Langsung ke konten utama

Ta'aruf : perkenalannya cowok keren vs cewek keren

Sudah hampir tengah malam, tapi masih terjaga. Ini insomnia, apa kebiasaan?
Rasa-rasanya sudah hampir satu bulan didera demam ini, tidak bisa tidur. Gara-gara After Sunset yang macet, Setelah Senja yang buntu, dan Dia; yang pernah kucintai mandek di tengah jalan. Intinya sama, ngeblok. Gejala sakit yang paling sakit untuk seorang penulis. Cie, yang merasa jadi penulis. Ah, aminin saja, siapa tahu kesampean. Kan lumayan, buat beli cilok, kembaliannya buat beli pajero sport. Amin. *lagi
...

Tulisan ini, juga gak jelas tujuannya apa. Mungkin curhat, mungkin juga buat ngisi blog. Yang penting nulis apapun itu. Akhirnya ada yang baca atau pun nggak,  pokoknya nulis aja. Setidaknya, untuk menghibur diri sendiri.

...

Hari ini, apa yang istimewa?

Tidak ada yang istimewa dari seorang pengangguran seperti saya. Paling bangun tidur, mandi, terus tidur lagi. Tidak berguna. Ah, siapa bilang? buktinya, pagi-pagi sekali, saya tiba-tiba sudah dapet chat wa dari teman (alhamdulillah masi punya teman).  Ini benaran teman lho ya, cewek kok (jadi yang cowok-cowok, yang naksir saya, gak sudah cemburu tsahh). Agak tersanjung si ketika di chat sama teman yang satu ini, soalnya dia cukup terhormat, dan  ternyata masih sudi nge-chat saya, untuk menanyakan hal yang sangat krusial. Apa? TA'ARUF. (bayangin aja, pas bagian ini, ada lagunya maher zain yang barakkallah).
Sebenarnya ini agak dilematis, ketika jomblo fi sabillillah macam saya, ditanyain perkara ta'aruf. Lha wong saya sendiri belum pengalaman ta'aruf, tapi malah diajak diskusi masalah itu. Maka, sayapun men-setting diri pada mode dewasa. Saya berusaha memberikan jawaban yang bijak perihal pertanyaannya tentang apa itu ta'aruf?
menurut saya pribadi, ta'aruf itu tahap perkenalannya cowok keren yang mau menikahi cewek keren. cihuy. kenapa saya bilang keren? karena ta'aruf ini pilihan langka di era modern seperti saat ini. sembilan dari sepuluh pasangan memilih pacaran untuk memulai sebuah hubungan (penelitian ala gue). Dan itu berarti, sisa satu pasangan aja dong yang memilih memulai hubungan dengan ta'aruf? InshaAllah iya. Makanya saya bilang apa, ta'aruf itu keren, anti-meanstream, dan sesuai sunnah. Triple keren deh pokoknya.
Sebagai sosok yang berambisi jadi agent of change dalam bidang perjodohan, saya pun mendukung pilihan teman saya untuk bersedia di ta'aruf sama si cowok keren. Meskipun katanya, si teman saya ini ragu, trauma, takut, dan lain-lain, tapi saya memotivasinya untuk menerima, untuk berpikir positif, dan banyak berdoa.

sebuah hubungan yang baik di mata Allah, selalu punya rintangan yang cukup berat untuk dilalui. Jika kita menyerah, berarti kita kalah dengan nafsu. Dan ketika kita terus berpegang tegung pada peraturan Allah, maka kita termasuk sebaik-baiknya hamba. 

Dengan setting-an dewasa mode-on itu, saya berhasil membuat teman saya mantap memilih jalan ta'aruf sebagai solusi memecahkan masalah tanpa masalah (kayak familiar dengan jargon ini). Dengan berbekal yakin pada komitmennya, tanpa terlalu banyak melibatkan perasaan, dia akhirnya mengaku siap untuk memilih jalan itu. Alhamdulillah (imajinasi saya sudah kelewat jauh, udah kebayang dia ijab kabul)

...

Saya, sebagai teman yang hobinya sok dewasa dan sok bijak, sebenarnya antara dua rasa. Rasa anggur dan stoberi. Eh maksudnya, rasa senang dan sedih. Senang karena teman saya inshaAllah sudah menemukan calon imamnya, dan sedih karena saya cuma bisa jadi penonton. Tapi saya tidak putus asa kok, tidak pesimis, apalagi sampai protes sama Allah. Semua ada waktunya masing-masing.

cinta adalah sesuatu yang fana, mengejarnya sama dengan mengejar fatamorgana. Menunggunya sama dengan mengharao kealpaan. Tapi merapalkannya dalam sepenggal doa, adalah cara paling ampuh untuh menjadikannya nyata. 

Barangkali quotes sok bijak di atas, cukup ampuh untuk menghibur para mujahid-mujahid cinta (wuih istilahnya berat).

...

Teman-teman yang masih jomblo, single, sendiri, solo karir, tunggal, atau apapun namanya, jangan pernah malu dengan status 'itu'. Selama jomblonya kita, jomblo fi sabilillah, inshaAllah kejombloan kita tetap menghasilkan pahala di mata allah.
Tak perlu ambil pusing dengan umur, omongan tetangga, apalagi teman-teman yang sudah bahagia dengan keluarganya. Sebab setiap manusia punya takdir masing-masing, dan punya cerita hidup yang tidak pernah sama dengan orang lain.
Tetaplah memperbaiki diri, dan berdoa. Jika waktunya sudah tiba, semoga kita menjadi calon pengantin yang paling bahagia di dunia. Sebab kita telah berusaha menjaga diri, untuk menanti jodok yang terbaik. (sambil muter lagunya Afgan)

...

Tulisan ini, hanya upaya menghibur diri yang mulai jenuh dengan setumpuk deadline tulisan lain yang amburadul. Tujuan saya cuma menulis, menghibur, dan berbagi. Kalau teman-teman suka, saya sangat bersyukur. Kalau tidak suka, itu wajar. Kalau semuanya suka sama saya, terus yang suka sama yang lain siapa dong? (saya memang kelewat pede orangnya, jadi gak usah emosi)

...

selamat malam. selamat bermalam sabtu.

#nulisrandom2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)