Langsung ke konten utama

Postingan

mo chuilse

seperti raksa, itu membakar; membuatnya mengerti, mungkin sekaligus jera. bahwa tidak baik berilusi; dengan hal-hal yang nyata, misalnya dengan manusia. ... Lucunya dia selalu salah tempat, waktu, dan orang untuk sekadar suka, atau barangkali dia telah jatuh cinta, lagi, kesekian kali, dengan mudah, barangkali sulit untuknya, atau, lagi, orang yang tepat terlalu bodoh untuk membuatnya jatuh cinta, dan gejalanya begitu, begitu saja, ia mulai suka mendengarkan lagu-lagu melankolis, membaca buku cinta-cintaan, dan kembali membuka quora untuk membaca jawaban yang serius dari pertanyaan sederhana, untuk apa? untuk membuat jawaban-jawaban baru yang akan mengalihkan perasaannya, pada apa? tawa yang palsu. Dia bilang, itu intelegensi. "Kau tau Musèe du Louvre ?" tanyanya.  "Tidak." "Ya seperti perasaanku, kau juga tidak tahu." "Memang seperti apa?" "Itu seperti api. Kalau aku buka, ia membakar." "Lalu kalau kau tutup?" "Aku yang ...

Apel dan Pluto : Dendamnya yang Barbar

Racun baginya seperti obat, ramu yang mampu membuatnya jaga, dan kembali menuang luka lewat tangannya yang cacat. katanya, orang-orang bisa berubah, tapi tidak dengan masa lalu. membuangnya atau mengambilnya kembali adalah sebuah pilihan, akan menjadi bijak atau picik. kukira dia sudah terlalu sibuk dengan berita-berita masyhur yang muncul di radarnya, tentang seseorang yang belum jadi orang, tapi pagi ini telah memberi kabar, 'aku telah sebesar buah apel'. sejenak membuat ia tersenyum, melupakan air mata yang semalaman badai, dan darah yang pagi tadi masih segar, setelah ia ditusuk prasangka. Agaknya aku terlalu tanggung memilih narasi, membuat maknanya jadi dangkal. Ada di permukaan. Selebihnya, asal ia tak tau dan tidak peduli, aku masih merasa aman. Di bawah jamur yang payung, memekar teduh yang berdikari. Rasanya menakjubkan punya ruang untuk mengambil tempat duduk sebagai orang yang menceritakannya, membicarakannya. sebesar buah apel yang ditungguinya, sejak pertama ...

Sepasang Mata di Rumah Sakit (Jiwa)

Apa setelah orang-orang menjadi gila, mereka tidak waras? Tentu saja. Tapi orang-orang gila, telah memenangkan dirinya sendiri, dalam perang sengit melawan kenyataan. Aku masih ingat dengan baik, bagaimana aku yang gila ini, bertemu dengan kamu; seseorang yang pada akhirnya mengakui, bahwa kewarasan bukanlah hakikat. Kegilaanlah yang punya esensi. Aku tau, aku bisa melihat dari caramu hadir dan ada, meski saat itu kita masih sama-sama terantuk pada satu kata; asing. Dan diam menjadi pilihan terbaik untuk orang-orang asing. Meski aku dan kamu, punya tujuan yang sama : menjadi orang gila. Atau, kita telah gila saat itu. Hanya saja kita belum datang, oh belum sampai, dan belum tinggal di rumah sakit (jiwa). Kita masih cukup angkuh untuk sekadar mengatakan 'hai', demi menunjukkan satu hal ;aku yang paling gila. Tapi aku baru sadar, aku tidak pernah angkuh, tidak cukup punya keangkuhan untuk menjadi angkuh di depanmu. Karena, aku tidak bisa angkuh pada orang-orang yang memb...

Dunia : ikan, teman-teman, dan cinta

Dunia "Apa aku harus membawakanmu dunia? Agar kau..." "Jangan berandai-andai. Sedangkan di dunia yang kecil ini, kau hanya menumpang. Jangan menawarkan sesuatu yang lebih besar dari genggamanmu. Itu membuatmu semakin kecil." "Aku hanya ingin membuktikan bahwa..." "Maka tidak pernah ada bukti berwujud kata-kata. Itu hanya alibi." "Kau selalu membunuh kalimatku, bahkan sebelum aku menyudahinya." "Itu lebih baik, daripada kau yang membunuhku, dengan harapan palsu." "Kau aneh." "Aku hanya manusia yang memiliki nenek moyang di zaman batu, dan memegang teguh apa yang telah mereka berikan." "Apa?" "Hati yang batu!" "Kau tidak pantas hidup di dunia." "Aku juga tak menghendakinya. Dunia!" ikan Ada lelucon tentang nama-nama ikan, dan manusia tertawa. Aku tidak, sebab ikan tidak pantas untuk ditertawakan. Ia bukan badut, bukan kau yang hanya ingin membual denga...

Kepada Kita

Segalanya hanya tentang maya yang terlampau nyawa untuk menafkahi kita. Iya kita. Aku tak mengatakan itu kamu, atau aku. Sebab nyatanya kita telah sama terluka dan menang -karena kita diam. Dari celahmu, kau melihat aku seperti hati yang hidup, bahagia, menyentuh musim dengan segalanya beraroma semi. Sedang di balik itu, di balik bayangan yang kau bahkan tak pernah melihat, ada lengang ; luka abadi. Jatuh sebagai air mata di sebuah malam yang kau untuk kesekian kalinya menyapa, seperti balita. Kau ; aku bahkan tidak tahu seperti apa wujudmu. Bahkan untuk sekadar tau bagaimana aroma tubuhmu, aku tak pernah membayangkan. Yang aku tau, aku seperti melihat aku dalam dirimu. Membawa luka kemana mana. Darah yang merah -metafisik. Hanya aku, dan seutas Indra bukan lima dapat melihatnya. Sebab aku dan kau sama, hanya saja tak mau mengakuinya. Apakah itu kau atau bukan, sekadar takdir atau malah akhir dari segalanya, aku hanya ingin melihat kau satu kali saja. Satu kali lagi. Satu kali unt...

Fake ; Doja

Aku sedang menggadaikan duniaku, pada sandiwara yang musykil. Taruh yang terlampau murah untuk sebuah hati yang selamanya tidak akan pernah jatuh cinta -lagi. . Kehilangan; darah yang merah kental mengalir di sepanjang apa-apa tak pernah dilihat namun mengeras. Berkabung setelah sumpah serapah tak pernah menyerah menyerang sesuatu yang sesungguhnya telah luluh lantah. . Apa yang bisa dikembalikan, setelah lari terlanjur jauh? Menata pada apa apa yang dianggap abadi, namun tak lebih dari surga yang semu. . Mata yang tak pernah tau, apa arti dari berpura-pura tersenyum, sedang hati terus menjerit untuk memekikkan nama -nya, Selamanya tidak akan pernah mengerti tentang sejak kapan aku mengenal rollei dan kenapa! Barangkali itu hanya sebuah diksi yang acak lalu melahirkan senyum kucing dan anjing, tapi lebih dari itu, ada gagasan yang tinggi tentang kemerdekaan yang mati. . Ada orang yang hanya tau cara menghitung kebahagiannya sendiri, tanpa tau ada hati yang pucat me...

My All : From Jane

Aku adalah apa-apa yang ka u lihat saat pertama kali datang di sebuah negeri asing. Sebagai orang yang masing-masing asing. Menjadi pertama dan kedua dalam huni. Sebagai kakak, kau awalnya memanggilku. Hal yang selanjutnya membuatku butuh waktu begitu panjang -juga sakit yang begitu kembang, untuk menyadari bahwa aku mencintaimu. Doja! ... Itu adalah sebuah masa, dimana kita sama-sama masih remaja. Melewati masa yang benar-benar sulit, yang cukup ingusan untuk sekadar membahas cinta. Seperti saat pertama kali kau datang, gelap dan kurus, untungnya bukan gelandangan. Dengan tas punggung yang besar, menenggelamkan kepalamu. Saat itu, aku tidak yakin bahwa kau akan baik dalam segala hal, seperti kata orang-orang. Orang-orang yang membuatku menunggu kakimu bergerak, melunaskan hutang penasaranku padamu. Benar. Kau punya kaki panjang yang kuat menghentak. Tegas. Saat itu, aku sadar, aku tidak akan baik-baik saja. ... Ada debar yang tidak wajar, kemudian menjadi keharusan yang muncu...