Artikel ini saya buat, atas dasar peduli pada islam dan tetap cinta pada Indonesia.
Akhir-akhir ini, banyak sekali fenomena sosial yang melibatkan umat islam sebagai objek utama. Ada yang menganggap umat islam itu baik, tapi ada pula yang menganggap sebaliknya. Perbedaan itu, agaknya membut kondisi sosial NKRI riuh dengan isu-isu kurang menyenangkan tentang islam.
Kalau mau dirunut, peristiwa ini berawal dari polemik pilkada di ibukota. Yang katanya, satu calon dianggap sebagai penista agama. Nah, calon ini dianggap menistakan ayat alquran, sebagai usaha menarik perhatian masyarakat agar bersedia memilihnya. Dari situlah, ada pihak lain yang merasa dirugikan, yang merasa bahwa perkataan itu "tentang surat al-maidah ayat 51" telah menghinakan Alquran. Maka, muncullah respon yang bermacam-macam di kalangan masyarakat, ada yang pro, ada yang kontra, ada juga yang cuek. Terlebih lagi, semakin hari, seiring berjalannya proses hukum yang dijalani si calon "yang kini sudah menyandang status terdakwa", banyak masyarakat yang merasa kecewa tentang kinerja aparat hukum. Masyarakat mulai bertanya-tanya, kenapa terdakwa tidak ditahan? Kenapa dibiarkan menjabat? Kenapa dibiarkan ikut pilkada? Dan kenapa kenapa lainnya.
Ditengah "kenapa" yang menggelayuti umat islam -yang kontra calon, ada pihak lain yang merasa, bahwa sikap umat islam yang kontra adalah sikap yang tidak toleran. Bahkan, ada sebagian muslim yang pro dg si calon. Maka, jadi umat islam di Indonesia terbelah jadi dua kubu, yang satu kubu pro, yang satu kubu kontra, lalu mana yang benar? Saya juga tidak tahu. Tapi kalau boleh memberikan pendapat, kubu yang benar adalah kubu yang diam.
Diam? Ah itu sifatnya pengecut!
Ah, masa? Coba dibaca dulu, baru di simpulkan.
Kalo mau dirunut, keruhnya keadaan indonesia saat ini, karena terlalu banyak orang berpendapat, berspekulasi, menduga-duga, dan beropini sesuka jidatnya. Apa salah berpendapat? Tidak. Memang tidak salah. Tapi kalau sekiranya pendapat hanya memicu perpecahan, apa salahnya jika kita diam?
Coba media tidak perlu ikut campur, tidak perlu membuat headline2 provokatif, apa masyarakat akan terpancing? Coba penulis2 artikel lebih bijak dalam menilai? Apa pembaca akan berang? Coba yang pro memilih diam, apa yang kontra akan menantang? Coba yang kontra diam, apa yang pro akan koar-koar? Jawabannya tidak. Jadi sudah jelas, sumber masalahnya ada dilisan.
Lisan si calon yang usil, ngapain kampanye bawa-bawa ayat Alquran. Lisan si pelapor yang terlalu jeli, ngapain hal semacam itu dilaporkan? Tegur saja, suruh minta maaf, sudah selesai. Lisan media, yang suka mengompor2i pihak pro kontra, kenapa masalah agama dijadikan berita komersial? Lisah orang orang berkepentingan, yang menambah ruang perdebatan. Lisan lisan orang yang mengutamakan lidah dari pada pikiran.
Coba kalian diam, ada isu, janga ikut2an. Kalau merasa ada yg dirugikan, instropeksi diri, jangan langsung menjatuhkan.
Coba, saudara saudara muslim sekalian lebih bijak dalam menghadapi permasalahan. Jangan sedikit2 pasang badan. Jangan malah memecah diri demi isu yang tidak jelas memberi manfaat apa.
Kalau ini masalahnya cuma "boleh apa tidak pilih pemimpin kafir?" Jangan tanya sama orang lain. Tanya sama Alquran. Sudah mempelajari apa belum? Sudah faham apa belum. Kalau memang tidak boleh, ya jangan pilih. Kalau merasa benar2 islam, benar benar percaya kalau Alquran itu kitab suci yang diturunkan sebagai petunjuk, ya sudah, lakukan. Camkan pada diri sendiri, saya harus jadi muslim yang baik dulu, baru koreksi orang lain. Saya mau belajar dulu, boleh atau tidaknya. Kalau boleh saya lakukan, kalau tidak saya tinggalkan. Kalau peduli pada orang lain, sampaikan kebenaran, kalau orang lain tidak mau, ya sudah jangan di paksa. Biar dia bilang islam, kalau tidak mau, ya sudah biarkan.
Kalau kalian mau lebih jeli, perihal boleh tidaknya pemimpin kafir ini dipilih atau tidak, mungkin sama dengan bertanya "gimana hukumnya islam tapi ga sholat? Ga pake kerudung? Minum alkohol?" Dan lain sebagainya. Ada kok islam, ga sholat. Terus kalian mau apa? Nyeret dia ke masjid biar mau sholat? Ya ga bisa. Memang sudah tidak mau kok dipaksa. Ga pake kerudung, trus di paksa pake kerudung, boleh? Yang boleh. Tapi mau? Kalo ga mau ya udah. Kok repot. Bisa-bisanya kalian itu tunjuk sana tunjuk sini, salahin sana salahin sini. Hei, instropeksi!
Pesan saya, buat saudara saudara muslim yang pro calon, monggo, silahkan. Selama kalian bahagia, selama kalian tidak merusak tali silaturrahmi, selama kalian mengutamakan kedamaian, sah. Sah pilih siapa saja.
Nah, buat kalian yang kontra calon, tugas kalian hanya mengingatkan, kalau yang diingatkan tidak mau, ya sudah, urusan masing2. Kalau kalian benar, kalian dapat pahala. Kalau kalian benar, dan berhasil mengajak orang lain ke jalan yang benar, maka pahala kalian berlipat ganda. Tapi, kalau kalian benar, terus malah merendahkan mereka yang salah, habis sudah pahalanya.
Jadi, sebelum kita menuduh "wah media menjatuhkan muslim", "wah, pemerintah sedang islamphobia", dan wah wah lainnya, kita liat sendiri dulu pada diri kita. Lah kitanya yang islam ga mau satu suara, malah memecah belah diri sendiri, terus di jatuhkan ga mau. Lah, kita sendiri menunjukkan kerapuhan kok, gimana ga mau dihancurkan sekalian sama musuh.
Perbedaan itu biasa, tapi akan jadi bumerang kalo kita merasa paling benar.
Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Jadi jangan memaksakan kehendak. Kalau mau dispesifikkan, "bagimu keyakinanmu, bagiku keyakinanku.", Kalau mau dibuat lebih kontekstual "bagimu pilihanmu, bagiku pilihanku," jadi kalau ada umat islam ga sholat, ga puasa, ga pake kerudung, minum alkohol dan lain lain (termasuk memilih pemimpin kafir), ya sudah terserah dia. Tugas kita mengingatkan, kalo dia tidak mau ya biarin. Itu sudah islam versinya dia. Ga bisa diupgrade ke versi kita. Kalau ibarat laptop, OSnya sudah beda, aplikasinya ga cocok buat diinstal. Ya jangan dipaksa, selama masi nyala, masi hidup, sudah syukuri saja.
Nah buat islam yang sholat, yang puasa, yang pake kerudung, yang ga minum alkohol, yang ga pilih pemimpin kafir, jangan sok alim. Jangan sok benar semdiri. Jangan memaksakan kehendak. Akan lebih baik, kalau lebih fokus untuk meningkatkan ibadah.
Sekarang ini, dengan segala kekacauan yang ada, akan lebih baik kalau kita lebih banyak diam, dan tutup telinga. Untuk dua belah pihak, mau yang pro, mau yang kontra, sudah. Biarin luaran sana mau ngomong apa. Media gembar gembor ini itu, udah jangan diliat. Nanti kan capek2 sendiri. Uda berenti2 sendiri. Kalau ditanggepin, si media itu malah kaya anak kecil, ngelunjak.
Yang tidak kalah pentingnya, buat semua penulis artikel dimanapun kalian berada, berhentilah mencari sensasi dg berita provokatif. Kalau tulisan kalian menyesatkan, uang yang kalian dapat itu tidak barokah. Dan kalau sampai ada orang yang musuhan gara gara kalian, itu akan jadi dosa jariyah untuk kalian semua.
Kesimpulannya, menjadi muslim yang syar'i itu gampang, ikuti Alquran dan sunnah. Selama ada perintah, laksanakan, kalau dilarang, jauhi. Kalau ada perbedaan, selasaikan dg musyawarah. Jauhi perdebatan, apalagi pertikaian. Kalau sampai mentok tidak ketemu jangan keluar, maka mengalah lah, jangan otot-ototan.
Dan menjadi nasionalis itu bagaimana? Ikuti pancasila dan UUD. Ada aturan, patuhi. Ada larangan, jauhi. Selama aturan itu tidak bertentangan dengan syariat, kita harus tetap mengikutinya.
Dan kalau misal, tidak puas dengan pemerintah, dg aparat hukum, doakan saja. Yang dholim semoga di kembalikan ke jalan yang benar, yang benar semoga tidak dikalahkan yang dholim. Rakyat, mendoakan pemerintah. Pemerintah, dengarkan rakyat. Saya yakin, tidak akan ada lagi perselisihan.
Tapi memang sulit, mengendalikan ratusan juta jiwa hanya dg tulisan ini. Yang bisa dilakukan, hanya menerapkannya pada diri sendiri. Berhentilah berdebat, jika ingin tetap sehat.
Tetaplah jadi muslim yang syari, dan nasionalis.
Akhir-akhir ini, banyak sekali fenomena sosial yang melibatkan umat islam sebagai objek utama. Ada yang menganggap umat islam itu baik, tapi ada pula yang menganggap sebaliknya. Perbedaan itu, agaknya membut kondisi sosial NKRI riuh dengan isu-isu kurang menyenangkan tentang islam.
Kalau mau dirunut, peristiwa ini berawal dari polemik pilkada di ibukota. Yang katanya, satu calon dianggap sebagai penista agama. Nah, calon ini dianggap menistakan ayat alquran, sebagai usaha menarik perhatian masyarakat agar bersedia memilihnya. Dari situlah, ada pihak lain yang merasa dirugikan, yang merasa bahwa perkataan itu "tentang surat al-maidah ayat 51" telah menghinakan Alquran. Maka, muncullah respon yang bermacam-macam di kalangan masyarakat, ada yang pro, ada yang kontra, ada juga yang cuek. Terlebih lagi, semakin hari, seiring berjalannya proses hukum yang dijalani si calon "yang kini sudah menyandang status terdakwa", banyak masyarakat yang merasa kecewa tentang kinerja aparat hukum. Masyarakat mulai bertanya-tanya, kenapa terdakwa tidak ditahan? Kenapa dibiarkan menjabat? Kenapa dibiarkan ikut pilkada? Dan kenapa kenapa lainnya.
Ditengah "kenapa" yang menggelayuti umat islam -yang kontra calon, ada pihak lain yang merasa, bahwa sikap umat islam yang kontra adalah sikap yang tidak toleran. Bahkan, ada sebagian muslim yang pro dg si calon. Maka, jadi umat islam di Indonesia terbelah jadi dua kubu, yang satu kubu pro, yang satu kubu kontra, lalu mana yang benar? Saya juga tidak tahu. Tapi kalau boleh memberikan pendapat, kubu yang benar adalah kubu yang diam.
Diam? Ah itu sifatnya pengecut!
Ah, masa? Coba dibaca dulu, baru di simpulkan.
Kalo mau dirunut, keruhnya keadaan indonesia saat ini, karena terlalu banyak orang berpendapat, berspekulasi, menduga-duga, dan beropini sesuka jidatnya. Apa salah berpendapat? Tidak. Memang tidak salah. Tapi kalau sekiranya pendapat hanya memicu perpecahan, apa salahnya jika kita diam?
Coba media tidak perlu ikut campur, tidak perlu membuat headline2 provokatif, apa masyarakat akan terpancing? Coba penulis2 artikel lebih bijak dalam menilai? Apa pembaca akan berang? Coba yang pro memilih diam, apa yang kontra akan menantang? Coba yang kontra diam, apa yang pro akan koar-koar? Jawabannya tidak. Jadi sudah jelas, sumber masalahnya ada dilisan.
Lisan si calon yang usil, ngapain kampanye bawa-bawa ayat Alquran. Lisan si pelapor yang terlalu jeli, ngapain hal semacam itu dilaporkan? Tegur saja, suruh minta maaf, sudah selesai. Lisan media, yang suka mengompor2i pihak pro kontra, kenapa masalah agama dijadikan berita komersial? Lisah orang orang berkepentingan, yang menambah ruang perdebatan. Lisan lisan orang yang mengutamakan lidah dari pada pikiran.
Coba kalian diam, ada isu, janga ikut2an. Kalau merasa ada yg dirugikan, instropeksi diri, jangan langsung menjatuhkan.
Coba, saudara saudara muslim sekalian lebih bijak dalam menghadapi permasalahan. Jangan sedikit2 pasang badan. Jangan malah memecah diri demi isu yang tidak jelas memberi manfaat apa.
Kalau ini masalahnya cuma "boleh apa tidak pilih pemimpin kafir?" Jangan tanya sama orang lain. Tanya sama Alquran. Sudah mempelajari apa belum? Sudah faham apa belum. Kalau memang tidak boleh, ya jangan pilih. Kalau merasa benar2 islam, benar benar percaya kalau Alquran itu kitab suci yang diturunkan sebagai petunjuk, ya sudah, lakukan. Camkan pada diri sendiri, saya harus jadi muslim yang baik dulu, baru koreksi orang lain. Saya mau belajar dulu, boleh atau tidaknya. Kalau boleh saya lakukan, kalau tidak saya tinggalkan. Kalau peduli pada orang lain, sampaikan kebenaran, kalau orang lain tidak mau, ya sudah jangan di paksa. Biar dia bilang islam, kalau tidak mau, ya sudah biarkan.
Kalau kalian mau lebih jeli, perihal boleh tidaknya pemimpin kafir ini dipilih atau tidak, mungkin sama dengan bertanya "gimana hukumnya islam tapi ga sholat? Ga pake kerudung? Minum alkohol?" Dan lain sebagainya. Ada kok islam, ga sholat. Terus kalian mau apa? Nyeret dia ke masjid biar mau sholat? Ya ga bisa. Memang sudah tidak mau kok dipaksa. Ga pake kerudung, trus di paksa pake kerudung, boleh? Yang boleh. Tapi mau? Kalo ga mau ya udah. Kok repot. Bisa-bisanya kalian itu tunjuk sana tunjuk sini, salahin sana salahin sini. Hei, instropeksi!
Pesan saya, buat saudara saudara muslim yang pro calon, monggo, silahkan. Selama kalian bahagia, selama kalian tidak merusak tali silaturrahmi, selama kalian mengutamakan kedamaian, sah. Sah pilih siapa saja.
Nah, buat kalian yang kontra calon, tugas kalian hanya mengingatkan, kalau yang diingatkan tidak mau, ya sudah, urusan masing2. Kalau kalian benar, kalian dapat pahala. Kalau kalian benar, dan berhasil mengajak orang lain ke jalan yang benar, maka pahala kalian berlipat ganda. Tapi, kalau kalian benar, terus malah merendahkan mereka yang salah, habis sudah pahalanya.
Jadi, sebelum kita menuduh "wah media menjatuhkan muslim", "wah, pemerintah sedang islamphobia", dan wah wah lainnya, kita liat sendiri dulu pada diri kita. Lah kitanya yang islam ga mau satu suara, malah memecah belah diri sendiri, terus di jatuhkan ga mau. Lah, kita sendiri menunjukkan kerapuhan kok, gimana ga mau dihancurkan sekalian sama musuh.
Perbedaan itu biasa, tapi akan jadi bumerang kalo kita merasa paling benar.
Bagimu agamamu, dan bagiku agamaku. Jadi jangan memaksakan kehendak. Kalau mau dispesifikkan, "bagimu keyakinanmu, bagiku keyakinanku.", Kalau mau dibuat lebih kontekstual "bagimu pilihanmu, bagiku pilihanku," jadi kalau ada umat islam ga sholat, ga puasa, ga pake kerudung, minum alkohol dan lain lain (termasuk memilih pemimpin kafir), ya sudah terserah dia. Tugas kita mengingatkan, kalo dia tidak mau ya biarin. Itu sudah islam versinya dia. Ga bisa diupgrade ke versi kita. Kalau ibarat laptop, OSnya sudah beda, aplikasinya ga cocok buat diinstal. Ya jangan dipaksa, selama masi nyala, masi hidup, sudah syukuri saja.
Nah buat islam yang sholat, yang puasa, yang pake kerudung, yang ga minum alkohol, yang ga pilih pemimpin kafir, jangan sok alim. Jangan sok benar semdiri. Jangan memaksakan kehendak. Akan lebih baik, kalau lebih fokus untuk meningkatkan ibadah.
Sekarang ini, dengan segala kekacauan yang ada, akan lebih baik kalau kita lebih banyak diam, dan tutup telinga. Untuk dua belah pihak, mau yang pro, mau yang kontra, sudah. Biarin luaran sana mau ngomong apa. Media gembar gembor ini itu, udah jangan diliat. Nanti kan capek2 sendiri. Uda berenti2 sendiri. Kalau ditanggepin, si media itu malah kaya anak kecil, ngelunjak.
Yang tidak kalah pentingnya, buat semua penulis artikel dimanapun kalian berada, berhentilah mencari sensasi dg berita provokatif. Kalau tulisan kalian menyesatkan, uang yang kalian dapat itu tidak barokah. Dan kalau sampai ada orang yang musuhan gara gara kalian, itu akan jadi dosa jariyah untuk kalian semua.
Kesimpulannya, menjadi muslim yang syar'i itu gampang, ikuti Alquran dan sunnah. Selama ada perintah, laksanakan, kalau dilarang, jauhi. Kalau ada perbedaan, selasaikan dg musyawarah. Jauhi perdebatan, apalagi pertikaian. Kalau sampai mentok tidak ketemu jangan keluar, maka mengalah lah, jangan otot-ototan.
Dan menjadi nasionalis itu bagaimana? Ikuti pancasila dan UUD. Ada aturan, patuhi. Ada larangan, jauhi. Selama aturan itu tidak bertentangan dengan syariat, kita harus tetap mengikutinya.
Dan kalau misal, tidak puas dengan pemerintah, dg aparat hukum, doakan saja. Yang dholim semoga di kembalikan ke jalan yang benar, yang benar semoga tidak dikalahkan yang dholim. Rakyat, mendoakan pemerintah. Pemerintah, dengarkan rakyat. Saya yakin, tidak akan ada lagi perselisihan.
Tapi memang sulit, mengendalikan ratusan juta jiwa hanya dg tulisan ini. Yang bisa dilakukan, hanya menerapkannya pada diri sendiri. Berhentilah berdebat, jika ingin tetap sehat.
Tetaplah jadi muslim yang syari, dan nasionalis.
Komentar
Posting Komentar