Langsung ke konten utama

Apel dan Pluto : Dendamnya yang Barbar



Racun baginya seperti obat, ramu yang mampu membuatnya jaga, dan kembali menuang luka lewat tangannya yang cacat. katanya, orang-orang bisa berubah, tapi tidak dengan masa lalu. membuangnya atau mengambilnya kembali adalah sebuah pilihan, akan menjadi bijak atau picik.

kukira dia sudah terlalu sibuk dengan berita-berita masyhur yang muncul di radarnya, tentang seseorang yang belum jadi orang, tapi pagi ini telah memberi kabar, 'aku telah sebesar buah apel'. sejenak membuat ia tersenyum, melupakan air mata yang semalaman badai, dan darah yang pagi tadi masih segar, setelah ia ditusuk prasangka. Agaknya aku terlalu tanggung memilih narasi, membuat maknanya jadi dangkal. Ada di permukaan. Selebihnya, asal ia tak tau dan tidak peduli, aku masih merasa aman. Di bawah jamur yang payung, memekar teduh yang berdikari. Rasanya menakjubkan punya ruang untuk mengambil tempat duduk sebagai orang yang menceritakannya, membicarakannya.

sebesar buah apel yang ditungguinya, sejak pertama kali muncul pada ranting pohon di pekarangannya, ia sudah tak bicara dengan siapa-siapa. Menutup mata pada orang-orang di luar pagar rumahnya. Iya, ia memutuskan lebih bungkam dari bungkam itu sendiri. Menjauh dari rel yang dulu dianggapnnya bisa membuat ia mati. Tidak lagi, ia tak berpikir untuk beradu kuat dengan kereta api, meski ia tau,ia akan memenangkannya.

Ia mulai mencari-cari cara untuk bahagia, sambil menunggu musim panen. Mengambil beberapa keranjang sayuran dari pekarangan belakang, menumpuknya di dapur, mencari botol-botol kaca bekas, lalu mengeluarkan alkohol dari gudang penyimpanan. Kadang ia bimbang, antara mana lebih baik, alkohol atau baby oil. Setelah menyadari bahwa aroma bisa jadi pemantik, ia mengambil sebagian baby oil, sebagian lagi alkohol. Oh, ia kembali ke pekarangan belakang, memetik beberapa bunga,dan dimasukkannya dalam keranjang. Semua bernasib sama, berkumpul di dapur.

Tangannya yang cacat itu lihai mencuci yang perlu di cuci, termasuk hatinya. Ya, sebab bunga yang wangi dan suci saja, perlu dicuci, apalagi hati yang busuk. Yang menghitung-hitung jumlah dosa orang lain, keburukannya, kejahilannya, seolah-olah duduk di kedai kopi, bisa membuat orang lain masuk neraka, hanya karena kita menghuni surau. Ya ya ya, ambil saja surga bersama dirimu,dan biarkan aku melihatnya, yang sedang di dapur itu, sibuk mencuci sayur dan mengirisnya dengan ukuran acak.

Matanya berbinar, melihat botol-botol kaca bekas seperti sebuah kehidupan baru. Diisinya dengan campuran butir melati, mawar, anggrek, cempaka. Sebagian lagi disinya dengan potongan wortel, buncis, daun mint, brokoli hijau, putih, dan segala sayur berbeda warna. Sibuk sekali tangannya bekerja, atau malah bermain-main. Dengan puluhan atau bahkan ratusan botol yang telah diisinya sayur dan buah, lalu dituangnya alkohol atau baby oil ke dalamnya. Lantas di tutupnya rapat-rapat semua botol itu, dan jadilah dunianya yang banyak itu, penuh warna-warni. Herbarium. Demikian ia menyebutnya dengan mata girang seolah herbarium adalah planet lain yang ditemukan di angkasa untuk mengganti pluto. Ya, itu adalah pluto untuknya. Yang bulat dan gelap. Hanya ia bisa melihatnya sebagai tempat penuh warna.

Ditatanya botol-botol itu di dekat jendela, sudut ruang tamu, ruang tengah, ruang makan. Sampai semua sudutnya penuh dengan 'pluto' buatannya, dan dia akan berbahagia. Ya, karena herbariumnya akan tahan bertahun-tahun lamanya, lebih lama dari sekadar musim panen. Lebih bijak, dan tak banyak bicara. Dunia barunya itu ada, tapi tak menanyainya apa-apa, tak memprasangkainya apa-apa. Itu kenapa ia suka mengisi rumahnya dengan herbarium, itu berwarna-warni, dan tidak menatapnya sebagai pendosa. Karena ia memang tidak. Ia hanya suka diam, tak terlibat dalam dialog drama apapun. Karena ia pernah merasa buruk dengan naskah yang telah disediakan, lawan main yang tak bisa dipahaminya, dan segala sandiwara yang membuatnya kerdil, tertekan, lalu hampir mati karena harus memahami alasan-alasan yang kusut seperti benang. Membuat ia jengah, memilih diam, menarik diri dari dunia, bumi, dan tempat penuh drama yang menurutnya tak seindah anekdot. Ia memilih katup, bahkan lebih katup dari katup itu sendiri. Dan membekukan hatinya, ya, itu bagian paling mengerikan, karena ia telah menjadi pluto sebelum membuat 'pluto-pluto' barunya.

Kabar buruknya, pilihan menjadi diam untuknya, menurut orang lain sama dengan dosa. Melahirkan kemungkinan-kemungkinan yang menghakiminya sebagai pengkhianat. Padahal, hidupnya hanya berkutat pada herbarium. Herbarium saja. Herbarium lagi. Terus seperti itu.p

Setelah dunia herbariumnya berdiri, ia mulai suka menjadi pendengar, dari percakapan burung-burung kecil di waktu pagi. Di bawah pohon apel miliknya. Burung-burung itu datang bergerombol, kali ini membawa cerita tentang seorang samaria. Itu adalah cerita masa lalu, ia bahkan tak tau harus percaya atau tidak. Tapi ia suka mendengar burung-burung gereja itu datang, ya baginya itu aneh, burung-burung gereja datang ke rumahnya, untuk bercerita tentang yahudi yang dirampok oleh penyamun. Lalu seorang samaria -yang minoritas, bahkan dikucilkan, jadi penolong berhati malaikat. Bahkan merelakan dua keping logam emasnya untuk diserahkan pada pemilik penginapan agar si yahudi bisa beristirahat dengan baik. Itu membuat ia tersenyum, menyadari ia juga kecil dan dikucilkan.

Setelah membacakan ceritanya, si burung gereja pergi, diikuti gerombolannya, mencari pohon lain, yang bukan pohon apel miliknya.

Baginya, cerita masa lalu adalah hiburan, dan ketika di ulang, asalkan itu bagian baiknya, itu akan mengetuk hatinya. Ya, kenapa bagian baiknya? Karena bagian penyamun yang biadab, imam yang sibuk, dan suku lewi yang tak acuh, hanya akan memberikan luka jika diingat sekali lagi. Melahirkan dendam baru, kemarahan, prasangka, sedangkan mungkin penyamun telah hidup dengan baik,imam telah disurga, dan suku lewi telah menjadi orang-orang yang budiman. Apa sulit berpikir bahwa cerita yang buruk menjadi baik? Sulit. Jika orang-orang merasa bahwa pendosa selamanya adalah pendosa, sekalipun pendosa merubah haluan hidupnya sesuai kosmologi tri hita.

Ya, orang-orang sombong mana tahu. Termasuk dia, dahulu.

Kuceritakan,tentang dia. Barangkali cerita ini telah lewat sepuluh tahun, saat terakhir kali ia benar-benar jatuh cinta. Ya, itu adalah kali terakhir ia jatuh cinta, sebagai orang yang orang, yang bukan batu seperti sekarang. Rasa-rasanya saat itu dirinya sangat realistis dan religius. Memilih seseorang yang baik laku lagi baik rupa. Tapi, ini adalah tapi yang membuatku merasa ia adalah orang yang sombong. Ia merasa, ia yang paling baik dalam berbicara dengan tuhan, dan ia telah optimis tentang tiket surga. Lalu hari demi hari dilakukannya untuk mengutuki kesalahan kecil orang lain, termasuk yang dicintainya. Ia meracau tentang neraka. Sampai pada sebuah titik, dimana ia melepas segala cintanya karena bias antara surga dan neraka. Sedangkan beberapa waktu kemudian, dia menyadari bahwa yang paling neraka adalah hatinya. Dipenuhi pertanyaan-pertanyaan buruk tentang orang yang dicintainya. Dan lihat saja, dia bahkan hampir terperosok di tepi neraka itu sendiri.

Hanya saja, dari kesombongan itu, waktu membuatnya luruh dan luluh. Kehilangan cinta dan segala-galanya, membuat ia jadi tau diri, kesalahan adalah miliknya. Orang-orang hanya perantara.

Benar-benar hampir sepuluh tahun, dan itu membuatnya sangat berubah. Ya, kubilang apa, semua orang bisa berubah, asal ia suka membaca. Suka seni, suka sastra. Itu adalah obat, dan obat itu membuatnya kembali hidup, seperti saat ini, meski dengan wujud sebagai makhluk pluto.

"Apa kau bahagia?" Isi kepalanya bertanya.
"Aku harus bahagia. Sebentar lagi aku akan panen." Itu tidak terdengar menghibur diri. Ia memang bahagia.
"Tapi kenapa kau sulit tidur?"
"Mungkin aku lelah."
"Apa kau seorang kuli?"
"Aku adalah tersangka, untuk orang-orang yang merasa dirinya sebagai korban."

Rupanya, untuk pohon apelnya dia berbahagia, tapi tidak untuk yang lain. Entah untuk apa. Barangkali untuk hatinya yang telah mati. Iya, itu mati. Aku tak pernah melihatnya binar, kasmaran, atau apapun. Itu sangat gelap dan tertutup. Memaksanya masuk hanya akan membuat tersesat, dan pasti di dalam sangat mengerikan.

"Kau lebih bahagia tanpa mencintai, rupanya." Isi kepalanya kembali mengigau.
"Aku sedang sangat mencintai pohon apel. Melihat daunnya bergerak, rantingnya bergeser, dan buahnya yang menyembul seperti titik, lalu menampakkan warna hijaunya, meski itu hanya tiga senti." Ia begitu girang.
"Aku tidak bisa memahami kebahagianmu."
"Memang tidak pernah ada." Suaranya surut.

Itu seperti air laut yang menarik ombaknya, jadi gelombang yang pucat, lalu tak bergerak, hanya sisa sisa buih tak bernyawa. Selain, selain matanya yang banyak menanggung sakit kepala. Ya, dia mudah sekali sakit kepala.

Sejak saat itu, ia seperti seorang pasien yang mencari tabib. Mencari obat sakit kepala.

Ia datang pada tuhan, pertama kali. Tentu saja. Tapi rupanya benar, doa tanpa usaha hanya sia-sia. Sedangkan ia berpikir segalas air dan doa penuh keyakinan bisa menyembuhkannya. Oh tidak jua rupanya. Jadi, jadi, yang dikiranya Ia lupa pada Tuhan, menjauh, hanya perlu tau, bagaiamana ia menangis tersedu-sedu untuk memohon dua hal ; pohon apelnya baik baik saja, dan sakit kepalanya sembuh tanpa obat.

Sebagian orang tertawa. Menganggap itu sebagai lelucon seperti pemakaman Picasso dalam gracefull family. Jinja.

Setelah ia datang pada beberapa tempat, dan tidak juga menemukan solusi untuk sakit kepalanya itu, Ia mulai sadar, Ia berada dalam situasi sulit. Sangat sulit, dan, dan ketika dirinya dalam kesulitan memikirkan bagaimana harus sembuh dari sakit kepala, ada bagian baru dari orang-orang beriman, ya kusebut saja beriman karena yang satu ini sangat beriman, bahwa Ia -yang bergumul dengan sakit kepala, disangka sedang dirancukan dengan perasaan cinta. Bolehkah aku mengumpat? Mewakili dia? Yang kali ini hanya suka diam sedalam apapun orang berprasangka padanya.

"Kau tidak mau marah? Atau ingin menjelaskan sesuatu?" Isi kepalanya memantik pertanyaan.
"Tidak."
"Tapi kau tidak melakukan apa apa. Selain menjadi petani apel yang baik."
"Ya, aku hanya akan menjadi petani apel yang baik. Asal apel-apelku merasa aku adalah yang terbaik, bagiku itu cukup."
"Tapi seseorang menghinamu dengan prasangkanya."
"Aku tidak peduli."
"Kau," isi kepalanya dongkol.
Ia segera memotong.
"Apa orang yang beriman itu peduli padaku saat berprasangka? Tidak kan? Lalu untuk apa aku memedulikan seseorang yang bahkan tidak peduli pada perasaanku?"
"Tapi..."
"Cukup pohon apel itu tumbuh dengan baik, berbuah, dan menjadi manis, aku akan sangat bahagia. Aku akan menikmati manisnya sendirian. Tidak akan aku bagi seirispun dengan orang lain. Bukankah itu pembalasan yang sangat kejam?"
"Hemm..."
"Orang-orang yang menaruh curiga pada petani yang jujur, harus membayar kecurigaannya dengan mahal. Alih-alih bisa membeli apelku, ia bahkan tak akan bisa sekadar melihatnya."
"Kau sangat marah?"
"Iya. Tapi aku tak mau berdebat. Aku lebih suka mengambil sikap."
"Kau menakutkan."
"Bukankah orang-orang bisu sepertiku memang menakutkan?"

Matanya itu, aku tak pernah melihat kemarahan seperti itu, kekecewaan seperti itu. Tapi barangkali aku jg akan marah seperti caranya marah, ketika ia hanya sibuk mengurung diri di rumah kecilnya untuk menunggu musim panen apel, orang-orang diluaran sana berpikir ia sedang mencuri mawar untuk membagikan aromanya dengan peracik parfum. Itu adalah kejahatan. Dan kejahatan, benar katanya, tak perlu dibalas dengan perdebatan, negoisasi, atau apapun. Cukup lakukan sesuatu, dan cukur semua mulut yang banyak bicara, dengan seribu kali diam, tapi satu kali tepukan.

"Sampai kapan kau akan diam?" Entah siapa yang bertanya.
"Apa aku diam?"
Mengingat bagaimana ia masih memberi tanda dan instruksi, rupanya dia memang tidak diam. Dia hanya berbicara saat diperlukan.
"Aku tidak ingin terjebak pada sebuah percakapan dengan seseorang yang merasa dirinya benar, sedangkan aku juga demikan."
Yang bertanya padanya tertawa.
"Apa kau mengalah?"
"Aku tidak pernah mengalah. Aku hanya malas mengumpat."
"Saat seseorang tak bisa merasa bersalah di hadapanku, aku tidak memaksanya untuk merasakan itu. Barangkali ia memang benar. Dan aku yang salah."


Aku kira ia hanya jera. Sebab ia pernah, sangat pernah, -dirinya menjadi kalah, bahkan saat merasa menang.


Katanya, ini adalah pagi terakhirnya terluka, karena diolok-olok orang beriman. Besok tidak lagi.


"Bagaimana dia tau bahwa dia diolok-olok?"


Dia punya mata paling baik, meski telinganya tidak tajam. Matanya itu, bisa membaca apa saja, sekalipun, dirinya sendiri yang 'menyembunyikan'.


Dia sangat menyeramkan. Memang.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)