Langsung ke konten utama

Mencintai Dalam Diam

Mencintai dalam diam
Aku hanya butuh menikmatinya.
Seperti jatuhnya hujan,
yang memberi basah
dan meninggalkan keruh dalam genangan
Aku tak pernah mengusir
Biarkan turun
Biarkan datang
Jika sudah reda,
Barangkali ada sisa sejuk yang menguasa
Menumbuhkan kedamaian. 

Mencintai dalam diam
Aku hanya butuh mengabaikannya.
Seperti terik di sisi kemarau,
yang menyisakan retak di lapangnya belukar
juga kering di permukaan danau
Aku tak pernah mengutuk.
Biarkan singgah
Biarkan saja menggenapi musim
Jika sudah surut,
Ia menyembulkan kembang di pucuk pohon
Menerbitkan keyakinan. 

Mencintai dalam diam
Aku hanya butuh menyimpannya. 
Sendiri
Mengalir di dekat telaga hati yang bening. 
Tenang
Mengikuti arus yang selalu bertaut pada muara.
Akhirnya akan indah jua
Akhirnya akan manis juga

Mencintai dalam diam
Aku tak harus membisu
Lewat sajak aku bisa berseru
Meski tak pernah dipahaminya. 

Mencintai dalam diam
Siapa bilang tidak nikmat?
Saat ku seduh rindu dalam malam sepi,
Akulah yang paling bahagia.
Sebab esok, cintaku lebih besar lagi. 

Mencintai dalam diam
Apa kau tau?
Dalam doa, aku tak pernah se diam itu. 

Mencintai dalam diam. 
Ya, anggap saja diam. 
Tapi tetap saja, 
Nanti kau harus jadi jodohku.
Harus. 

Mencintai dalam diam,
Ah..aku tetap bahagia. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

WISMA UM (Mengenal Lebih Dalam Seluk Beluk Asrama Putri PPG UM)

ASRAMA PUTRI PPG UM Sebelas bulan tidak terasa, tiba-tiba sudah harus pulang saja. Rasanya baru kemarin tiba di tempat ini, melakukan check in di lobby , berbicara dengan ibu satpam, menerima kunci kamar, mendapat bonus gayung dan peralatan makan. Baru kemarin pula rasanya, tangan ini membuka pintu kamar, melihat kamar baru yang akan kami tinggali, lengkap dengan perabotannya yang berbahan kayu jati -kasur, lemari, meja belajar dan kursi. Baru semalam rasanya,  memasukan baju dan menatanya ke dalam lemari, menyusun beberapa buku di atas meja, membuka selimut baru yang disedikan pihak LP3, dan bertukar beberapa sprei dengan tetangga kamar. Baru semalam, iya, rasanya baru semalam perkenalan itu dimulai, tapi hari ini sudah harus pulang. Waktu memang begitu cepat berlalu, dan purnama kesebelas mengantarkan kami pada perpisahan yang cukup mengharukan. Tapi, semoga rasa kekeluargaan kami tidak akan pernah luntur. Sebelum pulang, sebelum sibuk dengan segala aktivitas baru, ...

Dunia : ikan, teman-teman, dan cinta

Dunia "Apa aku harus membawakanmu dunia? Agar kau..." "Jangan berandai-andai. Sedangkan di dunia yang kecil ini, kau hanya menumpang. Jangan menawarkan sesuatu yang lebih besar dari genggamanmu. Itu membuatmu semakin kecil." "Aku hanya ingin membuktikan bahwa..." "Maka tidak pernah ada bukti berwujud kata-kata. Itu hanya alibi." "Kau selalu membunuh kalimatku, bahkan sebelum aku menyudahinya." "Itu lebih baik, daripada kau yang membunuhku, dengan harapan palsu." "Kau aneh." "Aku hanya manusia yang memiliki nenek moyang di zaman batu, dan memegang teguh apa yang telah mereka berikan." "Apa?" "Hati yang batu!" "Kau tidak pantas hidup di dunia." "Aku juga tak menghendakinya. Dunia!" ikan Ada lelucon tentang nama-nama ikan, dan manusia tertawa. Aku tidak, sebab ikan tidak pantas untuk ditertawakan. Ia bukan badut, bukan kau yang hanya ingin membual denga...