yang menanggung rindu dan tak mau pulang
Sekadar
rindu
Sekiranya
tak pernah habis rindu, perasaan-perasaan yang terlanjur menggelepar; apakah
itu sisa atau yang baru mekar. Adakah kau mau merelakan matamu, untuk tinggal
sejenak, meneduhkanku?
Seperti itu kau membuat
pembicaraan dengan dirimu sendiri. Penggalan yang kau kira aku tak
mendengarnya.
Maka, anggap saja
seperti itu. Aku tak mendengarnya. Tapi aku memahaminya.
...
Dingin itu kamu
Kau adalah orang yang
dingin. Sangat dingin untuk sekadar bertanya siapa aku. Kau, bahkan membuat
gagasan-gagasan naif tentang orang-orang sepertiku. Bahwa aku, akan membuatmu
tenggelam. Seperti air bah yang menghanyutkan balok-balok kayu. Terjungkal
diantara bebatuan. Namun masih melanjutkan perjalanan. Meski, sakit luar biasa.
Batangnya tetap rebah untuk bermain-main di riak itu. Yang katamu, air bah!
Seharusnya seperti ini
kau menjelaskan bagaimana air bah membawa balok-balok kayu –Hanyut! Bukan
tenggelam. Sebab kamu, bukankah memang hanyut olehku?
Aku tak pernah
benar-benar butuh jawabanmu.
...
Tentang
siapa aku, dan duniamu.
Anggap saja, aku adalah
orang asing. Kebetulan singgah di duniamu. Bolehkah aku menyebutnya sebagai dunia?
meski kau agaknya tak akan suka jika aku membicarakan sebuah tempat di bumi
yang kau tinggali. Kau akan resah. Sebab semua orang selanjutnya akan tahu
dimana kau bersembunyi. Orang-orang akan tahu siapa kamu. Dan itu adalah hal
yang kau takuti kan?
Lalu, bisakah kusebut tempat
tinggalmu sebagai planet mars? Sebuah tempat yang bisa kugambarkan dengan
caraku. Yang tidak akan ada satu orang pun mengetahui kebenarannya –planet
marsmu.
Sudahkah kau merasa
aman dengan planet mars? Seperti kau merasa aman menyembunyikan perasaanmu.
Sudahkan kau
menyukainya? Seperti kau begitu banyak menyukaiku.
Jangan tersinggung.
...
Kau, Suhu Gi.
Di planet mars-mu yang
luas itu, kau adalah Tuhan. Bukan, kau adalah tuan. Di sekitarmu masih ada tuan
yang lain. Seperti banyak tuan yang dipertuan.
Ini benar-benar akan
sulit dipahami. Kecuali, aku menyebutmu sebagai suhu. Suhu Gi. Kau, jadi
terdengar seperti pesilat. Anggap saja seperti itu, Suhu.
Aku sangat berhati-hati
bercerita tentang Suhu, karena aku tidak ingin Suhu Gi terluka.
Luka? Bukankah Suhu Gi
telah banyak menanggungnya?
Aku jadi ingin menangis
jika mengingat Luka yang Suhu Gi sembunyikan. Luka yang bukan tersayat pedang.
Itu, hanya luka dari cinta yang terlalu lama diabaikan. Cinta yang Suhu Gi
sendiri membiarkannya mengendap. Membuat Suhu Gi jadi rapuh di dalam. Kesepian.
Kadang-kadang, Suhu Gi menangis sendirian.
Iya, Suhu Gi menangis
di balik sumur kering yang tak pernah didatangi orang-orang. Sumur yang sangat
jauh, di planet mars.
...
Mata Suhu Gi
Mata Suhu Gi penuh
rahasia. Tak pernah terantuk pada mata siapapun. Tak pernah bisa ditangkap oleh
mata siapapun. Ada benteng disana. Antara mata suhu Gi dan dunia. Ada
kelihaian-kelihaian yang membuat suhu Gi tetap aman menyimpan matanya.
Bahkan ribuan teecu
yang selama ini diajar langsung oleh Suhu Gi, tak pernah punya kesempatan untuk
menatap langsung ke mata Suhu Gi. Suhu Gi selalu menutupnya dengan kacamata
transparan yang hanya Suhu Gi sendiri bisa melihatnya. Kacamata yang tidak akan
ditemukan dimanapun. Hanya ada di planet mars.
Orang-orang sepertiku,
mungkin akan sangat beruntung jika bisa menatap langsung ke mata Suhu Gi. Meski
itu tidak mungkin, meski Suhu tidak akan mengijinkan. Sebab aku, hanya seorang
sumoi yang datang dari planet tetangga. Menyebrangi antariksa untuk tiba di
dunia Suhu Gi. Bukan untuk menemui Suhu Gi. Sebab Suhu Gi bukan orang yang bisa
menjadikanku sebagai Suhu. Sebab Suhu Gi hanya tahu cara bermeditasi. Bukan
membuatku pandai berbahasa Inggris.
Iya, aku datang ke mars
untuk belajar Bahasa Inggris.
...
Cinta dan Suhu Gi
Orang-orang seperti
Suhu Gi, aku tahu tidak akan pernah jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebab Suhu
Gi, tidak tertarik pada orang-orang baru di sekitarnya. Entah itu teecu atau sumoi
sepertiku. Suhu Gi tidak tertarik.
“Suhu Gi tidak suka
dengan orang-orang berkulit putih.” seorang subo yang kutahu begitu dekat
dengan Suhu Gi, berkelakar saat itu.
Aku langsung
tersinggung. Sebab aku berkulit putih. Dan subo itu berkulit hitam legam,
selegam batu kali.
“Kamu tidak akan pernah
diajak berbicara oleh Suhu Gi.”
Lalu aku meracau pada
diriku sendiri. Aku tidak benar-benar peduli sekalipun Suhu Gi tidak melirikku.
Sebab aku memang tak ada urusan dengannya. Aku tidak pernah butuh belajar
meditasi, sebab tanpa meditasi pun, aku bisa langsung tidur dan nyenyak.
“Suhu akan lebih suka
pada orang-orang yang hitam dengan rambut gimbal di kepalanya.”
“Apa Suhu Gi itu tidak
normal?” kesalku.
Subo Lim, yang sejak
tadi berdongeng, tiba-tiba diam.
Teman-temanku sesama sumoi
juga diam.
“Kau tidak boleh
berbicara buruk tentang Suhu Gi, kau akan mendapatkan masalah.” Subo Lim
setengah mengintimidasi.
“Aku tidak peduli.”
Aku meninggalkan
pembicaraan tidak penting yang menyala di beranda warung. Ya, di mars juga ada
warung. Warung yang makanannya sangat murah. Tidak butuh uang untuk
membayarnya. Cukup pecahan batu ruby sebesar ujung ibu jari. Semua orang dapat
menemukannya di permukaan mars. Sayangnya, Suhu Gi tak pernah makan di warung
itu. Suhu Gi tidak suka makanan tidak sehat, termasuk mie instan yang dikirim
dari bumi. Padahal, rasanya nikmat. Apalagi rasa soto padang.
...
Suhu Gi jatuh cinta
Setiap hari, sebelum
semua aktivitas di perguruan di mulai, Suhu Gi selalu memimpin meditasi. Di
sebuah goa yang mampu menampung ribuan orang. Tapi hanya teecu yang wajib
datang untuk ikut. Juga sumoi-sumoi muda sepertiku. Suhu dan subo yang lain
mungkin sedang sarapan. Menyantap telur burung unta yang telah di rebus. Itu
akan membuat mereka kenyang sampai malam. Suhu Gi, tidak termasuk yang sarapan.
Pagi itu, Suhu Gi
memimpin sebuah meditasi. Ia bersila di atas batu besar yang berada di
tengah-tengah goa. Ratusan teecu duduk dibawahnya, melingkar. Tanpa suara.
Senyap. Semuanya hening. Hanya ada suara angin yang berdesir.
Sama saja. Tidak ada
yang berbeda antara suara angin di mars dan di bumi. Yang membedakannya hanya
wajah Suhu Gi. Suhu Gi akan lebih melankolis saat angin bertiup menyentuh
wajahnya. Suhu Gi seolah disapa oleh seseorang. Seseorang yang disimpannya
dalam hatinya. Seseorang yang membuatnya banyak terluka. Berdarah-darah.
Luka itu, hanya aku
bisa melihatnya. Sebab semua teecu dan sumoi memejamkan mata, hanya aku melotot
ke arah Suhu Gi. Tanpa ada satu pun orang yang mengetahui.
Di sela-sela meditasi
yang khidmat itu, aku melihat Suhu Gi menangis. Air matanya meleleh di pipi.
Membuat wajahnya yang sangat muda itu, sedikit menua. Barangkali, air mata itu
begitu berat. Melayukan wajah Suhu Gi yang selalu segar?
Apa Suhu Gi sedih?
Aku berbicara lirih.
Aku rasa, hanya aku yang mendengarnya. Ternyata tidak.
Suhu Gi membuka mata.
Melayangkan pandangan ke arahku. Saat itu mataku dan mata Suhu Gi bertemu. Sejenak,
luka di wajah Suhu Gi menghilang.
Aku tahu, saat itu Suhu
Gi jatuh cinta padaku. Tapi aku tidak. Aku sudah tunangan.
...
bersambung...
Komentar
Posting Komentar