Dunia
"Apa aku harus membawakanmu dunia? Agar kau..."
"Jangan berandai-andai. Sedangkan di dunia yang kecil ini, kau hanya menumpang. Jangan menawarkan sesuatu yang lebih besar dari genggamanmu. Itu membuatmu semakin kecil."
"Aku hanya ingin membuktikan bahwa..."
"Maka tidak pernah ada bukti berwujud kata-kata. Itu hanya alibi."
"Kau selalu membunuh kalimatku, bahkan sebelum aku menyudahinya."
"Itu lebih baik, daripada kau yang membunuhku, dengan harapan palsu."
"Kau aneh."
"Aku hanya manusia yang memiliki nenek moyang di zaman batu, dan memegang teguh apa yang telah mereka berikan."
"Apa?"
"Hati yang batu!"
"Kau tidak pantas hidup di dunia."
"Aku juga tak menghendakinya. Dunia!"
ikan
Ada lelucon tentang nama-nama ikan, dan manusia tertawa. Aku tidak, sebab ikan tidak pantas untuk ditertawakan. Ia bukan badut, bukan kau yang hanya ingin membual dengan segala cerita lucu. Bukankah kau tidak pernah tau, bagaimana rasanya hidup di air, dan kau harus bernafas disana. Itu sulit. Lalu kau bilang mudah. Setelah itu kusuruh kau menenggelamkan wajah ke dalam air.
"Tidak mungkin. Aku adalah manusia, aku tidak mungkin bertahan hidup dengan kepala di dalam air."
"Lalu jangan pernah menganggap bahwa ikan bisa hidup mudah disana. Dan jangan memaksanya untuk bisa hidup saat keluar dari air, apalagi menertawakannya."
"Ia hanya hewan. Kau tak perlu berlebihan."
"Kau tidak akan disebut manusia
jika tidak ada hewan."
"Kau aneh." Sekali lagi.
"Maka kau tidak aneh."
Kau diam.
"Hanya karena aku berbeda, kau bilang aku aneh. Sedangkan kamu, meski kau sama dg kebanyakan orang, aku tak pernah menyamakanmu dengan siapapun. Aku takut kau tersinggung."
"Ternyata kau punya perasaan."
"Selalu, orang-orang sepertimu mengintimidasi orang-orang sepertiku, seperti ikan. Kau mengira aku tak punya perasaan dan kau punya, kau anggap ikan hanya hewan remeh dan kau adalah manusia yang patut diagungkan. Orang-orang dengan perasaan selalu seperti itu, menganggap yang lain hanya boneka, menganggap ikan, hanya sisik saja."
"Kau menghinaku?"
"Kau tidak suka?"
"Kau keterlaluan."
"Ikan bahkan tak pernah mengatakan kau sebagai orang yang keterlaluan, meski kau memanggilnya ikan!"
Berputar.
Teman-teman
Ada sebuket bunga datang kepadaku. Dari seorang saudagar.
"Harusnya kau tersentuh." Ada yang berbicara seperti itu.
"Dia bahkan bisa memberiku sekotak emas, jika dia mau. Dia tau aku gembel, aku tidak butuh bunga, aku butuh emas."
"Kenapa bukan uang?"
"Karena aku tidak ingin uang."
"Tapi emas dibeli dengan uang."
"Dan saat seseorang membelinya, ia telah melakukan sesuatu."
"Kau aneh."
"Iya!" (1)
...
Ada seseorang memberikan setangkai mawar padaku. Bunganya layu. Beberapa telah runtuh. Aku melihat ada bekas darah diantara durinya.
Aku tersenyum, menyambutnya takjub. Kujadikan teman tidur.
"Kau tak suka sebuket bunga, tapi terbuai oleh tangkai yang layu."
"Yang memberiku bunga ini, Ia sangat miskin. Kakinya pincang. Ia bekerja di dekat taman bunga. Ia pasti telah mencurinya untukku."
"Kau bahkan bahagia mendapat bunga curian."
"Aku tak melihat ini sebagai bunga."
"Lalu sebagai apa?"
"Sebagai nyawanya!" (2)
...
Seseorang datang dan pergi lagi membawa sepeda kayuh yang aku punya. Lalu ia kembali, dengan empat biji gorengan yang masih hangat. Aku tau siapa dia, tapi tak melihat wajahnya. Ia tak mengatakan apa-apa, dan juga tak mengatakan bahwa itu untukku. Ia hanya meletakkannya di piring. Lalu menghilang.
Aku melahapnya, sambil menangis.
"Kenapa kau menangis?" Seseorang yang bukan dia, mulai bertanya.
"Aku lapar."
"Kau menangis hanya karena lapar? Sedangkan kau kini telah melahap makanan di mulutmu."
"Ini bukan makanan."
"Lalu apa?"
"Ini adalah isi terakhir dari dompetnya." (3)
Aku duduk bersama empat orang asing, dan dua orang teman yang telah lama aku kenal. Ini adalah antrian panjang untuk sebuah tiket pertunjukan di atas awan.
Orang-orang mulai berkenalan, dan bercerita satu sama lain. Aku hanya diam.
"Apa kau tak mau berbicara." Salah satu orang asing bertanya.
"Aku akan berbicara jika kau mengajakku berbicara."
"Kau tidak ramah."
"Aku hanya tidak suka basa basi."
"Kau ketus."
"Itu hakku."
"Kau akan terlihat buruk jika terus seperti ini."
"Maka masukkan aku kembali ke dalam perut ibuku jika kau ingin aku baik."
"Kau aneh."
Sebelum aku membuka mulut lagi, seorang temanku menyela.
"Kudengar tadi kau lapar, aku juga lapar. Bisakah kita makan sekarang?"
Aku bangkit. Dan temanku.
Aku tidak lapar, dia juga tidak. Tapi setelah itu aku jatuh cinta padanya. Hanya jatuh cinta, apa salahnya? (4)
Aku menyodorkan sebuah cermin kecil pada temanku. Dia menerimanya.
Aku tak mengatakan apa-apa, Ia juga tak menanyakan apa-apa. Aku dan dirinya tau, cermin digunakan untuk apa.
Ia lantas menyeka sisa es krim yang menempel di ujung bibirnya, lalu tersenyum padaku.
Ia melakukan itu, tepat sebelum wajahnya terangkat untuk menghadap puluhan orang yang menunggunya berbicara.
"Aku lebih memahami banyak makna dengan membaca, dan aku percaya bahwa tulisan, bukan satu-satunya hal yang bisa dibaca." Katanya.
"Kalau ucapan?" Seseorang bertanya.
"Bahkan tidak semua ucapan bermakna."
Ia benar. (5)
Cinta.
"Apa kau pernah memikirkanku?" Ikan-ikan bertanya pada nelayan.
"Ya, jika tidak. Aku tidak mungkin datang kesini."
"Tapi kemarin kau tak mengatakannya, bahwa kau akan datang lagi."
"Apa sebelum-sebelumnya aku juga mengetuk pintu pantai ketika akan datang?"
Ikan-ikan menggeleng. Lalu menyerah dengan sukarela pada kail-kail nelayan.
Itulah cinta. Meski ikan-ikan tau, ia hanya akan jadi bangkai setelahnya. (1)
"Apa kau pernah mendengarkanku?" Ikan
"Apa kau pernah memahami apa yang aku katakan?" Ikan
"Apa kau pernah memahami apa yang kau katakan?" Ikan
"Jika tidak, maka jangan memintaku bicara lagi!" Ikan
:Kenapa?
"Kau seharusnya tidak menggunakan kata 'kenapa'?" Ikan
:Kenapa
"Karena aku tau kau akan mengulanginya lagi." (2)
"Apa cinta itu baik?"
"Sangat."
"Kukira kau tak percaya pada cinta."
"Kau benar."
"Lalu kenapa kau bilang cinta itu sangat baik?"
"Karena ia penuh pengorbanan. Ia bahkan selalu baik-baik saja."
"Kau sepertinya paham dengan cinta."
"Ya. Itu kenapa aku bisa melihat mana yang cinta dan mana yang tidak."
Kita tertawa.
"Lalu kenapa kau tidak percaya cinta?"
"Aku takut, ketika aku percaya, cinta malah mengkhianatiku."
"Kau berlebihan."
"Itu lebih baik, dari pada kekurangan." (3)
"Kau harus berkorban."
"Bagaimana jika tidak?"
"Maka orang lain yang berkorban untukmu. Atau, kau akan mengorbankan orang lain."
"Lalu aku akan jadi tersangka karena banyak korban?"
"Ya."
"Maka biarkan aku yang berkorban."
Cinta. (4)
"Apa aku bisa membuatmu jatuh cinta?"
"Jangan bertanya."
"Kenapa?"
"Kau tidak akan bisa."
"Aku akan berusaha."
Setelah itu, ada luka. (5)
"Apa aku harus membawakanmu dunia? Agar kau..."
"Jangan berandai-andai. Sedangkan di dunia yang kecil ini, kau hanya menumpang. Jangan menawarkan sesuatu yang lebih besar dari genggamanmu. Itu membuatmu semakin kecil."
"Aku hanya ingin membuktikan bahwa..."
"Maka tidak pernah ada bukti berwujud kata-kata. Itu hanya alibi."
"Kau selalu membunuh kalimatku, bahkan sebelum aku menyudahinya."
"Itu lebih baik, daripada kau yang membunuhku, dengan harapan palsu."
"Kau aneh."
"Aku hanya manusia yang memiliki nenek moyang di zaman batu, dan memegang teguh apa yang telah mereka berikan."
"Apa?"
"Hati yang batu!"
"Kau tidak pantas hidup di dunia."
"Aku juga tak menghendakinya. Dunia!"
ikan
Ada lelucon tentang nama-nama ikan, dan manusia tertawa. Aku tidak, sebab ikan tidak pantas untuk ditertawakan. Ia bukan badut, bukan kau yang hanya ingin membual dengan segala cerita lucu. Bukankah kau tidak pernah tau, bagaimana rasanya hidup di air, dan kau harus bernafas disana. Itu sulit. Lalu kau bilang mudah. Setelah itu kusuruh kau menenggelamkan wajah ke dalam air.
"Tidak mungkin. Aku adalah manusia, aku tidak mungkin bertahan hidup dengan kepala di dalam air."
"Lalu jangan pernah menganggap bahwa ikan bisa hidup mudah disana. Dan jangan memaksanya untuk bisa hidup saat keluar dari air, apalagi menertawakannya."
"Ia hanya hewan. Kau tak perlu berlebihan."
"Kau tidak akan disebut manusia
jika tidak ada hewan."
"Kau aneh." Sekali lagi.
"Maka kau tidak aneh."
Kau diam.
"Hanya karena aku berbeda, kau bilang aku aneh. Sedangkan kamu, meski kau sama dg kebanyakan orang, aku tak pernah menyamakanmu dengan siapapun. Aku takut kau tersinggung."
"Ternyata kau punya perasaan."
"Selalu, orang-orang sepertimu mengintimidasi orang-orang sepertiku, seperti ikan. Kau mengira aku tak punya perasaan dan kau punya, kau anggap ikan hanya hewan remeh dan kau adalah manusia yang patut diagungkan. Orang-orang dengan perasaan selalu seperti itu, menganggap yang lain hanya boneka, menganggap ikan, hanya sisik saja."
"Kau menghinaku?"
"Kau tidak suka?"
"Kau keterlaluan."
"Ikan bahkan tak pernah mengatakan kau sebagai orang yang keterlaluan, meski kau memanggilnya ikan!"
Berputar.
Teman-teman
Ada sebuket bunga datang kepadaku. Dari seorang saudagar.
"Harusnya kau tersentuh." Ada yang berbicara seperti itu.
"Dia bahkan bisa memberiku sekotak emas, jika dia mau. Dia tau aku gembel, aku tidak butuh bunga, aku butuh emas."
"Kenapa bukan uang?"
"Karena aku tidak ingin uang."
"Tapi emas dibeli dengan uang."
"Dan saat seseorang membelinya, ia telah melakukan sesuatu."
"Kau aneh."
"Iya!" (1)
...
Ada seseorang memberikan setangkai mawar padaku. Bunganya layu. Beberapa telah runtuh. Aku melihat ada bekas darah diantara durinya.
Aku tersenyum, menyambutnya takjub. Kujadikan teman tidur.
"Kau tak suka sebuket bunga, tapi terbuai oleh tangkai yang layu."
"Yang memberiku bunga ini, Ia sangat miskin. Kakinya pincang. Ia bekerja di dekat taman bunga. Ia pasti telah mencurinya untukku."
"Kau bahkan bahagia mendapat bunga curian."
"Aku tak melihat ini sebagai bunga."
"Lalu sebagai apa?"
"Sebagai nyawanya!" (2)
...
Seseorang datang dan pergi lagi membawa sepeda kayuh yang aku punya. Lalu ia kembali, dengan empat biji gorengan yang masih hangat. Aku tau siapa dia, tapi tak melihat wajahnya. Ia tak mengatakan apa-apa, dan juga tak mengatakan bahwa itu untukku. Ia hanya meletakkannya di piring. Lalu menghilang.
Aku melahapnya, sambil menangis.
"Kenapa kau menangis?" Seseorang yang bukan dia, mulai bertanya.
"Aku lapar."
"Kau menangis hanya karena lapar? Sedangkan kau kini telah melahap makanan di mulutmu."
"Ini bukan makanan."
"Lalu apa?"
"Ini adalah isi terakhir dari dompetnya." (3)
Aku duduk bersama empat orang asing, dan dua orang teman yang telah lama aku kenal. Ini adalah antrian panjang untuk sebuah tiket pertunjukan di atas awan.
Orang-orang mulai berkenalan, dan bercerita satu sama lain. Aku hanya diam.
"Apa kau tak mau berbicara." Salah satu orang asing bertanya.
"Aku akan berbicara jika kau mengajakku berbicara."
"Kau tidak ramah."
"Aku hanya tidak suka basa basi."
"Kau ketus."
"Itu hakku."
"Kau akan terlihat buruk jika terus seperti ini."
"Maka masukkan aku kembali ke dalam perut ibuku jika kau ingin aku baik."
"Kau aneh."
Sebelum aku membuka mulut lagi, seorang temanku menyela.
"Kudengar tadi kau lapar, aku juga lapar. Bisakah kita makan sekarang?"
Aku bangkit. Dan temanku.
Aku tidak lapar, dia juga tidak. Tapi setelah itu aku jatuh cinta padanya. Hanya jatuh cinta, apa salahnya? (4)
Aku menyodorkan sebuah cermin kecil pada temanku. Dia menerimanya.
Aku tak mengatakan apa-apa, Ia juga tak menanyakan apa-apa. Aku dan dirinya tau, cermin digunakan untuk apa.
Ia lantas menyeka sisa es krim yang menempel di ujung bibirnya, lalu tersenyum padaku.
Ia melakukan itu, tepat sebelum wajahnya terangkat untuk menghadap puluhan orang yang menunggunya berbicara.
"Aku lebih memahami banyak makna dengan membaca, dan aku percaya bahwa tulisan, bukan satu-satunya hal yang bisa dibaca." Katanya.
"Kalau ucapan?" Seseorang bertanya.
"Bahkan tidak semua ucapan bermakna."
Ia benar. (5)
Cinta.
"Apa kau pernah memikirkanku?" Ikan-ikan bertanya pada nelayan.
"Ya, jika tidak. Aku tidak mungkin datang kesini."
"Tapi kemarin kau tak mengatakannya, bahwa kau akan datang lagi."
"Apa sebelum-sebelumnya aku juga mengetuk pintu pantai ketika akan datang?"
Ikan-ikan menggeleng. Lalu menyerah dengan sukarela pada kail-kail nelayan.
Itulah cinta. Meski ikan-ikan tau, ia hanya akan jadi bangkai setelahnya. (1)
"Apa kau pernah mendengarkanku?" Ikan
"Apa kau pernah memahami apa yang aku katakan?" Ikan
"Apa kau pernah memahami apa yang kau katakan?" Ikan
"Jika tidak, maka jangan memintaku bicara lagi!" Ikan
:Kenapa?
"Kau seharusnya tidak menggunakan kata 'kenapa'?" Ikan
:Kenapa
"Karena aku tau kau akan mengulanginya lagi." (2)
"Apa cinta itu baik?"
"Sangat."
"Kukira kau tak percaya pada cinta."
"Kau benar."
"Lalu kenapa kau bilang cinta itu sangat baik?"
"Karena ia penuh pengorbanan. Ia bahkan selalu baik-baik saja."
"Kau sepertinya paham dengan cinta."
"Ya. Itu kenapa aku bisa melihat mana yang cinta dan mana yang tidak."
Kita tertawa.
"Lalu kenapa kau tidak percaya cinta?"
"Aku takut, ketika aku percaya, cinta malah mengkhianatiku."
"Kau berlebihan."
"Itu lebih baik, dari pada kekurangan." (3)
"Kau harus berkorban."
"Bagaimana jika tidak?"
"Maka orang lain yang berkorban untukmu. Atau, kau akan mengorbankan orang lain."
"Lalu aku akan jadi tersangka karena banyak korban?"
"Ya."
"Maka biarkan aku yang berkorban."
Cinta. (4)
"Apa aku bisa membuatmu jatuh cinta?"
"Jangan bertanya."
"Kenapa?"
"Kau tidak akan bisa."
"Aku akan berusaha."
Setelah itu, ada luka. (5)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusYaaaah komentarnya di hapus😂
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusEmang komennya apa? Belum sempet baca
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusCinta itu tidak pernah menyapa
BalasHapus