Langsung ke konten utama

Menulis : Sebuah Usaha Tiada Akhir

Adakah dari kalian yang suka menulis? yang bercita-cita ingin menjadi penulis? atau bermimpi melahirkan sebuah tulisan? pasti banyak. Terlebih lagi, di tengah perkembangan dunia literasi yang semakin pesat, minat menulis dari lapisan masyarakat akan semakin tinggi. 
Hanya saja, tak jarang minat tersebut, tiba-tiba menghilang begitu saja. Banyak para penulis-penulis pemula yang akhirnya mundur teratur setelah tahu, betapa sulitnya melahirkan sebuah karya. Ditengah menjamurnya penulis-penulis muda berbakat, tidak sedikit pula yang akhirnya menyerah untuk menjadi seorang penulis.
Sebenarnya, apa yang bisa membuat seseorang bertahan untuk tetap menulis?
Pertanyaan macam ini, tentu seringkali muncul di benak kalian yang mulai ingin menyerah pada bidang ini. Tapi, tunggu dulu, sebelum menyerah, ada baiknya kalian merenungkan beberapa hal berikut.


(image : source)


1. Menulis Bukan Tentang Bakat, Tapi Keuletan
Banyak di antara orang-orang yang berpikir bahwa kemampuan menulis merupakan bakat yang dibawa sejak lahir. Mereka berpendapat bahwa kemampuan menulis dapat dikembangkan, jika seseorang memiliki bakat bawaan. Padahal, pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Bakat mungkin memang berpengaruh, tapi tidak mutlak. Apabila dipresentase, pengaruh bakat atas kemampuan menulis seseorang tak lebih dari 30-40%. Selebihnya, faktor yang paling menentukan adalah ulet.
Keuletan ini adalah faktor kunci dari suksesnya seorang penulis. Semakin ulet, maka kemungkinan sukses akan semakin besar. Jika seorang penulis punya komitmen pada dirinya sendiri, untuk terus menulis, hari demi hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, maka dia akan semakin dekat dengan tujuannya. Tak bisa dipungkiri, bahwa tujuan akhir dari seorang penulis, tentu saja melahirkan buku. Oleh karena itu, dengan jiwa pantang menyerah, tidak putus asa, dan tetap fokus, maka seseorang akan mampu bertahan di dunia menulis, sesuai dengan keinginannya.
Untuk mempertahankan sebuah keuletan, mungkin bukanlah hal mudah. Tapi, hal tersebut juga tidak terlalu sulit. Penghayal hanya bermimpi, dan penulis terus menulis. Kalimat tersebut agaknya patut untuk dicamkan oleh setiap penulis, agar dirinya terus menulis, bukan berkhayal untuk menulis.
Meski kadang seorang penulis di dera kebuntuan, bukan berarti lantas memilih berhenti. Tetaplah menulis, sesederhana apapun tulisan itu. Ulet bukan tentang seberapa banyak tulisan yang dihasilkan hari ini, tapi seberapa konsisten seorang menulis setiap hari.
Ingat, belajar menulis tidak cukup satu dua hari, satu dua minggu, satu dua bulan, satu dua tahun. Belajar menulis butuh waktu selamanya.

2. Menulis Butuh Target
Setelah seorang penulis pemula yakin bahwa dirinya sudah cukup ulet dan konsisten, ada baiknya untuk mulai membuat target. Misalnya, satu hari satu puisi, satu minggu satu cerpen, satu bulan satu novelet, satu tahun satu novel. Dengan demikian, seorang penulis akan memiliki pencapaian dalam membangun karir menulisnya. Meskipun hal ini tidak mudah untuk dilaksanakan, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.

3. Menulis Butuh Membaca
Penulis yang baik, adalah pembaca yang baik. Penulis yang kaya akan karya, adalah pembaca yang banyak membaca buku. Oleh karena itu, menulis tidak dapat dilepaskan dari membaca. Ketika seseorang ingin menulis, maka penulis tersebut harus membaca. Ini sama halnya seperti orang yang lapar, dan untuk kenyang dia harus makan. Dan ketika seseorang butuh inspirasi untuk menulis, maka dia butuh bahan bacaan untuk melegakan keinginannya. Jadi, jangan pernah bermimpi menjadi penulis hebat, jika belum menjadi pembaca yang baik.

4. Menulis : Sebuah Usaha Tiada Akhir
Pada akhirnya, menulis bukanlah pekerjaan yang dapat dihentikan di tengah jalan. Ketika menulis tidak lagi menjanjikan rupiah, seorang penulis tidak pantas menyerah. Ketika menulis tidak lagi menawarkan popularitas, seorang penulis tidak perlu putus asa. Ketika menulis tidak lagi menjamin kesuksesan, seorang penulis tetap tidak boleh berhenti menulis. Sebab menulis adalah sebuah usaha tiada akhir, hanya yang bersungguh-sungguhlah yang akan melahirkan sebuah karya. Seorang penulis besar tidak melahirkan karya hanya dalam satu malam, tapi bertahun-tahun. Maka jangan pernah menyerah, untuk tetap menulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sin : Seribu Ibu di Kepala

Sin 1 Itu adalah sebuah kota kecil yang tenang, sepi, disebutnya sebagai hati. Kota itu didatanginya empat puluh hari yang lalu, dengan membawa sekotak ingatan tentang : kursi dan meja kayu di sebuah pengadilan, bunyi bel sebuah kindergarten yang melepaskan seribu senyum balita, dan sampul coklat berisi surat kematian seseorang. Ia memasukkan kotak itu ke dalam sebuah laci di rumah barunya ; di kota itu, yang sepi, yang masih penuh dengan lahan kosong, hutan, lembah, sawah, dua puluh akasia di pekarangan , pagar bambu, dan kursi rotan di serambi, menghadap ke arah gunung mati di ujung hutan. Rumah barunya tak kalah hening dari kota itu, tak kalah kecil dari hatinya, tapi disana duduk seorang perempuan yang terus berbicara padanya. Perempuan itu tidak benar-benar ada, tapi suaranya memenuhi seluruh sudut rumah. Suara itu begitu dikenalnya, seperti menyeruak dari balik sampul coklat yang berisi surat kematian, yang disimpannya di salah satu laci lemari, salah satu pusara paling hening, ...