Ada langit jingga terbelah, di atas atap tempatmu pernah hidup teduh. Menyalakan lilin, menggelar makan malam. Dengan cahaya bintang rebah di pangkuanmu, nya, nya, dan nya yang entah kenapa, hanya salah satu akhirnya kau jadikan rindu.
-tunggu, aku ingin tertawa.
Kau, seandainya memang sedang jatuh cinta, lalu mengandung rindu dalam dadamu, padanya -si suara bayi itu. Apa kau tidak pernah berpikir, berapa orang yang telah menggigil melihat tanda-tanda yang kau buat dengannya. Seperti merah ceri, yang membuat orang-orang tiba nyeri. Membuat orang-orang jadi lihai berandai andai. Lalu, mengubah pendar siluet jadi caya, menggambar wajahnya.
Wah, kali ini kau sakit jantung harusnya.
"Dunia terlalu sempit untuk mewakili segala sesuatu." Katamu.
Segala sesuatu? Apa itu perasaanmu? Yang kau sembunyikan di setiap celah bumi, tapi seekor gajah pun mampu mengendusnya. Kau bersembunyi dari perasaan cinta, yang aromanya telah tercium jauh di Alaska. Entah siapa pernah tinggal disana. Yang jelas, kau sebenarnya telah tertangkap basah, kuyup oleh kehausan-kehausanmu sendiri. Pada siapa? Burung Nuri! Apa kau mau jawaban seperti itu.
Kau, kau terlanjur jatuh cinta pada gadis di atas kolam itu.
Kau tiba-tiba tersedak, dan dunia buncah oleh tawa.
Sinting segala, menyukai kapal yang kau gunakan untuk menyelam. Tapi tenggelam. Sungguh rumit, kau jadi badut untuk cintamu sendiri.
Ketika itu, ketika kau tidak meniup lilin untuk ulang tahunmu yang ke dua puluh satu. Dia telah menanyakan hal paling tersurat dari sekadar "kau punya alasan untuk itu?". Masih ingat dengan kedipan matanya? Dunia tau, kau saat itu mencair seperti es krim yang telah luruh di mulutnya. Alamak.
"Apa aku tidak menjadi alasanmu untuk berbahagia?" Tanyanya kala itu.
"Tentu saja kau," lihat saja, kau gugup, salah tingkah. Seperti kacang atom yang dilempar ke udara, siap masuk ke mulut siapa saja. Bukan buaya.
"Apa itu aku?"
"Ya, aku senang bahwa kau ada disini bersamaku."
Hahahaha. Ada ribuan garam yang tiba-tiba jadi susu kedelai saat itu. Cair dan manis. Menyehatkan. Seperti itu saja, kau bercakap-cakap dengannya, tapi dunia gempar, gempa lokal. Orang-orang panik, tapi tidak merasa berdosa.
Sekian demi sekian detik, kau menjaga jarak antara ingin dan etika. Apa kau masih peduli pada kata etis? Sedang hatimu meminta haknya untuk di mengerti. Meletup-letup rindu di sana, keinginan-keinginan untuk sekadar menatap singkat, menyentuh tangannya, atau bermain mata seperti itu. Ya Tuhan, jangankan kau. Orang-orang dibuat gemetar oleh rahasiamu itu. Tidak termasuk aku.
Ada tiga gambar melayang di maya, dan sepasang hati berwarna hitam. Oh no no no. Kau terlalu gamblang membuat tanda, sebab Arya Sentanu segera paham, bahwa yang kau buat itu bukan panah untuk menembus zaman Joseon. Itu adalah, apa lagi kalau bukan warna kesukaan kekasihmu. Siapa? Dayang Sumbi! Demi apa kau berpura-pura dungu seperti itu? Kau bukan Sangkuriang yang perlu menjebol bendungan untuk segenggam cinta. Hei, kacang polong, dia itu mencintaimu. Sangat.
"I love you more the time goes by." Katanya.
Apa jantungmu masih utuh saat ia menggodamu seperti itu? Aku harap kau diabetes. Karena ia terlalu manis untuk merayu sandal jepit macam dirimu.
Berkarat pula purnama, sejak pertama kali kau menabur tanda tanya. Ah, barangkali orang-orang telah menemukan jawaban. Tentang kau yang sok tua, saat ada di depannya. Sungguh, ini tidak romantis. Jadi setengah komedi. Aku tertawa.
Di deretan lampu-lampu kota, marka yang menerang tiga warna. Kau pernah punya kenangan juga. Tentang bulan sabit menggantung, juga lengannya. Di pundakmu, apa itu mendebarkan? Aku yakin, Damarwulan akan segera bangkit dari kuburnya.
"Rindu."
Kau meniupkan kata itu lewat tanda. Melekuk Cakra. Aksara tak bertambang nyawa. Gelap, setengah jingga. Ada rambut menggerai, gedung menjulang, juga seorang laki-laki bukan siapa-siapa. Kau kira, itu cukup aman untuk menyembunyikannya. Sebelum ...
Sebelum beberapa pekan yang lalu, ada kuku emas di antar kucingmu. Oh my God. Aku benar-benar ingin tertawa. Membayangkan Maryamah Karpov mungkin akan jatuh cinta pada Margio. Itu jelas sekuel yang berbeda. Cerita yang berbeda. Pengalihan. Seperti kelebihanmu yang mungkin jadi kelemahan, sebab orang-orang telah menemukan pisau untuk membedahnya.
Mario, berkali-kali kau terlalu gegabah menenun rindu. Kalut menggenang di matamu. Ada kabut yang semakin membesar, siap menjadi mendung, hujan barang kali. Sebab, aku lihat ia telah menjelma musim dingin. Terlampau dingin untuk membuat mu jadi maple yang kuncup, terbit, dan meranggas. Sedangkan kau, telah gugur, jatuh, menggelepar di tanah.
Bukankah orang-orang telah mengatakan sebelumnya? Kenapa kau tidak jujur saja, tentang duri macam apa yang kau genggam di balik tanganmu. Oh, itu bukan duri seandainya kau mengakui sebagai cinta. Ku kira, dunia lantas akan riuh oleh tawa.
"Kalian egois." Katamu, pada deretan lelucon yang mengambang di muara semu.
"Kau yang egois." Damarwulan benar-benar bangkit dari kematiannya.
"Kalau aku mengakuinya, baiklah. Anggap saja kalian akan bahagia."
"Tidakkah kau ingin melihat orang-orang bahagia?" Hantu Damarwulan masih bicara.
"Lalu, akan ada orang-orang lain yang menangis karenanya. Apa kau mengerti?"
Damarwulan kembali menggali kuburnya, berbaring. Dan pura-pura mati lagi.
Agaknya, kau lebih sakit dari orang-orang yang mengharapkan pengakuan. Kejujuran.
"Aku mencintainya, lalu apa?"
Aku bermimpi kau mengatakannya. Dan dunia menjadi tidak seru. Tak punya tanda tanya lagi.
Oh iya!
-tunggu, aku ingin tertawa.
Kau, seandainya memang sedang jatuh cinta, lalu mengandung rindu dalam dadamu, padanya -si suara bayi itu. Apa kau tidak pernah berpikir, berapa orang yang telah menggigil melihat tanda-tanda yang kau buat dengannya. Seperti merah ceri, yang membuat orang-orang tiba nyeri. Membuat orang-orang jadi lihai berandai andai. Lalu, mengubah pendar siluet jadi caya, menggambar wajahnya.
Wah, kali ini kau sakit jantung harusnya.
"Dunia terlalu sempit untuk mewakili segala sesuatu." Katamu.
Segala sesuatu? Apa itu perasaanmu? Yang kau sembunyikan di setiap celah bumi, tapi seekor gajah pun mampu mengendusnya. Kau bersembunyi dari perasaan cinta, yang aromanya telah tercium jauh di Alaska. Entah siapa pernah tinggal disana. Yang jelas, kau sebenarnya telah tertangkap basah, kuyup oleh kehausan-kehausanmu sendiri. Pada siapa? Burung Nuri! Apa kau mau jawaban seperti itu.
Kau, kau terlanjur jatuh cinta pada gadis di atas kolam itu.
Kau tiba-tiba tersedak, dan dunia buncah oleh tawa.
Sinting segala, menyukai kapal yang kau gunakan untuk menyelam. Tapi tenggelam. Sungguh rumit, kau jadi badut untuk cintamu sendiri.
Ketika itu, ketika kau tidak meniup lilin untuk ulang tahunmu yang ke dua puluh satu. Dia telah menanyakan hal paling tersurat dari sekadar "kau punya alasan untuk itu?". Masih ingat dengan kedipan matanya? Dunia tau, kau saat itu mencair seperti es krim yang telah luruh di mulutnya. Alamak.
"Apa aku tidak menjadi alasanmu untuk berbahagia?" Tanyanya kala itu.
"Tentu saja kau," lihat saja, kau gugup, salah tingkah. Seperti kacang atom yang dilempar ke udara, siap masuk ke mulut siapa saja. Bukan buaya.
"Apa itu aku?"
"Ya, aku senang bahwa kau ada disini bersamaku."
Hahahaha. Ada ribuan garam yang tiba-tiba jadi susu kedelai saat itu. Cair dan manis. Menyehatkan. Seperti itu saja, kau bercakap-cakap dengannya, tapi dunia gempar, gempa lokal. Orang-orang panik, tapi tidak merasa berdosa.
Sekian demi sekian detik, kau menjaga jarak antara ingin dan etika. Apa kau masih peduli pada kata etis? Sedang hatimu meminta haknya untuk di mengerti. Meletup-letup rindu di sana, keinginan-keinginan untuk sekadar menatap singkat, menyentuh tangannya, atau bermain mata seperti itu. Ya Tuhan, jangankan kau. Orang-orang dibuat gemetar oleh rahasiamu itu. Tidak termasuk aku.
Ada tiga gambar melayang di maya, dan sepasang hati berwarna hitam. Oh no no no. Kau terlalu gamblang membuat tanda, sebab Arya Sentanu segera paham, bahwa yang kau buat itu bukan panah untuk menembus zaman Joseon. Itu adalah, apa lagi kalau bukan warna kesukaan kekasihmu. Siapa? Dayang Sumbi! Demi apa kau berpura-pura dungu seperti itu? Kau bukan Sangkuriang yang perlu menjebol bendungan untuk segenggam cinta. Hei, kacang polong, dia itu mencintaimu. Sangat.
"I love you more the time goes by." Katanya.
Apa jantungmu masih utuh saat ia menggodamu seperti itu? Aku harap kau diabetes. Karena ia terlalu manis untuk merayu sandal jepit macam dirimu.
Berkarat pula purnama, sejak pertama kali kau menabur tanda tanya. Ah, barangkali orang-orang telah menemukan jawaban. Tentang kau yang sok tua, saat ada di depannya. Sungguh, ini tidak romantis. Jadi setengah komedi. Aku tertawa.
Di deretan lampu-lampu kota, marka yang menerang tiga warna. Kau pernah punya kenangan juga. Tentang bulan sabit menggantung, juga lengannya. Di pundakmu, apa itu mendebarkan? Aku yakin, Damarwulan akan segera bangkit dari kuburnya.
"Rindu."
Kau meniupkan kata itu lewat tanda. Melekuk Cakra. Aksara tak bertambang nyawa. Gelap, setengah jingga. Ada rambut menggerai, gedung menjulang, juga seorang laki-laki bukan siapa-siapa. Kau kira, itu cukup aman untuk menyembunyikannya. Sebelum ...
Sebelum beberapa pekan yang lalu, ada kuku emas di antar kucingmu. Oh my God. Aku benar-benar ingin tertawa. Membayangkan Maryamah Karpov mungkin akan jatuh cinta pada Margio. Itu jelas sekuel yang berbeda. Cerita yang berbeda. Pengalihan. Seperti kelebihanmu yang mungkin jadi kelemahan, sebab orang-orang telah menemukan pisau untuk membedahnya.
Mario, berkali-kali kau terlalu gegabah menenun rindu. Kalut menggenang di matamu. Ada kabut yang semakin membesar, siap menjadi mendung, hujan barang kali. Sebab, aku lihat ia telah menjelma musim dingin. Terlampau dingin untuk membuat mu jadi maple yang kuncup, terbit, dan meranggas. Sedangkan kau, telah gugur, jatuh, menggelepar di tanah.
Bukankah orang-orang telah mengatakan sebelumnya? Kenapa kau tidak jujur saja, tentang duri macam apa yang kau genggam di balik tanganmu. Oh, itu bukan duri seandainya kau mengakui sebagai cinta. Ku kira, dunia lantas akan riuh oleh tawa.
"Kalian egois." Katamu, pada deretan lelucon yang mengambang di muara semu.
"Kau yang egois." Damarwulan benar-benar bangkit dari kematiannya.
"Kalau aku mengakuinya, baiklah. Anggap saja kalian akan bahagia."
"Tidakkah kau ingin melihat orang-orang bahagia?" Hantu Damarwulan masih bicara.
"Lalu, akan ada orang-orang lain yang menangis karenanya. Apa kau mengerti?"
Damarwulan kembali menggali kuburnya, berbaring. Dan pura-pura mati lagi.
Agaknya, kau lebih sakit dari orang-orang yang mengharapkan pengakuan. Kejujuran.
"Aku mencintainya, lalu apa?"
Aku bermimpi kau mengatakannya. Dan dunia menjadi tidak seru. Tak punya tanda tanya lagi.
Oh iya!

Ciri khas puisi yang harus dicintai.
BalasHapus