Di malam malam genap yang singkat, kau hadir membawa kejutan. Ini bukan lilin atau sepotong kue, yang layak disebut picisan. Ini tentang hadir, setelah lama kau menyisakan jejak. Saja.
Di malam malam ganjil yang panjang, kau kembali hilang untuk melengkapi pencarian, ku. Ini bukan tentang kemana dan dengan siapa kau pergi, yang layak disebut dramatis. Ini tentang lelah, setelah sejenak kau membuat huru hara dalam kemayaan.
Di malam malam yang akan berakhir, satu persatu tanya semakin santun bertamu, padaku. Tak meminta jawaban, tapi memintamu kembali. Kapan akan datang lagi?
.
.
Jeda, menganga di antara detik yang rapat. Nyatanya, ini melahirkan siksa tersendiri untukku. Mengambil nafasku lewat tunggu, tak sampai habis. Hanya menunggu lenguhku yang perih. Mati, aku tidak merasa. Hidup, rasanya sia-sia juga.
.
Apakah cinta semenyakitkan ini? Sedangkan aku hanya diam memeliharanya. Tak melimpahkan padamu. Tak berharap kau mengerti, jua membalasnya. Cukup santunlah dalam menuang hadir. Datang, datang saja. Pergi, pergi saja. Jangan mencabut tegakku dengan datang dan pergimu. Kau kira, apa ini lucu?
.
Sesekali, kau mengunjungi mimpiku. Berbicara seolah kita adalah cinta yang sama menggamit. Nyatanya, kau abu-abu, dan aku pasir yang hilang dihembus angin. Apa bersatu? Iya, dalam kesengsaraan.
.
Selanjutnya, aku tak pernah jera menunggu kamu. Meski kadang sakit, meski kadang luka. Ini tetap terasa manis. Apakah cinta segamang ini? Sesekali marah, sesekali bahagia.
.
Akhirnya, aku tersenyum juga. Ini bukan masalah pahit dan manis yang kurasa. Tapi tentang keajaiban yang lahir sebab ketidakpastianmu. Apa? Aku selalu menulis atas nama cinta. Bukankah itu istimewa? Andai kau menyadarinya.
.
Selamat malam.
Semoga kau segera datang.
Di malam malam ganjil yang panjang, kau kembali hilang untuk melengkapi pencarian, ku. Ini bukan tentang kemana dan dengan siapa kau pergi, yang layak disebut dramatis. Ini tentang lelah, setelah sejenak kau membuat huru hara dalam kemayaan.
Di malam malam yang akan berakhir, satu persatu tanya semakin santun bertamu, padaku. Tak meminta jawaban, tapi memintamu kembali. Kapan akan datang lagi?
.
.
Jeda, menganga di antara detik yang rapat. Nyatanya, ini melahirkan siksa tersendiri untukku. Mengambil nafasku lewat tunggu, tak sampai habis. Hanya menunggu lenguhku yang perih. Mati, aku tidak merasa. Hidup, rasanya sia-sia juga.
.
Apakah cinta semenyakitkan ini? Sedangkan aku hanya diam memeliharanya. Tak melimpahkan padamu. Tak berharap kau mengerti, jua membalasnya. Cukup santunlah dalam menuang hadir. Datang, datang saja. Pergi, pergi saja. Jangan mencabut tegakku dengan datang dan pergimu. Kau kira, apa ini lucu?
.
Sesekali, kau mengunjungi mimpiku. Berbicara seolah kita adalah cinta yang sama menggamit. Nyatanya, kau abu-abu, dan aku pasir yang hilang dihembus angin. Apa bersatu? Iya, dalam kesengsaraan.
.
Selanjutnya, aku tak pernah jera menunggu kamu. Meski kadang sakit, meski kadang luka. Ini tetap terasa manis. Apakah cinta segamang ini? Sesekali marah, sesekali bahagia.
.
Akhirnya, aku tersenyum juga. Ini bukan masalah pahit dan manis yang kurasa. Tapi tentang keajaiban yang lahir sebab ketidakpastianmu. Apa? Aku selalu menulis atas nama cinta. Bukankah itu istimewa? Andai kau menyadarinya.
.
Selamat malam.
Semoga kau segera datang.
Komentar
Posting Komentar