Langsung ke konten utama

Postingan

Sepasang Mata di Rumah Sakit (Jiwa)

Apa setelah orang-orang menjadi gila, mereka tidak waras? Tentu saja. Tapi orang-orang gila, telah memenangkan dirinya sendiri, dalam perang sengit melawan kenyataan. Aku masih ingat dengan baik, bagaimana aku yang gila ini, bertemu dengan kamu; seseorang yang pada akhirnya mengakui, bahwa kewarasan bukanlah hakikat. Kegilaanlah yang punya esensi. Aku tau, aku bisa melihat dari caramu hadir dan ada, meski saat itu kita masih sama-sama terantuk pada satu kata; asing. Dan diam menjadi pilihan terbaik untuk orang-orang asing. Meski aku dan kamu, punya tujuan yang sama : menjadi orang gila. Atau, kita telah gila saat itu. Hanya saja kita belum datang, oh belum sampai, dan belum tinggal di rumah sakit (jiwa). Kita masih cukup angkuh untuk sekadar mengatakan 'hai', demi menunjukkan satu hal ;aku yang paling gila. Tapi aku baru sadar, aku tidak pernah angkuh, tidak cukup punya keangkuhan untuk menjadi angkuh di depanmu. Karena, aku tidak bisa angkuh pada orang-orang yang memb...

Dunia : ikan, teman-teman, dan cinta

Dunia "Apa aku harus membawakanmu dunia? Agar kau..." "Jangan berandai-andai. Sedangkan di dunia yang kecil ini, kau hanya menumpang. Jangan menawarkan sesuatu yang lebih besar dari genggamanmu. Itu membuatmu semakin kecil." "Aku hanya ingin membuktikan bahwa..." "Maka tidak pernah ada bukti berwujud kata-kata. Itu hanya alibi." "Kau selalu membunuh kalimatku, bahkan sebelum aku menyudahinya." "Itu lebih baik, daripada kau yang membunuhku, dengan harapan palsu." "Kau aneh." "Aku hanya manusia yang memiliki nenek moyang di zaman batu, dan memegang teguh apa yang telah mereka berikan." "Apa?" "Hati yang batu!" "Kau tidak pantas hidup di dunia." "Aku juga tak menghendakinya. Dunia!" ikan Ada lelucon tentang nama-nama ikan, dan manusia tertawa. Aku tidak, sebab ikan tidak pantas untuk ditertawakan. Ia bukan badut, bukan kau yang hanya ingin membual denga...

Kepada Kita

Segalanya hanya tentang maya yang terlampau nyawa untuk menafkahi kita. Iya kita. Aku tak mengatakan itu kamu, atau aku. Sebab nyatanya kita telah sama terluka dan menang -karena kita diam. Dari celahmu, kau melihat aku seperti hati yang hidup, bahagia, menyentuh musim dengan segalanya beraroma semi. Sedang di balik itu, di balik bayangan yang kau bahkan tak pernah melihat, ada lengang ; luka abadi. Jatuh sebagai air mata di sebuah malam yang kau untuk kesekian kalinya menyapa, seperti balita. Kau ; aku bahkan tidak tahu seperti apa wujudmu. Bahkan untuk sekadar tau bagaimana aroma tubuhmu, aku tak pernah membayangkan. Yang aku tau, aku seperti melihat aku dalam dirimu. Membawa luka kemana mana. Darah yang merah -metafisik. Hanya aku, dan seutas Indra bukan lima dapat melihatnya. Sebab aku dan kau sama, hanya saja tak mau mengakuinya. Apakah itu kau atau bukan, sekadar takdir atau malah akhir dari segalanya, aku hanya ingin melihat kau satu kali saja. Satu kali lagi. Satu kali unt...

Fake ; Doja

Aku sedang menggadaikan duniaku, pada sandiwara yang musykil. Taruh yang terlampau murah untuk sebuah hati yang selamanya tidak akan pernah jatuh cinta -lagi. . Kehilangan; darah yang merah kental mengalir di sepanjang apa-apa tak pernah dilihat namun mengeras. Berkabung setelah sumpah serapah tak pernah menyerah menyerang sesuatu yang sesungguhnya telah luluh lantah. . Apa yang bisa dikembalikan, setelah lari terlanjur jauh? Menata pada apa apa yang dianggap abadi, namun tak lebih dari surga yang semu. . Mata yang tak pernah tau, apa arti dari berpura-pura tersenyum, sedang hati terus menjerit untuk memekikkan nama -nya, Selamanya tidak akan pernah mengerti tentang sejak kapan aku mengenal rollei dan kenapa! Barangkali itu hanya sebuah diksi yang acak lalu melahirkan senyum kucing dan anjing, tapi lebih dari itu, ada gagasan yang tinggi tentang kemerdekaan yang mati. . Ada orang yang hanya tau cara menghitung kebahagiannya sendiri, tanpa tau ada hati yang pucat me...

My All : From Jane

Aku adalah apa-apa yang ka u lihat saat pertama kali datang di sebuah negeri asing. Sebagai orang yang masing-masing asing. Menjadi pertama dan kedua dalam huni. Sebagai kakak, kau awalnya memanggilku. Hal yang selanjutnya membuatku butuh waktu begitu panjang -juga sakit yang begitu kembang, untuk menyadari bahwa aku mencintaimu. Doja! ... Itu adalah sebuah masa, dimana kita sama-sama masih remaja. Melewati masa yang benar-benar sulit, yang cukup ingusan untuk sekadar membahas cinta. Seperti saat pertama kali kau datang, gelap dan kurus, untungnya bukan gelandangan. Dengan tas punggung yang besar, menenggelamkan kepalamu. Saat itu, aku tidak yakin bahwa kau akan baik dalam segala hal, seperti kata orang-orang. Orang-orang yang membuatku menunggu kakimu bergerak, melunaskan hutang penasaranku padamu. Benar. Kau punya kaki panjang yang kuat menghentak. Tegas. Saat itu, aku sadar, aku tidak akan baik-baik saja. ... Ada debar yang tidak wajar, kemudian menjadi keharusan yang muncu...

miss ; rindu -dalam bahasanya

Ada langit jingga terbelah, di atas atap tempatmu pernah hidup teduh. Menyalakan lilin, menggelar makan malam. Dengan cahaya bintang rebah di pangkuanmu, nya, nya, dan nya yang entah kenapa, hanya salah satu akhirnya kau jadikan rindu. -tunggu, aku ingin tertawa. Kau, seandainya memang sedang jatuh cinta, lalu mengandung rindu dalam dadamu, padanya -si suara bayi itu. Apa kau tidak pernah berpikir, berapa orang yang telah menggigil melihat tanda-tanda yang kau buat dengannya. Seperti merah ceri, yang membuat orang-orang tiba nyeri. Membuat orang-orang jadi lihai berandai andai. Lalu, mengubah pendar siluet jadi caya, menggambar wajahnya. Wah, kali ini kau sakit jantung harusnya. "Dunia terlalu sempit untuk mewakili segala sesuatu." Katamu. Segala sesuatu? Apa itu perasaanmu? Yang kau sembunyikan di setiap celah bumi, tapi seekor gajah pun mampu mengendusnya. Kau bersembunyi dari perasaan cinta, yang aromanya telah tercium jauh di Alaska. Entah siapa pernah tinggal dis...

Suhu Gi di Mars - 2

Hal-hal yang menyesakkan  selain rindu, Ialah masa lalu Saat itu, Aku tak menyebut nama siapa-siapa. Juga tak merapal apa-apa. Aku hanya menggantung perasaan di bawah langit yang tak pernah disinggahi kabut. Hanya aku yang mengatakan seperti itu. Bahwa tak pernah ada kabut antara mataku dan lembar-lembar langit. Sampai-sampai kabut itu membuatku terjatuh. Kepada kamu. Kau membisikkan itu pada dirimu sendiri, seolah-olah aku tidak mampu mendengarnya. Tidak tahukah kamu? bahwa detak jantungmu pun, aku bisa mendengarnya. ... Suhu Gi dan sepenggal masa lalunya di bumi Suhu Gi yang kulihat hari ini, adalah buah dari benih-benih cintanya yang cemar. Menodai setiap aliran darahnya. Menyisakan luka menganga di antara sela-sela nadinya. Suhu Gi hari ini, hanya sosok yang hampa. Suhu Gi terlalu sering kehilangan cinta. Sebelum Suhu Gi memilih hidup seperti ini –menempuh jalan suci di Mars, Suhu Gi adalah sepenggal hati yang pernah merasakan mekar. Berbunga....