Langsung ke konten utama

My All : From Jane


Aku adalah apa-apa yang kau lihat saat pertama kali datang di sebuah negeri asing. Sebagai orang yang masing-masing asing. Menjadi pertama dan kedua dalam huni. Sebagai kakak, kau awalnya memanggilku. Hal yang selanjutnya membuatku butuh waktu begitu panjang -juga sakit yang begitu kembang, untuk menyadari bahwa aku mencintaimu. Doja! ... Itu adalah sebuah masa, dimana kita sama-sama masih remaja. Melewati masa yang benar-benar sulit, yang cukup ingusan untuk sekadar membahas cinta. Seperti saat pertama kali kau datang, gelap dan kurus, untungnya bukan gelandangan. Dengan tas punggung yang besar, menenggelamkan kepalamu. Saat itu, aku tidak yakin bahwa kau akan baik dalam segala hal, seperti kata orang-orang. Orang-orang yang membuatku menunggu kakimu bergerak, melunaskan hutang penasaranku padamu. Benar. Kau punya kaki panjang yang kuat menghentak. Tegas. Saat itu, aku sadar, aku tidak akan baik-baik saja. ... Ada debar yang tidak wajar, kemudian menjadi keharusan yang muncul tiap kali melihatmu. Menghantuiku di tiap-tiap hari yang habis kulewatkan denganmu. Pada sebuah lantai marmer, kaca maha besar juga memanjang. Diam-diam aku mengambil wajahmu dalam tatap. Dingin menyeruak. Membuat jantungku katup lengkung. Aku bahkan sulit bernafas untuk sekadar mendengar kata, frasa, klausa, kalimat, apapun itu, terkutuklah aku yang menyukaimu terlalu pagi. ... Cinta adalah hal terlarang di tahun-tahun itu. Tahun dimana kita hanya butiran apa-apa yang siap terbang, menghilang, atau bahkan terinjak dan mati. Setengah menjadi kacung, budak kadang-kadang. Di sela-sela kau belajar tentang hal-hal yang tidak kau ketahui -bahasaku. "Aku pernah menjadi orang asing, dan itu adalah hal yang sulit. Aku tidak akan membuatmu merasakannya." Kataku.
Itu adalah hari yang sulit untukmu, menghadapi orang-orang baru yang kasar. Aku tau kau terluka, tapi begitu lihai menyimpannya. "Aku senang mengetahui kau memahami perasaanku." "Karena aku pernah berada di kondisi sepertimu." "Kondisi dimana kita sama-sama tidak sadar ketika orang lain membicarakan tentang diri kita." Selorohmu. Aku tertawa. "Apa ada yang membicarakanmu?" Tanyaku pura-pura. "Mungkin ada." "Maka aku akan mengajarimu banyak hal, agar kau bisa membalasnya." "Apa itu?" "Segala hal yang berhubungan dengan mengumpat." Sahutku. Kini giliranmu yang tertawa. "Atau hal-hal sederhana seperti kalimat sapaan, pertanyaan tentang arah mata angin, dan hal yang lain agar kau tidak merasa tersesat." "Aku hanya penasaran satu hal?" "Apa?" "Bisakah kau mengajariku mengatakan aku mencintaimu?" Aku berhenti bernafas sejenak. "Itu adalah hal yang sangat mudah. Kau akan segera memahaminya." Sahutku. Dan aku segera berlari ke kamar. Mencari balsem, untuk hatiku yang tiba-tiba pegal. ... Tahun pertama berlalu hanya dengan aku dan kamu. Aku yang membiasakan diri sebagai kakak, meski nyatanya, kau lebih banyak melindungiku. Karena kau, bagaimana aku menjelaskannya. Mungkin karena kau lebih tinggi dariku. Itu adalah jawaban paling aman, selain aku harus mengatakan bahwa aku memang kekanak-kanakan. "Aku mempelajari banyak hal baru hari ini." Katamu, selepas kursus bahasa yang kau ikuti. Aku telah menunggumu dengan sepanci ramen yang hampir dingin. "Apa?" "Mereka mengajariku cara mengungkapkan perasaan." Kau telah mengambil tempat duduk di hadapanku. Tanganmu siap menyendok kuah dari dalam panci. "Perasaan seperti apa?" "Seperti perasaan senang dan suka." "Apa itu menyenangkan untukmu?" "Sangat. Aku senang karena aku tahu harus mengatakan apa saat menyukai seseorang." "Oh iya?" Ada gempa vulkanik di hatiku, entah gunung apa yang telah bercokol disana. "Iya. Dan aku baru tahu, bahwa suka dan cinta adalah dua hal yang harus diungkapkan dengan cara yang berbeda." "Wow!" Singkatku. "Aku hanya butuh waktu untuk mengungkapkannya." Katamu. Aku tersedak. Kali ini, aku butuh remason! ... Itu adalah tahun dimana kau baru berumur empat belas, dan aku lima belas. Tahun dimana untuk pertama kalinya aku merayakan ulang tahun hanya denganmu. Dalam pesta yang cukup menyedihkan untuk dikatakan pesta. Sebab seperti kubilang di awal, tahun pertama ini, seperti tahun perbudakan, kerja paksa, dan sedikit pelecehan. Ah, setidaknya aku bisa melupakan semua itu, karena aku bersamamu di malam ulang tahunku. Kau menyalakan lilin di atas sepotong kue tart -hanya sepotong, yang entah kau beli dimana. "Selamat ulang tahun." Katamu. "Kau romantis." Godaku.
Wajahmu bersemu merah. Aku juga, mungkin. "Aku rasa kau telah memilih diksi yang salah. Setahuku, romantis digunakan untuk menjelaskan hal-hal manis yang dilakukan oleh kekasih." "Oh ya? Apa gurumu mengajarkan seperti itu?" Aku berusaha menyembunyikan gagapku. "Iya." "Mulai besok, carilah tempat kursus baru. Mereka sesat." Kilahku. Kau tertawa. "Tidakkah kau ingin berdoa, sebelum meniup lilinnya?" Aku segera memejamkan mata. Dan aku berdoa dengan suara lirih, tanpa rasa malu pada Tuhan. -Tuhan, jadikan Doja kekasihku. Lalu aku meniup lilin dengan takdzim. "Kenapa kau berdoa dengan sangat singkat?" "Karena yang aku inginkan sudah ada di depanku." "Apa?" "Itu adalah doa, dan aku tidak boleh membocorkannya." Kau kembali tertawa. Malam itu, malam ulang tahun yang sunyi, sepi, dan menyedihkan itu, kuhabiskan denganmu. Dengan berbagi sepotong kue tart yang mungkin harganya mahal. Karena rasanya enak. Atau karena itu kau yang membelinya? Oh Tuhan, sejak kapan aku jadi sereceh ini? ... Selepas ulang tahunku, dua bulan kemudian adalah ulang tahunmu. Aku terlalu takut untuk membawa kue dan lilin. Maka aku membuat nasi goreng untukmu. Hal terkonyol yang mungkin akan kau ingat sepanjang hidupmu. "Kenapa kau membuat ini di hari ulang tahunku?" Tanyamu. "Apa kau tidak suka?" "Aku menyukainya, tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa seseorang akan membuat nasi goreng di ulang tahunku." "Aku melakukannya agar kau mengingatku." "Aku pasti mengingatnya." Aku tersenyum. "Lalu aku harus meniup apa?" Aku menarik tanganmu untuk bangkit dari meja makan. "Kau bisa meniup ini." Aku menyalakan kompor untukmu. "Kau serius?" Wajahmu jenaka. "Aku akan mematikannya saat kau meniup. Cepatlah berdoa." Kau patuh. Tanganmu mengatup, matamu terpejam. Berdoalah seperti aku berdoa. Mintalah aku sebagai kekasihmu. Kau meniup kompor, dan aku mematikannya. Lalu kau dan aku sama sama tertawa. "Aku akan mengingat ini sebagai pesta paling mengesankan." Lanjutmu. "Aku melakukannya untuk itu." Sahutku. Kau, aku, mata kita, sama-sama salah tingkah. Malam itu, setidaknya, aku menebak bahwa kau juga jatuh cinta padaku. ... Segalanya berjalan sebagai rutinitas. Pagi yang dingin, aroma kopi, tempat latihan, dan kursus bahasa yang mengambil wajahmu dariku, juga malam-malam yang kadang penuh perbudakan. Aku benci menyadari beberapa orang memanfaatkan kesempatan ini. Untuk menyentuhku, berbasa-basi, lalu berbuat kurang ajar. Demi apa-apa yang telah aku korbankan satu tahun ini, dan mimpi yang tidak mungkin aku tinggalkan, aku berusaha bungkam. Kau juga. Meski aku tahu, kau bahkan lebih api dari kemarahanku sendiri. "Surat yang kita tanda tangani sangat mengerikan." Keluhmu suatu malam. "Kita sudah melewatinya lebih dari satu tahun, kau tak perlu mengeluhkan itu." Sahutku. "Aku ingin cepat dewasa. Agar bisa melewati semua ini." "Dewasa? Bahkan itu lebih mengerikan seandainya kita tetap tidak bisa menjadi apa-apa." Kau terdiam. "Kita akan membayarnya, mereka juga." Gumamku. "Aku juga akan membayarnya untukmu." "Apa kau marah pada mereka?" Tanyaku. Seandainya malam itu kau menjawab iya, aku akan ... "Aku sangat marah pada mereka." tegasmu. Hening. Aku akan apa? Buktinya Aku mengempis seperti balon yang kehabisan udara. Doja, kau membuatku sakit jantung! ... Hubunganku denganmu, aku tau ini bukan hal yang biasa. Bukan kakak pada adik, teman pada teman, hanya saja rumit. Sebab aku tau kau memperhatikanku, juga sebaliknya. Kau banyak melindungiku, dan aku berubah jadi anak ayam ketika berada di bawah lenganmu. Aku suka membayangkan itu, bahwa kau nantinya akan jadi kekasihku. Itu akan sangat menyenangkan. Kau memiliki segalanya, yang akhir-akhir ini sering ditanyakan oleh orang-orang. "Tipemu seperti apa?" Do-jaguar. ... Dua tahun kemudian, budak-budak bertambah. Membuatku ingin membuktikan bahwa perasaanku padamu, bisa kuterapkan pada orang lain -sensasi sakit jantung itu. Nyatanya tidak. Aku tak pernah butuh balsem untuk mengobatinya. Aku baik-baik saja. Itu hanya memburuk saat aku melihatmu, berbicara denganmu, menyentuhmu, dan kadang-kadang berbaring di sampingmu. Oh, perempuan macam apa aku ini. Sungguh rapuh. "Apa kami seperti merusak kebahagiaan kalian?" Jils bertanya. Itu adalah sebuah sore di meja makan. Sore kesekian yang kami habiskan untuk menikmati teh tanpa gula. "Kalian melengkapi kebahagian kami." Sahutku. "Bahkan kita sudah seperti keluarga." Timpalmu. Kau sudah cukup bagus saat berbicara, itu karena kursus bahasa. "Apa yang kau lakukan dengannya sebelum kami datang?" Kini giliran Rub yang bertanya. "Dia membuat nasi goreng untuk ulang tahunku." Kelakaramu. Semua orang tertawa. "Kau benar-benar melakukannya?" "Iya. Agar kami bisa tertawa." "Itu cukup masuk akal. Aku rasa kue tar cukup membosankan sebagai perayaan ulang tahun." Rub melanjutkan. Matamu menatapku risau. Seolah bertanya, apa aku membosankan? Tentu saja tidak, sayang. Wuuhhh!!! "Aku selalu menginginkan kue tar di ulang tahunku. Jadi itu tidak membosankan." Sahutku. Kau tersenyum. "Apa kau memberinya kue tar?" Jils menodongmu. "Aku memberinya sebuah pijatan, karena dia terkilir saat itu."
-juga sebuah jaket di punggungku, karena saat itu sangat dingin. "Kalian berdua punya ingatan yang sangat baik. Tapi lain kali kau harus membawakannya kue tar." Jils mengingatkan. Kau hanya tersenyum. Meneguk tehmu perlahan. Matamu, matamu itu Doja, berhentilah melirikku seperti itu, aku bisa jadi salju. Hambur di halaman rumah. Berbaur dengan abu. Tak menjadi apa-apa. ... Tahun-tahun berikutnya adalah tahun penuh sandiwara. Aku dan kamu tidak lagi mudah menunjukkan perhatian satu sama lain. Tidak ada lagi ritual saling membangunkan di pagi hari, berbagi satu lollipop untuk berdua -ini yang paling aku suka, atau memijat kaki yang terkilir, juga kau mendengarkanku membaca novel -meski aku tau kau lantas tertidur. Mungkin benar yang dikatakan Jils. Kedatangan mereka membuat kebahagiaan kita terganggu. Semakin terganggu saat aku melihatmu mulai cukup dekat dengan mereka. Menjadikan sentuh sebagai bahan murahan. Kau pada Jils terutama, itu melahirkan cemburu bagiku. Saat kau bercanda dengannya, saling merangkul, saling menggandeng, saling saling untuk segala hal. Aku cemburu, Doja! "Apa kau yakin, bahwa kau tak punya hubungan apa-apa dengan Doja?" Suatu pagi, sebelum berangkat latihan, Rub menyapaku dengan pertanyaan menohoknya. "Itu hanya hubungan yang sama, seperti hubunganku denganmu." "Tapi aku melihatmu sering cemburu pada Jils." Aku menghentikan tanganku dari mengikat tali sepatu. "Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa aku cemburu?" "Wajahmu yang menjelaskannya." Aku segera menggeleng. "Kalau kau berpikir bahwa kau malu untuk mengakuinya, kau salah. Doja memang pantas untuk disukai." Ada deru ombak di dadaku. Menggulung. Membuatku hampir tenggelam. "Dia orang yang menyenangkan dan hangat. Harusnya kau sudah jatuh cinta setelah hampir dua tahun bersamanya." Rub inosen. Aku berpura-pura abai pada kalimatnya. "Saat kau abai seperti itu, kau semakin terlihat sangat menyukainya." Kalimat Rub membuatku kembali tertegun. Apa wajahku se-transparan itu? "Dia juga menunggu kau mengakuinya." Rub lantas berlalu. Mahluk satu ini, apa dia titisan mama Loren? Arhhh!!!! ... Setelah percakapan yang absurd itu, aku mulai memikirkan kembali perasaanku. Tentang bagaimana aku memilih jalan diam sebagai cara memiliki. Memiliki apa? Barangkali Doja, cinta, atau apapun itu yang membuat sesuatu di balik dadaku nyeri. Ada radang, cukup perih. Membuatku kadang menangis membayangkan seseorang yang sangat kuharapkan -kau Doja. Bahkan sebuah pertemuan tidak cukup untuk menuntaskannya. Sekalipun itu 24 jam, aku masih haus padamu. Aku memejamkan mata dalam keadaan memikirkanmu, lalu terjaga dalam kondisi merindukanmu. Itu benar-benar menyakitkan. Ya, jatuh cinta. Aku berharap tak pernah merasakannya. Atau, aku harus memastikan bahwa kau juga jatuh cinta padaku. Apakah itu sulit untukmu? Untuk memahami bahwa setiap apa yang aku berikan padamu, itu bukan kebetulan. Segala bentuk -perhatian, yang aku balut dalam sentuhan-sentuhan lembut, adalah tanda, pesan, yang kuharap kau dapat mengerti. Empat tahun berlalu begitu saja, sejak pertemuan pertama yang memerahkan duniaku. Dan dua tahun terakhir menjadi tahun-tahun yang lebih menyakitkan dari disentuh oleh orang-orang yang tak kuinginkan. "Kau Jane." Dia, seorang senior yang paling kurang ajar diantara yang lain. Aku mengangguk tegang.
Entahlah, aku selalu memilih waktu yang tidak tepat untuk keluar dari ruang ganti. Atau mungkin, bedebah satu ini selalu menungguku. "Kau banyak dibicarakan orang-orang."
Tubuh jangkungnya mendekatiku yang menempel di bibir pintu.
Aku tau, dia akan melakukannya. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa. "Apa kau merasa keberatan jika aku..." Tangannya, aku harap Tuhan tidak menciptakan tangan itu. "Kenapa kau melakukannya seolah-olah kau tidak lahir dari seorang perempuan?" Itu suaramu, Doja. Muncul dari balik punggungnya. Senior maniak ini segera memutar tubuhnya, mungkin menatap ganas padamu. Ada jeda yang panjang, membuat jantungku hampir meledak. Tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah itu mimpiku yang akan hancur. Atau kau yang akan hancur dihajar laki-laki gila yang satu ini. Aku tau, kau tidak cukup baik dalam hal tinju meninju. Bahkan, kau lebih sering kalah saat berebut sesuatu denganku. Atau mungkin, kau memang mengalah. Dan hal mengejutkan terjadi, laki-laki itu berlalu. Tanpa melakukan apa-apa. Tanpa mengatakan apa-apa. Meninggalkan aku dan kau, dalam kebekuan yang sedikit mereda. Cair oleh detik waktu yang tak juga mengantar kalimatmu. Aku menunggu kau mengatakan sesuatu, selain menatapku dengan mata yang membuatku ingin mengakui bahwa aku mencintaimu. Masih, dalam bisu yang mempertemukan mata kita. Aku seperti berenang dalam telaga. Menuntaskan kering yang terlanjur menyemut di tubuhku, kubahasi sampai benar-benar basah. Sampai kuyup. Seolah-olah kau adalah air, dan aku teratai yang tak mau lagi sekadar terapung. Aku ingin tenggelam. Aku ingin tenggelam bersamamu, Doja!!! "Apa kau suka jika aku membelikanmu tart? Meskipun ini bukan ulang tahunmu?" tanyamu.
Kau begitu manis untuk sekedar menghiburku. Aku tidak menyangka bahwa kau akan menanyakan hal itu. Apa kau benar-benar berpikir bahwa aku menyukai tart hanya karena aku mengatakannua di depan Rub?
"Apa kau mau?" Ulangmu, sangat hati hati. Aku segera mengangguk. Lalu menundukkan wajah dari pandanganmu. Kuseka air mata, Ya Tuhan, aku benar-benar mencintaimu, Doja. "Kau bisa menungguku di rooftop." Katamu. Sekali lagi aku mengangguk, tanpa mengangkat wajah. Sepanjang menunggumu, aku membiarkan mataku berai oleh tangis. Entah menangisi apa. Apakah itu kamu, tawaranmu, atau entah apapun itu. Aku hanya tahu satu hal, aku ingin menangis.
"Aku hanya bisa membelikanmu sepotong." Kau muncul dengan kue tart yang sama, seperti saat ulang tahunku.
Kau mengambil tempat duduk di sebelahku, menjuntaikan kaki di sela-sela pembatas rooftop. "Kenapa kau meletakkan lilin disitu?" Tanyaku. "Aku ingin kau berdoa sekali lagi, lalu meniupnya." "Itu akan mati sebelum aku meniupnya." "Maka aku akan menyalakannya lagi." Aku tersenyum. Semakin kembang saat melihat senja mengepak di balik punggungmu, menjadikan rambutmu seperti gemerlap diterpa cahaya. Juga angin, yang meliukkan helainya. Kau benar-benar memesona, Doja. "Kau akan melakukannya?" Aku membenarkan tubuhku agar benar-benar mengahadap padamu. "Aku akan melakukannya." "Ucapkanlah doamu dengan lantang." Aku terdiam. Menatapmu gugup sekali lagi. "Doja?" "Aku ingin mendengarnya." Aku benar-benar seperti punya masalah dengan kesehatan jantungku. Ini berdegup sangat kencang. "Untuk apa aku mengatakannya, bahkan Tuhan saja tidak mengabulkan." Kau tersenyum. "Mungkin kau perlu meminta pada Tuhanku." Kini giliranmu yang tersenyum. "Bagaimana jika aku meminta padamu?" "Lakukan saja." Aku terdiam sejenak. Menata nafasku yang terus memburu. Meredakan gugup yang meraja. Sejenak, menghentikan debat jantung yang semakin kurang ajar. Kupenjamkan mata, dan kutangkupkan kedua tangan. Aku mulai berdoa. "Aku menginginkanmu sebagai kekasihku." Aku tidak yakin, apakah itu lirih, lantang, atau malah lesap. Perlahan aku membuka mata, memberanikan diri menatapmu, meski aku tau, segalanya tak akan lagi sama. Kau begitu datar, tanpa senyum. "Bahkan Tuhanku tak akan mengabulkannya." Katamu, cukup untuk menyimpulkan bahwa kau menolakku. Setidaknya, aku telah mengatakannya padamu. "Tapi aku tidak keberatan untuk mewujudkannya." Kali ini, kau setengah tersenyum. Aku berubah hening. Antara terkesima dengan lengkung senja di balik punggungmu, atau jawaban yang kau ucapkan. "Aku menunggumu menanyakan apa yang menjadi doaku, saat aku harus meniup kompor di hari ulang tahunku. Tapi kau tidak menanyakannya." Kau seperti menanggung beban dalam kalimatmu. "Kau, apa yang kau minta saat itu?" "Aku menginginkanmu sebagai kekasihku." Kali ini aku tersenyum, kemudian mengingat kembali kejadian tiga tahun lalu. Dimana aku tak berani menanyakan isi doamu, karena aku takut, yang kau minta bukanlah aku. "Itu kenapa, kau tadi mengatakan bahwa Tuhanmu bahkan tidak bisa mengabulkan doaku?" "Iya. Dan itu membuatku kecewa" Kau menahan senyum. "Aku juga kecewa, karena santa tidak pernah mengantarkanmu sebagai hadiah di hari natal." Lanjutku.
Kali ini kau tertawa.
"Aku sudah datang sendiri padamu." Hiburmu.
Aku tersenyum.
"Lalu sekarang apa?" Tanyaku. "Aku tidak pernah membayangkan apa-apa untuk semua ini. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa." Aku dan kau sama sama bodoh dalam hal ini. "Kau sembilan belas tahun, dan aku dua puluh tahun. Harusnya..." "Kau sudah mendapatkan ciuman pertama?" Godamu. Aku tertawa.

...

Itu adalah sebuah sore yang paling sempurna dalam hidupku. Sore yang panjang untuk menjemput malam. Menjuntaikan tanganku yang kau genggam, sepanjang jalan pulang, seriuh salju turun, yang anehnya tak terasa dingin. Ada kamu, lebih dari cukup untuk menghangatkanku. Dengan setangkai mawar ungu, belum layu. Sekali lagi menjadi tanda, bahwa sepanjang dua puluh tahun aku bernafas, baru kali ini aku benar-benar memiliki cinta. Kau, Doja!
Sore yang panjang, dan malam menjelang. Segera menua dalam gelap, melahirkan kedewasaan yang otodidak. Doja, aku tidak akan melupakanmu. ... Mengenang bagaimana aku jatuh cinta padamu, lalu memilikimu sebagai kekasih, itu adalah hal yang menakjubkan. Terus membara meski ini adalah tahun kedua untuk kita. Masih hangat. Masih tersembunyi. Sebab hanya aku ingin menampakkannya, kau tidak. "Sampai kapan kita akan bersembunyi." Tanyaku pada suatu siang yang membuatku jengah. Aku lelah melihat banyak perempuan menggelayutkan lengan di pundakmu. Aku ingin berteriak di depan mereka, bahwa kau adalah milikku. "Setidaknya sampai tanda tangan kita kadaluarsa." Sahutmu. Itu memang mengerikan, membayangkan bagaimana bubuhan singkat itu, begitu mengikatku dan kamu. Tak pernah ada jalan keluar, selain menyadari bahwa Hang -yang katanya ayah angkat untukku dan kau juga budak-budak yang lain, lebih mirip seorang sipir penjara yang kejam dari pada seorang ayah. "Bisakah kau menjaga jarak dengan orang lain?" Pintaku akhirnya. "Dan bisakah kau tidak membuat orang lain kagum saat melihatmu." Balasmu. Aku terdiam.
"Aku juga banyak menanggung cemburu melihatmu." Baru kali ini dia mengeluh. "Tapi kau tak pernah menampakkannya." Balasmu. "Haruskah aku berkelahi dengan laki-laki yang matanya seperti menelanjangimu?" Aku malah tersenyum. Aku suka dengan kemarahanmu. Aku melihat cinta disana. "Berkelahilah untukku." Godaku. "Kau menginginkannya?" Aku segera menggeleng. "Aku menginginkanmu." Kau harusnya sudah mencair, sebab aku jarang sekali melakukan itu -rayu. "Aku menginginkanmu lebih banyak." "Kau bohong." Kali ini aku tersipu. "Maka biarkan aku berbohong berkali-kali." Katamu, dengan sebuah senyum yang aku tahu, itu membuat dunia jadi meleleh. Kau benar-benar ancaman nyata untuk dunia, Doja -penyebab pemanasan global. ... Selanjutnya, waktu yang berputar tak pernah mengantarkan apa-apa, selain kau yang semakin bintang, dan aku yang semakin caya di sampingmu, juga Jils dan Rub yang baur dalam gemerlap. Ini membentang bagai rasi, di rujuk sebagai arah angin, pun musim. Musim-musim yang kemudian menyerang dengan tanda tanya, antara aku dan kau, adalah rasi yang bias, memecah mimpi nelayan. Ini menjadi pembicaraan panjang. Sepanjang jejak yang aku dan kau tinggalkan. Tidak hanya kaki, tapi tanganmu yang meraih pinggangku di langit malam Jakarta. Melahirkan umpat yang gemas, membuat riuh, seperti ada hujan yang membuat orang-orang basah oleh jawaban. Nelayan-nelayan jadi risau, lebih banyak bahagia. Apalagi suatu Malam di New York, pada sebuah pertunjukan musik yang kita ada disana. Tak ada cerita selain orang-orang yang terlanjur menyadari bahwa kita ada. Juga, pada sederet minuman choco vanilla di cookietime Jepang, ada tenun terka yang lahir, ada apa? Selain jawaban-jawaban, atau sebenarnya mereka tak pernah butuh itu, kau dan aku bahkan telah merajut tanda pada sebuah malam di Koh Samui, pada sebuah pertunjukan api, yang kau bahkan lebih membakar dari api itu sendiri. Banyak, hal-hal yang membuat dunia menganggap bahwa kita ini pesulap, dan mereka adalah suhu yang bisa meramal isi hati. Selihai mereka memberi simpul pada sebuah perjalanan di Dongmun. Atau pada kunjungan religius kita di Wat Saket, dimana kau begitu takdzim menyeduh doa. Belum lagi tentang Paris yang menggantung bulan. Apa-apa yang membuat kita bukan lagi rahasia. Setidaknya, ada orang-orang yang mengira bahwa kau dan aku adalah kita. Meski kita tak pernah memberi iya. Setidaknya itu cukup menghiburku, mengetahui bahwa sebagian orang tidak waras, mendukung kita. Kecuali Hang. "Hang memanggil Doja ke ruang." Rub membuatku berhenti mengunyah stroberi. Itu sudah hampir tengah malam. Dan aku baru menyadarinya, Doja mungkin belum pulang. "Aku harap kakinya tidak patah." Lanjutnya. "Apa Hang sepreman itu?" sahutku. "Dia bisa sangat kejam untuk sekadar memukul anaknya yang bermain-main di Osaka pada malam Natal." "Itu hanya profesionalitas." "Dia hampir menciummu." Rub menegaskan. "Bahkan sekalipun Doja meniduriku, Hang tidak punya hak untuk melarang." Rub ternganga. "Hang hanya ingin menjaga anaknya." "Tidak ada satupun diantara kau, aku, Doja, Jils, Kam, Rins, dan semua yang tinggal disini yang benar-benar anaknya. Kita bukan Henri dan Aneu Stammler yang akan dirindukan Ted saat melarikan diri." "Tapi dia menjaga kita." "Dia menjual kita! Seperti mama kalong menjual Dewi Ayu." Ralatku. "Kau kelihatan sangat marah, Jane." "Iya! Akan lebih marah jika Hang benar-benar menyakiti kekasihku." Rub tersedak oleh kopinya sendiri. Interval- Rub; saat itu aku seperti menelan biji salak. Benar-benar mengejutkan. Dua orang ini, benarkah? Satu lagi, aku bahkan tidak tau siapa itu keluarga Stammler. ... Itu menjelang dini hari, ketika kulihat Doja baru kembali dengan wajah kuyu. Setidaknya, tak ada bekas luka disana. Seandainya ada, Hang akan mati esok hari. Aku yang akan membunuhnya. "Apa Hang menyentuhmu?" Sambutku. Dia berhenti di ujung tangga beranda. "Dia lebih tertarik untuk menyentuhmu daripada aku." Candamu. Aku menuruni tangga, berusaha mendekat padamu. "Semua orang tahu, bahwa dia memang ayah yang cabul." Kau tertawa. "Dia tidak sejahat itu." "Kau membelanya?" "Tidak. Aku hanya bicara apa adanya." Kau dan aku selanjutnya diam. "Bisakah kau berhenti menyukaiku?" Pertanyaanmu, itu seperti buah tangan yang manis. Tapi penuh racun. "Apa Hang memintamu melakukannya?" Kau menggeleng. "Dia bahkan tidak menemukan jawaban apa-apa." "Kau diam?" Kau kali ini mengangguk. "Dia membuat ruang menjadi berantakan sebab geram. Tapi dia tidak menyentuhku." "Kenapa?" "Karena aku diam." "Apa yang dia tanyakan?" "Dia bertanya tentang kita." "Lalu kau menjawab apa?" "Aku hanya diam." "Harusnya kau menjawab bahwa kita akan menikah." Kau tertawa. "Aku tidak yakin bahwa pendeta akan mau melakukannya." "Pendetaku atau pendetamu?" "Gereja atau kuil?" Kau dan aku lantas tertawa. "Aku tidak akan berhenti menyukaimu. Tidak setelah kau setampan ini." "Apa aku tampan?" "Setengah." "Selebihnya cantik." Gurauku Kau tertawa. Tawa yang masih sama seperti saat kau pertama datang. Tawa yang ingusan. Bertahun-tahun lalu, sebelum semua orang menyukaimu. Aku yang menyukaimu lebih dulu. Jauh sebelum kau seindah ini. Jauh sebelum kau setinggi ini. Jauh sebelum kau, semenakjubkan ini. Bagaimana pun, aku tidak bisa berhenti menyukaimu. Karena aku menyukaimu bukan karena alasan-alasan klasik yang cenderung visual. Aku suka kau, sebab kau menanggalkan syalmu untukku saat malam menjadi dingin. Sebab kau melepas jaketmu, untuk menyelimutiku. Sebab kau menggunakan tanganmu untuk menghalau cahaya matahari dari menyengatku. Sebab kau berjalan lebih pelan agar bisa sejajar denganku. Sebab kau menjadi satu-satunya orang yang mendengarkanku dengan sungguh-sungguh tiap kali aku berbicara. Dan kau, selalu mengingat apa yang kukatakan di masa lalu. Kau selalu memperhatikanku. "Apa kau bisa berhenti menyukaiku?" Kau menggeleng. "Kenapa?" "Karena kau orang pertama yang mengajariku mengatakan cinta." Dan kau benar-benar membuktikannya, Doja. ... Tak ada yang perlu dirisaukan dari pertemuan Hang dan Doja, kecuali tragedi sebelumnya. Dimana aku terlanjur mengakui hubunganku dengan Doja pada Rub. Aku tau, dia tak lebih dari sekadar atap bocor, dan Jils adalah ember setia yang menampung tiap tetesnya. "Rub bercerita tentang kau dan Doja." Jils membuka pembicaraan seusai makan siang yang membosankan. Sudah kuduga. Kami saat itu berbaring di depan tv, tanpa menyalakannya. "Kau benar-benar berpacaran dengan Doja?" "Tanpa perlu menjawab, harusnya kau sudah tahu bahwa aku dan Doja bukan sekadar teman." "Aku sudah menduganya." "Baguslah." "Dan kau cukup menyeramkan saat cemburu." "Apa kau pernah melihatnya?" "Ya. Kau sering cemburu padaku." "Syukurlah kau mengerti. Karena tidak mungkin aku cemburu pada Rub." "Apa yang kalian harapkan dengan hubungan itu?" "Sebuah duet di masa depan, seperti Marc Anthony dan Tina Arena, mungkin." "Wah!!" Decakmu. "I want to spend my lifetime loving you. Seperti itu?" Kau setengah berdendang. Aku hanya abai. "Akan lebih baik kalau kau bersolo seperti Mariah Carey. Dan membawakan lagu My All." "Apa kau kira itu lucu?" "Kukira kau mengajak bercanda." "Ya, aku sedang bercanda. Lalu membayangkan lagu youth bukan dibawakan Troye Sivan, tapi kau." Aku segera bangkit dari samping Jils. "Woh!" Jils berseru. "Hey yah, An Idiot Janice!" Ia masih meracau. Aku tak peduli. "Kau seharusnya tidak berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua. Kau harusnya menjadikanku kakak." "Tidak. Kau bukan kakakku, karena aku bukan anak Hang." "Gadis gila!" Rutuknya. Aku tak peduli. Aku masuk kamar sambil tertawa. Bukan apa-apa. Aku senang bahwa mereka sudah tau, bahwa kau dan aku adalah kita.

...

Malam adalah bagian paling tidak terduga, sebab mimpi kadang seperti permen karet. Hanya manis di awal. Lalu menjadi hambar, meski ia masih ada. Ada yang semu. Tak bisa ditelan. Berakhir pada tempat sampah. Tak pernah beruntung. Dan malamku kali ini seperti itu. Malam yang meninggalkan larut, mengetuk dini hari dengan tidak santun -seperti Rub dan Jils. "Oh Tuhan, kau benar-benar masih tidur?" Mereka menarik selimutku dengan kasar. Ada nada panik disana. "Bahkan sekalipun aku tidak bangun, kalian mau apa?" Aku mejawab malas. "Aku akan menggantikanmu menabur bunga di atas makan Doja." "Dasar gila!" Aku segera bangkit dengan kaki setengah menendang ke arah mereka. "Anak buah Hang datang membawa Doja." "Apa?" Aku tak percaya. "Ya, mereka membawanya masuk ke mobil. Lalu pergi." "Siapa yang membawanya?" "Yung." "Brengsek!" Rutukku. "Aku baru tahu kalau kau bisa mengumpat." Komentar Rub. "Aku bahkan bisa membunuh orang!" "Kau mengerikan Jane." "Aku bahkan bisa jadi iblis." "Aku percaya." Rub singkat. Setelah memakai jaket dan syal, aku berlari ke luar kamar, membuka pintu rumah, dan berhambur ke jalanan yang masih lengang. Rub dan Jils mengejar sambil berteriak di belakangku. "Kau akan pergi ke mana?" "Ke pemakaman Hang!" "Dia belum mati." "Aku yang akan membunuhnya." "Kau gila." "Memang!" Aku masih berlari sekuat yang aku bisa, dengan dua orang bodoh terus mengikutiku. "Kau bahkan tidak tau kemana Doja pergi, bisa jadi itu urusan pekerjaan." "Atau dia akan bertamasya!" Ketusku. "Itu tidak adil jika bertamasya sendiri." Jils masih dengan kebodohannya. "Tamasya macam apa dilakukan selarut itu, selain percobaan pembunuhan." "Kau terlalu cepat menuduh." "Ya, karena aku bukan Bunda Teresa yang selalu berbaik sangka!" "Dia memang paling kejam saat marah." Gerutu Rub. Masih dalam kejar-kejaran yang panjang, kami memecah sunyi dini hari dengan saling berteriak di sepanjang jalan. Aku tak peduli. Aku hanya ingin mendobrak pintu ruang. Dan aku benar-benar melakukannya. Aku berlari menyusuri lorong, menuju kamarnya. Saat kubuka, dia sedang terkapar dengan perempuan muda di sampingnya. Dasar tua bangka. "Apa kau bisa tidur setelah menculik manusia tak berdosa?" Aku menendang ranjangnya. Dia terjaga dengan wajah terkejut. Juga perempuan di sampingnya. Hah, sungguh memalukan. Rub mencoba meraih tanganku. "Kau tidak seharusnya melakukan ini." Bisiknya. Dia berusaha menarikku ke arah pintu. Aku bergeming. Persis seperti Jils yang mematung di mulut pintu. Shock. "Harusnya kau yang kubuang lebih dulu, bukan dia." Hang begitu angkuh. Selanjutnya dia meneriaki para penjaga untuk segera datang. "Bagaimana mungkin kau akan membuangku, sedangkan untuk mengusirku saja kau tak bisa melakukannya sendiri. Kau masih berteriak pada penjaga. Banci." "Kau gila Jane." Rub berbisik. Dia bersembunyi di belakangku. Menyerah dari usahanya menyeretku. "Kenapa kau menjadi gila hanya karena satu orang itu." Tangannya memberi isyarat pada beberapa penjaga yang muncul di pintu. Ia meminta mereka diam di tempat. Wah, ejekanku berhasil. "Lalu aku harus gila untuk siapa? Untukmu? Kurang kerjaan!" "Perempuan gila!" "Kau harus mengatakannya sekali lagi untuk melihatku benar-benar gila." "Cinta memang membuat orang-orang tidak waras. Itu kenapa aku selalu melarang kalian jatuh cinta." Ia membuang muka. "Jika cinta membuat orang tidak waras, maka nafsu membuat orang menjadi bijak. Apa seperti itu yang kau maksud?" Sindirku. "Kau benar-benar.." Dia segera bangkit dari ranjangnya. Tangannya yang bebas, melayang di udara. Siap menamparku. "Lakukan, lakukan kalau kau berani!" Tantangku. "Hashh..." Tangannya turun tanpa menyentuh ku. Dia lantas berjalan menuju sudut kamarnya. Meraih kreteknya yang tergeletak di atas meja. Dengan santai dia memantik korek, asap segera mengepul di depan wajahnya. Matanya memberi isyarat agar semua orang keluar, kecuali aku -tentunya. Rub dengan ragu menjauh dari tubuhku, hilang di balik pintu. Aku berani bertaruh, dia dan Jils sedang menguping disana. "Aku tidak suka berbuat kasar pada siapapun." Katamu. "Tapi kau berbuat licik." Kau menyeringai. "Aku juga tidak pernah licik. Aku hanya melakukan apa yang perlu aku lakukan." "Termasuk membuang orang?" Cecarku. "Aku tidak membuang Doja." "Aku bahkan tidak mengatakan bahwa kau membuang Doja. Kau mengakuinya sendiri." Dia mendesah. "Kau memang gadis yang pintar." "Dan jauh lebih pintar dari yang kau kira." Tambahku. "Bisakah kau bersikap lebih baik padaku? Seperti kau bersikap manis pada Doja." "Aku akan melakukannya jika kau mengembalikan Doja." Dia kali ini menatapku. "Jane..." Dia mengambil jeda. "Itu sangat disayangkan jika kau mencintai Doja." "Itu hakku." "Kau bisa memilih cinta yang lebih strategis." "Cinta bukan bisnis, Hang!" "Jangan memanggilku Hang, aku ayahmu!" "Ayah macam apa yang membuang anak-anaknya." "Aku tidak pernah membuang mereka!" "Tapi kau membunuh mereka!" "Aku tidak membunuh mereka!" "Kau hanya membuat mereka bunuh diri." "Itu hanya kebodohan yang mereka lakukan sendiri." "Karena kau banyak menekan mereka." "Cukup Jane!" "Dan satu anak kesayanganmu akan melakukan kebodohan serupa, jika kau tak mengembalikan kekasihnya." Dia tertawa, kecut. "Kau benar-benar menyukainya ternyata. Apa yang sudah dia lakukan padamu?" "Banyak! Kau akan pingsan jika aku menjelaskannya." "Aku bukan anak-anak yang bisa kau bohongi." "Baguslah. Jadi kau tau bahwa aku juga tidak berbohong tentang bunuh diri." "Jangan berbuat gila." "Itu hak ku." "Kau tidak punya hak apa-apa..." "Kau bukan Tuhan. Aku bisa mati kapan saja. Kembalikan Doja. Atau kau yang akan aku bunuh, sebelum aku bunuh diri." Kau kembali tertawa. "Kau sangat baik dalam hal mengancam." "Itu adalah keahlianku yang tidak kau ketahui." "Rupanya aku menjadi ayah yang lalai." "Dan akan dibunuh anaknya." Sambarku. Tawamu reda. "Aku tidak sedang bernegosiasi, atau kau akan masuk peti mati lebih cepat dari yang kau kira." Tegasku. "Kau..." Dia geram. Tapi aku terlanjur tak peduli. Aku berbalik dari hadapannya. Berjalan menuju pintu. Kubuka, dan kubanting sekeras yang kubisa. Seperti yang kuduga, Jils dan Rub disana. Wajah mereka segera pucat saat melihatku. "Kau baik-baik saja?" Mereka bersamaan. "Kelihatannya kalian yang tidak baik-baik saja." Aku segera berlalu dari hadapan mereka. Melangkah panjang dan kasar. Kutabrak beberapa lengan penjaga dengan angkuh. Aku benar-benar marah. Dan aku siap menghitung mundur untuk kematian Hang, jika dia tak mengembalikan Doja. Aku menghambur di jalanan sepi, dengan hati semakin panas. Nyeri. Seperti menanggung sakit yang gunung. Siap meletus, bahkan tanpa gempa. "Kau sebaiknya membuat debut dengan lagu Hurt, seperti Christina Aguilera." Jils mengejarku. Diikuti Rub di sampingnya. "Juga akan bagus jika kau berduet dengan Rub untuk menyanyikan The sound of you coming." "Oh?" "Itu Gain?" Rub memastikan. "Ya, dan Minseo." Tegasku. "Kau benar-benar gila!" Jils mendorong tubuhku dari belakang. "Aku lebih gila dari yang kau kira!" "Apa yang telah dilakukan Doja sampai kau segila ini!" "Dia menghamiliku." Aku asal. "Hei Jane!!!" Mereka serentak. Aku berhenti sejenak. Memutar tubuh untuk menghadap mereka. Tubuh mereka hampir menabrakku. "Apa kalian percaya?" "Tidak. Dia seorang Budha yang baik." Rub gagap. "Baguslah." Aku lantas berlalu. "Dan kau harusnya jadi Bunda Teresa." Jils mendengus "Entahlah, siapa diantara kita bertiga yang paling gila." Keluh Jils. Aku akhirnya diam. Lelah. Sakit. Bahkan untuk menangis saja aku tidak bisa. Doja, kau dimana? "Kau pasti sangat mencintainya." Gumam Jils, seolah dia tau apa yang aku pikirkan. Aku sangat merindukannya. ... Setidaknya, aku punya Jils dan Rub. Bukan untuk menggantikan Doja, tapi untuk menahan air mataku agar tidak jatuh. Ini tiba-tiba terbendung sendiri, tidak mau menetes. Meski sayat seolah hidup di dadaku, berderak, dan mencairkan luka tanpa darah. Aku seperti akan mati tanpa perlu bunuh diri. Aku juga siap membunuh Hang, tanpa perlu menusuknya. Aku ibarat bara, siap membakar siapa saja. "Kau tidak akan berhasil membunuh Hang jika tidak makan." Itu adalah usaha kesekian yang dilakukan Jils untuk membuatku menyentuh nasi. "Aku percaya tenung. Tanpa tenaga, aku bisa membunuhnya." Rub menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau benar-benar seperti dukun." Keluhnya. "Setidaknya minumlah. Kau sudah melewatkan setengah hari tanpa menyentuh makanan." "Kau juga akan melakukannya jika kehilangan orang yang kau cintai." Balasku. "Kau kira hanya kau yang mencintai Doja?" "Kami juga mencintainya." Timpal Rub. "Berani-beraninya kalian mencintai kekasihku?" "Huahh...kau benar-benar posesif." Gerutu Rub. "Bahkan aku tidak tahu, dia akan kembali dalam keadaan hidup atau mati." Aku menggumam pada diriku sendiri. "Hidup di sarang mafia seperti ini, jauh lebih menakutkan dari yang ku kira." Lanjutku. "Dia benar-benar sakit jiwa." Rub setengah berbisik pada Jils. "Dan aku akan mati sebentar lagi." "Matilah, dan semoga bertemu dengan Doja disana." Jils kesal. "Apakah itu surga yang sama?" Rub masih bodoh. "Aku bahkan tidak yakin mereka bisa duduk di surga." Jils jauh lebih pintar. Aku tetap terdiam. Selanjutnya melamun. Kemudian bangkit dari tempat duduk. Berjalan ke arah pintu belakang. Aku keluar menuju taman. Duduk di salah satu kursinya. Meletakkan kepala di meja. Dingin menyengat. Tapi aku tidak peduli. Barangkali dingin ini bisa meredakan sakit. Atau, mungkin membunuhku. "Ini bukan musim panas Jane." Jils berteriak dari ujung pintu. "Aku suka musim dingin." racauku, lirih. Setiap kali musim dingin datang, Doja akan melepas jaketnya saat berjalan denganku, lalu memakaikannya padaku. Selanjutnya, dia akan memasukkan tangannya ke dalam saku jaket kami. Tanganku dan Doja saling menggenggam disana. Itu sungguh-sungguh hangat. "Kau, Doja ku. Sedang apa?" Aku kembali berbicara pada diriku sendiri. "Kau benar-benar ingin bunuh diri rupanya." Jils datang dengan membawa selimut. Dia memakaikannya di atas punggungku. "Percayalah, Hang akan mengembalikan Doja. Kecuali dia memang ingin menggali kuburnya sendiri." Hibur Jils. "Masuklah Jane. Diluar sangat dingin." Rub berteriak dari bibir pintu. "Masuklah Jils. aku ingin sendiri." "Ada tempat yang lebih baik untuk duduk sendiri, tapi tidak di tempat ini. Kau gila, ini sangat dingin." "Jils, Aku akan segera masuk setelah puas duduk sendiri." "Aku tidak yakin kau bisa masuk setelah puas, karena kau bisa membeku terlebih dulu." "Dan kau, mungkin juga akan membeku disini." "Kau memang keras kepala." "Kau tahu itu. Lalu kenapa masih disitu?" "Percayalah Jane, aku sangat menyayangimu." "Aku percaya. Maka masuklah." Jils mendengus. "Aku akan membawa Doja kembali, untukmu." Katanya, lalu pergi. Aku harap, dia benar-benar melakukannya. ... Ini adalah senja di hari yang sama, dimana kau menghilang sebelum matahari muncul. Dan aku menunggu di bawah langit yang lepas, dingin. Berharap bahwa jantungku tiba-tiba membeku, dan mati. Aku ternyata tak akan bisa membunuh Hang, karena aku sendiri rapuh. Terlalu rapuh untuk menyadari bahwa kau begitu semu. Ya, kali ini kau adalah bagian paling semu dalam hidupku. Apakah ada atau tiada. Apakah kembali atau tidak. Apakah hidup atau mati? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, tempat ini memang keras. Jauh lebih keras dari tanah yang dijajah. Bahkan aku tidak bisa menjelaskannya, bagaimana sebuah cinta harus dilarang, dan dibayar nyawa. Hang memang biadab. Tapi, di satu sisi aku yakin. Hang punya ketakutan dalam dirinya. Dia tak mungkin selamanya menjadi iblis. Ah, dia bahkan tampak seperti malaikat. Memungut orang-orang sepertiku, kamu, Jils, Rub, dan puluhan orang lain yang ada di bawah payungnya. Dia benar-benar seperti ayah di sebuah panti asuhan. Untuk orang-orang yang fakir mimpi. Tapi dia bisa melihat emas. Menyepuh kita. Menjadi gemerlap. Dunia lantas tidak menganggap kita abu semata. Kita adalah butiran yang berharga. Barangkali. Hang, dia memang punya dua wajah. Dan aku ingin menghancurkan salah satunya. Agar kau bisa kembali, dan kita bisa hidup seperti enam tahun yang lalu. Baik-baik saja. "Kau benar-benar menungguku?" suara itu, aku tahu. Semua orang juga tahu. Atau hanya aku, yang mengira bahwa ini akan berakhir pahit? "Kau pergi tanpa mengatakan apa-apa, dan kau pulang terlambat." suaraku bergetar. Aku berusaha mengangkat kepalaku dari meja. Kau tersenyum. Duduk, tepat di depanku. "Hang hanya mengirimku ke Golden Mount." Tuturmu. "Kenapa dia tidak mengirimku ke Vatikan?" Keluhku. Senyummu melebar. "Mungkin besok, saat kita menikah." Kelakarmu. Aku menyentuh wajahmu. Menyeka sisa darah di ujung pipimu. Kau terluka. "Apa dia yang melakukannya?" Tanyaku. Kau menggeleng. "Dia yang mengirimku pulang. Katanya, dia takut kau membunuhnya." "Apa aku harus percaya?" "Iya, dan kau harus memanggilnya ayah." Aku tersenyum, juga meneteskan air mata. "Shub mak mak ka." Kataku. Kau tersenyum. "Aku tidak percaya kau masih mengingatnya." "Aku mengingat banyak hal, jika itu tentang kamu." lirihku. "Kau semakin baik dalam mencintai." "Aku selalu baik. Hanya saja, kau tak menyadarinya." "Aku percaya." Katamu. Tanganmu meraih tanganku. Kau genggam dengan erat. "Kau harus hidup dengan baik, jika nanti Hang mengembalikanku ke Golden Mount." "Dia juga harus mengirimku. Aku ingin berbelanja di Sephora, sebentar saja." Kau kali ini tertawa. "Apa aku lucu?" Tanyaku. "Kau sangat menggemaskan dan cantik. Akan lebih cantik jika kau berhenti menangis." Jarimu menyeka air mataku. Tapi itu semakin membuatku ingin menangis. Semakin membuat lebar, rindu yang ada di dadaku. Aku ingin memelukmu, Doja. Aku terjaga, dengan mata yang basah dan hati yang hampa. "Aku tidak bisa melihatmu mati sendirian disini." Jils menyambutku saat membuka mata. Itu bukan kau, dan rasanya semakin menyakitkan. "Aku memimpikan Doja." gumamku. "Dia akan kembali, Jane." "Aku harap dia kembali sebelum aku mati." Pedihku. "Aku tidak tahu, kalau kau akan seperti ini." Rub seperti bicara pada dirinya sendiri. "Kita harus membawanya masuk." Jils berinisiatif. "Ya. Atau, dia akan mati disini." Rub sigap. Aku tak berdaya. Bahkan untuk menolak, aku tak punya sisa tenaga. Mereka membawa tubuhku dengan setengah tertatih. Mungkin juga sama terlukanya sepertiku. Hancur. Rapuh. Dan ingin mati saja. Hangat segera menyambut saat aku masuk ke rumah. Dan itu membangunkan kembali kenangan tentangmu, Doja. Bagaimana kau memelukku, menjadikanku begitu hangat di bawah lenganmu. Itu adalah masa paling indah, yang mungkin tidak akan terulang. Kau benar-benar menyakitiku. Mereka membaringkan tubuhku di kasur. Lalu meletakkan handuk basah di keningku. Mungkin aku telah demam. "Kita harus menghubungi Hang. Dia harus tau kalau Jane sekarat." Suara Rub masih terdengar di telingaku. "Aku tidak butuh Hang." Gumamku. "Lakukan saja." Jils mengabaikanku. "Kau harus tetap hidup Jane, setidaknya untuk membunuh Hang jika Doja benar-benar mati." Rub sungguh-sungguh. Aku terdiam sejenak. "Kau benar Rub. Aku harus membunuhnya." Lalu segalanya semakin samar. Redup. Lirih. Lesap dan hilang. Tapi aku ingin merangkai sesuatu -mimpi yang indah. Setidaknya, Doja harus muncul sekali lagi. Dan aku harus dikirim ke Vatikan, untuk menikah denganmu, Doja. Aku harap, aku tidak mati sia-sia. Karena aku harus membunuh Hang. Untukmu.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Sebagai Apa?

Sebagai apa kau datang padaku? Jika malaikat bertanya Tentang sayap yang tidak kau punya Tanpa patah Sebagai apa kau meminta padaku? Jika waktu menuntut Sempat yang tak pernah mengetuk Tanpa hilang Sebagai   apa kau cinta padaku? Jika hati mendakwa Tentang belenggu yang tidak kau lepas Tanpa lari Sebagai apa kau menyerah padaku? Jika jiwa menolak Tutur yang belum terungkap Tanpa sajak Menghabisi aku Tidak akan mengekalkanmu sebab sebagai apa kau mewujud? Tanpa nyawaku. (catatan di bulan 12 pukul 18.18)