Langsung ke konten utama

mo chuilse

seperti raksa, itu membakar; membuatnya mengerti, mungkin sekaligus jera. bahwa tidak baik berilusi; dengan hal-hal yang nyata, misalnya dengan manusia.

...

Lucunya dia selalu salah tempat, waktu, dan orang untuk sekadar suka, atau barangkali dia telah jatuh cinta, lagi, kesekian kali, dengan mudah, barangkali sulit untuknya, atau, lagi, orang yang tepat terlalu bodoh untuk membuatnya jatuh cinta,

dan

gejalanya begitu, begitu saja, ia mulai suka mendengarkan lagu-lagu melankolis, membaca buku cinta-cintaan, dan kembali membuka quora untuk membaca jawaban yang serius dari pertanyaan sederhana, untuk apa? untuk membuat jawaban-jawaban baru yang akan mengalihkan perasaannya, pada apa? tawa yang palsu. Dia bilang, itu intelegensi.

"Kau tau Musèe du Louvre?" tanyanya. 

"Tidak."

"Ya seperti perasaanku, kau juga tidak tahu."

"Memang seperti apa?"

"Itu seperti api. Kalau aku buka, ia membakar."

"Lalu kalau kau tutup?"

"Aku yang mati menelan asap."

"Lalu kenapa kau memilih menutupnya?"

"Karena bisa jadi itu kau yang terbakar."

"Apa iya?"

"Setelah apa."

"Kau membuatku takut."

"Aku sudah."

Ia lantas berpura-pura sibuk dengan pekerjaan yang bahkan tidak pernah bisa diselesaikannya. Tapi selama ini dia memang tidak pernah benar-benar bekerja, kecuali dia sedang tidak jatuh cinta. Sungguh, cinta membuatnya tidak baik-baik saja. Itu lebih buruk dari patah hati. Atau baginya, jatuh cinta adalah bentuk patah hati yang lain. Jelas, apalagi dia selalu salah. 

Akan banyak puisi, tapi tidak pernah selesai, akan ada catatan, itu akan mencabut setan yang merasukinya. Itu lebih baik, sebelum Ia jadi lebih berani dan itu tidak boleh terjadi, maka ia akan mulai bicara tentang binatu saja, atau Monocle Travel Guide seolah-olah ia membacanya. Bahkan ia pernah membeli sebuah buku diskon milik John Michaelson tapi hanya berakhir di rak buku tanpa dibaca. Dia kesulitan memahami bahasa asing, keterbelakangan, tapi dia cukup baik untuk menerjemahkan arti lagu the sound of  you coming.

Ya memang, dia tidak cukup artistik untuk segala hal, tidak klasik, tapi cukup bodoh untuk memahami hal-hal modern. Maka ia adalah sebuah kontradiksi, apalagi melihat bagaimana ia tidak pernah suka dengan hal-hal tentang negaranya, tapi ia diam-diam suka mendengarkan lagu-lagu nasional yang dinyanyikan oleh penyanyi muda dengan aransemen sendu. Bahkan, setiap pagi ia memainkan lagu mengheningkan cipta dengan pianikanya. Itu satu-satunya lagu yang dia kuasai, oh satu lagi, tanah airku. Sebuah lelucon untuk orang yang entah cinta atau tidak pada negaranya. 

Biasanya, dalam musim-musim yang sendu, dia akan banyak tertawa, tapi itu kamuflase. Ia mungkin sungguh tersiksa untuk menunggu, bukan. Ini bukan menunggu bagaimana cintanya bersemi. Tapi ia menunggu angin yang ganas, membawa cinta omong kosongnya itu dengan gumul yang berdarah-darah tapi tidak merah. Dan tidak akan pernah ada satupun orang yang tau tentang pancaroba itu. Bagaimana hatinya yang gersang, tiba-tiba semi dan menghijau, lalu dihanguskannya sendiri diam-diam. Selain bodoh; meski agak kasar, tapi memang itu kata yang tepat untuknya. Bodoh. Nah, selain bodoh karena suka menyakiti dirinya sendiri dengan cinta, tapi dia pintar menyembuhkan dirinya dari patah hati. Kalau dipikir-pikir, dia memang aneh. Sangat aneh. Dia tersiksa dengan cinta, lalu menjadi baik-baik saja setelah patah hati. Sinting. 

"Kau tahu Paley Park?" tanyanya, inosen. 

"Bisakah kau berhenti menanyakan hal-hal yang tidak aku ketahui?"

"Kau bisa menjawab iya atau tidak. Itu bahkan lebih singkat daripada kau mengeluh."

"Aku tidak tahu."

"Akan menarik jika dua orang yang tidak tahu tentang tempat asing, datang bersama-sama untuk melihatnya."

"Kenapa?"

"Karena dua-duanya tidak punya beban untuk bertanggung jawab tentang bagus tidaknya tempat itu."

"Dan kau akan mengajakku ke  Paley Park?"

Ia tertawa. 

"Grand Central dan Queensboro Bridge."

"Kau masih waras?" tanya seseorang dihadapannya. 

Ia bergeming. 

Bagaimana mungkin ia bisa hidup dengan begitu banyak tanda dan rahasia dalam hidupnya. Seharusnya seseorang memang tidak berusaha mengetahui apa yang ada di dalam hatinya, jika tidak ingin menangis darah melihat betapa dalam luka yang disimpannya. 

"Kau tidak perlu mengerti untuk bahagia." Cetusnya. 

"Maksudmu?"

"Semakin kau mengerti, kau akan semakin menyakitiku."

"Bagaimana mungkin?"

"Karena kau akan berubah tidak mengerti setelahnya."

Sepasang mata itu, yang ada dihadapannya, kosong. Sementara ia tak butuh mata yang kosong, ia butuh hati yang kosong, dan masuk kesana. Apakah bisa?

Bisa saja, kecuali ia membunuh yang lain yang telah menunggu lama di depan sana. Sayangnya, ia tak pandai membunuh. 

...

"Kau mendengarkan lagu patah hati." seseorang dalam hatinya mengajukan tanya. 

Itu orang sungguhan. 

"Apa ini terdengar seperti lagu patah hati?" Ia mengecilkan volume musiknya. 

"Itu jelas lagu patah hati."

"Padahal aku sedang jatuh cinta." Katanya. 

Hening. 

Sudah dibilang, ia bahkan tak bisa membedakan, jatuh cinta dan patah hati. Baginya, itu adalah satu. 

...

"As he read, i fell in love the way you fall asleep: slowly, and then all at once" (John Green)

Seperti itupun dia, sekaligus, dihabiskannya untuk jatuh cinta, dengan bodoh. 

"Selain mendengarkan lagu patah hati, kau juga suka menyendiri. Kau baik-baik saja?"

"Sudah kubilang, aku sedang jatuh cinta." 

"Lalu kenapa kau disini sendirian, dan tidak bertemu dengan orang yang kau cintai?"

"Aku sudah."

Seseorang dalam hatinya hampir sesak.

"Kau?"

"Aku sedang menunggu."

"Apa? Siapa?"

"Paley Park, Grand Central, Queensboro Bridge."

"Itu hanya taman."

Ia tersenyum.

"Kau tau, itu adalah sesuatu yang tersembunyi tapi menyatu."

"Dan."

"Hal yang kau lihat pertama kali, sebuah harapan."

"Kau membuatku sesak."

"Maka pergilah. Sudah kubilang, aku sedang menunggu."

"Kau tak akan mendapatkan apa-apa."

"Itu sudah sering terjadi. Itu kenapa aku tetap menunggu."

"Lalu kenapa kau menunggu."

"Karena jika aku berlari ke arahnya, ia semakin menjauh." 

"Bagaimana jika dia mendekat."

"Tidak mungkin."

"Kau pernah dengar apa yang dikatakan John H. MacDonald?"

"Apa?"

"Love isn't love until you give it away."

"Kau pasti begitu sakit untuk hidup seperti ini."

"Aku baik-baik saja."

Selain itu, ia kadang sangsi. Kepada siapa ia jatuh cinta. Pada orang yang ada dalam hatinya, atau pada orang yang hatinya kosong.

Atau kepada.

"Kau,"

"Iya?"

"Jangan bersikap baik, aku tidak suka."

"Maksudmu?"

"Dan jangan bersifat buruk, aku juga tidak suka."

"Kau?" mata itu, semakin sangsi. 

Ya, jangan bersikap baik, jangan bersikap buruk. Keduanya membuat ia jatuh cinta.

Mudah sekali. 


Januari, 2021

Dengan rindu yang tiba-tiba penuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)