Langsung ke konten utama

Postingan

Apresiasi Diri (Self Reward)

Self Reward Saya kadang berpikir kenapa harus memberikan penghargaan pada diri sendiri? Apakah itu penting? Apakah membantu? Apakah berpengaruh? Sementara kepala saya selama ini terlanjur percaya bahwa penghargaan itu akan lebih baik jika diberikan oleh orang lain. Sebab orang lain tentu punya standar dan validasinya masing-masing dalam memberikan apresiasi. Dan bukankah standar dan validasi itu yang akhirnya menjadikan penghargaan itu 'berharga'? Untuk diri saya, Kira-kira begitu.  Tapi ternyata saya salah. Saya tidak harus menunggu orang lain mengapresiasi pencapaian saya; untuk memberi selamat atas segala cerita sukses yang saya raih, untuk hal-hal sederhana yang saya selesaikan. Sebab orang lain tidak selalu memahami setiap usaha yang saya lalui, tidak selalu mengerti proses yang saya lewati. Itu kenapa ketika saya menunggu orang lain untuk mengapresiasi, sama saja dengan menunggu ketidakpastian. Sebab kebanyakan orang hanya melihat hasil, bukan proses. Bisa jadi, apresiasi...

Flaneur ; itu apa???

Baru-baru ini saya menghubungi seseorang yang saya kagumi -tulisan-tulisannya, melalui sebuah pesan pribadi di instagram. Keberanian itu, atau malah kenekatan itu lahir dari sebuah rasa penasaran atas sebuah pertanyaan sederhana, 'apa itu flaneur?' yang membuat saya, katakanlah kecanduan akut dengan model tulisan semacam itu -dan baper. Konteks baper disini malah bukan lagi seperti bapernya saya pada lagu india, ini jauh lebih luas, melebihi luasnya bumi, planet-planet, jagat raya. Wah, luas sekali dong.  Sebelumnya, dengan 'kecanduan' saya ini, saya sering merasa sedih kepada diri sendiri. Nah, perasaan sedih ini tidak lahir karena baper tadi ya, tapi cenderung kepada 'kenapa ketertarikan saya malah membaca flaneur, sementara orang lain dengan profesi yang sama seperti saya menghabiskan banyak waktunya untuk mengikuti webinar, diklat daring, dan segala jenis pelatihan digital yang punya poin dalam per-skp-an .' nah saya? malah terbuai dalam rangkaian konsep per...

Flaneur : La educacion es Libertad

Saya hampir tidak pernah merayakan ulang tahun, bahkan cenderung berpikir bahwa hari ulang tahun bukanlah hal yang perlu diingat, apalagi dirayakan. Menurut saya, mengingat hari ulang tahun sama halnya dengan mengingat hari dimana saya semakin tua, diiringi sebuah ketidakyakinan tentang apakah saya sudah semakin dewasa? Atau malah semakin kekanak-kanakan.  Hal ini lantas membuat saya menyimpulkan bahwa mengingat hari ulang tahun merupakan sesuatu yang tidak penting-penting amat, sebab tidak ada yang penting dari bertambah umur, tanpa bertambah baik.  Age is something that doesn't matter, unless you are a cheese. Salah satu kalimat yang begitu saya sukai dari Luis Bunuel. Menggambarkan kesederhanaan berpikir tentang umur. Bahwa, umur bukanlah sesuatu yang penting, kecuali kamu (maksudnya saya) adalah keju. Keju semakin tua memang semakin bagus, semakin mahal, tapi kalau saya? sepertinya hanya semakin tua saja. Kira kira begitu. 25 Juli 2021 Saya tepat berusia 29 tahun. Secara s...

mo chuilse

seperti raksa, itu membakar; membuatnya mengerti, mungkin sekaligus jera. bahwa tidak baik berilusi; dengan hal-hal yang nyata, misalnya dengan manusia. ... Lucunya dia selalu salah tempat, waktu, dan orang untuk sekadar suka, atau barangkali dia telah jatuh cinta, lagi, kesekian kali, dengan mudah, barangkali sulit untuknya, atau, lagi, orang yang tepat terlalu bodoh untuk membuatnya jatuh cinta, dan gejalanya begitu, begitu saja, ia mulai suka mendengarkan lagu-lagu melankolis, membaca buku cinta-cintaan, dan kembali membuka quora untuk membaca jawaban yang serius dari pertanyaan sederhana, untuk apa? untuk membuat jawaban-jawaban baru yang akan mengalihkan perasaannya, pada apa? tawa yang palsu. Dia bilang, itu intelegensi. "Kau tau Musèe du Louvre ?" tanyanya.  "Tidak." "Ya seperti perasaanku, kau juga tidak tahu." "Memang seperti apa?" "Itu seperti api. Kalau aku buka, ia membakar." "Lalu kalau kau tutup?" "Aku yang ...

Apel dan Pluto : Dendamnya yang Barbar

Racun baginya seperti obat, ramu yang mampu membuatnya jaga, dan kembali menuang luka lewat tangannya yang cacat. katanya, orang-orang bisa berubah, tapi tidak dengan masa lalu. membuangnya atau mengambilnya kembali adalah sebuah pilihan, akan menjadi bijak atau picik. kukira dia sudah terlalu sibuk dengan berita-berita masyhur yang muncul di radarnya, tentang seseorang yang belum jadi orang, tapi pagi ini telah memberi kabar, 'aku telah sebesar buah apel'. sejenak membuat ia tersenyum, melupakan air mata yang semalaman badai, dan darah yang pagi tadi masih segar, setelah ia ditusuk prasangka. Agaknya aku terlalu tanggung memilih narasi, membuat maknanya jadi dangkal. Ada di permukaan. Selebihnya, asal ia tak tau dan tidak peduli, aku masih merasa aman. Di bawah jamur yang payung, memekar teduh yang berdikari. Rasanya menakjubkan punya ruang untuk mengambil tempat duduk sebagai orang yang menceritakannya, membicarakannya. sebesar buah apel yang ditungguinya, sejak pertama ...

Sepasang Mata di Rumah Sakit (Jiwa)

Apa setelah orang-orang menjadi gila, mereka tidak waras? Tentu saja. Tapi orang-orang gila, telah memenangkan dirinya sendiri, dalam perang sengit melawan kenyataan. Aku masih ingat dengan baik, bagaimana aku yang gila ini, bertemu dengan kamu; seseorang yang pada akhirnya mengakui, bahwa kewarasan bukanlah hakikat. Kegilaanlah yang punya esensi. Aku tau, aku bisa melihat dari caramu hadir dan ada, meski saat itu kita masih sama-sama terantuk pada satu kata; asing. Dan diam menjadi pilihan terbaik untuk orang-orang asing. Meski aku dan kamu, punya tujuan yang sama : menjadi orang gila. Atau, kita telah gila saat itu. Hanya saja kita belum datang, oh belum sampai, dan belum tinggal di rumah sakit (jiwa). Kita masih cukup angkuh untuk sekadar mengatakan 'hai', demi menunjukkan satu hal ;aku yang paling gila. Tapi aku baru sadar, aku tidak pernah angkuh, tidak cukup punya keangkuhan untuk menjadi angkuh di depanmu. Karena, aku tidak bisa angkuh pada orang-orang yang memb...

Dunia : ikan, teman-teman, dan cinta

Dunia "Apa aku harus membawakanmu dunia? Agar kau..." "Jangan berandai-andai. Sedangkan di dunia yang kecil ini, kau hanya menumpang. Jangan menawarkan sesuatu yang lebih besar dari genggamanmu. Itu membuatmu semakin kecil." "Aku hanya ingin membuktikan bahwa..." "Maka tidak pernah ada bukti berwujud kata-kata. Itu hanya alibi." "Kau selalu membunuh kalimatku, bahkan sebelum aku menyudahinya." "Itu lebih baik, daripada kau yang membunuhku, dengan harapan palsu." "Kau aneh." "Aku hanya manusia yang memiliki nenek moyang di zaman batu, dan memegang teguh apa yang telah mereka berikan." "Apa?" "Hati yang batu!" "Kau tidak pantas hidup di dunia." "Aku juga tak menghendakinya. Dunia!" ikan Ada lelucon tentang nama-nama ikan, dan manusia tertawa. Aku tidak, sebab ikan tidak pantas untuk ditertawakan. Ia bukan badut, bukan kau yang hanya ingin membual denga...