Sebuah tulisan selalu lahir dari kenyataan. Entah itu seutuhnya atau hanya sepenggal, tulisan selalu dekat dengan kehidupan penulis. Termasuk yang akan saya tulis pada kesempatan ini.
...
Sebuah tulisan selalu punya latar belakang, juga tujuan.
Latar belakang saya menulis tulisan ini sebagai ajang bercermin, dan tujuan saya menulis artikel ini adalah mengingatkan orang-orang yang mungkin lupa, yang mungkin sengaja lupa.
...
Tiba-tiba saja, suara riuh terdengar dari arah gardu kampung. Semacam teriakan, semacam seruan, semacam tawa yang terpingkal-pingkal. Kedengarannya, suara itu didominasi oleh remaja putra yang sedang menonton siaran langsung kompetisi balap. Kira-kira lebih dari lima orang. Membuat seorang ibu langsung mengelus dada sambil istighfar. Ia menyeka wajah untuk kedua kalinya, menyadari suara itu benar-benar tidak etis untuk didengar.
Kenapa tidak etis?
Karena gardu itu hanya berjarak sekitar dua puluh meter dari masjid kampung. Dan suara riuh itu, muncul di saat semua jamaah tarawih masih menyelesaikan sujud di rakaat terakhir. Tak hanya sekali, keriuhan itu panjang dan berkali-kali. Membuat semua orang mungkin bertanya-tanya, termasuk saya, "tidak sholatkah mereka? kenapa malah terpingkal-pingkal di kejauhan sana?"
...
mereka berpuasa, tapi tidak sholat.
...
mereka menahan lapar seharian, tapi bermalas-malasan di waktu malam?
...
Tidak tahukah mereka? bahwa ramadhan bukan hanya perihal puasa. Tapi mencari pahala sebanyak-banyaknya.
dan pahala itu tidak dapat ditemukan di gardu, di depan tayangan balap, sambil tertawa-tawa, dan mengganggu jamaah yang sedang sholat.
...
pahala itu sudah dapat dikumpulkan sejak pagi. sejak mengawali dua rakaat sebelum sholat subuh. dua rakaat dhuha, doa menjelang berbuka, tarawih, dan sholat tahajud di malam hari.
dan di sela sela semua waktu itu, ada kegiatan membaca alquran yang dapat dihidupkan di bulan puasa.
...
sudahkah kita punya target mengumpulkan semua poin pahala itu di bulan ramadhan?
...
mungkin juga iya, mungkin juga tidak.
sebab untuk mencapai iya, seseorang butuh belajar, butuh paham, butuh menghayati, butuh meresapi, hingga akhirnya sudi mengamalkan.
...
dan saya rasa, proses mengamalkan tidak akan pernah mudah, jika kita tidak pernah mau dicekoki ilmu agama. itu saja.
...
tiba-tiba, saya teringat masa kecil saya.
saya lahir dari keluarga muslim yang tidak fanatik. aliran yang ada dikeluarga saya adalah aliran yang diikuti oleh kebanyakan orang pada umumnya. saya belajar ngaji di langgar, belajar sholat, juga diperkenalkan pada bulan puasa. sekedar kenal saja. katanya, bulan puasa itu, semua orang muslim harus puasa. maka saya pun puasa. tarawih di waktu malam, dan ikutan tadarus alquran sesempatnya.
seperti itu, berjalan hingga puluhan tahun.
di kepala saya, saya sudah berpikir bahwa puasa, tadarus di mesjid, dan tarawih adalah trio ibadah yang sudah sangat sempurna di bulan puasa. itu saja.
...
suatu hari, ayah dan ibu saya bercerai. alasannya sederhana, aliran agama. ayah saya memilih untuk berpindah aliran agama (tidak akan pernah saya sebutkan namanya). perpindahan aliran dan perpisahan ini, tidak dapat saya pahami dengan baik. sama sekali tidak.
saya bahkan membenci ayah saya sebab di menikah lagi. Iya, setelah perceraian itu, ayah saya menikah lagi.
sesuatu yang membuat saya tidak bisa menerimanya, mungkin hingga saat ini.
...
tapi, perceraian dan perpindahan aliran itu, baru saya tahu hikmahnya saat saya duduk SMA.
...
Karena saya harus pindah sekolah ke kota, saya akhirnya tinggal bersama dengan ayah dan keluarga barunya. Apa saya bahagia?
awalnya tidak.
Terlebih lagi, ayah saya mulai memperkenalkan alirannya pada saya. aliran yang menurut saya jauh lebih ketat dari aliran yang saya pahami sebelumnya.
saya dicekoki jadwal mengaji yang lumayan banyak. tujuh hari dalam seminggu setelah sholat maghrib, di tambah lagi satu bulan sekali di minggu pagi.
apa saya suka? tentu saja tidak.
sebab 'ngaji' di ayah saya, bukan sekedar membaca alquran. Tapi memaknainya.
Bukan berarti saya memaknainya secara langsung. Tidak seperti itu.
...
Seorang mubaligah selalu membimbing kami para muda-mudi untuk memaknai alquran dan hadits. beliau menyampaikan, kami mencatat.
lama saya merasa terpaksa, sampai akhirnya saya menikmati proses itu.
...
dan seperti sebuah pepatah yang mengatakan bahwa semakin kita mengetahui sebuah ilmu, maka kita akan semakin haus.
dan saya akhirnya haus. saya akhirnya sadar bahwa tujuh belas tahun yang saya lalui selama ini masih ompong, masih kosong. sekedar membaca alquran. tanpa tahu maknanya apa. tanpa tahu apa saja yang disampaikan Allah pada hambanya. saya sadar bahwa saya benar-benar buta. benar benar bodoh.
...
suatu hari, ramadhan pertama saat saya menghabiskan waktu bersama ayah dan keluarganya.
atmosfer lingkungan sekitar sudah berbeda.
semua orang benar-benar sibuk beribadah, semua orang benar-benar berlomba untuk memperoleh keutamaan di bulan ramadhan. Mereka seolah-olah menyambut ramadhan seperti tuan rumah yang menyambut tamu istimewa. Tak sedikitpun diabaikan, tak sedikitpun di tinggalkan.
...
saya mulai tahu, bahwa bulan ramadhan bukan sekedar puasa.
...
seorang tetangga saya menghatamkan alquran sampai lima kali di bulan ramadhan. saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
seorang tetangga saya tak turun dari mesjid selepas sholat subuh. dia menunggu waktu dhuha, dan mengerjakan dua belas rakaat, baru dia pulang. saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
seseorang tetangga saya, mnghabiskan waktu sebelum sahur untuk sholat malam. dua belas rakaat.
saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
seorang tetangga saya, tidak pernah keluar rumah untuk buka bersama, ngabuburit, dan lain-lain. dia memilih waktu berbuka untuk berdoa dan berdoa. sebab waktu tersebut adalah waktu yang cukup mustajab untuk berdoa. saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
seseorang tetangga saya, tidak melewatkan satu rakaat shalat tarawih pun dalam tiga puluh hari bulan ramadhan. meski ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
dan sepuluh malam terakhir terasa begitu meriah suasana masjid. bukan karena ada konser. tapi sebuah kegiatan berlomba-lomba mencari pahala dengan i'tikaf. saking mereka tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
...
suatu hari di bulan ramadhan, mubaligh yang biasa mengajar kami, akhirnya menyampaikan materi hadits tentang keutamaan bulan ramadhan. dan saat itu saya mulai paham, bahwa ramadhan bukan sekedar puasa menahan lapar.
ramadhan adalah bulan dimana setiap detiknya mengucurkan pahala, jika kita bersedia beribadah dan beramal sholeh. kucuran pahala itu akan semakin deras dan berlipat ganda, jika kita terus mengisinya dengan ibadah dan ibadah.
ramadhan itu adalah tolak ukur untuk melihat kapasitas manusia dalam membuat target dalam hidupnya.
ramadhan adalah sebuah target untuk beribadah sebanyak-banyaknya.
ramadhan adalah sebuah momemn dimana seharusnya kita benar-benar berlomba-lomba untuk mencari pahala.
dan pahala itu tidak hanya dalam bentuk puasa.
tapi,,,
pahala itu dapat di jelang dari sholat malam sebelum makan sahur, dan lengkapilah dengan doa.
pahala itu dapat di jelang dengan mengeksekusi sholat sunah rawatib tanpa kosong satu waktu pun.
pahala itu dapat di jelang dengan memperbanyak rakaat sholat dhuha, jika biasanya dua, tambah lah jadi empat, enam, delapan, dan duabelas.
pahala itu dapat di jelang dengan berdoa sebanyak-banyaknya saat menunggu waktu berbuka.
pahala itu dapat dijelang dengan menyempurnakan tiga puluh hari ramadhan melalui sholat tarawih tanpa bolong. bahkan jika kita berhalangan hadir untuk sholat tarawih di masjid, kita bisa melakukannya di rumah. apa boleh tarawih di rumah? sendirian? boleh!
pahala itu dapat di jelang dengan membuat target menghatamkan alquran selama bulan ramadhan.
dan pahala itu dapat disempurnakan dengan menutup sepuluh malam terakhir, terutama malam ganjil, untuk beri'tikaf di masjid, menanti turunnya malam Lailatul Qodar.
...
dari semua target itu, mana yang sudah kita kerjakan?
...
jangan menyesal bahwa kita telah melewatkan umur yang panjang dengan lalai di bulan ramadhan. tapi menyesallah, bahwa setelah kita tahu keutamaan bulan ramadhan, kita masih bersantai-santai ria untuk tidak beribadah.
...
adakalanya, hal yang tidak kita sukai, malah mendekatkan kita pada kebaikan. begitu juga perceraian kedua orang tua saya. sesuatu yang saya kutuk, tapi akhirnya dapat saya maafkan.
saya tidak habis pikir, jika ayah saya tidak mengenal aliran ini, mungkin saya termasuk remaja yang mungkin ikut nimbrung di gardu. karena kebetulan saya juga penggila balap.
saya tidak habis pikir, jika ayah saya tidak pindah rumah dan tinggal bersama orang-orang shaleh, mungkin saya tidak akan banyak belajar dari mereka.
...
apakah lingkungan kampung halaman saya tidak ada orang shaleh? ada kok, hanya saja, mereka mungkin lalai membina para remaja gardu itu.
mereka lalai untuk menjelaskan pada mereka, bahwa ramadhan adalah bulan penuh keberkahan.
...
setiap bulan ramadhan, saya selalu banyak bersyukur pada Allah.
saya bersyukur bahwa saya dilahirkan dari kedua orang tua yang begitu fanatik pada islam. meskipun ibu saya tidak sekeras ayah saya, tapi ibu juga cukup menjadi teladan dalam hidup saya.
...
hanya saja, saya kadang begitu kagum pada ayah. begitu banyak hal yang dilepaskannya, demi totalitasnya pada agama.
apa saya memuji ayah saya? mungkin iya.
...
dari ayah saya, saya mengenal sebuah aliran yang begitu berbaur dengan masyarakat, tapi begitu dekat pada Al-Quran dan hadits.
mereka tidak pernah terlibat dalam perang opini tentang kebenaran aliran mereka.
mereka sama sekali tidak terlibat dalam politik.
mereka punya cara sendiri untuk menjaga agama, tanpa arogansi.
mereka begitu keras menerapkan syariat islam pada dirinya sendiri, tanpa memaksa orang lain untuk mengakui keberadaannya.
mereka adalah aliran, yang sampai saat ini saya menunggu mereka untuk buka suara tentang kemelut yang terjadi di negeri ini.
Tapi mereka tidak pernah muncul. Tidak sama sekali.
Mereka fokus pada diri mereka sendiri, pada agama, pada Tuhan.
...
Lalu apa saya merasa bahwa aliran ayah saya jauh lebih baik dari aliran yang saya ketahui pada umumnya?
saya tidak bisa menjelaskannya.
sebuah aliran, sama dengan manusia.
tidak perlu menceritakan kebaikannya, sebab yang membenci tidak akan percaya.
tidak perlu menceritakan keburukannya, sebab yang suka tidak akan pernah peduli.
...
apapun aliran kita akhirnya, jangan sampai kita terlalu sibuk mengurusi aliran. sampai-sampai kita lalai pada hakikat islam itu sendiri. pada keutamaan alquraan. pada luarbiasanya alhadits.
bahkan, kita sampai lalai pada kemuliaan bulan ramadhan.
...
saudara-saudara muslim, mungkin kita butuh berdiam diri sejenak, dan mulai bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita menyambut ramadhan dengan baik?
termasuk yang manakah kita? remaja gardu? atau orang-orang yang fokus belajar dan beribadah.
...
Ingat, memaknai bulan ramadhan tidak akan bisa total, selama kita tidak belajar. maka perbanyaklah belajar.
atau ada baiknya kita mulai bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh mana kita belajar?
...
semoga kita termasuk orang-orang yang terus memperbaiki diri.
semoga bermanfaat.
...
Sebuah tulisan selalu punya latar belakang, juga tujuan.
Latar belakang saya menulis tulisan ini sebagai ajang bercermin, dan tujuan saya menulis artikel ini adalah mengingatkan orang-orang yang mungkin lupa, yang mungkin sengaja lupa.
...
Tiba-tiba saja, suara riuh terdengar dari arah gardu kampung. Semacam teriakan, semacam seruan, semacam tawa yang terpingkal-pingkal. Kedengarannya, suara itu didominasi oleh remaja putra yang sedang menonton siaran langsung kompetisi balap. Kira-kira lebih dari lima orang. Membuat seorang ibu langsung mengelus dada sambil istighfar. Ia menyeka wajah untuk kedua kalinya, menyadari suara itu benar-benar tidak etis untuk didengar.
Kenapa tidak etis?
Karena gardu itu hanya berjarak sekitar dua puluh meter dari masjid kampung. Dan suara riuh itu, muncul di saat semua jamaah tarawih masih menyelesaikan sujud di rakaat terakhir. Tak hanya sekali, keriuhan itu panjang dan berkali-kali. Membuat semua orang mungkin bertanya-tanya, termasuk saya, "tidak sholatkah mereka? kenapa malah terpingkal-pingkal di kejauhan sana?"
...
mereka berpuasa, tapi tidak sholat.
...
mereka menahan lapar seharian, tapi bermalas-malasan di waktu malam?
...
Tidak tahukah mereka? bahwa ramadhan bukan hanya perihal puasa. Tapi mencari pahala sebanyak-banyaknya.
dan pahala itu tidak dapat ditemukan di gardu, di depan tayangan balap, sambil tertawa-tawa, dan mengganggu jamaah yang sedang sholat.
...
pahala itu sudah dapat dikumpulkan sejak pagi. sejak mengawali dua rakaat sebelum sholat subuh. dua rakaat dhuha, doa menjelang berbuka, tarawih, dan sholat tahajud di malam hari.
dan di sela sela semua waktu itu, ada kegiatan membaca alquran yang dapat dihidupkan di bulan puasa.
...
sudahkah kita punya target mengumpulkan semua poin pahala itu di bulan ramadhan?
...
mungkin juga iya, mungkin juga tidak.
sebab untuk mencapai iya, seseorang butuh belajar, butuh paham, butuh menghayati, butuh meresapi, hingga akhirnya sudi mengamalkan.
...
dan saya rasa, proses mengamalkan tidak akan pernah mudah, jika kita tidak pernah mau dicekoki ilmu agama. itu saja.
...
tiba-tiba, saya teringat masa kecil saya.
saya lahir dari keluarga muslim yang tidak fanatik. aliran yang ada dikeluarga saya adalah aliran yang diikuti oleh kebanyakan orang pada umumnya. saya belajar ngaji di langgar, belajar sholat, juga diperkenalkan pada bulan puasa. sekedar kenal saja. katanya, bulan puasa itu, semua orang muslim harus puasa. maka saya pun puasa. tarawih di waktu malam, dan ikutan tadarus alquran sesempatnya.
seperti itu, berjalan hingga puluhan tahun.
di kepala saya, saya sudah berpikir bahwa puasa, tadarus di mesjid, dan tarawih adalah trio ibadah yang sudah sangat sempurna di bulan puasa. itu saja.
...
suatu hari, ayah dan ibu saya bercerai. alasannya sederhana, aliran agama. ayah saya memilih untuk berpindah aliran agama (tidak akan pernah saya sebutkan namanya). perpindahan aliran dan perpisahan ini, tidak dapat saya pahami dengan baik. sama sekali tidak.
saya bahkan membenci ayah saya sebab di menikah lagi. Iya, setelah perceraian itu, ayah saya menikah lagi.
sesuatu yang membuat saya tidak bisa menerimanya, mungkin hingga saat ini.
...
tapi, perceraian dan perpindahan aliran itu, baru saya tahu hikmahnya saat saya duduk SMA.
...
Karena saya harus pindah sekolah ke kota, saya akhirnya tinggal bersama dengan ayah dan keluarga barunya. Apa saya bahagia?
awalnya tidak.
Terlebih lagi, ayah saya mulai memperkenalkan alirannya pada saya. aliran yang menurut saya jauh lebih ketat dari aliran yang saya pahami sebelumnya.
saya dicekoki jadwal mengaji yang lumayan banyak. tujuh hari dalam seminggu setelah sholat maghrib, di tambah lagi satu bulan sekali di minggu pagi.
apa saya suka? tentu saja tidak.
sebab 'ngaji' di ayah saya, bukan sekedar membaca alquran. Tapi memaknainya.
Bukan berarti saya memaknainya secara langsung. Tidak seperti itu.
...
Seorang mubaligah selalu membimbing kami para muda-mudi untuk memaknai alquran dan hadits. beliau menyampaikan, kami mencatat.
lama saya merasa terpaksa, sampai akhirnya saya menikmati proses itu.
...
dan seperti sebuah pepatah yang mengatakan bahwa semakin kita mengetahui sebuah ilmu, maka kita akan semakin haus.
dan saya akhirnya haus. saya akhirnya sadar bahwa tujuh belas tahun yang saya lalui selama ini masih ompong, masih kosong. sekedar membaca alquran. tanpa tahu maknanya apa. tanpa tahu apa saja yang disampaikan Allah pada hambanya. saya sadar bahwa saya benar-benar buta. benar benar bodoh.
...
suatu hari, ramadhan pertama saat saya menghabiskan waktu bersama ayah dan keluarganya.
atmosfer lingkungan sekitar sudah berbeda.
semua orang benar-benar sibuk beribadah, semua orang benar-benar berlomba untuk memperoleh keutamaan di bulan ramadhan. Mereka seolah-olah menyambut ramadhan seperti tuan rumah yang menyambut tamu istimewa. Tak sedikitpun diabaikan, tak sedikitpun di tinggalkan.
...
saya mulai tahu, bahwa bulan ramadhan bukan sekedar puasa.
...
seorang tetangga saya menghatamkan alquran sampai lima kali di bulan ramadhan. saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
seorang tetangga saya tak turun dari mesjid selepas sholat subuh. dia menunggu waktu dhuha, dan mengerjakan dua belas rakaat, baru dia pulang. saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
seseorang tetangga saya, mnghabiskan waktu sebelum sahur untuk sholat malam. dua belas rakaat.
saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
seorang tetangga saya, tidak pernah keluar rumah untuk buka bersama, ngabuburit, dan lain-lain. dia memilih waktu berbuka untuk berdoa dan berdoa. sebab waktu tersebut adalah waktu yang cukup mustajab untuk berdoa. saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
seseorang tetangga saya, tidak melewatkan satu rakaat shalat tarawih pun dalam tiga puluh hari bulan ramadhan. meski ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. saking dia tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
dan sepuluh malam terakhir terasa begitu meriah suasana masjid. bukan karena ada konser. tapi sebuah kegiatan berlomba-lomba mencari pahala dengan i'tikaf. saking mereka tahu bahwa bulan ramadhan benar-benar penuh kemuliaan.
...
suatu hari di bulan ramadhan, mubaligh yang biasa mengajar kami, akhirnya menyampaikan materi hadits tentang keutamaan bulan ramadhan. dan saat itu saya mulai paham, bahwa ramadhan bukan sekedar puasa menahan lapar.
ramadhan adalah bulan dimana setiap detiknya mengucurkan pahala, jika kita bersedia beribadah dan beramal sholeh. kucuran pahala itu akan semakin deras dan berlipat ganda, jika kita terus mengisinya dengan ibadah dan ibadah.
ramadhan itu adalah tolak ukur untuk melihat kapasitas manusia dalam membuat target dalam hidupnya.
ramadhan adalah sebuah target untuk beribadah sebanyak-banyaknya.
ramadhan adalah sebuah momemn dimana seharusnya kita benar-benar berlomba-lomba untuk mencari pahala.
dan pahala itu tidak hanya dalam bentuk puasa.
tapi,,,
pahala itu dapat di jelang dari sholat malam sebelum makan sahur, dan lengkapilah dengan doa.
pahala itu dapat di jelang dengan mengeksekusi sholat sunah rawatib tanpa kosong satu waktu pun.
pahala itu dapat di jelang dengan memperbanyak rakaat sholat dhuha, jika biasanya dua, tambah lah jadi empat, enam, delapan, dan duabelas.
pahala itu dapat di jelang dengan berdoa sebanyak-banyaknya saat menunggu waktu berbuka.
pahala itu dapat dijelang dengan menyempurnakan tiga puluh hari ramadhan melalui sholat tarawih tanpa bolong. bahkan jika kita berhalangan hadir untuk sholat tarawih di masjid, kita bisa melakukannya di rumah. apa boleh tarawih di rumah? sendirian? boleh!
pahala itu dapat di jelang dengan membuat target menghatamkan alquran selama bulan ramadhan.
dan pahala itu dapat disempurnakan dengan menutup sepuluh malam terakhir, terutama malam ganjil, untuk beri'tikaf di masjid, menanti turunnya malam Lailatul Qodar.
...
dari semua target itu, mana yang sudah kita kerjakan?
...
jangan menyesal bahwa kita telah melewatkan umur yang panjang dengan lalai di bulan ramadhan. tapi menyesallah, bahwa setelah kita tahu keutamaan bulan ramadhan, kita masih bersantai-santai ria untuk tidak beribadah.
...
adakalanya, hal yang tidak kita sukai, malah mendekatkan kita pada kebaikan. begitu juga perceraian kedua orang tua saya. sesuatu yang saya kutuk, tapi akhirnya dapat saya maafkan.
saya tidak habis pikir, jika ayah saya tidak mengenal aliran ini, mungkin saya termasuk remaja yang mungkin ikut nimbrung di gardu. karena kebetulan saya juga penggila balap.
saya tidak habis pikir, jika ayah saya tidak pindah rumah dan tinggal bersama orang-orang shaleh, mungkin saya tidak akan banyak belajar dari mereka.
...
apakah lingkungan kampung halaman saya tidak ada orang shaleh? ada kok, hanya saja, mereka mungkin lalai membina para remaja gardu itu.
mereka lalai untuk menjelaskan pada mereka, bahwa ramadhan adalah bulan penuh keberkahan.
...
setiap bulan ramadhan, saya selalu banyak bersyukur pada Allah.
saya bersyukur bahwa saya dilahirkan dari kedua orang tua yang begitu fanatik pada islam. meskipun ibu saya tidak sekeras ayah saya, tapi ibu juga cukup menjadi teladan dalam hidup saya.
...
hanya saja, saya kadang begitu kagum pada ayah. begitu banyak hal yang dilepaskannya, demi totalitasnya pada agama.
apa saya memuji ayah saya? mungkin iya.
...
dari ayah saya, saya mengenal sebuah aliran yang begitu berbaur dengan masyarakat, tapi begitu dekat pada Al-Quran dan hadits.
mereka tidak pernah terlibat dalam perang opini tentang kebenaran aliran mereka.
mereka sama sekali tidak terlibat dalam politik.
mereka punya cara sendiri untuk menjaga agama, tanpa arogansi.
mereka begitu keras menerapkan syariat islam pada dirinya sendiri, tanpa memaksa orang lain untuk mengakui keberadaannya.
mereka adalah aliran, yang sampai saat ini saya menunggu mereka untuk buka suara tentang kemelut yang terjadi di negeri ini.
Tapi mereka tidak pernah muncul. Tidak sama sekali.
Mereka fokus pada diri mereka sendiri, pada agama, pada Tuhan.
...
Lalu apa saya merasa bahwa aliran ayah saya jauh lebih baik dari aliran yang saya ketahui pada umumnya?
saya tidak bisa menjelaskannya.
sebuah aliran, sama dengan manusia.
tidak perlu menceritakan kebaikannya, sebab yang membenci tidak akan percaya.
tidak perlu menceritakan keburukannya, sebab yang suka tidak akan pernah peduli.
...
apapun aliran kita akhirnya, jangan sampai kita terlalu sibuk mengurusi aliran. sampai-sampai kita lalai pada hakikat islam itu sendiri. pada keutamaan alquraan. pada luarbiasanya alhadits.
bahkan, kita sampai lalai pada kemuliaan bulan ramadhan.
...
saudara-saudara muslim, mungkin kita butuh berdiam diri sejenak, dan mulai bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita menyambut ramadhan dengan baik?
termasuk yang manakah kita? remaja gardu? atau orang-orang yang fokus belajar dan beribadah.
...
Ingat, memaknai bulan ramadhan tidak akan bisa total, selama kita tidak belajar. maka perbanyaklah belajar.
atau ada baiknya kita mulai bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh mana kita belajar?
...
semoga kita termasuk orang-orang yang terus memperbaiki diri.
semoga bermanfaat.
Ma shaa Allah tulisanya fik 😊
BalasHapus