Langsung ke konten utama

An Idiot Jenny ; Part 2



Bagian 2
Bukan Saya

Saya itu tukang anggur, pake awalan peN- dan akhiran -an. Bahasa tidak terhormatnya sih pengangguran. Ya, kurang lebih seperti itu. Kenapa saya nganggur? Karena saya memang gak mau kerja, gak mau cari kerja, dan emang gak tertarik buat kerja. Meskipun gelar akademik saya sudah berentetan seperti kereta api tut tut tut, tetap saja saya pengangguran. Titik. Tidak pakai koma.
Nah, karena status “pengangguran” yang sandang ini, akhirnya tetangga saya banyak yang kepo. Tiap ketemu saya, mereka berubah profesi jadi jaksa penuntut umum, dan saya jadi tersangka. Loh, Jenny di rumah? Kapan datang? Sudah selesai sekolahnya? Kok tidak kerja?
Kurang lebih seperti itu pertanyaannya. Saya pun, yang berstatus sebagai tersangka, segera mencari korban untuk dijadikan kambing hitam. Ibu saya lah korbannya. Saya bilang ke mereka. Sudah lulus kok Tante, tapi memang disuruh di rumah aja sama mama. Kan mama sakit, gak ada yang ngerawat.  Saya pasang tampang sedih karena harus ngerawat ibu saya yang sakit. Padahal tuh ya, mama saya sehat walafiat di rumah. Masih kuat nimba air di sumur, cuci baju satu ember, masak aer biar mateng, ngangkat galon,  dan lomba silat antar kelurahan (kalau yang terakhir ini bohong).
Nah, mereka, ibu-ibu kurang pergaulan itu, akhirnya percaya aja sama saya. Terus mereka muji-muji saya gitu. Wah kamu hebat ya, rela meninggalkan cita-cita demi ngerawat orang tua. Saya pun pasang wajah malu-malu, mirip kucing dikasi ikan. Meong-meong. Tapi dalam hati saya ketawa puas, mirip iblis yang dapat mengalahkan mangsa. Licik banget kan? Ya namanya juga hidup, kita harus punya topeng. Dan saya memilih main topeng-topengan sama tetangga saya. Yang penting kan gak main topeng monyet. Nanti saya bisa ditangkap, atas tuduhan mempekerjakan hewan langka yang dilindungi. Benar-benar sikap yang kurang berperikehewanan. Betapa mirisnya nasib saya, kalau sampai terjerat kasus semacam itu. Kurang berkelas. Tuh kan, jadi penjahat aja harus berkelas. Apalagi pengangguran. Meski nganggur, saya harus tetap berkelas.
Jadi, buat teman-teman yang tergabung dalam Aliansi Pengangguran Indonesia, kalian jangan berkecil hati. Selama kalain tetap menjaga kode etik pengangguran, maka kalian adalah pengangguran yang terhormat dan berkelas. Seperti saya –Dewan Pembina Pengangguran Indonesia.
Selain perihal nganggur, tetangga saya juga suka kepo perihal ngapel. Secara tuh ya, dengan muka yang sudah mendekati renta gini, saya belum pernah yang namanya diapelin cowok. Belum ada tuh yang datang ke rumah, yang saya kenalin sebagai pacar, ttm, apalagi mantan. Paling juga yang datang,  teman-teman cowok saya yang kekurangan duit, datang ke rumah buat numpang makan. Kalau gak gitu, ngutang. Udah tau saya pengangguran, masih aja diutangan. Dasar mereka itu gak berperikepengangguranan. Aduh belibet. Susah amat nyebutinnya.
Nah, karena urusan ngapel itu, ibu-ibu tetangga pada kumat lagi deh keponya. Kalau ketemu saya, mereka nanya-nanya lagi tuh. Jenny kok gak pernah keliatan keluar sama cowok ya? Pacarnya kemana? kok gak diajak kesini? Tuh teman-teman kamu yang lain udah pada nikah lho. Pertanyaan mengiris hati yang bisa membuat manusia muda setengah tua seperti saya gantung diri. Untungnya, karena saya mantan guru les-lesan yang berpengalaman, saya pun bisa ngeles sepanjang Sabang sampai Merauke, Miangas sampai pulau Rote. Uh, keliling Indonesia dong.
Menghadapi pertanyaan setajam keris empu gandring itu, saya pun menjawab dengan gaya wanita sholehah, yang sedikit lagi siap memakai cadar.
Pacaran itu dilarang dalam islam, Tante. Lagi pula, menikah itu tidak harus dimulai dengan pacaran. Jodoh itu Allah yang mengatur, bukan perkara sering atau nggaknya diapelin cowok. Kalau sudah waktunya ketemu jodoh, pasti dia kesini, bukan buat apel, tapi buat ngelamar.” Kilah saya dengan muka sepolos tissu. Ibu-ibu langsung takjub mendengar jawaban saya, lag-lagi mereka kagum sama saya. Saya cuma senyum sambil nunduk, biar dikira cewek baik-baik beneran. Padahal, dalam hati, saya tertawa girang udah berhasil boongin mereka lagi. Ini ibu-ibu gampang banget diboongin ya.
Kalau aja mereka mau berpikir logis, masa iya saya sepolos itu. Muka berandalan gini, masa iya gak pengen punya pacar. Mereka aja yang gak tau, gimana merananya saya yang tidak punya pacar. Merana dalam kesendirian. Hampa dalam kesunyian. Dan ringkih dalam kepedihan. Apa sih, saya ngomong apa barusan itu? kok berat gitu ngomongnya. Jangan-jangan ini efek semburan para dukun itu. Iya, dukun-dukun antimeanstream yang didatangi ibu saya demi membuka aura saya. Biar cepat dapat jodoh, biar cepat laku, biar cepet nikah. Biar gak kadaluarsa, kayak mie instant. Ya ampun, hidup emang berat guys.Apalagi untuk pengangguran yang jomblo.
Eh, sudah malam. Pengangguran juga punya kewajiban untuk istirahat. Biar tetap sehat dan bugar. Karena kebugaran untuk seorang pengangguran itu penting. Demi terwujudnya kesejahteraan sosial. Maksudnya, kalau udah nganggur, masih sakit, kan ngerepotin tuh. Jadi ya, harus sehat dong dan ramah lingkungan.
Selamat malam. Maaf kalau tulisan saya tidak pernah penting. Namanya juga orang gak penting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)