Langsung ke konten utama

Jika Ini Telah Usai

Memulai saja belum,
Lantas kenapa aku begitu resah dengan sebuah akhir? Pisah yang tak pernah diawali dari hubung. Luka yag tak pernah dimulai dengan kasih. Lalu kenapa? Semu ini menakutiku, tentang esok, dan segala mungkin yang hendak menjenguk tidak. Tabuh saja perang, jika bisa menuju akhir. Nyatanya, memulai saja, aku tak pernah berani.
Jika ini telah usai,
Akankah kau salah mengerti? Tentang nama yang akhirnya kupilih? Bahwa meski itu fiktif, aku tak lagi meneguhkan namamu. Terlalu besar beban, hingga cinta memilih bungkam. Bersembunyi di balik nama nama yang pendar. Apakah kau akan salah mengerti? Dan akhirnya berpikir, bahwa aku tak pernah menjadikanmu sebagai satu satunya.
Dunia,
Cinta,
Dan kamu,
Di daratan mana kita pernah bertemu?
Adakah itu cadas? Kenapa sekeras ini menempaku? Berpura-pura biru ditengah haru yang barbar. Kusuguhkan kenyataan, kau tak muncul. Apa dengan kebohongan, kau akhirnya akan bertanya? Tentang siapa yang sebenarnya kusebut dalam sajak-sajakku? Atau prosa yang tak pernah utuh?
Kamu, atau nama yang abu abu itu.
Ialah raja, yang kuletakkan ditengah. Sama besar seperti yang kusematkan padamu di akhir. Ini hanya berbeda fon, tapi kau tak akan mengerti.
Duniamu menyibukkanmu, sedangkan duniaku merindukanmu.
Belum jelaskah semuanya?
Tanda
Ciri
Dan apa apa yang kuupayakan lewat kata.
Ah...
Angin saja yang terlalu cepat mengubur makna, diantara desaunya yang penuh duri.
Sekali lagi,
Jika ini telah usai, sesungguhnya itu masih kau. Masih orang yang sama. Dengan nama yang kubuat berbeda.
...
Lama lama aku bosan menulis kamu
Lama lama aku bosan membaca kamu
Apa rindu ini jua tak bosan?
Dengah remah rayu ini?
...
Jika ini telah usai, kuharap yang tersisa juga usai. Rinduku padamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sin : Seribu Ibu di Kepala

Sin 1 Itu adalah sebuah kota kecil yang tenang, sepi, disebutnya sebagai hati. Kota itu didatanginya empat puluh hari yang lalu, dengan membawa sekotak ingatan tentang : kursi dan meja kayu di sebuah pengadilan, bunyi bel sebuah kindergarten yang melepaskan seribu senyum balita, dan sampul coklat berisi surat kematian seseorang. Ia memasukkan kotak itu ke dalam sebuah laci di rumah barunya ; di kota itu, yang sepi, yang masih penuh dengan lahan kosong, hutan, lembah, sawah, dua puluh akasia di pekarangan , pagar bambu, dan kursi rotan di serambi, menghadap ke arah gunung mati di ujung hutan. Rumah barunya tak kalah hening dari kota itu, tak kalah kecil dari hatinya, tapi disana duduk seorang perempuan yang terus berbicara padanya. Perempuan itu tidak benar-benar ada, tapi suaranya memenuhi seluruh sudut rumah. Suara itu begitu dikenalnya, seperti menyeruak dari balik sampul coklat yang berisi surat kematian, yang disimpannya di salah satu laci lemari, salah satu pusara paling hening, ...