Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

Tuhan, Pantaskah Aku Berhari Raya?

Hari ini tak banyak yang bisa ditulis. Apapun itu.  Rasanya sunyi dan merdu jadi satu. Mengepak dan menyesap dalam semu. Menyempurnakan taksa yang hadir, antara meyusut tangis sebab ditinggal bulan temaram, atau bahagia menjelangkan kemenangan. Bertaut jadi satu, dalam hati yang masih kesepian.  ... Selamat hari raya, untuk sisa hari yang menelurkan air mata. Bagi mereka yang terlanjur berkalang tanah. Kembali tak mungkin, melanjutkan segalanya terlanjur berat. Sebab waktu terlampau cepat untuk dimuliakan. Dipenuhi kesia-siaan yang menipu. Selamat hari raya, untuk hidup yang agaknya membahagiakan. Melewati letihnya puasa, dan gamangnya malam untuk menanti kebaikan. Sedikit tunduk, selebihnya hanya tertipu euforia. Hidup dalam pengejaran dunia. Lupa pada gaib nya pahala yang berderai. Menyesaki udara tanpa terkira. Hanya beberapa yang menghirupnya. Pada sepuluh malam yang bukan rahasia. Sesekali melenakan. Sesekali mewartakan cerita surga. Hidup adalah pentas, melenakan...

Malam Malam Yang Jalang

Di malam malam genap yang singkat, kau hadir membawa kejutan. Ini bukan lilin atau sepotong kue, yang layak disebut picisan. Ini tentang hadir, setelah lama kau menyisakan jejak. Saja. Di malam malam ganjil yang panjang, kau kembali hilang untuk melengkapi pencarian, ku. Ini bukan tentang kemana dan dengan siapa kau pergi, yang layak disebut dramatis. Ini tentang lelah, setelah sejenak kau membuat huru hara dalam kemayaan. Di malam malam yang akan berakhir, satu persatu tanya semakin santun bertamu, padaku. Tak meminta jawaban, tapi memintamu kembali. Kapan akan datang lagi? . . Jeda, menganga di antara detik yang rapat. Nyatanya, ini melahirkan siksa tersendiri untukku. Mengambil nafasku lewat tunggu, tak sampai habis. Hanya menunggu lenguhku yang perih. Mati, aku tidak merasa. Hidup, rasanya sia-sia juga. . Apakah cinta semenyakitkan ini? Sedangkan aku hanya diam memeliharanya. Tak melimpahkan padamu. Tak berharap kau mengerti, jua membalasnya. Cukup santunlah dalam menuang ha...

Jika Ini Telah Usai

Memulai saja belum, Lantas kenapa aku begitu resah dengan sebuah akhir? Pisah yang tak pernah diawali dari hubung. Luka yag tak pernah dimulai dengan kasih. Lalu kenapa? Semu ini menakutiku, tentang esok, dan segala mungkin yang hendak menjenguk tidak. Tabuh saja perang, jika bisa menuju akhir. Nyatanya, memulai saja, aku tak pernah berani. Jika ini telah usai, Akankah kau salah mengerti? Tentang nama yang akhirnya kupilih? Bahwa meski itu fiktif, aku tak lagi meneguhkan namamu. Terlalu besar beban, hingga cinta memilih bungkam. Bersembunyi di balik nama nama yang pendar. Apakah kau akan salah mengerti? Dan akhirnya berpikir, bahwa aku tak pernah menjadikanmu sebagai satu satunya. Dunia, Cinta, Dan kamu, Di daratan mana kita pernah bertemu? Adakah itu cadas? Kenapa sekeras ini menempaku? Berpura-pura biru ditengah haru yang barbar. Kusuguhkan kenyataan, kau tak muncul. Apa dengan kebohongan, kau akhirnya akan bertanya? Tentang siapa yang sebenarnya kusebut dalam sajak-sajakku? ...

Pada Kalam yang Mengembun

Sepi, kalam mengembun Terlalu pagi. Adakah sisa yang masih berderak? Di bawah langit tak berbulan? Semalam Kuncup memendar resah Meninggalkan perih di liang tuju Seketika raup menebar Hilang Sajak tak tumbuh di dekat pagar. Ini kali, Kata mengandung riba Ada anak beranak Menyemai rindu di tepi belukar. Apa ada yang mengerti? Jika indah adalah terka yang dalam Maka kujamu semesta dengan payau majas Apakah puas? Menimba saran tak selalu dengan pena Tinta bisa saja durhaka Pada empu yang kabur Kukira ini tak pernah bemakna Sebab mantra tak dirapal Juga diduga. Tutup saja kuburmu, Dengan jarimu sendiri. Aku ingin berselimut sepi, Di malam tak berbintang Yang menebar abu-abu terlalu dini. Itu indah? Aku tak peduli.

Teka-teki Tentang Kamu; catatan seorang penggemar rahasia

Sudah lewat delapan purnama, sejak terakhir kali kita menyeduh temu, dan aku meneguk senyummu. Lama. Berlalu. Tapi rindu itu semakin mengental, mencemari aku sampai akar. Sesekali, aku mencoba berpaling. Namun nyatanya, mengagumimu seperti ini begitu nikmat. Sungguh nikmat. Tentang kamu, Hanyalah rahasia, yang hanya aku, Tuhan, dan seorang sahabat yang tahu. Selebihnya, kau adalah abu-abu di mata dunia. Semakin diterka, wujudmu akan semakin fana. Sebab kamu, iya kamu, hanya kuberi ruang di satu-satunya dinding maya. Hanya maya. Bagaimana aku, Bertemu kamu dalam suatu peristiwa yang luar biasa. Berawal dari asing, kita menjadi hati yang seolah-olah melunak pada waktu. Tidak lama. Hanya terhitung minggu, bulan yang tak pernah tiba pada tahun. Tapi aku, mengekalkanmu sebagai rindu. Entah sampai kapan. Jika saja, Kau tak pernah muncul di sebuah pagi yang terlambat mengantar embun, di sebuah terik yang memberaikan tali sepatu, dan sebuah petang yang mendayu sebab lagu, mungkin aku ...

Rindu Itu Kamu; akhirnya kusebut nama

Aku banyak menyimpan rindu untukmu. Seperti malam menyimpan sepi, gelap dikaki langit yang lengang. Tiada mata melihat, Namun abadi. Aku banyak menyimpan rindu untukmu. Umpama pagi menyimpan embun, bening di tengkuk ilalang yang hijau. Tiada tangan menghitung, Namun hakiki. Aku banyak menyimpan rindu untukmu. Butir demi butir Kusemayamkan di sepetak ladang yang barbar Tetap suci. Tumbuh berimbuh, tak pernah berhenti. Lalu, apakah kau lelah? Kurindui seperti ini? Dunia berangsur tua, Dan rinduku tak pernah usai berbunga. Luruh satu, mekar ribuan lainnya. Lalu, apakah kau jengah? Kurindui sepanjang ini. Kau tak bergeming, Sibuk dalam ketidaksadaranmu Sedangkan tanda, telah berkali kali kulesakkan padamu. Kau, Iya kau, Yang pernah membicarakan sebuah lagu melankolis denganku, Tahu kah kau? Kau itu rindu. Rindu itu kamu. Bangkit dan rebah di relungku, Bertambah Bertumbuh Beribu. Kau? Bolehkah kusebut namamu? Agar kau tau. Kau itu rinduku. Rinduku...

Negara Ini butuh Aqua

Tidak perlu terlau serius menanggapi ini, anggap saja sebagai antiklimaks untuk sebuah kontroversi yang terjadi di rezim ini. Ada aqua? ... Kadang saya ingin menjadi pihak yang kontra, tapi kadang saya juga pro dengan beberapa hal yang diputuskan oleh pemerintah. Disini saya akhirnya sadar, saya butuh aqua. Apa kalian tidak? ... Yang lagi ngehits sekarang, tdl naik. Tapi, itu jalan tol juga mulus. Sampai disini, anggap saja impas. Yang lagi panas saat ini, ulama dikriminalisasi (katanya) Tapi itu umat muslim malah semakin solid. Sampai disini, anggap saja impas. Yang lagi viral belakangan ini, rakyat mulai krisis kepercayaan pada Polri Tapi disisi lain, rakyat semakin dekat dengan TNI. Sampai disini, anggap saja impas. Yang benar-benar miris, ilegalloging merajalela Tapi laut kita semakin aman sentosa Sampai disini, anggap saja impas. Di titik ini, ada yang ingin protes? Ah, silahkan minum aqua. Ada aqua? ... Kadang saya mikir, kalaupun saya yang jadi presiden, apa ...

Apa Kau Pernah Merasakannya?

Sedikit saja, Apakah kau tidak pernah merasa? Bahwa di tengah jarak yang sempurna memisah kita Aku adalah hati yang merindukanmu Menerbangkan harap di tepi malam Agar mampu mendaki kabul -seberkas wajahmu- Bukan fana. Sejenak saja, Apakah kau tidak pernah merasa? Bahwa di senyapnya sapa antara kita Aku adalah mata yang tak henti mencari kamu Di redup layar Di nyala dinding penebar maya Menautkan harap pada sunyi tanda Agar sampai di ujung rabamu -bekunya nurani- Bukan nisakala. Ah, Biar sedetik saja, Tidakkah kau pernah merasakannya? Rindu yang berdetak riuh di dadaku Tanda yang berseru bising di hadapmu Dan segala kemustahilan yang kau kira bukan untukmu Adalah sebuah persembahan Dari hamba sahaya yang memikul cinta Untukmu. Sebentar saja, Apakah kau tidak merasakannya? Ini Itu Segala yang kutulis Selalu tersemat ciri tentang kamu. Mata berbingkai rindu, milikku. Mata berbingkai kaca, milikmu. Belum mengerti juga? Tidak apa apa. Mungkin hari i...

Mencintai Dalam Diam

Mencintai dalam diam Aku hanya butuh menikmatinya. Seperti jatuhnya hujan, yang memberi basah dan meninggalkan keruh dalam genangan Aku tak pernah mengusir Biarkan turun Biarkan datang Jika sudah reda, Barangkali ada sisa sejuk yang menguasa Menumbuhkan kedamaian.  Mencintai dalam diam Aku hanya butuh mengabaikannya. Seperti terik di sisi kemarau, yang menyisakan retak di lapangnya belukar juga kering di permukaan danau Aku tak pernah mengutuk. Biarkan singgah Biarkan saja menggenapi musim Jika sudah surut, Ia menyembulkan kembang di pucuk pohon Menerbitkan keyakinan.  Mencintai dalam diam Aku hanya butuh menyimpannya.  Sendiri Mengalir di dekat telaga hati yang bening.  Tenang Mengikuti arus yang selalu bertaut pada muara. Akhirnya akan indah jua Akhirnya akan manis juga Mencintai dalam diam Aku tak harus membisu Lewat sajak aku bisa berseru Meski tak pernah dipahaminya.  Mencintai dalam...

Menulis : Sebuah Usaha Tiada Akhir

Adakah dari kalian yang suka menulis? yang bercita-cita ingin menjadi penulis? atau bermimpi melahirkan sebuah tulisan? pasti banyak. Terlebih lagi, di tengah perkembangan dunia literasi yang semakin pesat, minat menulis dari lapisan masyarakat akan semakin tinggi.  Hanya saja, tak jarang minat tersebut, tiba-tiba menghilang begitu saja. Banyak para penulis-penulis pemula yang akhirnya mundur teratur setelah tahu, betapa sulitnya melahirkan sebuah karya. Ditengah menjamurnya penulis-penulis muda berbakat, tidak sedikit pula yang akhirnya menyerah untuk menjadi seorang penulis. Sebenarnya, apa yang bisa membuat seseorang bertahan untuk tetap menulis? Pertanyaan macam ini, tentu seringkali muncul di benak kalian yang mulai ingin menyerah pada bidang ini. Tapi, tunggu dulu, sebelum menyerah, ada baiknya kalian merenungkan beberapa hal berikut. (image : source ) 1. Menulis Bukan Tentang Bakat, Tapi Keuletan Banyak di antara orang-orang yang berpikir bahwa kemampuan menulis...

Mengubah Paradigma : Ramadhan Bukan Sekedar Puasa

Sebuah tulisan selalu lahir dari kenyataan. Entah itu seutuhnya atau hanya sepenggal, tulisan selalu dekat dengan kehidupan penulis. Termasuk yang akan saya tulis pada kesempatan ini.  ... Sebuah tulisan selalu punya latar belakang, juga tujuan.  Latar belakang saya menulis tulisan ini sebagai ajang bercermin, dan tujuan saya menulis artikel ini adalah mengingatkan orang-orang yang mungkin lupa, yang mungkin sengaja lupa.  ... Tiba-tiba saja, suara riuh terdengar dari arah gardu kampung. Semacam teriakan, semacam seruan, semacam tawa yang terpingkal-pingkal. Kedengarannya, suara itu didominasi oleh remaja putra yang sedang menonton siaran langsung kompetisi balap. Kira-kira lebih dari lima orang. Membuat seorang ibu langsung mengelus dada sambil istighfar. Ia menyeka wajah untuk kedua kalinya, menyadari suara itu benar-benar tidak etis untuk didengar. Kenapa tidak etis? Karena gardu itu hanya berjarak sekitar dua puluh meter dari masjid kampung. Dan suara riuh itu...

An Idiot Jenny ; Part 2

Bagian 2 Bukan Saya Saya itu tukang anggur, pake awalan peN- dan akhiran -an. Bahasa tidak terhormatnya sih pengangguran. Ya, kurang lebih seperti itu. Kenapa saya nganggur? Karena saya memang gak mau kerja, gak mau cari kerja, dan emang gak tertarik buat kerja. Meskipun gelar akademik saya sudah berentetan seperti kereta api tut tut tut , tetap saja saya pengangguran. Titik. Tidak pakai koma. Nah, karena status “pengangguran” yang sandang ini, akhirnya tetangga saya banyak yang kepo. Tiap ketemu saya, mereka berubah profesi jadi jaksa penuntut umum, dan saya jadi tersangka. Loh, Jenny di rumah? Kapan datang? Sudah selesai sekolahnya? Kok tidak kerja? Kurang lebih seperti itu pertanyaannya. Saya pun, yang berstatus sebagai tersangka, segera mencari korban untuk dijadikan kambing hitam. Ibu saya lah korbannya. Saya bilang ke mereka. Sudah lulus kok Tante, tapi memang disuruh di rumah aja sama mama. Kan mama sakit, gak ada yang ngerawat .   Saya pasang tampang sedi...

An Idiot Jenny ; novel komedi yang gagal

Bagian 1 Bukan Perkenalan Hujan, selalu dekat dengan kenangan. Ah, bukan. Hujan selalu dekat dengan genangan. Becek, gak ada ojek – ugh . Saran saya sih, kalau gak ada ojek, telpon saja gojek , kan selalu ada setiap waktu tuh, dua puluh empat jam. Panas hujan, gojek selalu dihati. Tuh kan, jadinya promosi. Gara-gara apa coba? Gara-gara hujan. Hujan yang benar-benar saya benci. Kenapa benci hujan? ya benci aja. Gak perlu alasan. Tapi, si teman saya, namanya Laili, dia suka sekali hujan. Katanya, aku suka hujan, karena setiap hujan. aku bisa menangis tanpa ada satupun orang yang melihatnya. Ah, masa. Saya tidak percaya tuh. Coba saya buktikan dulu, kalau berhasil, baru deh saya percaya. Nah, karena rasa penasaran yang membuncah di dada sampai ubun-ubun saya, saya pun mencoba bereksperimen. Ketika hari sedang hujan, saya menangis di dalam kamar. Tiba-tiba kakak saya masuk. Dia menatap saya heran. “Kamu nangis?” tanyanya dengan nada mengintimidasi. “Kok kakak bisa tahu?” say...