Langsung ke konten utama

Suhu Gi di Mars - 1



yang menanggung rindu dan tak mau pulang



Sekadar rindu
Sekiranya tak pernah habis rindu, perasaan-perasaan yang terlanjur menggelepar; apakah itu sisa atau yang baru mekar. Adakah kau mau merelakan matamu, untuk tinggal sejenak, meneduhkanku?
Seperti itu kau membuat pembicaraan dengan dirimu sendiri. Penggalan yang kau kira aku tak mendengarnya.
Maka, anggap saja seperti itu. Aku tak mendengarnya. Tapi aku memahaminya.
...

Dingin itu kamu
Kau adalah orang yang dingin. Sangat dingin untuk sekadar bertanya siapa aku. Kau, bahkan membuat gagasan-gagasan naif tentang orang-orang sepertiku. Bahwa aku, akan membuatmu tenggelam. Seperti air bah yang menghanyutkan balok-balok kayu. Terjungkal diantara bebatuan. Namun masih melanjutkan perjalanan. Meski, sakit luar biasa. Batangnya tetap rebah untuk bermain-main di riak itu. Yang katamu, air bah!
Seharusnya seperti ini kau menjelaskan bagaimana air bah membawa balok-balok kayu –Hanyut! Bukan tenggelam. Sebab kamu, bukankah memang hanyut olehku?
Aku tak pernah benar-benar butuh jawabanmu.

...

Tentang siapa aku, dan duniamu.

Anggap saja, aku adalah orang asing. Kebetulan singgah di duniamu. Bolehkah aku menyebutnya sebagai dunia? meski kau agaknya tak akan suka jika aku membicarakan sebuah tempat di bumi yang kau tinggali. Kau akan resah. Sebab semua orang selanjutnya akan tahu dimana kau bersembunyi. Orang-orang akan tahu siapa kamu. Dan itu adalah hal yang kau takuti kan?
Lalu, bisakah kusebut tempat tinggalmu sebagai planet mars? Sebuah tempat yang bisa kugambarkan dengan caraku. Yang tidak akan ada satu orang pun mengetahui kebenarannya –planet marsmu.
Sudahkah kau merasa aman dengan planet mars? Seperti kau merasa aman menyembunyikan perasaanmu.
Sudahkan kau menyukainya? Seperti kau begitu banyak menyukaiku.
Jangan tersinggung.

...

Kau, Suhu Gi.
Di planet mars-mu yang luas itu, kau adalah Tuhan. Bukan, kau adalah tuan. Di sekitarmu masih ada tuan yang lain. Seperti banyak tuan yang dipertuan.
Ini benar-benar akan sulit dipahami. Kecuali, aku menyebutmu sebagai suhu. Suhu Gi. Kau, jadi terdengar seperti pesilat. Anggap saja seperti itu, Suhu.
Aku sangat berhati-hati bercerita tentang Suhu, karena aku tidak ingin Suhu Gi terluka.
Luka? Bukankah Suhu Gi telah banyak menanggungnya?
Aku jadi ingin menangis jika mengingat Luka yang Suhu Gi sembunyikan. Luka yang bukan tersayat pedang. Itu, hanya luka dari cinta yang terlalu lama diabaikan. Cinta yang Suhu Gi sendiri membiarkannya mengendap. Membuat Suhu Gi jadi rapuh di dalam. Kesepian. Kadang-kadang, Suhu Gi menangis sendirian.
Iya, Suhu Gi menangis di balik sumur kering yang tak pernah didatangi orang-orang. Sumur yang sangat jauh, di planet mars.
...

Mata Suhu Gi
Mata Suhu Gi penuh rahasia. Tak pernah terantuk pada mata siapapun. Tak pernah bisa ditangkap oleh mata siapapun. Ada benteng disana. Antara mata suhu Gi dan dunia. Ada kelihaian-kelihaian yang membuat suhu Gi tetap aman menyimpan matanya.
Bahkan ribuan teecu yang selama ini diajar langsung oleh Suhu Gi, tak pernah punya kesempatan untuk menatap langsung ke mata Suhu Gi. Suhu Gi selalu menutupnya dengan kacamata transparan yang hanya Suhu Gi sendiri bisa melihatnya. Kacamata yang tidak akan ditemukan dimanapun. Hanya ada di planet mars.
Orang-orang sepertiku, mungkin akan sangat beruntung jika bisa menatap langsung ke mata Suhu Gi. Meski itu tidak mungkin, meski Suhu tidak akan mengijinkan. Sebab aku, hanya seorang sumoi yang datang dari planet tetangga. Menyebrangi antariksa untuk tiba di dunia Suhu Gi. Bukan untuk menemui Suhu Gi. Sebab Suhu Gi bukan orang yang bisa menjadikanku sebagai Suhu. Sebab Suhu Gi hanya tahu cara bermeditasi. Bukan membuatku pandai berbahasa Inggris.
Iya, aku datang ke mars untuk belajar Bahasa Inggris.

...
Cinta dan Suhu Gi
Orang-orang seperti Suhu Gi, aku tahu tidak akan pernah jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebab Suhu Gi, tidak tertarik pada orang-orang baru di sekitarnya. Entah itu teecu atau sumoi sepertiku. Suhu Gi tidak tertarik.
“Suhu Gi tidak suka dengan orang-orang berkulit putih.” seorang subo yang kutahu begitu dekat dengan Suhu Gi, berkelakar saat itu.
Aku langsung tersinggung. Sebab aku berkulit putih. Dan subo itu berkulit hitam legam, selegam batu kali.
“Kamu tidak akan pernah diajak berbicara oleh Suhu Gi.”
Lalu aku meracau pada diriku sendiri. Aku tidak benar-benar peduli sekalipun Suhu Gi tidak melirikku. Sebab aku memang tak ada urusan dengannya. Aku tidak pernah butuh belajar meditasi, sebab tanpa meditasi pun, aku bisa langsung tidur dan nyenyak.
“Suhu akan lebih suka pada orang-orang yang hitam dengan rambut gimbal di kepalanya.”
“Apa Suhu Gi itu tidak normal?” kesalku.
Subo Lim, yang sejak tadi berdongeng, tiba-tiba diam.
Teman-temanku sesama sumoi juga diam.
“Kau tidak boleh berbicara buruk tentang Suhu Gi, kau akan mendapatkan masalah.” Subo Lim setengah mengintimidasi.
“Aku tidak peduli.”
Aku meninggalkan pembicaraan tidak penting yang menyala di beranda warung. Ya, di mars juga ada warung. Warung yang makanannya sangat murah. Tidak butuh uang untuk membayarnya. Cukup pecahan batu ruby sebesar ujung ibu jari. Semua orang dapat menemukannya di permukaan mars. Sayangnya, Suhu Gi tak pernah makan di warung itu. Suhu Gi tidak suka makanan tidak sehat, termasuk mie instan yang dikirim dari bumi. Padahal, rasanya nikmat. Apalagi rasa soto padang.
...
Suhu Gi jatuh cinta
Setiap hari, sebelum semua aktivitas di perguruan di mulai, Suhu Gi selalu memimpin meditasi. Di sebuah goa yang mampu menampung ribuan orang. Tapi hanya teecu yang wajib datang untuk ikut. Juga sumoi-sumoi muda sepertiku. Suhu dan subo yang lain mungkin sedang sarapan. Menyantap telur burung unta yang telah di rebus. Itu akan membuat mereka kenyang sampai malam. Suhu Gi, tidak termasuk yang sarapan.
Pagi itu, Suhu Gi memimpin sebuah meditasi. Ia bersila di atas batu besar yang berada di tengah-tengah goa. Ratusan teecu duduk dibawahnya, melingkar. Tanpa suara. Senyap. Semuanya hening. Hanya ada suara angin yang berdesir.
Sama saja. Tidak ada yang berbeda antara suara angin di mars dan di bumi. Yang membedakannya hanya wajah Suhu Gi. Suhu Gi akan lebih melankolis saat angin bertiup menyentuh wajahnya. Suhu Gi seolah disapa oleh seseorang. Seseorang yang disimpannya dalam hatinya. Seseorang yang membuatnya banyak terluka. Berdarah-darah.
Luka itu, hanya aku bisa melihatnya. Sebab semua teecu dan sumoi memejamkan mata, hanya aku melotot ke arah Suhu Gi. Tanpa ada satu pun orang yang mengetahui.
Di sela-sela meditasi yang khidmat itu, aku melihat Suhu Gi menangis. Air matanya meleleh di pipi. Membuat wajahnya yang sangat muda itu, sedikit menua. Barangkali, air mata itu begitu berat. Melayukan wajah Suhu Gi yang selalu segar?
Apa Suhu Gi sedih?
Aku berbicara lirih. Aku rasa, hanya aku yang mendengarnya. Ternyata tidak.
Suhu Gi membuka mata. Melayangkan pandangan ke arahku. Saat itu mataku dan mata Suhu Gi bertemu. Sejenak, luka di wajah Suhu Gi menghilang.
Aku tahu, saat itu Suhu Gi jatuh cinta padaku. Tapi aku tidak. Aku sudah tunangan.
...

bersambung...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)