Langsung ke konten utama

Postingan

Kepada Pengembara : yang meninggalkan tanda tanya

image source Aku telah mengabari pada apa-apa yang pergi, pada siapa yang menyisakan aroma tubuhnya di dekat jendela, pada bagaimana yang telah menumpahkan tanda tanya tanpa sepenggal jawaban tentang apa-apa yang telah kubawa bersama siapa yang menghabiskan ribuan tanya tentang bagaimana. Pupus. Yang kupelajari dibait-bait yang memenuhi tempat tidur, meja makan, dapur, kamar mandi, jalanan, juga matamu, sirna bersama apa-apa yang telah dicuri siapa. Lagi-lagi tentang bagaimana sepasang tangan yang telah mengambil, sedangkan jemarinya begitu lekat denganku. Taksa. Kupaksakan segala yang bersembunyi untuk keluar, di pagi hari, siang, sore, malam, dan di tengah larut yang menyimpan pekat. Untuk menemukan apa-apa yang telah ditinggalkan siapa. Masih tentang bagaimana dia pergi sedangkan kakinya tak beranjak dari menapaki permukaan hati. Sangsi. Tanpa saksi, bagaimana aku menemukan siapa yang telah memberiku apa-apa sekaligus mengambilnya. Kamu, cinta dan luka, tak ber...

Menulis Puisi 2 : Tetap Tekun Meski Masih Amatir

image source ... Ada kalanya, seseorang ingin memilih berhenti ketika tulisannya dianggap tidak mengalami  perkembangan, jarang mendapatkan pujian, atau bahkan berkali-kali kalah saing dengan tulisan orang lain. Pada titik tersebut, seseorang ingin berhenti, seseorang ingin menyerah. Tapi ingatlah, penulis tetap menulis, bukan menyerah.  ... Berbicara menulis puisi, agaknya memang tidak akan pernah ada habisnya. Pada artikel sebelumnya, saya telah membahas dua kiat utama dalam berikhtiar di ranah menulis puisi. 1. Membaca 2. Berpikir Sedikit mengulas artikel sebelumnya tentang pentingnya membaca sebelum menulis puisi. Saya menjelaskan bahwa membaca buku kumpulan puisi menjadi kunci utama untuk meningkatkan pengetahuan seseorang tentang puisi. Sekaligus, memposisikan dirir dalam memilih gaya menulis puisinya. Membaca puisi karya orang lain, tentu akan sangat menginspirasi seseorang untuk menulis puisi, tanpa harus menirunya secara utuh. Tidak ada larangan tentang ...

Tuhan, Pantaskah Aku Berhari Raya?

Hari ini tak banyak yang bisa ditulis. Apapun itu.  Rasanya sunyi dan merdu jadi satu. Mengepak dan menyesap dalam semu. Menyempurnakan taksa yang hadir, antara meyusut tangis sebab ditinggal bulan temaram, atau bahagia menjelangkan kemenangan. Bertaut jadi satu, dalam hati yang masih kesepian.  ... Selamat hari raya, untuk sisa hari yang menelurkan air mata. Bagi mereka yang terlanjur berkalang tanah. Kembali tak mungkin, melanjutkan segalanya terlanjur berat. Sebab waktu terlampau cepat untuk dimuliakan. Dipenuhi kesia-siaan yang menipu. Selamat hari raya, untuk hidup yang agaknya membahagiakan. Melewati letihnya puasa, dan gamangnya malam untuk menanti kebaikan. Sedikit tunduk, selebihnya hanya tertipu euforia. Hidup dalam pengejaran dunia. Lupa pada gaib nya pahala yang berderai. Menyesaki udara tanpa terkira. Hanya beberapa yang menghirupnya. Pada sepuluh malam yang bukan rahasia. Sesekali melenakan. Sesekali mewartakan cerita surga. Hidup adalah pentas, melenakan...

Malam Malam Yang Jalang

Di malam malam genap yang singkat, kau hadir membawa kejutan. Ini bukan lilin atau sepotong kue, yang layak disebut picisan. Ini tentang hadir, setelah lama kau menyisakan jejak. Saja. Di malam malam ganjil yang panjang, kau kembali hilang untuk melengkapi pencarian, ku. Ini bukan tentang kemana dan dengan siapa kau pergi, yang layak disebut dramatis. Ini tentang lelah, setelah sejenak kau membuat huru hara dalam kemayaan. Di malam malam yang akan berakhir, satu persatu tanya semakin santun bertamu, padaku. Tak meminta jawaban, tapi memintamu kembali. Kapan akan datang lagi? . . Jeda, menganga di antara detik yang rapat. Nyatanya, ini melahirkan siksa tersendiri untukku. Mengambil nafasku lewat tunggu, tak sampai habis. Hanya menunggu lenguhku yang perih. Mati, aku tidak merasa. Hidup, rasanya sia-sia juga. . Apakah cinta semenyakitkan ini? Sedangkan aku hanya diam memeliharanya. Tak melimpahkan padamu. Tak berharap kau mengerti, jua membalasnya. Cukup santunlah dalam menuang ha...

Jika Ini Telah Usai

Memulai saja belum, Lantas kenapa aku begitu resah dengan sebuah akhir? Pisah yang tak pernah diawali dari hubung. Luka yag tak pernah dimulai dengan kasih. Lalu kenapa? Semu ini menakutiku, tentang esok, dan segala mungkin yang hendak menjenguk tidak. Tabuh saja perang, jika bisa menuju akhir. Nyatanya, memulai saja, aku tak pernah berani. Jika ini telah usai, Akankah kau salah mengerti? Tentang nama yang akhirnya kupilih? Bahwa meski itu fiktif, aku tak lagi meneguhkan namamu. Terlalu besar beban, hingga cinta memilih bungkam. Bersembunyi di balik nama nama yang pendar. Apakah kau akan salah mengerti? Dan akhirnya berpikir, bahwa aku tak pernah menjadikanmu sebagai satu satunya. Dunia, Cinta, Dan kamu, Di daratan mana kita pernah bertemu? Adakah itu cadas? Kenapa sekeras ini menempaku? Berpura-pura biru ditengah haru yang barbar. Kusuguhkan kenyataan, kau tak muncul. Apa dengan kebohongan, kau akhirnya akan bertanya? Tentang siapa yang sebenarnya kusebut dalam sajak-sajakku? ...

Pada Kalam yang Mengembun

Sepi, kalam mengembun Terlalu pagi. Adakah sisa yang masih berderak? Di bawah langit tak berbulan? Semalam Kuncup memendar resah Meninggalkan perih di liang tuju Seketika raup menebar Hilang Sajak tak tumbuh di dekat pagar. Ini kali, Kata mengandung riba Ada anak beranak Menyemai rindu di tepi belukar. Apa ada yang mengerti? Jika indah adalah terka yang dalam Maka kujamu semesta dengan payau majas Apakah puas? Menimba saran tak selalu dengan pena Tinta bisa saja durhaka Pada empu yang kabur Kukira ini tak pernah bemakna Sebab mantra tak dirapal Juga diduga. Tutup saja kuburmu, Dengan jarimu sendiri. Aku ingin berselimut sepi, Di malam tak berbintang Yang menebar abu-abu terlalu dini. Itu indah? Aku tak peduli.

Teka-teki Tentang Kamu; catatan seorang penggemar rahasia

Sudah lewat delapan purnama, sejak terakhir kali kita menyeduh temu, dan aku meneguk senyummu. Lama. Berlalu. Tapi rindu itu semakin mengental, mencemari aku sampai akar. Sesekali, aku mencoba berpaling. Namun nyatanya, mengagumimu seperti ini begitu nikmat. Sungguh nikmat. Tentang kamu, Hanyalah rahasia, yang hanya aku, Tuhan, dan seorang sahabat yang tahu. Selebihnya, kau adalah abu-abu di mata dunia. Semakin diterka, wujudmu akan semakin fana. Sebab kamu, iya kamu, hanya kuberi ruang di satu-satunya dinding maya. Hanya maya. Bagaimana aku, Bertemu kamu dalam suatu peristiwa yang luar biasa. Berawal dari asing, kita menjadi hati yang seolah-olah melunak pada waktu. Tidak lama. Hanya terhitung minggu, bulan yang tak pernah tiba pada tahun. Tapi aku, mengekalkanmu sebagai rindu. Entah sampai kapan. Jika saja, Kau tak pernah muncul di sebuah pagi yang terlambat mengantar embun, di sebuah terik yang memberaikan tali sepatu, dan sebuah petang yang mendayu sebab lagu, mungkin aku ...