Bagian 1
Bukan Perkenalan
Hujan, selalu dekat dengan kenangan.
Ah, bukan. Hujan selalu dekat dengan genangan. Becek, gak ada ojek –ugh. Saran
saya sih, kalau gak ada ojek, telpon
saja gojek, kan selalu ada setiap
waktu tuh, dua puluh empat jam. Panas hujan, gojek selalu dihati. Tuh kan,
jadinya promosi. Gara-gara apa coba? Gara-gara hujan. Hujan yang benar-benar
saya benci. Kenapa benci hujan? ya benci aja. Gak perlu alasan. Tapi, si teman
saya, namanya Laili, dia suka sekali hujan. Katanya, aku suka hujan, karena setiap hujan. aku bisa menangis tanpa ada
satupun orang yang melihatnya.
Ah, masa. Saya tidak percaya tuh. Coba
saya buktikan dulu, kalau berhasil, baru deh saya percaya. Nah, karena rasa
penasaran yang membuncah di dada sampai ubun-ubun saya, saya pun mencoba
bereksperimen. Ketika hari sedang hujan, saya menangis di dalam kamar.
Tiba-tiba kakak saya masuk. Dia menatap saya heran.
“Kamu nangis?” tanyanya dengan nada
mengintimidasi.
“Kok kakak bisa tahu?” saya tanya
balik.
“Itu air mata kamu, sudah mirip got
meluap. Bentar lagi banjir tuh selokan.” Cetusnya sewot.
Saya pun kecewa. Ternyata teori
teman saya salah. Sangat salah.
“Kamu kenapa nangis? Patah hati?”
tembaknya.
Saya tambah manyun.
Selalu ya? Orang nangis itu patah
hati? Kalau setiap tangis selalu identik dengan patah hati, berarti bayi yang
baru lahir patah hati donk. siapa
yang berani mematahkan hatinya? Di dalam kandungan? Apa dia punya kekuatan
telepati? Yang bisa membuat dia merasakan kehadiran bayi lain di rahim yang
berbeda? Kemudian keduanya berkomunikasi, lantas jatuh cinta. Dan akhirnya, dia
langsung menangis ketika lahir di dunia, sebab dia tidak akan bisa
bertelepati-telepati ria dengan kekasih hatinya. Bisa jadi sih seperti itu.
Siapa yang tahu coba. Tidak ada salahnya kita berimajinasi. Yang salah itu
kalau korupsi. Kenapa salah? Karena orang korupsi makan uang rakyat. Masa
manusia makan uang rakyat. Harusnya kan makan nasi. Iya kan? Saya tahu kalian
mulai kesal baca ini. Tapi jangan menyerah untuk lanjut membaca. Biar kalian
semakin kesal sama saya. Nanti, siapa tahu bisa jadi cinta. Kan kalau di
sinteron, seringnya ada cerita semacam itu. Kesal jadi cinta. Benci jadi cinta.
Musuh jadi cinta. Lama-lama saya mikir, nanti akan terlalu banyak cinta di
dunia ini. Kasihan Rangga nanti, dia bingung mau milih cinta yang mana. Pilih
cinta yang ini saja Bang Rangga. Yang nulis tulisan ini. Cinta yang asli dua
puluh empat karat. Ngarep.
Kok sampai ke Rangga? Memang tadi
ngomongin apa? hujan? bayi? Terus apa hubungannya dengan Rangga? Ah semua hal
tidak harus didasari dengan hubungan, kalau akhirnya tetap harus berpisah –tsahh. Kelihatannya saya kebanyakan baca
novel romantis deh, jadi tulisannya menjurus ke arah baper terus. Iya, baper
terus. Tapi syukurlah kalau masih menjurus ke baper, dari pada menjurus ke hati kamu? iya kamu, kamu, yang sudah
punya pacar, yang pacarnya punya inisial Nadia Erika. Eh itu bukan inisial ya,
maaf keceplosan. Biasa, perempuan sirik kan begitu. Siapa yang sirik? ya saya.
Masa tetangga saya. Dia kan cowok. Masak dia sirik sama Nadia. Berarti dia
titik-titik dong. Isi aja sendiri titik-titiknya. Yang bisa jawab bener, saya kasi mie gemes.
Oh iya, tentang kamu, pacarnya Nadia
itu. Sebenarnya, saya mau cerita tentang kamu. Anggap saja, cinta saya bertepuk
sebelah tangan. Karena, kalo bertepuk dua tangan, namanya tepuk tangan donk. Kan kurang menyentuh kalau judul
ceritanya saya buat “cinta bertepuk tangan”. Kesannya jadi kayak kisah cinta yang bahagia, padahal kan kisahnya sedih sekali.
Teramat sangat sedih, sampai-sampai ibu di pengajian ikut menangis ketika
mendengar da’inya berceramah. Soalnya menyentuh. Loh? Kok malah gak nyambung? Maaf-maaf salah fokus.
Efek patah hati. Dimaklumi ya.
Jadi ceritanya begini, si pacarnya
Nadia itu, suka sama saya. Menurut saya sih gitu. Anggap aja gitu ya. Biar
kesannya saya itu cantik dan memesona. Meski aslinya agak dekil sih. Nah, si
pacarnya Nadia itu berusaha mendekati saya, dan saya tidak keberatan. Soalnya
saya belum tahu kalau dia sudah pacaran sama Nadia. Ketika hubungan kami sudah
semakin dekat, tiba-tiba ibu saya membangunkan saya. Katanya sudah siang, saya
disuruh nyuci baju. Saya akhirnya
sadar, kalau si pacarnya Nadia itu suka sama saya cuma dalam mimpi. Yah, kirain beneran. Ternyata cuma mimpi.
Karena, pada kehidupan sesungguhnya, si pacarnya Nadia memang gak suka saya. Dia jelas lebih suka sama
Nadia. Secara tuh ya, Nadia perempuan cantik jelita yang mulus dan berkilau.
Mungkin dia mandinya pakai shampoo ya
–secara kan ada tuh iklan shampo, yang nampilin cewek dengan rambut berkilau.
Jadi saya mikir, mungkin si Nadia memang pakai shampoo sebagai sabun seluruh badan. Makanya kulitnya berkilau.
Nadia mah curang. Saya juga bisa
kalau caranya seperti itu. Oke deh, mulai besok saya mau beli shampo seperti di
iklan itu. Siapa tahu badan saya jadi berkilau. Tapi saya mikir, kalau ibu saya
sampai tahu, mungkin dia mikirnya saya sedang tidak sehat. Terus saya dibawa ke
dukun, terus di jampi-jampi. Di semprot pake air. Mending ya, kalau abis di
semprot, muka saya langsung berubah jadi Katty Perri gitu ya. Nah ini, muka
saya masih konsisten gitu-gitu aja. Muka standar, yang masih harus di upgrade dengan pelembab, dan segala
macam bedak supaya keliatan lebih cling.
Yah, maklum ya, kulit saya kan eksotik. Di sukai semut. Kok bisa? Kan hitam
manis. Seperti kecap. Oh tidak, nanti saya bisa mirip Malika dong, si kedelai
hitam itu.
Perkenalkan, nama saya Jenny. Nama
panjangnya Jenny Firdaus. Artinya, Jenny calon penghuni surga firdaus. Amin.
Tulisan ini berdasarkan 50% kenyataan, 30% khayalan, 15% bohongan, 5% hiburan.
Jadi maaf, kalau ada yang merasa garing. Tujuannya memang bukan untuk menghibur kok, tapi membuat garing. Salam liteRASI.
Komentar
Posting Komentar