Langsung ke konten utama

Malam Malam Yang Jalang

Di malam malam genap yang singkat, kau hadir membawa kejutan. Ini bukan lilin atau sepotong kue, yang layak disebut picisan. Ini tentang hadir, setelah lama kau menyisakan jejak. Saja.
Di malam malam ganjil yang panjang, kau kembali hilang untuk melengkapi pencarian, ku. Ini bukan tentang kemana dan dengan siapa kau pergi, yang layak disebut dramatis. Ini tentang lelah, setelah sejenak kau membuat huru hara dalam kemayaan.
Di malam malam yang akan berakhir, satu persatu tanya semakin santun bertamu, padaku. Tak meminta jawaban, tapi memintamu kembali. Kapan akan datang lagi?
.
.
Jeda, menganga di antara detik yang rapat. Nyatanya, ini melahirkan siksa tersendiri untukku. Mengambil nafasku lewat tunggu, tak sampai habis. Hanya menunggu lenguhku yang perih. Mati, aku tidak merasa. Hidup, rasanya sia-sia juga.
.
Apakah cinta semenyakitkan ini? Sedangkan aku hanya diam memeliharanya. Tak melimpahkan padamu. Tak berharap kau mengerti, jua membalasnya. Cukup santunlah dalam menuang hadir. Datang, datang saja. Pergi, pergi saja. Jangan mencabut tegakku dengan datang dan pergimu. Kau kira, apa ini lucu?
.
Sesekali, kau mengunjungi mimpiku. Berbicara seolah kita adalah cinta yang sama menggamit. Nyatanya, kau abu-abu, dan aku pasir yang hilang dihembus angin. Apa bersatu? Iya, dalam kesengsaraan.
.
Selanjutnya, aku tak pernah jera menunggu kamu. Meski kadang sakit, meski kadang luka. Ini tetap terasa manis. Apakah cinta segamang ini? Sesekali marah, sesekali bahagia.
.
Akhirnya, aku tersenyum juga. Ini bukan masalah pahit dan manis yang kurasa. Tapi tentang keajaiban yang lahir sebab ketidakpastianmu. Apa? Aku selalu menulis atas nama cinta. Bukankah itu istimewa? Andai kau menyadarinya.
.
Selamat malam.
Semoga kau segera datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)