Hari ini tak banyak yang bisa ditulis.
Apapun itu.
Rasanya sunyi dan merdu jadi satu. Mengepak dan menyesap dalam semu. Menyempurnakan taksa yang hadir, antara meyusut tangis sebab ditinggal bulan temaram, atau bahagia menjelangkan kemenangan. Bertaut jadi satu, dalam hati yang masih kesepian.
...
Selamat hari raya, untuk sisa hari yang menelurkan air mata. Bagi mereka yang terlanjur berkalang tanah. Kembali tak mungkin, melanjutkan segalanya terlanjur berat. Sebab waktu terlampau cepat untuk dimuliakan. Dipenuhi kesia-siaan yang menipu. Selamat hari raya, untuk hidup yang agaknya membahagiakan. Melewati letihnya puasa, dan gamangnya malam untuk menanti kebaikan. Sedikit tunduk, selebihnya hanya tertipu euforia. Hidup dalam pengejaran dunia. Lupa pada gaib nya pahala yang berderai. Menyesaki udara tanpa terkira. Hanya beberapa yang menghirupnya. Pada sepuluh malam yang bukan rahasia. Sesekali melenakan. Sesekali mewartakan cerita surga. Hidup adalah pentas, melenakan. Mati dianggap dongeng, jauh dari kepastian. Beberapa fasih berujar.
Sekali lagi selamat hari raya, untuk alim yang tawadhu', dan beberap kufur yang ingkar. Di malam ini, rupanya sama bertakbir. Di bawah kubah masjid yang hijau. Meneduhkan. Di bawah basah tanah yang tak menawarkan langit. Menyesakkan.
...
Malam semakin serak melambai. Turun melepuhkan tunggu yang lama bersemayam. Di dekat makanan dan minuman yang tertahan. Dari jari, mulut, perut kelaparan.
Malam mulai parau menjelang. Merambat dekat dapur yang riuh oleh nyala perapian.
Malam kian hidup, dan takbir semakin tak tertahankan.
.
Kata-kata maaf datang, menyebar lewat pesan-pesan berbayar. Perempuan, laki-laki, teman, dan orang orang yang selama ini menyamar jadi teman. Saling berharap maaf. Agar lapang jalan, rizki, dan segala pinta yang disemogakan.
.
Sungguh, tak banyak yang bisa ditulis. Selain renung atas sakralnya malam ini. Yang datang sebab perjuangan. Yang lahir dari ketaqwaan. Menutup segala nanti akan janji Tuhan. Dan perulangan diksa yang mengesankan.
Kan dan an. Kuheningkan sejenak. Kutundukkan di bawah tangan yang menengadah. Mengakhiri pinta tentang segala baik dan untung. Dan mimpi untuk bertemu di takbir tahun depan.
.
Hari raya ini, semoga hidup dan menghidupkan.
Seperti pagi dan malam yang dipenuhi sembayang. Dua belas rakaat tanpa larang, juga alasan.
Seperti ayat-ayat yang diulang untuk kesempurnaan. Satu dua kali. Agar tak sunyi sisa ramadhan.
Hari raya ini, agar menyematkan kekhusyukan, dari benih penghambaan yang telah dilakukan.
.
Tuhan, pantaskah aku berhari raya?
Sedang lailatul qodar, mungkin telah kulewatkan.
Tuhan, pantaskah aku berhari raya?
Sedang hati, mungkin belum seutuhnya disucikan.
Tuhan, pantaskah aku berhari raya?
Komentar
Posting Komentar