Langsung ke konten utama

Gayam : Langka Tapi Kaya Manfaat



Gayam merupakan salah satu jenis pohon yang mampu tumbuh setinggi 20 meter dengan diameter 4-6 meter. Pohon dengan nama latin Inocarpus fagiferus ini biasanya tumbuh di daerah pedesaan. Pohon ini memiliki bentuk batang menyerupai pohon kapuk, namun dengan warna coklat kehitaman. Daun dari pohon ini juga tergolong lebat, ruasnya berseling, tunggal, dan menyerupai kulit. Uniknya, pohon ini juga memiliki buah yang dapat dikonsumsi. Bentuknya mirip ginjal namun dengan ukuran sekitar 5-10 sentimeter, teksturnya keras, tanpa bakal buah, namun bijinya dilapisi kulit luar yang keras. Untuk dikonsumsi, kulit luar gayam harus di kupas sampai tersisa bijinya yang siap diolah.
Mengolah buah gayam terdiri atas dua cara, pertama merebusnya dalam air panas dengan menambah sedikit garam. Butuh waktu satu sampai dua jam agar biji gayam benar-benar matang dan siap dikonsumsi. Kedua, buah gayam dapat diolah dalam bentuk keripik. Biji buah yang sudah dikupas dapat diiris tipis, dijemur pada sinar matahari sampai kering, kemudian di goreng dalam minyak yang sudah dipanaskan.
Terdapat tiga kandungan zat kimia yang terdapat dalam buah gayam yaitu saponin, flavonida, dan tanin. Pertama, saponin yang bermanfaat membersihkan kotoran dalam usus besar dan pencernaan. Kedua, flavonida berguna untuk menjaga kekebalan tubuh. Sedangkan senyawa tanin dapat membantu usus dalam menyerap sari makanan.
Berdasarkan daerah penyebarannya, gayam tersebar di tiga wilayah utama yang meliputi Jawa-Madura, Polinesia, dan Mikronesia. Polinesia mencakup Samoa, Tonga dan kepulauan Cook. Sedangkan Mikronesia meliputi Pohnpei, Kepulauan Marshall dan Kiribati.
Berdasarkan tempat tumbuhnya, gayam dapat tumbuh di dataran rendah tropis lembab dan dataran dengan ketinggian sedang (0-500 mdpl). Pertumbuhan gayam akan semakin baik  di daerah yang memiliki pola penyebaran hujan merata setiap tahunnya (1.500–4.300 mm),  dengan temperatur minimal rata-rata tahunan pada kisaran 26,4-27,7°C dan maksimal pada kisaran 29,4-34,5°C.
salah satu contoh teks LHO

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sin : Seribu Ibu di Kepala

Sin 1 Itu adalah sebuah kota kecil yang tenang, sepi, disebutnya sebagai hati. Kota itu didatanginya empat puluh hari yang lalu, dengan membawa sekotak ingatan tentang : kursi dan meja kayu di sebuah pengadilan, bunyi bel sebuah kindergarten yang melepaskan seribu senyum balita, dan sampul coklat berisi surat kematian seseorang. Ia memasukkan kotak itu ke dalam sebuah laci di rumah barunya ; di kota itu, yang sepi, yang masih penuh dengan lahan kosong, hutan, lembah, sawah, dua puluh akasia di pekarangan , pagar bambu, dan kursi rotan di serambi, menghadap ke arah gunung mati di ujung hutan. Rumah barunya tak kalah hening dari kota itu, tak kalah kecil dari hatinya, tapi disana duduk seorang perempuan yang terus berbicara padanya. Perempuan itu tidak benar-benar ada, tapi suaranya memenuhi seluruh sudut rumah. Suara itu begitu dikenalnya, seperti menyeruak dari balik sampul coklat yang berisi surat kematian, yang disimpannya di salah satu laci lemari, salah satu pusara paling hening, ...