Langsung ke konten utama

Flaneur : La educacion es Libertad


Saya hampir tidak pernah merayakan ulang tahun, bahkan cenderung berpikir bahwa hari ulang tahun bukanlah hal yang perlu diingat, apalagi dirayakan. Menurut saya, mengingat hari ulang tahun sama halnya dengan mengingat hari dimana saya semakin tua, diiringi sebuah ketidakyakinan tentang apakah saya sudah semakin dewasa? Atau malah semakin kekanak-kanakan. 
Hal ini lantas membuat saya menyimpulkan bahwa mengingat hari ulang tahun merupakan sesuatu yang tidak penting-penting amat, sebab tidak ada yang penting dari bertambah umur, tanpa bertambah baik. 

Age is something that doesn't matter, unless you are a cheese.

Salah satu kalimat yang begitu saya sukai dari Luis Bunuel. Menggambarkan kesederhanaan berpikir tentang umur. Bahwa, umur bukanlah sesuatu yang penting, kecuali kamu (maksudnya saya) adalah keju. Keju semakin tua memang semakin bagus, semakin mahal, tapi kalau saya? sepertinya hanya semakin tua saja. Kira kira begitu.


25 Juli 2021

Saya tepat berusia 29 tahun. Secara sadar saya telah menunggu tanggal ini dengan penuh kecemasan. Tentu saja, sebab ini adalah tahun terakhir saya berkepala dua.
Alih-alih berpikir tentang sebuah pesta ataupun perayaan, saya lebih antusias untuk menghadiahi diri saya dengan; tulisan. Untuk saya, menulis adalah kado paling mewah yang bisa saya berikan pada diri sendiri. Dan kali ini saya sedang membuat kado itu. Sebuah tulisan -meskipun sulit untuk menentukan temanya, tapi akhirnya saya berpikir tentang refleksi diri : Apakah kehadiran saya telah cukup bermakna?
Itu terdengar begitu berat. Tapi mati lampu membuat saya jadi sedikit melankolis dan menggali sisi-sisi ketidakbiasaan saya, atau malah ketidakberartian saya, sambil mendengarkan lagu india. Nah loh! 
Diluar semua ketidakjelasan dan keabsurdan arah hidup saya, entah kenapa, saya benar-benar ingin berbagi tentang bagaimana saya menjadi guru. Lebih tepatnya menjadi guru jadi-jadian. 


Menjadi Guru

Kadang hal-hal yang tidak saya impikan, itu adalah hal-hal yang membuat saya menemukan sisi lain dari diri saya yang bisa disebut nilai : menjadi guru, misalnya. Tapi saya tidak cukup berani untuk mengatakan bahwa diri saya telah cukup berguna, sehingga saya mencari konsep yang cukup definitif untuk tidak menjadikan saya sebagai subjek utama. Dan saya menemukan itu dalam kalimat ini,

The secret in education lies in respecting the student.

Rahasia dalam pendidikan adalah menghargai murid, begitu kira-kira yang dimaksud Ralph W. Emerson. Kalimat ini memperkenalkan sebuah konsep sederhana tentang : seseorang (bisa jadi saya) disebut sebagai guru karena adanya murid. Itu kenapa, merasa menjadi superior dalam konteks ini adalah sebuah keputusan yang salah. Sebab dalam dunia pendidikan, konsep superior dan inferior hanya akan mengaburkan makna apresiasi terhadap kehadiran murid. Padahal, pasal pertama versi Emerson menegaskan bahwa penghargaan utama ada di murid lho. Sebuah paradigma yang begitu saya sukai cara kerjanya dalam mempengaruhi saya untuk berpikir seperti ini: tuankan muridmu, tapi jangan menjadi budak untuk mereka.
Kalimat itu tidak ambigu kok, sebab jika saya membuat versi yang seimbang, maka kira-kira begini : bukankah sesama saudagar juga saling menuankan? Dan itu tidak menurunkan derajat mereka. Hanya karena menganggap orang lain sebagai tuan, tentu tidak akan menghilangkan gelar saudagarnya. Begitu pula jika saya menganggap murid sebagai tuan, itu tidak akan membuat saya menjadi budak, saya tetap tuan juga kok. 

Dari sini saya kemudian menempatkan diri sebagai guru yang ada karena murid. Memaknai murid sebagai orang yang akan belajar bersama saya, bukan belajar dari saya. Itu kenapa saya sering bilang pada murid-murid saya, 

Saya itu guru Bahasa Indonesia, bukan KBBI, bukan pula PUEBI. Jadi jangan menganggap saya serba tahu tentang seluk beluk bahasa Indonesia. Saya, barangkali hanya tau sedikit lebih banyak dari mereka. 

Toh, belajar tidak harus seteoritis itu. Saya lebih suka menganggap belajar sebagai sebuah praktik hidup. Praktik menyesuaikan ilmu dengan lingkungan -menurut hemat saya. 
Nah hemat saya ini, rupanya juga mengacu pada cara saya menjadi guru. Jadi begini, saya bukan tipe guru yang based on text -maksudnya, saya mau bilang bahwa saya tidak patuh-patuh amat dengan kurikulum yang disediakan pemerintah, tapi biar kelihatan lebih sopan, jadi saya bilangnya bukan tipe guru bot.
Dalam konteks saya menjadi guru, saya hampir tidak pernah menuntut murid saya untuk menjadi pandai di pelajaran saya. Dan akan terdengar sangat egois, jika semua guru menuntut setiap murid untuk pandai di semua mata pelajaran. Sementara saya tau, kita semua tau, setiap anak adalah diri mereka masing-masing, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak mungkin satu set manusia yang sudah ditakdirkan tidak sempurna, dituntut untuk bisa menguasai semua disiplin ilmu, semua mata pelajaran. Kan lucu. 
Akan terasa lebih humanis, jika saya hanya meminta mereka untuk bersikap sebagai murid yang menjadikan saya sebagai guru, mereka belajar dan saya mengajar, mereka mendengarkan dan saya berbicara, mereka bertanya dan saya menjawab. Cukup. Saya tidak butuh mereka menjadi pintar di pelajaran Bahasa Indonesia. Saya hanya meminta mereka untuk mengambil sikap sebagai murid. 
Saya membuat asumsi bahwa masing-masing mereka adalah calon seniman, calon pilot, calon insinyur, calon sastrawan, dan calon-calon berbagai bidang profesi yang tidak semuanya butuh belajar pengertian dan struktur teks. Lalu apakah adil jika saya memaksa mereka untuk menguasai itu? tentu tidak. 
Dari sini saya mulai membuat konsep sederhana tentang belajar: bahwa tujuan dari semua kegiatan belajar tidak untuk menjadi pintar, tapi menjadi orang yang bisa menghargai. Maka pemahaman dasar dari dalam diri saya adalah kunci untuk memahamkan mereka pula : bahwa adab lebih penting daripada ilmu. Murid yang tidak pandai tapi berusaha mendengarkan gurunya, jauh lebih baik dari murid yang sengaja mengabaikan gurunya karena merasa sudah pandai. 

Sesederhana itu saya membuat asumsi tentang konsep belajar. Bahwa tidak semua murid harus saya tuntut menjadi pandai, tapi semuanya harus saya temani belajar. Dan tidak semua pelajaran harus dikuasai oleh murid, tapi murid harus menghargai kehadiran guru. Entah suka atau tidak suka dengan pelajarannya, bisa atau tidak bisa. Toh, dalam lingkup ruang kelas yang tak lebih dari sepuluh kali sepuluh meter, menghargai hanya sesederhana : mendengarkan guru berbicara. Ya, hanya mendengarkan. Cukup. Titik. 


Sebuah Tahap

Melihat dan mendengar itu laku primitif. Membaca itu laku modern. (F. Aziz Manna) 

Tapi F. Aziz Manna tidak merujukkan kalimat itu pada mendengarkan guru sebagai laku yang primitif, melainkan berusaha membelajarkan orang-orang bahwa di atas mendengarkan ada hal yang lebih mewah : membaca.
Itu sebuah tahapan belajar yang saya perkenalkan kepada murid-murid saya agar ada upaya untuk mengembangkan diri. Dimana setelah cukup baik menghargai kehadiran guru, membaca adalah sebuah bentuk mempermewah diri.
Membaca tidak hanya membawa murid mengenal hal-hal baru, tapi juga mengasah kepekaan diri. Nah, timbulnya kepekaan membuat setiap orang (termasuk murid) lebih mudah memaknai hal-hal sederhana di lingkungan sekitarnya. Kepekaan melahirkan sebuah kebiasaan memperhatikan lingkungan sekitar, dari sudut pandang yang paling sederhana, dari unsur yang paling kecil. Sikap perhatian ini yang kemudian melahirkan sikap kehati-hatian, sebuah antisipasi untuk tidak merugikan diri sendiri, dan merugikan orang lain. Lebih luas lagi, sikap antisipatif ini adalah akar dari akhlak yang baik, bukan begitu?
Kurikulum kita, maksud saya kurikulum nasional banyak menuntut terbentuknya karakter. Tapi secara tersurat. bagian-bagian yang coba dikonstruksi bukan jiwa, tapi fisiknya saja. Murid dituntut menjadi robot yang harus menampung semua teori, tapi tidak memprogram mereka sebagai calon subjek, hanya objek. Saya rasa begitu sih. 
Selain budaya membaca kita yang memang sudah rendah, pengenalan bahan bacaan pada anak-anak juga sebuah proses yang salah. Sebab buku pertama yang dikenalkan pada murid adalah LKS, iya kan? itu melahirkan konsep yang menakutkan tentang buku. Bagi murid kita, murid saya, buku adalah LKS, buku adalah buku pelajaran, buku teks matematika, fisika, kimia, ekonomi, geografi, dan lain-lain. Padahal, buku tidak semenakutkan itu, tidak se- soal-soal itu isinya. 
Ada sebuah konsep sederhana dari Elizabeth D. Inandiak. Menurutnya, buku itu dari kertas. Kertas itu dari pohon. Membaca seperti memasuki hutan, deret pohon yang tidak kita kenal sebelumnya. 
Jika bertolak dari pemikiran Elizabeth, maka seharusnya buku adalah hutan pribadi untuk setiap orang, setiap murid. Buku adalah sesuatu yang menantang, menawarkan kesejukan, keteduhan, dan pengalaman berpetualang. Bukan materi-materi, bukan soal-soal, bukan beban! Buku adalah tempat rekreasi berisi bacaan-bacaan yang disukai pemiliknya, pemilihnya. 

Itu kenapa saya menyimpulkan bahwa membaca semacam tur yang memanjakan pikiran, membaca ibarat menyusuri hutan, mencium aroma daun pengetahuan. Semuanya, saya rasa penuh kemagisan. Dan saya ingin murid-murid saya merasakan sensasi magis itu. Kemagisan dalam membaca adalah sesuatu yang harus diperkenalkan. Sehingga membaca bukan lagi menjadi sebuah instruksi, tapi lebih pada sebauh edukasi diri secara mandiri. Bahwa, setiap orang punya tanggung jawab untuk memandaikan dirinya sendiri dengan bacaan, lalu menularkan itu pada orang-orang sekitar. Dan saya merasa bertanggung jawab untuk menularkan hal itu pada murid-murid saya. Menularkan habbit-nya, bukan bahannya.

Sampai disini, seharusnya setiap orang sadar bahwa membudayakan membaca bukan perihal memberi waktu para murid untuk membaca, tapi lebih kepada menggali minat mereka, lalu mengarahkannya pada bahan bacaan yang tepat, yang digemari, yang jelas bukan LKS. Hehehe.
Langkah semacam ini adalah sebuah formula yang memuat banyak misi, termasuk menjelaskan pada diri saya sendiri bahwa buku bukan daerah kekuasaan yang harus dikuasai dan dibatasi. Setiap orang yang membaca buku bukanlah perantau yang harus saya beri aturan, sebaliknya mereka adalah musafir yang berhak memilih hutannya masing-masing, kesenangannya masing-masing. 
Kadang, saya berpikir, apa saya pernah menjadi penjajah? dengan memilihkan buku untuk dibaca murid-murid saya. Wah, saya ternyata se-nazi itu. 

Misi Lain

Akhir-akhir ini saya sedang penasaran dengan seorang tokoh pendidikan dunia bernama Paulo Freire. Ia seorang berkebangsaan Brazil yang populer berkat gagasan-gagasan fenomenalnya dalam dunia pendidikan. Ia menerbitkan beberapa buku yang semuanya jadi rujukan, salah satu kutipan menarik dalam bukunya berbunyi, 

La educacion es Libertad

Pendidikan adalah kebebasan, katanya. Saya kira ini bukan sebuah gagasan yang cocok dengan iklim pendidikan di Indonesia. Tapi saya merasa Freire benar. Pendidikan adalah kebebasan, hanya saja, pola pikir saya, anggap saja saya, belum bisa menafsirkan itu dalam poin poin konkret. Sebab saya sendiri bukan hasil dari pendidikan yang membebaskan, loh kan curhat. Jika saya adalah sampel, maka tentu ada populasi. Saya tidak menyebutkan populasinya, tapi saya rasa semua orang bisa mengerti -populasi selalu lebih besar dari sampel. Selalu.

Hasil pemikiran Freire tentang pendidikan yang membebaskan, bisa diturunkan dalam hal yang paling sederhana : bebas berbicara. Saya mengambil dasar seperti itu, sebab nyatanya berbicara adalah hal yang paling mudah, murah, bebas -ini menurut saya, catat. Tapi lihat, di belakang bangku-bangku sekolah, berbicara jadi sulit, mahal, dan tidak bebas. Iya juga ya.

Sebuah fenomena dimana seorang murid begitu vokal diluar kelas, bebas berekspresi, tertawa, berkelakar dengan teman sebaya, lantas menjadi pendiam, murung, dan mengantuk di dalam kelas. Murid cenderung tertutup, atau malah memang tidak menghendaki membuka diri, tidak menghendaki bicara, tidak mau ngomong kalo sama gurunya, lha ya kenapa?

Sebelum saya berjalan lebih jauh pada murid, saya malah berpikiran bahwa konteks dunia kerja cukup memprihatinkan untuk perihal omong-omongan ini. Saya bahkan menemukan fenomena tidak mau berbicara sebagai bentuk budaya. Orang-orang cenderung lebih suka memendam perasaan tertindasnya, dari pada mengutarakannya sebagai bentuk evaluasi. Itu seolah mengakar, menjadi DNA. Tua muda, guru murid, rasanya memang tidak berusaha membangun dialog untuk menuntaskan emosi mereka. Termasuk saya sendiri juga begitu sih. Di situasi tertentu, jadi takut bicara, padahal seharusnya saya bicara. Tapi ya sudahlah. Nah, kata yasudahlah ini bagian yang paling mengerikan. Karena ini menunjukkan keputusasaan, menunjukkan rasa menyerah. Padahal Opa Freire bilang begini,

si la estructura no permite on dialogo, la estructura debe ser cambiada.

Jika struktur tidak memungkinkan dialog, struktur harus diubah. Kalimat ini punya dua tokoh, protagonis dan antagonis. Saya malah curiga, jangan-jangan saya adalah struktur yang harus diubah itu, yang tidak membuka jalan dialog, antagonis dong. Atau malah saya adalah dialog yang melarikan diri, tidak berani mengubah struktur (protagonis yang tertindas). Rasa-rasanya perihal ngomong saja begitu dilematis. Barangkali itu yang dirasakan murid-murid se-Indonesia Raya ketika di dalam kelas. Ingin bicara takut salah, tapi tidak bicara juga jadi salah. Akhirnya hanya bisa grundel, itu sih saya banget.

Padahal, sebenarnya lho ya, kemauan untuk bicara adalah sesuatu yang bisa dilatih. Misalnya, dalam situasi tertentu, kita bisa merancang sebuah dialog santai dengan murid, tapi dalam dialog itu kita perlahan menepikan diri untuk menjadi pendengar. Dengan harapan, mereka lebih banyak bicara, terbiasa berbicara, dan terampil bicara. Kelihatannya sederhana kan, akan lebih sederhana lagi jika langsung mempraktekkan. Eh, tapi perlu diingat, memilih bahan pembicaraan adalah hal yang sama pentingnya dengan memilih bahan bacaan. Tidak boleh diktator. Tidak boleh ujug-ujug dialognya tentang senyawa apa yang banyak ditemukan di Saturnus. Mumet kan.

Konsep-konsep semacam itu jelas bukan hal yang mudah, sebab skemata mereka telah terlanjur menjadi mindset: bahwa berbicara (menyampaikan pendapat secara lugas dan terbuka) adalah hal tabu, atau bahkan dikenal mereka sebagai sesuatu yang haram. Sebab pada realitanya, seorang guru cenderung mengambil kendali sebagai subjek yang harus didengarkan. Melabeli murid sebagai subjek yang harus mendengarkan. Maka kegiatan berbicara yang terbangun hanya situasi belajar satu arah, tanpa memberi ruang kepada perasaan. Eh kok bawa-bawa perasaan. Tapi memang  perasaan adalah bagian mendasar dari motif ingin bicara. Sederhana saja, ada perasaan sayang, maka orang akan bilang sayang. Ada perasaan cinta, maka orang akan bilang cinta, begitu pula seterusnya. Akan tetapi, sekolah terlanjur mendeskripsikan dirinya sebagai arena berbicara dalam konteks guru sebagai subjek utama. Dan seperti yang saya duga, ini telah jadi budaya. Bahwa sekolah hanya mengajarkan guru bicara, murid mendengar, tanpa mengingat satu konsep yang dikatakan Freire : Pendidikan adalah kebebasan. 

Rasanya, belum terlambat-terlambat amat jika kita, jika saya, mau melakukan reformasi seperti yang disuarakan Fleire. Bisa jadi, hal sederhana semacam  membuka pembicaraan tentang hal-hal yang ingin dilakukan oleh murid adalah sesuatu yang bisa dicoba. Setengah jam berbicara santai dengan murid, tidak akan menyebabkan kemunduruan kualitas pendidikan, malah mungkin ini membangunkan gejolak generasi muda yang tertidur.

Saya jadi berpikir, bagaimana jika besok saya memulai pelajaran dengan bertanya 'kalian tadi sarapan apa?', dan mereka akan menjawab dengan bercerita tentang menu-menu sarapan yang menggiurkan. Barangkali dari situ mereka akan lupa bahwa mereka sedang belajar Bahasa Indonesia, tapi menikmati peran sebagai orang yang bercerita tentang sarapannya, yang bercerita tentang nasi, sayur, lauk pauk tanpa sadar bahwa apa yang diceritakan adalah bentuk berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan. Itu juga termasuk belajar kan? barangkali menurut banyak orang itu bukan belajar,  kurang berat, atau mungkin tidak masuk standar belajar. Tapi menurut saya, belajar bicara adalah belajar hal dasar. Dasar dari  berani mengutarakan perasaannya, gagasannya, dukungannya, penolakannya, atau apapun yang berasal dari isi kepalanya, agar bisa tersampaikan. Agar ada dialog; agar sebuah struktur berjalan sesuai fungsinya. bukan malah mematikan dialog itu sendiri. Hayo siapa yang antagonis kalo begini?

Menggagas sesuatu; tidak harus sama dengan yang lain, tidak harus tentang sesuatu yang sudah ada. Karena yang namanya gagasan itu dari kepala yang masih begitu jujur. Nah, kalau sudah dipoles bukan lagi gagasan, kalau sama juga bukan gagasan ; tapi salinan. Oleh karena itu, berani mengubah konsep yang salah, menurut saya bukan sesuatu yang harus membuat kita takut. Toh, Freire juga bilang no estoy el mundo simplemente para adaptarme a el, sino para transformarlo, saya tidak di dunia untuk beradaptasi, tapi untuk mengubahnya. Dan saya ingin melakukan itu, masih di tahap ingin sih, karena  ketika saya harus melakukannya secara frontal, saya malah kelihatan tidak punya unggah-ungguh. Lagi-lagi terbentur umur sih, superior inferior tadi itu lho.Kok malah curhat. Yang jelas, saya mau murid saya suka bicara, berani bicara, dalam konteks yang baik dan benar. 

Sekian

Saya tidak meniup lilin di ulang tahun saya yang malang, yang malam minggu tapi tidak bisa malam mingguan, yang malam selasanya malah mati listrik, yang membuat saya butuh waktu berhari-hari  membuat kado untuk diri saya sendiri, yang mungkin akan saya nikmati sendiri. Atau malah, saya membuat kado ini untuk semua orang yang membuat saya bisa berada di titik ini, di usia ini, di pencapaian yang saya juga ga tau isinya apa. Yang jelas, saya memang ingin membuat kado istimewa untuk diri saya sendiri, kado yang saya sukai, yang saya gemari ; menulis.

Selamat ulang tahun untuk saya sendiri. Terima kasih kepada ayah dan almarhum ibu saya yang tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun, sehingga saya tidak terbiasa mengharap mendapat ucapan ulang tahun. 

Saya percaya, cinta tidak bisa diukur dari ucapan selamat ulang tahun, tapi bisa diukur dari kado. Eh. Itu kenapa saya memberi 'kado' pada diri saya sendiri dengan menulis. Meluangkan waktu untuk menulis akhir-akhir ini sangat sulit, tapi saya melakukannya. Wah, betapa istimewanya saya untuk diri saya sendiri dong. 

Sekian, terima kasih. 







Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)