengangkat wajahnya dan membekukan jantungku, aku segera ...
“Saya tidak akan menanyakan itu lagi, Suhu.” Ralatku.
“Kau harus berhati-hati pada setiap pertanyaan.” Suaranya semakin lirih.
Aku tafakur.
“Karena kadang, jawabannya tidak seperti yang kau harapkan.”
Kali ini aku yang mengangkat wajahku, menatap wajah Suhu Gi yang masih tertunduk.
Lagi,
Sesuatu muncul di kepalaku. Tentang aku, Suhu Gi, dan sebuah makan malam.
Ada Suhu Aron yang berbahagia di atas altar. Beberapa penghibur menari di hadapannya. Suhu macam apa yang suka maksiat? Hashh!!!
Suhu dan Subo yang menari di lantai dansa. Keluar dari tempat semedi yang pengap.
Sumoi-sumoi yang merayakan waktu libur.
Suhu Gi.
Aku.
Sebatang lilin di meja.
Dua gelas anggur merah, yang belum tersentuh.
Juga, cinta membara. Baru menyala.
“Tidak Suhu!” aku memekik dalam hati, tapi mulutku katup.
Dalam tunduknya Suhu Gi resah.
Aku juga.
Sudah kubilang apa, Suhu Gi akan jauh lebih terluka.
“Suhu Gi tidak bisa melakukannya.” Kali ini aku memohon.
Ia menggeleng.
Sejak saat itu, dan entah sampai kapan, Suhu Gi mengutuk lidahku jadi kelu.
Yang menjadi pertanyaanku selanjutnya adalah, bagaimana aku akan menghadapi ujian speakingku esok lusa?
Suhu Gi benar-benar gila!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)