Hal ini lantas membuat saya menyimpulkan bahwa mengingat hari ulang tahun merupakan sesuatu yang tidak penting-penting amat, sebab tidak ada yang penting dari bertambah umur, tanpa bertambah baik.
Age is something that doesn't matter, unless you are a cheese.
Salah satu kalimat yang begitu saya sukai dari Luis Bunuel. Menggambarkan kesederhanaan berpikir tentang umur. Bahwa, umur bukanlah sesuatu yang penting, kecuali kamu (maksudnya saya) adalah keju. Keju semakin tua memang semakin bagus, semakin mahal, tapi kalau saya? sepertinya hanya semakin tua saja. Kira kira begitu.
Saya tepat berusia 29 tahun. Secara sadar saya telah menunggu tanggal ini dengan penuh kecemasan. Tentu saja, sebab ini adalah tahun terakhir saya berkepala dua.
Menjadi Guru
Kadang hal-hal yang tidak saya impikan, itu adalah hal-hal yang membuat saya menemukan sisi lain dari diri saya yang bisa disebut nilai : menjadi guru, misalnya. Tapi saya tidak cukup berani untuk mengatakan bahwa diri saya telah cukup berguna, sehingga saya mencari konsep yang cukup definitif untuk tidak menjadikan saya sebagai subjek utama. Dan saya menemukan itu dalam kalimat ini,
The secret in education lies in respecting the student.
Dari sini saya kemudian menempatkan diri sebagai guru yang ada karena murid. Memaknai murid sebagai orang yang akan belajar bersama saya, bukan belajar dari saya. Itu kenapa saya sering bilang pada murid-murid saya,
Saya itu guru Bahasa Indonesia, bukan KBBI, bukan pula PUEBI. Jadi jangan menganggap saya serba tahu tentang seluk beluk bahasa Indonesia. Saya, barangkali hanya tau sedikit lebih banyak dari mereka.
Nah hemat saya ini, rupanya juga mengacu pada cara saya menjadi guru. Jadi begini, saya bukan tipe guru yang based on text -maksudnya, saya mau bilang bahwa saya tidak patuh-patuh amat dengan kurikulum yang disediakan pemerintah, tapi biar kelihatan lebih sopan, jadi saya bilangnya bukan tipe guru bot.
Akan terasa lebih humanis, jika saya hanya meminta mereka untuk bersikap sebagai murid yang menjadikan saya sebagai guru, mereka belajar dan saya mengajar, mereka mendengarkan dan saya berbicara, mereka bertanya dan saya menjawab. Cukup. Saya tidak butuh mereka menjadi pintar di pelajaran Bahasa Indonesia. Saya hanya meminta mereka untuk mengambil sikap sebagai murid.
Sesederhana itu saya membuat asumsi tentang konsep belajar. Bahwa tidak semua murid harus saya tuntut menjadi pandai, tapi semuanya harus saya temani belajar. Dan tidak semua pelajaran harus dikuasai oleh murid, tapi murid harus menghargai kehadiran guru. Entah suka atau tidak suka dengan pelajarannya, bisa atau tidak bisa. Toh, dalam lingkup ruang kelas yang tak lebih dari sepuluh kali sepuluh meter, menghargai hanya sesederhana : mendengarkan guru berbicara. Ya, hanya mendengarkan. Cukup. Titik.
Sebuah Tahap
Melihat dan mendengar itu laku primitif. Membaca itu laku modern. (F. Aziz Manna)
Itu sebuah tahapan belajar yang saya perkenalkan kepada murid-murid saya agar ada upaya untuk mengembangkan diri. Dimana setelah cukup baik menghargai kehadiran guru, membaca adalah sebuah bentuk mempermewah diri.
Itu kenapa saya menyimpulkan bahwa membaca semacam tur yang memanjakan pikiran, membaca ibarat menyusuri hutan, mencium aroma daun pengetahuan. Semuanya, saya rasa penuh kemagisan. Dan saya ingin murid-murid saya merasakan sensasi magis itu. Kemagisan dalam membaca adalah sesuatu yang harus diperkenalkan. Sehingga membaca bukan lagi menjadi sebuah instruksi, tapi lebih pada sebauh edukasi diri secara mandiri. Bahwa, setiap orang punya tanggung jawab untuk memandaikan dirinya sendiri dengan bacaan, lalu menularkan itu pada orang-orang sekitar. Dan saya merasa bertanggung jawab untuk menularkan hal itu pada murid-murid saya. Menularkan habbit-nya, bukan bahannya.
Misi Lain
Akhir-akhir ini saya sedang penasaran dengan seorang tokoh pendidikan dunia bernama Paulo Freire. Ia seorang berkebangsaan Brazil yang populer berkat gagasan-gagasan fenomenalnya dalam dunia pendidikan. Ia menerbitkan beberapa buku yang semuanya jadi rujukan, salah satu kutipan menarik dalam bukunya berbunyi,
La educacion es Libertad
Pendidikan adalah kebebasan, katanya. Saya kira ini bukan sebuah gagasan yang cocok dengan iklim pendidikan di Indonesia. Tapi saya merasa Freire benar. Pendidikan adalah kebebasan, hanya saja, pola pikir saya, anggap saja saya, belum bisa menafsirkan itu dalam poin poin konkret. Sebab saya sendiri bukan hasil dari pendidikan yang membebaskan, loh kan curhat. Jika saya adalah sampel, maka tentu ada populasi. Saya tidak menyebutkan populasinya, tapi saya rasa semua orang bisa mengerti -populasi selalu lebih besar dari sampel. Selalu.
Hasil pemikiran Freire tentang pendidikan yang membebaskan, bisa diturunkan dalam hal yang paling sederhana : bebas berbicara. Saya mengambil dasar seperti itu, sebab nyatanya berbicara adalah hal yang paling mudah, murah, bebas -ini menurut saya, catat. Tapi lihat, di belakang bangku-bangku sekolah, berbicara jadi sulit, mahal, dan tidak bebas. Iya juga ya.
Sebuah fenomena dimana seorang murid begitu vokal diluar kelas, bebas berekspresi, tertawa, berkelakar dengan teman sebaya, lantas menjadi pendiam, murung, dan mengantuk di dalam kelas. Murid cenderung tertutup, atau malah memang tidak menghendaki membuka diri, tidak menghendaki bicara, tidak mau ngomong kalo sama gurunya, lha ya kenapa?
Sebelum saya berjalan lebih jauh pada murid, saya malah berpikiran bahwa konteks dunia kerja cukup memprihatinkan untuk perihal omong-omongan ini. Saya bahkan menemukan fenomena tidak mau berbicara sebagai bentuk budaya. Orang-orang cenderung lebih suka memendam perasaan tertindasnya, dari pada mengutarakannya sebagai bentuk evaluasi. Itu seolah mengakar, menjadi DNA. Tua muda, guru murid, rasanya memang tidak berusaha membangun dialog untuk menuntaskan emosi mereka. Termasuk saya sendiri juga begitu sih. Di situasi tertentu, jadi takut bicara, padahal seharusnya saya bicara. Tapi ya sudahlah. Nah, kata yasudahlah ini bagian yang paling mengerikan. Karena ini menunjukkan keputusasaan, menunjukkan rasa menyerah. Padahal Opa Freire bilang begini,
si la estructura no permite on dialogo, la estructura debe ser cambiada.
Jika struktur tidak memungkinkan dialog, struktur harus diubah. Kalimat ini punya dua tokoh, protagonis dan antagonis. Saya malah curiga, jangan-jangan saya adalah struktur yang harus diubah itu, yang tidak membuka jalan dialog, antagonis dong. Atau malah saya adalah dialog yang melarikan diri, tidak berani mengubah struktur (protagonis yang tertindas). Rasa-rasanya perihal ngomong saja begitu dilematis. Barangkali itu yang dirasakan murid-murid se-Indonesia Raya ketika di dalam kelas. Ingin bicara takut salah, tapi tidak bicara juga jadi salah. Akhirnya hanya bisa grundel, itu sih saya banget.
Padahal, sebenarnya lho ya, kemauan untuk bicara adalah sesuatu yang bisa dilatih. Misalnya, dalam situasi tertentu, kita bisa merancang sebuah dialog santai dengan murid, tapi dalam dialog itu kita perlahan menepikan diri untuk menjadi pendengar. Dengan harapan, mereka lebih banyak bicara, terbiasa berbicara, dan terampil bicara. Kelihatannya sederhana kan, akan lebih sederhana lagi jika langsung mempraktekkan. Eh, tapi perlu diingat, memilih bahan pembicaraan adalah hal yang sama pentingnya dengan memilih bahan bacaan. Tidak boleh diktator. Tidak boleh ujug-ujug dialognya tentang senyawa apa yang banyak ditemukan di Saturnus. Mumet kan.
Konsep-konsep semacam itu jelas bukan hal yang mudah, sebab skemata mereka telah terlanjur menjadi mindset: bahwa berbicara (menyampaikan pendapat secara lugas dan terbuka) adalah hal tabu, atau bahkan dikenal mereka sebagai sesuatu yang haram. Sebab pada realitanya, seorang guru cenderung mengambil kendali sebagai subjek yang harus didengarkan. Melabeli murid sebagai subjek yang harus mendengarkan. Maka kegiatan berbicara yang terbangun hanya situasi belajar satu arah, tanpa memberi ruang kepada perasaan. Eh kok bawa-bawa perasaan. Tapi memang perasaan adalah bagian mendasar dari motif ingin bicara. Sederhana saja, ada perasaan sayang, maka orang akan bilang sayang. Ada perasaan cinta, maka orang akan bilang cinta, begitu pula seterusnya. Akan tetapi, sekolah terlanjur mendeskripsikan dirinya sebagai arena berbicara dalam konteks guru sebagai subjek utama. Dan seperti yang saya duga, ini telah jadi budaya. Bahwa sekolah hanya mengajarkan guru bicara, murid mendengar, tanpa mengingat satu konsep yang dikatakan Freire : Pendidikan adalah kebebasan.
Rasanya, belum terlambat-terlambat amat jika kita, jika saya, mau melakukan reformasi seperti yang disuarakan Fleire. Bisa jadi, hal sederhana semacam membuka pembicaraan tentang hal-hal yang ingin dilakukan oleh murid adalah sesuatu yang bisa dicoba. Setengah jam berbicara santai dengan murid, tidak akan menyebabkan kemunduruan kualitas pendidikan, malah mungkin ini membangunkan gejolak generasi muda yang tertidur.
Saya jadi berpikir, bagaimana jika besok saya memulai pelajaran dengan bertanya 'kalian tadi sarapan apa?', dan mereka akan menjawab dengan bercerita tentang menu-menu sarapan yang menggiurkan. Barangkali dari situ mereka akan lupa bahwa mereka sedang belajar Bahasa Indonesia, tapi menikmati peran sebagai orang yang bercerita tentang sarapannya, yang bercerita tentang nasi, sayur, lauk pauk tanpa sadar bahwa apa yang diceritakan adalah bentuk berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan. Itu juga termasuk belajar kan? barangkali menurut banyak orang itu bukan belajar, kurang berat, atau mungkin tidak masuk standar belajar. Tapi menurut saya, belajar bicara adalah belajar hal dasar. Dasar dari berani mengutarakan perasaannya, gagasannya, dukungannya, penolakannya, atau apapun yang berasal dari isi kepalanya, agar bisa tersampaikan. Agar ada dialog; agar sebuah struktur berjalan sesuai fungsinya. bukan malah mematikan dialog itu sendiri. Hayo siapa yang antagonis kalo begini?
Menggagas sesuatu; tidak harus sama dengan yang lain, tidak harus tentang sesuatu yang sudah ada. Karena yang namanya gagasan itu dari kepala yang masih begitu jujur. Nah, kalau sudah dipoles bukan lagi gagasan, kalau sama juga bukan gagasan ; tapi salinan. Oleh karena itu, berani mengubah konsep yang salah, menurut saya bukan sesuatu yang harus membuat kita takut. Toh, Freire juga bilang no estoy el mundo simplemente para adaptarme a el, sino para transformarlo, saya tidak di dunia untuk beradaptasi, tapi untuk mengubahnya. Dan saya ingin melakukan itu, masih di tahap ingin sih, karena ketika saya harus melakukannya secara frontal, saya malah kelihatan tidak punya unggah-ungguh. Lagi-lagi terbentur umur sih, superior inferior tadi itu lho.Kok malah curhat. Yang jelas, saya mau murid saya suka bicara, berani bicara, dalam konteks yang baik dan benar.
Sekian
Saya tidak meniup lilin di ulang tahun saya yang malang, yang malam minggu tapi tidak bisa malam mingguan, yang malam selasanya malah mati listrik, yang membuat saya butuh waktu berhari-hari membuat kado untuk diri saya sendiri, yang mungkin akan saya nikmati sendiri. Atau malah, saya membuat kado ini untuk semua orang yang membuat saya bisa berada di titik ini, di usia ini, di pencapaian yang saya juga ga tau isinya apa. Yang jelas, saya memang ingin membuat kado istimewa untuk diri saya sendiri, kado yang saya sukai, yang saya gemari ; menulis.
Selamat ulang tahun untuk saya sendiri. Terima kasih kepada ayah dan almarhum ibu saya yang tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun, sehingga saya tidak terbiasa mengharap mendapat ucapan ulang tahun.
Saya percaya, cinta tidak bisa diukur dari ucapan selamat ulang tahun, tapi bisa diukur dari kado. Eh. Itu kenapa saya memberi 'kado' pada diri saya sendiri dengan menulis. Meluangkan waktu untuk menulis akhir-akhir ini sangat sulit, tapi saya melakukannya. Wah, betapa istimewanya saya untuk diri saya sendiri dong.
Sekian, terima kasih.
Kereeen...
BalasHapus