![]() |
| image source |
Ada kalanya, seseorang ingin memilih berhenti ketika tulisannya dianggap tidak mengalami perkembangan, jarang mendapatkan pujian, atau bahkan berkali-kali kalah saing dengan tulisan orang lain. Pada titik tersebut, seseorang ingin berhenti, seseorang ingin menyerah. Tapi ingatlah, penulis tetap menulis, bukan menyerah.
...
Berbicara menulis puisi, agaknya memang tidak akan pernah ada habisnya. Pada artikel sebelumnya, saya telah membahas dua kiat utama dalam berikhtiar di ranah menulis puisi.
1. Membaca
2. Berpikir
Sedikit mengulas artikel sebelumnya tentang pentingnya membaca sebelum menulis puisi. Saya menjelaskan bahwa membaca buku kumpulan puisi menjadi kunci utama untuk meningkatkan pengetahuan seseorang tentang puisi. Sekaligus, memposisikan dirir dalam memilih gaya menulis puisinya. Membaca puisi karya orang lain, tentu akan sangat menginspirasi seseorang untuk menulis puisi, tanpa harus menirunya secara utuh. Tidak ada larangan tentang mencari inspirasi melalui karya orang lain. Yang menjadi berbahaya adalah, ketika seseorang menyadur puisi tersebut tanpa menggunakan teknik yang tepat, dan berakhir pada kasus plagiasi. Penulis sejati tidak pernah mencontoh karya orang lain. Penulis amatir sekalipun, tidak sepatutnya menjadi plagiator atas karya orang lain. Menjadi amatir boleh, tapi tak harus menjadi seorang plagiator. Maka tekunlah, agar waktu dan karya yang berbicara.
Selain membaca karya milik orang lain, membaca kamus merupakan hal yang tak kalah penting. Dengan kebiasaan membaca kamus, seseorang akan menambah tabungan diksinya secara konstan setiap harinya. Kebiasaan ini agaknya belum terlalu populer di kalangan penulis pemula. Biasanya, seseorang lebih memilih terpaku pada diksi puitis yang biasa digunakan. Seseorang lebih nyaman menggunakan diksi yang dianggap puitis sesuai dengan tingkat kepopuleran diksi itu sendiri. Padahal, begitu banyak diksi yang terdengar puitis namun jarang digunakan orang. Abainya seseorang terhadap diksi-diksi puitis yang kurang populer, berawal dari satu hal, "terlalu menjaga jarak dengan KBBI".
Setelah membaca artikel ini, belumkah Anda tergerak untuk membuka KBBI? Saya rasa sudah tidak lagi.
...
Lanjut pada poin berikutnya, tentang berpikir.
Selama ini, begitu banyak orang yang menganggap bahwa menulis puisi hanya mengandalkan perasaan. Saya sepenuhnya tidak setuju. Jika benar seorang penyair hanya menggunakan perasaannya saja dalam menulis puisi, itu berarti seorang penyair tak lebih dari sekadar golongan manusia ras lemah yang hanya terpaku pada perasaan. Yang ketika hujan tiba-tiba teringat mantan dan menulis puisi. Yang ketika melihat senja tiba-tiba teringat kekasih dan tiba-tiba menulis puisi. Ah, penyair tidak selemah itu.
Menulis puisi adalah sebuah kompilasi apik yang melibatkan perasaan dan logika dalam proses pembuatannya. Perasaan digunakan untuk membangun suasana dan pesan yang akan disampaikan dalam sebuah puisi. Sedangkan logika digunakan untuk memilih dan memilih diksi dalam penulisan puisi itu sendiri.
Menulis puisi bukanlah perkara mudah. Ini merupakan sebuah kompleksitas. Kenapa begitu? Karena seorang penulis puisi diharapkan mampu mengisahkan perasaannya secara runtun dan menyentuh dalam sebuah bait dan baris. Kenapa bait dan baris? karena hakikat sesungguhnya dari puisi adalah bait dan baris. Meski pada perkembangannya, puisi telah berkembang menjadi sebuah tulisan yang begitu bebas, bahkan hampir menyamai prosa. Tapi, puisi tetaplah puisi. Ia memiliki kekuatan disetiap barisnya. Sebab sebuah baris, bahkan meski hanya terdiri atas satu kata, ia merupakan penggambaran alur dari puisi itu sendiri.
Kembali lagi pada istilah berpikir yang saya gunakan dalam menulis puisi, ini agaknya sulit untuk dijelaskan secara teoritis. Oleh karena itu, ada baiknya jika pemaparan tersebut digantikan dengan sebuah contoh.
Perhatikan baris puisi berikut.
1.1
Di ujung senja yang sepi
Kau tiba-tiba pergi
Membuat malam-malamku begitu gelap, tanpa bintang.
Pada contoh diatas, saya sengaja memilih diksi yang denotatif. Diksi yang dapat langsung diterka maknanya, tanpa perlu menerjemahkan kata perkata. Nilai rasa yang didapatkan tentu saja tidak terlalu mendalam. Pembaca hanya melihat bait tersebut sebagai 'oh iya itu puisi', tanpa merasa tergugah hatinya untuk menerjemahkan lebih dalam, tanpa merasakan keindahan. Sebab, diksi yang dipilih begitu lugas menggambarkan perasaan penulisnya. Bedakan dengan bait berikut.
1.2
Dibalik
senja,
yang
merangkak letih pada punggung langit
Kau
mengulum jingga dalam diam
tak
disisakan seberkas, sebait, sebaris saja
Untuk
kukenang, di malam-malam yang mengemis bintang.
Dengan tujuan menyampaikan pesan yang sama, puisi 1.2 tentunya memiliki sisi keindahan yang lebih baik dibandingkan puisi 1.1. Pada baris pertama dan kedua, penulis berusaha menggambarkan suasana dengan menganalogikan senja yang merangkak di punggung langit. Apa senja dapat merangkak? apa langit memiliki punggung? jawabannya tentu saja tidak. Namun disini, penulis tampak menunjukkan usaha berpikirnya dalam menulis puisi. Penulis menghadirkan sebuah analogi dalam menggambarkan sesuatu dengan perbandingan yang dianggapnya menimbulkan sebuah keindahan. Apabila diteliti lebih dalam lagi, kata merangkan dipilih untuk menjelaskan munculnya senja di sore hari. Lalu kenapa penulis tidak memilih kata muncul? kenapa lebih memilih kata rangkak? karena penulis agaknya tidak cukup puas dengan diksi muncul. ketidakpuasan ini lantas membuat penulis untuk berpikir lebih baik. Penulis melakukan perenungan, peninjauan, pemilihan, dan pengambilan keputusan mengenai diksi yang akhirnya disematkan dalam puisinya.
Sederhananya, seorang penulis tidak sekadar menulis apa yang ingin ditulisnya. Melainkan, melakukan pertimbangan atas apa yang hendak ditulisnya.
Puisi dengan kualitas yang baik, tak mungkin lahir hanya dalam waktu lima menit. Bahkan sekalipun itu terjadi, tentu butuh keahlian khusus untuk melakukannya. Sedangkan untuk seorang amatir, menulis puisi lima menit hanya menghasilkan bahan bacaan yang memuaskan diri sendiri saja. Setidaknya seperti "yah, saya akhirnya menulis puisi'. Padahal, jika seseorang mau memahami esensi dari puisi itu sendiri, tentu saja seseorang akan menjadikan puisi sebagai sarana menggugah hati dengan keindahan yang ditawarkan. Yang mana, ketika orang lain membaca puisi yang telah ditulis, orang tersebut setidaknya ikut merasakan, apa yang dirasakan oleh penulis.
Tak kalah pentingnya, puisi yang baik tidak harus berupa puisi yang memiliki diksi-diksi sulit. Tidak semacam itu. Puisi yang baik adalah puisi dengan diksi sederhana, namun memuat keindahan di dalamnya. Puisi yang mecerminkan buah pikiran dari seorang penulis. Puisi yang tidak hanya ingin dilihat sebagai puisi yang bagus. Akan tetapi, puisi yang memberikan pelajaran bagi pembacanya, sekaligus menginspirasi.
...
Seorang penulis pemula, agaknya perlu mempelajari kembali puisi yang telah dibuat. Sudahkah puisi tersebut lebih baik dari puisi yang pernah dibaca? atau bahkan penulis tak mampu membandingkan? sebab sama sekali tak pernah membaca. Maka membacalah. Maka tekunlah. Tetaplah menulis, dengan cara paling sederhana. Tanpa henti, tanpa perlu menyerah.
Tak kalah penting lagi, jangan terburu-buru. Merenunglah, berpikirlah. Sebab puisi yang baik adalah buah perenungan yang tidak sebentar. Sebab puisi yang baik selalu mencerminkan pemikiran penulis. Tetaplah menulis, dan tetap tekun. Penulis selalu menulis, bukan menyerah.

Komentar
Posting Komentar