Baru-baru ini saya menghubungi seseorang yang saya kagumi -tulisan-tulisannya, melalui sebuah pesan pribadi di instagram. Keberanian itu, atau malah kenekatan itu lahir dari sebuah rasa penasaran atas sebuah pertanyaan sederhana,
'apa itu flaneur?'
yang membuat saya, katakanlah kecanduan akut dengan model tulisan semacam itu -dan baper. Konteks baper disini malah bukan lagi seperti bapernya saya pada lagu india, ini jauh lebih luas, melebihi luasnya bumi, planet-planet, jagat raya. Wah, luas sekali dong.
Sebelumnya, dengan 'kecanduan' saya ini, saya sering merasa sedih kepada diri sendiri. Nah, perasaan sedih ini tidak lahir karena baper tadi ya, tapi cenderung kepada 'kenapa ketertarikan saya malah membaca flaneur, sementara orang lain dengan profesi yang sama seperti saya menghabiskan banyak waktunya untuk mengikuti webinar, diklat daring, dan segala jenis pelatihan digital yang punya poin dalam per-skp-an.' nah saya? malah terbuai dalam rangkaian konsep per-flaneur-an yang memadupadankan narasi dan esai dengan sudut pandang yang sangat subjektif sekali (jenis pemborosan kata yang tidak patut ditiru).
Dari genre saja, flaneur ini masih sulit diraba, abstrak-lah ya istilahnya. Tapi bagaimana seorang penulis menyusun flaneur-nya dalam cawan kekosmikan, membuat saya merasa, wah kenapa jenius sekali. kejeniusan dalam hemat saya ini, kadang membuat saya sendiri jadi sangsi, apakah benar batas kejeniusan seseorang itu bersifat subjektif. Kalau iya, seharusnya dunia bisa lebih humanis memanusiakan manusia yang jeniusnya tidak sama dengan kejeniusannya, ketertarikannya tidak sama dengan ketertarikannya, keterampilannya tidak sama dengan keterampilannya, atau malah habit-nya tidak sama dengan habit-nya. (semakin lama semakin terasa sekali pembelaan dirinya)
Nah, dari kenekatan itu, saya menemukan jawaban bahwa flaneur itu memang hal yang baru, tapi lahir dari sebuah konsep lama, itu kenapa flaneur jadi menarik untuk saya. Kalo boleh dibilang, flaneur seperti sebuah tulisan yang melakukan teleportasi, berangkat dari masa lalu, datang ke masa kini, dan membicarai saya dengan cara yang : kamu bisa melihat saya sebagai sebuah hati yang bijak, saya tidak banyak bicara, saya kompleks, dan saya adalah hal yang paling kamu sukai -TULISAN.
(hakikat me time)
Seharusnya ini adalah jam terbaik untuk tidur, tapi saya memilih membuka laptop dari satu jam yang lalu. Saya tidak bekerja, saya hanya -membuat mi instan cup, menyumpal telinga dengan headset, memainkan lagu india (ini serius lho ya), dan membuka sebuah pesan di instagram. Ini bukan sebuah pesan yang penting-penting amat, hanya sebuah alamat blog; nonabukan.blogspot.com. Dari orang yang saya kagumi -tulisan-tulisannya itu, yang saya DM, yang saya tanya-tanyai tentang flaneur, yang untungnya sangat ramah, seperti saya. (tidak boleh protes)
...
"Some books leave us free and some books make us free." Ralph W. Emerson
Itu kenapa, saya selalu ingin membaca tiap kali suntuk, meski yang saya baca tidak selalu buku. Membaca -saya tidak lagi mempersempitnya dengan mengatakan bahwa membaca harus buku, menjadi sangat menghibur ketika saya suntuk, sedih, atau kecewa. Setiap buku, bacaan, seperti menggenggam tangan saya, mengajak saya berjalan di tengah teka-teki yang meminta ditebak, mereka membawa saya ke padang, gurun, antartika, antariksa, dunia lain, ke semua tempat yang disana hanya ada saya dan pengalaman-pengalaman orang lain, cerita-cerita, berita-berita, perasaan sedih, bahagia, segalanya. Bagi saya pribadi, membaca adalah sebuah konsep rekreasi yang paling menyenangkan. Siapapun, termasuk saya -tidak butuh kaki, kendaraan, perjalanan jauh, tapi saya bisa tiba di semua tempat yang saya inginkan, di semua pelajaran hidup yang saya butuhkan, di semua ketenangan yang ingin saya capai, di sebuah titik henti yang bukan akhir, saya menamainya : esensi.
Dari esensi, saya menemukan entitas dari diri saya sendiri, entah dalam kondisi duduk, diam, berjalan, atau malah berlari. Yang jelas, koherensinya membuat saya mencapai sebuah kualitas, dan saya bilang sekali lagi, kualitas itu subjektif. Itu kenapa, meminta orang lain menyukai apa yang saya sukai, termasuk bahan bacaan, keterampilan, kebiasaan, dan ke-ke yang lain adalah bentuk egoisme, tidak boleh dilanjutkan. Kadang ini yang ingin saya katakan pada orang lain, pada dunia, pada siapapun : jangan meminta saya membaca hal yang tidak saya sukai, karena toh saya tidak memaksa siapapun untuk membaca apa yang saya suka -flaneur misalnya. Semoga dunia mengerti.
Selain flaneur yang saya sedang suka-sukanya, saya juga merasa lucu dengan kerandoman diri saya sendiri. Bukan, bukan perkara saya akhir-akhir ini sering mengkombinasikan memasak, membaca flaneur, dan mendengarkan lagu india (india lagi), tapi lebih kepada : saya membaca bukunya Gus Mus lho. Saya rampok dari rak buku seorang teman, sudah hampir satu bulan tapi belum selesai saya baca. Bukan karena tidak punya waktu, tapi karena yang saya bilang tadi ; membaca tidak harus buku, dan membaca tidak harus cepat selesai. Sebab dalam Mencari Bening Mata Air-nya beliau, saya menemukan kutipan ini : Jika terbit disini, Aku tak peduli akan tenggelam dimana.
Saya temukan kalimat itu pada bagian yang berjudul I'tikaf. Bahkan belum melakukannya pun, saya sudah merasa disergap oleh perasaan sejuk yang bukan dingin, perasaan senang, tenang, menang, dari bayangan i'tikaf itu tadi. Padahal masih tahap membayangkan saja.
Nah, kembali pada kalimat tadi, yang menurut saya interpretasinya sangat luas. Kalau saya pribadi cenderung memaknai sesuai lingkup diri saya sendiri, yang kecil, yang berpikir bahwa selama mau memulai saja, tidak masalah akan berakhir seperti apa, akan menghasilkan apa. Sebab di bagian lain, Gus Mus juga men-dawuh-kan ini : Tuhan, Kami sangat sibuk,,,
Kalimat yang sebenarnya secara harfiah tidak istimewa-istimewa amat, tapi kalau mau dikorelasikan dengan konsep terbalik, atau berjalan mundur ke tulisan saya dari awal maka bisa dibuat seperti ini : Tuhan, saya sangat sibuk, tapi saya percaya bahwa saya telah memulai hal yang baik dalam kesibukan ini, dan saya menemukan tempat peristirahatan di sebuah buku, di sebuah bacaan, di flaneur. Wah, terharu sekali sama diri sendiri -itu sudah bentuk apresiasi diri lho. Ya tidak masalah jika orang-orang bilang, lah cuma membaca buku kok merasa bangga, kok merasa perlu mengapresiasi diri. Ini bukan masalah bukunya, tapi masalah waktu. Waktu yang demikian dinamis, tapi bisa saya ekseskusi dengan baik, meskipun banyak melamunnya, banyak dengerin musiknya, banyak makannya, banyak hapeannya, eh jangan salah, saya hapean itu untuk bekerja, untuk membaca, untuk pamer! titik.
Daripada lho ya, ini saya juga masih mengutip dawuhnya Gus Mus yang bunyinya
kita yang memiliki,
orang lain yang memanfaatkan.
Dalam kondisi otak yang disetting positif pada jam-jam sholat tahajud, saya lebih memaknai kalimat itu sebagai: ya barangkali saya memang tidak bisa memanfaatkan yang saya miliki dengan baik, makanya dimanfaatkan orang lain. Bisa juga ini masalah waktu tadi.
Tapi, dalam situasi dan kondisi seperti saat ini, saya malah merasa bahwa apa yang saya miliki, waktu misalnya, bisa saya manfaatkan, bisa juga dimanfaatkan oleh orang lain, sehingga manfaatnya ganda dan tidak mengandung propaganda. (ngomong apa ya)
3.35
Sebentar lagi Subuh dan jelas memilih tidur lagi bukan sebuah kebijaksanaan, mengingat lagu india saya masih berputar, flaneurnya Puan Nanda masih panjang, bukunya Gus Mus masih di halaman 20, Helen dan Sukanta-nya Pidi Baiq masih halaman 50, Orang-orang Proyeknya Ahmad Tohari masih setengah jalan, dan Divortiare-nya Ika Natassa yang saya bahkan lupa sampai halaman berapa. Bayangkan, bayangkan saja, kalau tidak ada kalimat jimatnya Gus Mus tadi, akan seberapa frustasi saya dengan diri sendiri yang tidak bisa menyelesaikan semua buku yang saya baca, bukan karena tidak punya waktu, tapi saya percaya bahwa mencapuradukkan berbagai macam genre bacaan dalam satu kurun waktu dan tidak menyelesaikannya segera adalah bentuk memberikan peringatan pada diri sendiri bahwa Jim Rohn pernah bilang seperti ini The book you don't read won't help. Lah gimana bisa membantu lha wong bacanya tidak selesai, atau malah tidak mau membaca, atau malah dianggap membaca itu sebagai kegiatan sok sibuk. Padahal lho ya, bener juga sih kalo dibilang saya sok sibuk. (Semakin lama semakin tidak berfaedah saja tulisan saya ini).
...
Oh iya, kalau masih ingat tentang dawuhnya Afrizal Malna yang paling sering saya ulang, melihat dan mendengar adalah laku primitif, membaca laku modern, maka saya rasa tujuan dari tulisan ini jelas ya, untuk mengajak semua orang tetap isitiqomah memaksa dirinya untuk mau membaca, suka membaca, setidakberfaedah apapun bacaannya (termasuk tulisan saya ini).
Sekaligus, saya ingin mengatakan bahwa membangun rasa penasaran dalam diri adalah salah satu cara memotivasi diri untuk mau membaca. Misalnya, selain pada flaneur, akhir-akhir ini saya sedang penasaran pada Paul Coelho dan Haruki Murakami. Lalu merasa 'memang tidak pernah ada yang kebetuan di dunia ini' setelah membaca flaneurnya Nanda yang berjudul Inner Child dan membaca biografinya Paul Coelho dengan pengalamannya yang tiga kali masuk rumah sakit jiwa. Sementara Murakami, saya tertarik pada novelis Jepang satu ini karena
"If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else thinking."
Maka pilihlah bacaan yang berbeda, agar kamu benar-benar berbeda.
...
Tulisan ini didedikasikan untuk tim literasi smantarnala yang akan me-launching program pertamanya. Saya ingin bilang : kalian adalah tim yang hebat, yang akan kalian lakukan adalah mengajak banyak orang untuk membaca, membaca adalah sunnah rasul (iqra'), maka yang kalian lakukan adalah ibadah. wah!
sungkem sek sama author nya. 🙏🏽
BalasHapusoh baca tulisanku ya, terharu
Hapus